Saturday, August 1, 2026

Angin Segar

Di hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya menjadi Hari Santai Sedunia, syukurlah gue diberi kesempatan untuk sibuk. Untungnya juga sibuknya ini juga bersifat yang menghasilkan, jadi sudah semestinya gue merasa senang dong?

Tapi nggak juga. Badan gue rontok. I need some rest.

Beberapa minggu belakangan gue cukup sibuk, secara mental dan fisik. Istirahat? Tentu saja kurang.

Tapi... Sisi baiknya, di salah satu ruang kepala gue ada yang membuat gue cukup nyaman di antara banyaknya darderdor yang menerpa.

You know who you are.

Friday, July 31, 2026

Enak Gak Enak

Kayaknya gue udah bilang beberapa kali di sini kalau gue sama sekali tidak menyukai rasa alkohol. Gue masih belum paham rasa pahit seperti apa yang bisa lidah gue bisa nikmati dari rasa alkohol. Tajam di tenggorokan seperti baru menelan silet. Belum lagi efeknya ke tubuh jika dikonsumsi berlebihan.

But here I am, baru balik dari bar setelah bercengkrama bersama teman sambil minum-minum, dan memutuskan menulis ini di MRT dengan syaraf yang agak lemas.

Pertemuan kami cukup seru. Banyak kalimat terucap dengan nada menyenangkan di obrolan kami, yang di mana itu agak sulit didapatkan jika  dilakukan tanpa alkohol. Bisa saja, tapi tidak akan selepas itu. Lalu gue merasa bahwa thesis gue benar: gue hanya menyukai efek yang ditimbulkan dari alkohol ketika sedang nongkrong bersama teman-teman.

Untuk urusan rasa sudah absolut rasanya bagi gue untuk tidak suka. Namun, untuk buah mulut ketika bersama orang-orang dan suasana yang tercipta beda perkara. Obrolan ngalor-ngidul yang awal dan akhirnya tidak jelas arahnya tapi seru-seru saja. Gestur tidak perlu yang keluar karena badan sempoyongan, dan celetukan-celetukan bodoh yang terucap. Itu adalah resep seru dalam tongkrongan, dan bahan utamanya adalah cairan ethanol dalam gelas.

Tapi ya tetap, gue tidak suka rasanya. Gue hanya suka suasana yang dihasilkan setelahnya. Bagi gue minuman paling enak tetaplah satu: susu stroberi. Hahaha.

Thursday, July 30, 2026

Pintar

Gue pernah terjebak diskusi bersama teman-teman gue tentang apa itu pintar. Diskusi pagi buta di sebuah warkop di tengah-tengah riuhnya kota Jogja. Tentunya obrolan awalnya bukanlah itu, kalau tidak salah kami sedang membahas masalah demo mahasiswa dan bagaimana gue kurang suka dengan cara orasi para mahasiswa yang pernah gue lihat. Dari obrolan jam 2 pagi itu, gue menemukan definisi pintar menurut gue.

Sebagai orang yang tidak menganggap nilai sempurna di jenjang akademis itu adalah hal penting, gue tidak begitu melihat orang yang seperti demikian adalah orang pintar. Gue pernah kok mengobrol dengan seorang cum laude universitas negeri, dan sepanjang ngobrol dia lebih banyak ngang-ngongnya. Gue pernah juga mengobrol dengan seorang insinyur yang katanya banyak pencapaiannya, tetapi ketika bercengkrama banyak nggak jelasnya. 

Di sisi lain, ada masa gue berinteraksi dengan para pedagang pinggir jalan atau tukang parkir di pasar lalu obrolannya malah seru dan jenaka. Atau office boy perkantoran suatu distrik bisnis dan kemudian dia menceritakan perjalanan hidupnya dengan diksi dan alur yang tertata. Komunikasinya bagus.

Buat gue, salah satu cara menilai kepintaran seseorang adalah dari cara dia berkomunikasi. Orang yang bisa luwes berbicara dengan siapa saja dari golongan apa saja dengan pemilihan kalimat yang tepat. Pintar bukanlah ketika seseorang bisa menjelaskan isi buku Nietzsche secara panjang lebar dengan presisi dan kata-kata "tinggi". Pintar adalah ketika seseorang itu bisa merangkum dan menjelaskan isinya sesuai siapa yang diajak bicara. Karena jelas sekali berkomunikasi dengan seorang dokter dan tukang daging di pasar caranya berbeda.

Inti dari komunikasi adalah penyampaian pesan. Jika pesan yang disampaikan tidak dipahami yang menerima, maka komunikasi itu bisa dibilang gagal dan komunikasi yang jelek. Orang pintar menurut gue adalah orang yang bisa beradaptasi menyesuaikan cara komunikasinya sesuai lawan bicaranya. Dia dapat menyederhanakan suatu pesan komunikasi yang rumit menjadil simpel supaya bisa diterima oleh orang yang lebih luas. Bukan menjelaskan hal rumit memakai pemilihan kata yang tidak umum supaya terlihat pintar.

Dan mungkin itu juga alasan kenapa gue kurang menikmati orasi yang pernah gue dengar waktu itu. Bukan karena pesannya salah, tapi karena cara menyampaikannya membuat orang yang seharusnya diajak bicara justru tertinggal di belakang. Karena pada akhirnya, orang pintar menurut gue bukanlah orang yang paling banyak tahu, melainkan orang yang tahu bagaimana menyampaikan apa yang dia tahu.

Wednesday, July 29, 2026

Biasa Bisa

Saat masih latihan parkour dulu, gue punya teman yang lantang sekali berorasi bahwa dia tidak percaya dengan yang namanya bakat. Sebagai konteks, di sini dia berbicara tentang bakat menggambar.

"Yang namanya 'bakat' itu nggak ada, men. Yang lo perlu cuman (dibiasakan) latihan."

Gue sebagai orang yang melihat buah karyanya secara berkala, pada saat itu setuju dengan apa yang dia katakan. Gue masih ingat ketika dia menggambar orang yang dia suka ketika dia masih awal-awal menggambar, rencananya mau diberikan ke sang wanita. Kalimat penghancur semangat seperti "Kayaknya jangan lo kasih ke dia deh, man." menari-nari indah di ujung lidah gue. Soalnya juelek puarah! Mata kiri dan kanannya terlihat seperti orang yang sedang mengidap stroke. Hidung dan kepalanya asimetris. Dan giginya seperti leak Bali. Intinya jelek.

Tapi untunglah gue tidak pernah mengucapkan kalimat itu. Karena lama-kelamaan gambarnya perlahan menjadi bagus. Well, pada akhirnya bisa dibilang lebih dari bagus. 

Kami pada saat itu juga bergabung ke komunitas menggambar, dan gambar dia adalah salah satu yang terbaik dari seluruh anggota komunitas tersebut. Bahkan ketika komunitas menggambar itu diundang untuk mengisi semacam seminar di sekolah-sekolah, dia adalah salah satu yang ikut menjadi pembicara. Orang sama yang dulu dengan sukses menggambar gebetannya hancur sempurna, kemudian setelahnya menjadi pembicara untuk memberi motivasi tentang menggambar. Dan hal yang selalu ia ucapkan ketika menjadi pembicara adalah, "Yang lo butuh cuman dibiasakan latihan."

Bisa karena biasa. Kalimat tua itu sudah beredar entah sejak kapan. Dan untuk banyak hal, itu benar adanya. Banyak orang menjadi ahli di berbagai bidang karena sudah terbiasa menangani hal itu. Awalnya pasti mereka tidak ada apa-apanya. Contohnya adalah kasus di atas. Teman gue gambarnya jelek sekali, tetapi setelah bertahun-tahun konsisten dibiasakan untuk menggambar dia menjadi ahli. Gue juga dulu gagap ketika disuruh ngobrol dengan orang asing, rasanya berat sekali melakukan itu. Tapi karena pernah membiasakan mengajak ngobrol banyak orang asing, melakukan itu sekarang bukanlah beban.

Menggambar dan mengobrol hanyalah dua contoh. Gue rasa prinsip ini berlaku untuk jauh lebih banyak hal. Bukan cuman kemampuan, tapi juga... rasa. Kita bisa menemukan rasa yang berbeda ketika kita sudah di tahap terbiasa. Rasa berat yang muncul di awal akan menjadi ringan kalau dibiasakan. Rasa sukar dilakukan ketika memulai akan menjadi mudah bila konsisten.

Konsistensi menjadi kunci perjalanan rasa. Itu juga yang gue temukan belakangan. Gue dihadapkan dengan hal yang awalnya terkesan biasa. Namun, karena terbiasa lama-lama ada rasa yang berbeda. Dan gue belum kembali biasa dalam menikmatinya.

Wednesday, March 18, 2026

Debí Tirar Más Fotos

Gue jarang banget merekam momen ketika sedang bercengkrama. Mengambil foto atau video bukan prioritas gue ketika sedang bersama siapa saja, karena pikir gue baiknya nikmati saja waktu yang ada dengan menjadi "ada" di sana. 

Tentunya hal itu membuat gue merasakan tiap momennya dengan utuh. Gue ingat tiap tawa ketika ada lelucon yang dilontarkan, cahaya hangat dari pemandangan bagus yang pernah gue perhatikan, atau tiap penampilan keren yang gue tonton entah di mana.

Dengan berpikir melakukan itu artinya "lebih hadir", gue menjadi lupa semuanya bisa kapan saja berakhir. Lupa kalau mengingat saja kadang tidak cukup dalam kegiatan bernostalgia. Sejenak gue lupa kalau manusia juga bisa lupa. 

Apalagi dengan kejadian yang terasa biasa. Padahal hal-hal remeh nan sepele itu justru seringkali yang menjadi bumbu sedap dalam mengingat ulang. Mengingat ulang suatu tempat, kejadian, atau orang.

Dalam waktu tak tentu pemandangan sama yang dilewati setiap hari bisa menjadi berbeda. Tempat yang sering dikunjungi sewaktu-waktu bisa menghilang. Orang terdekat yang selalu sedia bersama kapan pun bisa tiada. Bahkan kita sendiri tiap menit ke depan tidak akan pernah sama dengan menit sebelumnya.

Jika ada satu hal di dunia ini yang tidak akan berubah, hal itu adalah perubahan. Perubahan itu konsisten dan akan selalu ada. Mengingat sesuatu yang sudah berubah akan lebih syahdu kalau ada sesuatu yang bisa membantu.

Nggak ada yang salah dengan "live in the moment", tapi ketika suatu saat ingin kembali ke moment lampau yang sepele, lupa adalah musuh besarnya. Jikalau sudah seperti itu, gue cuman bisa bergumam...

"I should've taken more photos."

Monday, November 24, 2025

Sia-Sia, Sia

Menyukai atau menginginkan suatu hal yang kita tahu tidak bisa kita dapatkan adalah sebuah sakit hati yang perlahan tapi pasti akan menjadi halusinasi. Tidak sehat untuk batin sih merupakan hal yang terjamin, tapi beberapa orang tampaknya tidak pernah keberatan akan hal itu.

Hal yang gue sadari belakangan adalah... ternyata gue salah satunya.

Gue tidak akan menjelaskan secara panjang lebar tentang apa yang gue sukai atau inginkan, tapi gue mau fokus ke rasa yang secara konsisten dirasakan ketika ada di titik tersebut. Rasa penuh harap ketika melihat secercah cahaya di ujung terowongan gelap yang kita tahu tidak akan pernah selesai kita lewati. Terus berlari ke ujung dengan senyum di muka sampai akhirnya kehabisan tenaga, kemudian langkah melambat karena sadar bahwa usaha yang dilakukan adalah sia-sia. Tidak berhenti, hanya makin lambat. Karena cahayanya masih ada di ujung sana. Ketika energi sudah kembali, lanjut berlari.

Kata kuncinya adalah harapan. Harapan yang diiringi bayangan di kepala sendiri bahwa suatu saat semuanya akan terijabah. "Bisa koook!" adalah dua kata pelipur lara yang jadi pembelaan ketika sudah mulai capek sendiri. Dua kata yang lebih bersinar ketimbang "Jangan lanjutin!" yang di mana sebenarnya itu lebih masuk akal dan lebih sehat. Buah harapan menjadi sebuah ilusi, yang kemudian menjadi halusinasi ketika bayangannya makin terinvestasi terasa asli.

Gue suka menganggap konyol orang-orang yang sedang berada di titik itu. Saat mendengarkan asanya pun kadang sebal juga ketika mereka bebal. Waktu pada akhirnya mereka sakit hati sendiri karena capek, gue hanya bisa merespon dengan "Salah sendiri, lagian goblok sih.".  Perasaan salah yang mereka rasakan menurut mereka memang tidak salah, itu hak mereka untuk merasakan itu. Tapi merespon dengan mengejek mereka melalui kata itu pun juga hak orang yang mendengarkan mereka bukan? Haha.

Goblok banget sih lo, Mar.

Wednesday, February 12, 2025

Dengar-Dengar Didengar

"Elo tuh atentif kalau ngobrol sama orang..."

Itu adalah kalimat yang dulu pernah almarhum teman gue ucapkan kepada gue. Dia berkata seperti itu ketika sedang melobi gue untuk menjadi seorang host buat acaranya, karena menurutnya gue adalah pendengar yang baik setelah berkali-kali melihat gue ngobrol dengan orang yang berbeda.

Testimoni kalau gue pendengar yang baik seperti itu bukan hanya sekali atau dua kali gue dapatkan. Jika tidak secara verbal, maka melalui tindakan. Teman-teman gue menunjukkan demikian dengan bagaimana mereka dengan percaya diri menceritakan hal sensitif yang mereka punya sampai hal paling sepele seperti gosip atau ghibah. Hal itu menjadikan gue secara otomatis punya kuasa yang sangat besar jikalau sewaktu-waktu gue ingin menghancurkan image seseorang atau merusak pertemanan di antara mereka semua dengan cara mengucapkan sesuatu yang gue tahu. Untungnya saja gue pandai menjaga rahasia, haha.

Gue pribadi tidak tahu apa saja yang gue lakukan sehingga "superpower" itu gue dapatkan. Gue hanya bisa berasumsi bahwa dengan tumbuh dengan lingkungan yang tidak pernah mendengarkan gue, menjadikan gue mengerti rasanya diabaikan. Not seen enough. Menyimpan banyak hal untuk diri gue sendiri, tanpa outlet untuk bercerita. Jadi ketika sudah dewasa dan menemukan tempat untuk berbagi, seringkali gue tidak tahu bagaimana memulai ceritanya. Namun, memiliki empati antar personal yang cukup tinggi mengajak gue untuk memastikan orang yang menjadi lawan bicara gue tidak merasakan hal sama.

Atentif ketika ngobrol dengan seseorang juga sebenarnya tidak begitu sulit jika kita mendengarkan secara aktif. Maksudnya adalah memerhatikan apa yang lawan bicara ucapkan, dan kemudian "mengulik" dengan cermat sehingga dia melanjutkan ceritanya lebih dalam. Tidak perlu fokus ke semua hal yang mereka ucapkan, cukup ke bagian yang diucapkan dengan poin emosi cukup. Jika bagian emosionalnya tidak keluar, pastikan saja obrolannya tidak keluar jalur dari hal yang sebenarnya ingin mereka katakan. Tetapi lagi-lagi itu juga butuh kepekaan dan kemampuan untuk membaca situasi.

Mendengarkan seseorang bercerita itu cukup seru menurut gue. Kalian bisa memahami lebih jauh tentang seseorang dan orang yang bercerita pun merasa didengar. Informasi tentang suatu keadaan bertambah sehingga kalian makin paham harus berada di posisi apa. Tapi jangan lupa juga posisikan diri kalian ketika saat mendengarkan, supaya hasilnya tidak melenceng... Seperti pas PDKT ke gebetan misalnya, jangan disamakan seperti mendengarkan teman kalau nggak mau dianggap "bestie" doang. 🤐

Saturday, July 22, 2023

Mesin Waktu

Beberapa waktu lalu gue keliling daerah Tebet. Niat awalnya adalah untuk mencari liquid rokok elektrik karena pada saat itu punya gue sedang menuju habis. Setelah menemukan tokonya dan membeli dua botol, tanpa ba-bi-bu gue langsung bergegas pulang ke kediaman gue di Menteng Dalam. Belum sempat keluar dari daerah Tebet, di perjalanan tiba-tiba ingatan masa lalu muncul di dalam kepala gue dan gue berucap dalam hati "Ini adalah jalan pulang gue pas TK dulu.".

Sebagai informasi pelengkap, gue dulu mengenyam bangku taman kanak-kanak di daerah Menteng Dalam, di satu sekolah bernama TK Melur--yang di mana sekarang sudah menjadi rumah dinas salah satu BUMN perbankan. Namun, rumah gue berada di Bekasi, yang membuat gue dan bokap setiap hari bolak-balik Jakarta - Bekasi. Bokap untuk bekerja di TVRI dan RRI, sedangkan gue untuk bermain di taman kanak-kanak dan kemudian menunggu bokap pulang untuk menjemput gue di rumah nenek.

Jadi... ya, saat itu gue melewati jalan yang sering gue lalui ketika gue masih TK. Ingatan gue kemudian mengantarkan gue untuk mengingat kembali satu objek spesifik yang berasosiasi dengan jalanan itu, jalanan yang gue sering lewati saat gue TK, yaitu: bubur ayam.

"Masih ada nggak ya?" pikir gue saat itu. Karena sudah lama sekali kan, sekitar 27 tahun gue tidak pernah kembali ke sana. Saat menyapu jalanan dengan mata, ternyata ketemu!

Bubur Ayam Sukabumi Tebet 1 namanya. Letaknya di sebelah Sop Ayam Klaten Pak Miin, dekat dengan McDonald's Tebet. Sudah ada banyak perubahan, tetapi yang membuat gue yakin kalau itu tempatnya adalah denah dalam ruangan di tempat makan bubur itu. Masih ada kesamaan dengan apa yang ada di dalam ingatan gue yang berbayang.

Ada perasaan aneh yang nyaman di dalam diri gue.

Gue memesan satu bubur ayam biasa, karena ingin menyamakan dengan apa yang gue makan saat kecil. Saat makanan datang beserta jus alpukat yang gue pesan, gue langsung mengambil suapan pertama, dan... BOOM! Nostalgia.

Gue teringat saat di mana ketika sore-sore sang ayah mengajak ke sana untuk mengunyah. Gue ingat bubur yang gue makan saat gue kecil itu memakai saos sambal, karena tidak dibolehkan memakai bubuk lada atau sambal, takut terlalu pedas untuk anak lima tahun yang nakal. Gue sekilas melihat ada bayangan bokap gue di sebrang meja, memakai kemeja biru sedang menyantap buburnya dengan lahap.

Serasa habis menggunakan mesin waktu, gue seketika kembali ke masa lalu. Keren sekali!

Otak kita diciptakan untuk mengingat, bukan untuk melupakan. Indera yang kita punya adalah instrumen yang membantu otak untuk membantu mengingat. Menurut gue pribadi indera pengecap dan indera penciuman adalah dua yang terbaik dalam konteks ini. Dan yang berperan dalam perjalanan masa lalu gue kemarin adalah indera pengecap.

Indera penglihatan bagaimana? Ya juga sama. Seperti beberapa jam lalu contohnya, gue baru saja melihat beberapa video atau foto lama yang berada di dalam ponsel gue. Gue jadi teringat bagaimana gue dan sekeliling gue pada saat gambar itu diambil. Bahkan gue ingat perasaan bahagia yang gue rasakan ketika momen itu diabadikan.

Wisata masa lalu dengan mesin waktu sederhana.

Tapi yang sudah ya sudah, masa lalu tidak bisa diulang mau bagaimana pun bahagianya saat lalu. Tidak baik terlalu sering kembali ke masa lampau lewat jalur ingatan. Kita harus ingat bahwa kita menua setiap detiknya dan masa depan selalu menunggu, yang sudah pasti kita lakukan adalah menjalaninya saja.

Lalu bagaimana rasa buburnya? Kebetulan rasa yang tercampur nostalgia saat itu cukup enak.

Friday, January 13, 2023

54321

5 bulan lalu dia terombang-ambing. Hilang arah, bingung harus merasa apa, entah. Hidung kirinya tersumbat, membuat nafas yang diambil hanya setengah. Tentu merasa sesak lah.

4 bulan lalu angin lembab di cuaca mendung ia terpa. Dia suka rasanya, karena dia akrab dengan suasananya. Tidak panas, tidak hujan. Di tengah-tengah. Dia hirup dalam-dalam udaranya sampai dia tersadar kalau nafasnya sudah terasa enak pada saat itu, bahkan mungkin lebih lega.

3 minggu lalu tawanya masih menggelegar seakan tidak ada masalah apa pun di hidupnya. Tentu itu hanya caranya menyembunyikan beban yang sebenarnya ada. Dia rasa tak apalah sesekali saja, tapi "sesekali"-nya itu sudah tak terhitung dan menggunung. Ketika sadar, kembali dia membatin "ya sudahlah. Sesekali saja." memang kebiasaan buruk tampaknya.

2 kali dia rasa harus bergegas agar lepas padahal. Dua kali pula dia mendeklarasikannya. Tapi lepas bagaimana dia pun tak tahu. Kebiasaan buruk, pola yang buruk, tampaknya sudah menjadi candu karena terbiasa. Sampai pada akhirnya...

1 jam lalu dia mendapatkan pemicunya. Pecutan keras untuknya berpikir keras kalau memang dia harus lepas agar bebas. Hal yang mendorongnya untuk melakukan kebaikan untuk dirinya, tapi dia sendiri tidak bangga dengannya. Pagi buta adalah saat yang membuatnya bergidik. Bimbang bukan kepalang. Tidak bisa tertidur padahal sebelumnya mata sudah mengajaknya untuk melindur. Perlahan hitam pekat di luar jendela berubah menjadi hitam terang. Dia takut akan pagi, tapi mentari sudah siap masuk dalam hitungan detik. Seraya cahaya matahari menyala, dia kembali membatin, "ya sudahlah..." dan...

5... 4... 3... 2... 1.

Selesai.

Tuesday, January 3, 2023

Mo(m)nolog

Baru saja ada seseorang yang jauh di sana meminta gue mengirimkan voice note berisi gue membaca tulisan gue yang ini untuk dijadikannya pengantar tidur. Tiba-tiba gue teringat beberapa hari lalu ketika ibu gue ulang tahun.

Selamat ulang tahun, Ma!

Pada hari ulang tahunnya yang jatuh di tanggal 27 Desember kemarin, gue menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Ritual tahunan yang akhirnya bisa gue lakukan beberapa tahun belakangan, karena gue sudah tidak lagi di Jogja terhitung semenjak 2020.

Di kunjungan ulang tahun yang ketiga ini sedikit berbeda, gue bercerita banyak hal kepada dirinya. Berbincang satu arah di depan makamnya. Makam kecil yang ditandai dengan batu marmer sederhana di pemakaman daerah Jakarta.

Gue selalu menganggap kalau berbicara kepada makam layaknya film drama itu adalah hal yang konyol. Biasanya di film-film hal itu dilakukan oleh karakter utamanya untuk memberikan efek dramatis, atau hanya sekadar untuk memberitahu penonton kalau ada sesuatu yang sudah, sedang, atau akan terjadi di film tersebut. Konyol sekali pokoknya! Namun, setelah melakukannya sendiri, ternyata tidak sekonyol itu.

Apa yang membuat gue melakukan itu? Ya alasannya sama dengan alasan kenapa gue melakukan banyak hal: karena ingin saja. Gue rasa pada saat itu gue hanya sedang ingin bercerita tentang banyak hal di kehidupan gue tanpa ada umpan balik. Cuman ingin didengarkan.

Gue bercerita tentang bagaimana kehidupan gue sekarang, kabar keluarga, pertemanan baru gue, masalah asmara, dan hal lainnya. Juga tidak lupa gue meminta maaf kalau gue sekarang mungkin tidak akan membuat dirinya bangga andai saja dia masih hidup, haha.

Gue juga bercerita bagaimana gue sering berandai-andai bagaimana jadinya hidup gue kalau misalnya dia tidak pergi secepat itu. Karena jujur saja hidup yang gue jalani dari dulu tak ada arahan dari orang tua, dan gue tahu bahwa dia adalah orang yang mampu mengarahkan anaknya, memberikan saran dan arahan dengan bijak karena dia adalah orang yang bijak... Setidaknya itu apa yang orang-orang katakan.

Gue banyak bicara di makam, tetapi juga banyak terdiamnya. Bukan merenung atau apa, hanya bengong menikmati kesendirian bersama dirinya. Berkhayal kalau dia ada di samping gue ketika gue bercerita, dan memeluk gue sambil berkata "semua akan baik-baik saja, Zi. Kamu kan anaknya mama.", tentunya khayalan tetaplah menjadi khayalan, haha. Jadinya gue hanya bisa membayangkan kalau angin sepoi-sepoi yang berhembus saat itu adalah pelukannya, karena rasanya nyaman.

Tanggal 27 Desember kemarin cukup lama gue duduk di samping makamnya. Duduk bercerita diselingi bengong sambil merokok, lalu tanpa terasa sudah 4 batang rokok gue habiskan dan waktu memberitahu kalau gue sudah di sana sejam lebih. 

Gue membersihkan sedikit dedaunan dan bunga kering di makamnya, kemudian menebar kembang baru di atasnya, lalu menyiraminya dengan air mawar, setelah itu gue pamit untuk pulang. Seperjalanan pulang, entah kenapa gue merasa hati ini agak ringan. "Ini yang orang rasakan ketika pergi terapi kali ya?" pikir gue, hahaha.

Sekali lagi selamat ulang tahun, Ma! 

Terima kasih sudah mendengarkan...

Monday, December 12, 2022

Bar Ngebar

"Gue mau minta tolong sama kalian ya, nanti tanggal 23 gue mau bikin event Natal, temanya Christmas Love Song," ucap teman gue yang pemilik bar di suatu daerah di selatan Jakarta kepada gue dan satu teman gue. Obrolan ini terjadi baru tadi sekitar jam 3 pagi ketika kami bertiga sedang duduk-duduk di parkiran sembari cari angin. Kami pun bertanya bantuan seperti apa yang dia butuhkan. Apakah perihal promosi, teknis acara, sumbang ide untuk daftar lagu? Dia pun melanjutkan, "gue mau banget di malam itu banyak yang make out." dan gue tertawa bersama teman gue yang satunya lagi, karena kami sadar kalau baru saja diminta tolong untuk memulai berciuman bersama pasangan agar pengunjung lainnya pun berani untuk melakukan hal yang sama di bar tersebut. Dimintai tolong agar menjadi instrumen untuk melakukan perbuatan berdosa. Astaghfirullah... Or should I say astaghfirulove.

Bar yang gue sebut tadi adalah salah satu dari sekian banyak cabang bar yang berada di bawah nama yang sama. Namun, yang paling gue sering datangi adalah yang itu. Tapi jangan salah, gue sering datang ke sana bukan karena gue alkoholik atau bagaimana, tetapi karena orang-orangnya.

Gue bukanlah orang yang tidak bisa bersenang-senang tanpa minuman. Gue punya banyak cara lain untuk membuat diri gue bisa menikmati diri sendiri. Lagipula gue tidak begitu menikmati rasa alkohol seperti yang pernah gue bilang di tulisan lama gue. Rasa susu strawberry tentu masih dan akan tetap menjadi nomor #1 di peringkat minuman terenak menurut gue. Jadi bisa dengan percaya diri gue bilang bahwa gue bukanlah alkoholik.

It's the people.

Pada awalnya gue sering datang sendiri ke sana. Tidak punya kenalan atau teman di bar itu, murni hanya datang sendiri karena ingin menyendiri di suatu tempat yang tidak asing dan asik. Namun lama kelamaan karena frekuensi datangnya tinggi dan gue juga ngobrol sana-sini, gue jadi kenal banyak teman baru dari sana dan dikenal oleh orang yang bahkan gue tidak tahu itu siapa. Entah sudah berapa kali gue disapa "Eey, Mar!" oleh pengunjung tapi hanya gue balas "eits, apa kabar?" karena gue nggak tahu orangnya atau namanya.

Sampai sekarang pun gue masih sering datang sendiri ke sana, karena gue tahu pasti ada saja orang yang gue kenal sedang berada di sana. Bahkan kalau gue ke bar sama di cabang lainnya, gue yakin bahwa pasti ada wajah yang gue kenal. Kalau bukan pengunjung lain, ya paling tidak pemilik atau pekerja bar itu lah.

Dari dulu sampai sekarang gue masih beranggapan bahwa rumah adalah tempat di mana lo bisa merasa nyaman dan aman. Tempat di mana lo akhirnya bisa merasakan bahagia ketika lo sedang dalam kondisi sebaliknya. Tempat di mana lo bisa yakin tidak akan merasa kesepian ketika berada di sana. Seringkali yang gue dapati rumah itu bukanlah berbentuk bangunan, melainkan berbentuk orang. Dengan definisi seperti itu, gue rasa sah saja kalau gue merasa bar tersebut sepertinya adalah rumah untuk gue.

Tidak salah dong kalau sering datang ke rumah? H3h3...

Monday, November 21, 2022

Seminggu

"Do you miss mami, Pa?" Tanya si kecil nomor dua, Kinar, ketika kami sedang di ruang tengah sambil duduk santai di atas sofa, menonton serial kartun malam yang biasanya dia tonton bersama mendiang istri saya. Kakaknya, Kinal, terlihat sudah terlelap sejak setengah jam lalu, bahkan ketika acaranya belum mulai.

Hari ketujuh. Seminggu sudah dia pergi meninggalkan kami. Selama itu juga sesak di dada ini masih ada karena merindukannya. Tentunya saya masih tidak siap kehilangan sosok seorang istri, begitu pula dengan anak-anak kami yang tidak siap kehilangan sosok seorang ibu. Tujuh hari tanpa mengecup keningnya. Seminggu tanpa memeluknya di pagi hari atau malam hari, walau sedang ngambek atau kesal. Yah, sebuah kebiasaan yang hilang.

Namanya banyak. Kalina, Lina, Linlin, Meimei, Alin, Mommy Kinar atau Mommy Kinal, Maam Lina, dan favorit saya: sayangku. Dia tidak suka dipanggil demikian, saya pun tahu itu, makanya saya sering memakai panggilan itu untuk menggodanya. "Panggil nama aja sih!" Katanya, tapi saya suka melihat mukanya yang juga tersipu ketika saya panggil demikian, haha.

Dia adalah orang yang sangat enerjik, ceria, dan mempunyai tawa yang menggelegar, saking kerasnya kalian bahkan bisa mendengarkannya dari ujung ruangan suara tertawanya yang biasanya keluar ketika saya sedang menceritakan lelucon yang sebenarnya receh. Oh iya, dia mudah sekali tertawa, dan ketika dia tertawa biasanya akan memukul atau menyubit saya karena gemas. Dia juga orang yang hangat, pintar, lebih suka memeluk ketimbang jabat tangan ketika bertemu kenalan. Dia adalah tipe yang kalau pergi ke suatu acara, akan membuat sekitar menjadi meriah dengan pembawaannya yang positif, celotehannya yang tajam, lucu, atau bahkan pedas. Padahal dia sendiri tidak suka makanan pedas.

Jalan-jalan dan makan enak adalah kegemarannya. "Lessgooo!" Begitu kata dia setiap kali melihat destinasi makanan yang baginya terlihat menarik di Instagram atau Twitter. Walau dia memiliki beberapa masalah kesehatan karena makanan tertentu, tapi dia tidak peduli. Living in that moment and not worrying much for the future. "Kapan lagi kan..." begitu kira-kira kalimat andalannya.

Dia menyayangi orang tuanya, orang tua saya, saudaranya, juga saudara-saudara saya dengan sepenuh hati. Ketika saya bilang sepenuh hati, maka benar-benar sepenuh hati. She would remember the birthdays, mengirim bunga atau hadiah, dan menyiapkan acara khusus untuk mereka walaupun dia sedang tidak begitu sehat pada saat itu. Tapi ya memang begitulah dia, keras kepala, keukeuh, dan memiliki hati yang amat besar walau badannya kecil. Tidak heran kalau banyak yang menyayanginya.

I miss her so much...

So much...

"Do you?" Tanya saya balik ke Kinar. Dia tertawa kecil dan menjawab iya. Saya pun menjelaskan kalau saya pun merindukan ibunya.

"What are you doing when you miss mami, papi?"

"Hmmm... Coba untuk tutup mata, terus kita bisa self-hug yang laaaamaaa. Kemudian bayangin kalau mami juga peluk kita dari surga." jawab saya dengan suara agak bergetar.

"Okay!" Jawab Kinar sambil mengangguk dan tersenyum, kemudian memalingkan kepalanya ke arah televisi untuk lanjut menonton.

Saya mengelus kepalanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan saya mengusap mata supaya airnya tidak jatuh ke pipi.

Tuesday, November 15, 2022

Hari Lahir

Pagi tadi... Ya atau kemarin pagi, berhubung sekarang sudah lebih dari tengah malam ketika gue menulis ini. Gue mengobrol dengan bokap gue di ruang makan ketika dia baru saja selesai memasak mie instan dan mau menyantapnya.

"Pa, mau nanya dong!" seru gue ketika dia sedang mengaduk mie instannya di dalam mangkuk biru hadiah dari deterjen.

"Nanya apa?" Tanyanya kebingungan. Gue dapat pahami, karena anaknya yang sudah jarang banget bertemu dengannya tiba-tiba di pagi hari langsung berkata seperti itu.

Sadar akan raut wajahnya yang kebingungan, tentunya gue tidak langsung bertanya. "Harus jahil dulu nih." pikir gue. Jadi kesempatan untuk membuat bokap gue semakin kebingungan pastinya langsung gue pakai.

"Jadi... Gini, Pa," gue berbicara dengan nada rendah, tempo bicara yang pelan, dan wajah yang agak serius. Tentunya bokap terlihat makin khawatir, itu membuat gue nggak tahan untuk merusak momennya dengan mengeluarkan senyuman. Tersenyumlah gue dan melanjutkan kalimat dengan nada normal, "ceritain dong pas Oji lahir itu gimana."

Selama 31 tahun hidup, gue nggak pernah mendengar cerita apa pun dari beliau mengenai hal ini. Informasi tentang kelahiran yang gue tahu hanya satu, yaitu gue lahir di hari Kamis. Itu juga gue cari tahu sendiri dengan menyetel tanggal gawai ke tanggal gue lahir. Jam berapa gue lahir, di mana lokasinya, proses persalinan gue dulu, dan hal lainnya sama sekali tidak ada yang gue tahu.

Singkat cerita kami ngobrol tentang hari itu. Ternyata gue lahir di pagi yang cerah di satu rumah sakit di Jatinegara. Gue dilahirkan dengan proses normal dan waktunya tidak lama. Ibu gue pun ketika mengandung dan melahirkan gue sedang tidak sakit, kangker yang beliau derita sedang mati suri alias sudah tidak terdeteksi lagi, intinya beliau sehat. Dan lucunya gue mendapatkan predikat bayi favorit saat itu dari para dokter dan para perawat, yang setelahnya bokap dan nyokap gue mendapatkan bingkisan dari rumah sakit. Baru lahir sudah dapat prestasi, tapi ketika besar justru tidak, huh! Hahaha.

Kami ngobrol selama 2 jam lebih. Obrolan tentunya tentang banyak kenangan yang ia punya ketika gue baru lahir sampai ketika ibu gue meninggal. Mendengarkan cerita sang bokap, kepala gue otomatis menerjemahkan ucapan-ucapannya menjadi sebuah film pendek yang ditayangkan di depan jidat gue. Seru sekali! Film seorang Omar Firdauzy, yang disutradarai oleh Omar Firdauzy, yang gambarnya diambil dan disunting oleh Omar Firdauzy, namun naskahnya ditulis oleh Pak Herman Zuhdi.

Ada satu perasaan nyaman ketika beliau bercerita tentang itu semua. Rasa hangat melihat sang ayah bercerita dengan wajah berseri yang dihiasi ceria dan haru, karena dia tampaknya juga menikmati nostalgianya. Sisi sang bokap yang belum pernah gue lihat sebelumnya.

Interaksi kami di pagi hari tadi membuat gue punya satu kesimpulan, kalau kami ternyata akan selalu merindukan sosok yang sama entah bagaimana situasinya. Memang dirimu itu adalah orang yang mustahil untuk tidak dirindu, Ma. :)

Thursday, November 10, 2022

Mendung



Gue paling suka ketika langit sedang gelap karena mendung.

Tahu kan maksudnya? Cuaca yang tidak panas tapi juga tidak hujan. Langit yang tampak gelap karena matahari ditutupi awan. Dan hembusan angin lembut yang sukarela menghantam badan.

Tentunya mendung juga kadang menyebalkan kalau misalnya terjadi ketika sedang banyak cucian. Bau-bau apek dan menganggu dari baju, bukanlah aroma favorit nomor satu.

Tapi ya di luar itu, mendung adalah cuaca yang paling gue suka karena syahdu. Apalagi kalau diiringi hembusan angin yang sepoi... Beuh! Sempurna! Nggak tahu ya, menurut gue romantis saja.

Beda cerita kalau yang mendung adalah suasana hati. Antonim dari kata "suka" sih yang biasanya terjadi. Rasanya ingin sekali awan-awan gelap itu cepat pergi, supaya jiwa raga ini bisa kembali berfungsi. Ketika itu semua dirasakan, biasanya gue cuman bisa pasrah menikmati keadaan. Sambil berharap supaya mendungnya tidak lama bertahan...

... Dan juga tidak disertai hujan.

Tuesday, October 4, 2022

Hrtbrk

Gue mengetik ini dengan kondisi penglihatan agak berbayang dan kepala berat karena baru saja bercengkrama dengan teman-teman sambil ditemani air Tuhan di suatu tempat di Jakarta.

Jadi, baru saja gue sampai di kediaman di daerah Pancoran setelah mendengarkan seorang teman berkeluh-kesah. Dia bercerita kalau dia habis seharian menguras air mata karena adanya suatu gesekan di hubungan dia dengan pasangannya. Gue paham betul kalau dia butuh mengobrol tentang hal itu, oleh karena itu gue menyediakan telinga untuk mendengarkan.

Satu hal yang gue pelajari dari pengalaman pribadi dan juga dari pengalaman orang lain, patah hati adalah satu hal yang sangat menyakitkan. Lukanya tidak terlihat, tetapi nyerinya bisa merembet ke fisik dan psikis. Seseorang bisa saja melakukan tindakan impulsif yang cenderung bodoh karena hal ini.

Bagi yang mendengarkan cerita si korban patah hati mungkin akan dengan mudahnya bilang bahwa masih ada banyak ikan di lautan, tetapi mereka yang nirempati itu lupa bahwa si korban lautnya baru saja kering. Pada saat itu dia hanya ingin satu ikan yang spesifik, bukan ikan lain. Paling tidak sampai luka di hatinya kering dan sembuh.

Patah hati itu sangat personal dan tidak mengenal usia atau kedewasaan emosional. Nggak ada solusi mutlak untuk mengobatinya. Namun, hal terpenting yang mesti si korban tahu adalah untuk tidak menjadi bom waktu untuk diri sendiri dengan melakukan tindakan yang destruktif untuk dirinya.

Patah hati karena kehilangan bisa mengantarkan satu individu untuk menemukan dirinya sendiri, tapi bisa juga malah membuat dirinya malah makin hilang. Semua tergantung seberapa jauh dia mengenal dirinya.

Mengenal diri sendiri adalah keharusan.

Dimulai dari gelas pertama dan diakhiri di entah gelas keberapa. Terakhir sih gue masih lihat matanya berkaca-kaca, tapi semoga saja setelah bercerita bebannya agak berkurang walaupun gue yakin nggak seberapa. Karena  lagi-lagi patah hati itu sangat personal, cuman si empunya hati yang bisa paham rasanya.

Wednesday, September 14, 2022

Lubang Hidup

"Kalau punya mesin waktu atau bisa punya kesempatan untuk balik ke masa lalu dengan pengetahuan yang udah loe punya sekarang, loe mau ubah apa dalam hidup loe?" Tanya seorang teman ketika kami sedang nongkrong hahahihi di salah satu sudut kota Jakarta.

Pernah terpikir hal sama? Bohong banget kalau nggak sih. Manusia pasti pernah berkhayal seputar bahasan ini paling nggak dua kali dalam hidupnya. Memang seru membayangkan suatu hal yang mustahil terjadi.

Jujur saja gue sendiri punya banyak banget lubang yang mau gue tambal. Lubang yang terbentuk karena adanya kesalahan yang terlanjur gue lakukan selama tiga puluh tahun hidup ini. Ingin tahu saja apa yang akan terjadi misalnya satu keputusan penting yang sudah gue ambil dahulu, tidak gue lakukan. Mungkin akan membuat hidup gue lebih baik, menjadi seorang Omar yang berbeda dan lebih bahagia. Namun, tentu saja kemungkinan untuk terjadi sebaliknya juga ada.

Lucunya lubang yang gue sebut tadi, juga merupakan alasan kenapa gue menjadi seperti saat ini, dan gue cukup suka dengan Omar yang sekarang. Kesalahan yang gue lakukan di masa lalu terjadi karena keputusan yang gue ambil, itu semua memberi pelajaran untuk diri gue sehingga gue punya isi kepala komplit dengan POV seperti sekarang. Punya lingkaran pertemanan seperti sekarang yang cukup baik, dan hal lainnya yang sepatutnya gue syukuri.

Jadi, idealnya memang tidak harus mengubah apa-apa. Pertanyaan hipotesa yang diawali dengan kata "kalau" biarlah menjadi "kalau", jangan dijadikan alasan untuk menyesali yang sudah-sudah.

Lalu apa jawaban gue untuk pertanyaan teman gue tadi? Ya pertanyaan tongkrongan tentunya dijawab dengan jawaban tongkrongan dong, tidak lupa dengan bumbu ejekan dan umpatan biar lebih sedap. 

Wednesday, July 27, 2022

Tiga Minggu...

Tepat tiga minggu lalu gue dan pasangan gue pada saat itu mengakhiri hubungan. Hubungan tersingkat yang pernah gue jalani, hanya 11 bulan.

Dimulai dari komunikasi kami yang disfungsi di hari-hari sebelumnya, sampai pada akhirnya tercapai keputusan untuk menyudahi jalinan asmara di antara kami. Gue pribadi masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan apa penyebab berakhirnya hubungan kami jika ditanya oleh teman-teman. Jawaban paling simpel yang bisa gue berikan kepada mereka adalah pihak lainnya sudah merasa bosan saja. Selain karena itu adalah jawaban yang tidak melahirkan pertanyaan susulan, gue menjawab demikian juga karena gue bingung.

Patah hati memang tidak pernah enak. Patah hati karena berakhirnya hubungan resmi sih baru dua kali gue rasakan, tapi di luar itu banyak hal lainnya yang juga kadang membuat seorang Omar patah hati. Resepnya sama seperti resep kecewa: ekspektasi yang dibuat oleh diri sendiri, tetapi tidak tercapai.

Namun semua jenis rasa patah hati sama saja...

Nggak enak.


Wednesday, May 4, 2022

Silsilah

Mempunyai keluarga yang besar itu kadang-kadang membingungkan. Selain karena sulit menghafal semuanya, juga karena silsilahnya yang cukup loetjoe.

Beberapa tahun lalu gue baru saja menggendong anak kecil berumur sekitar 2 atau 3 tahun. Bocah itu adalah anak dari keponakan kakak gue, yang tentu saja membuat gue menjadi seorang kakek di dalam silsilah keluarga.

Oh, by the way, itu adalah keponakan kakak gue dari keluarga bapaknya. Kami beda bapak dan gue dengan kakak gue beda 13 tahun.

Lanjut lagi, masih di keluarga yang sama. Ada juga sepupunya kakak gue--yang otomatis menjadi sepupu gue juga--yang tahun kelahirannya sama dengan bapak gue. Gue memanggilnya dengan sapaan "Mbak/Mas".

Hari ini gue silaturahmi ke rumah kakak gue yang baru saja selesai direnovasi di daerah Bintaro. Kami mengobrol ngalor-ngidul hahahihi bersama sepupunya yang lain sambil minum-minum. Kemudian menjelang malam, datang lagi laki-laki seumuran gue yang merupakan saudara dari kakak gue juga. Kami semua ngobrol melanjutkan hahahihi dengan obrolan berbeda. Di penghujung pertemuan, ketika gue mau pulang, anak kakak gue menyapa orang tersebut dengan awalan "kak".

Dan gue baru sadar kalau ditarik silsilahnya, dia adalah keponakan gue.

Lieur euy, hahaha.

Tuesday, May 3, 2022

Leba-run Away

Yak, belum apa-apa sudah kelewat satu hari... Tapi tak apa, saya sudah berdamai dengan kemalasan diri sendiri. H3he....

Tapi kali ini kalau mau dikasih pembelaan juga bisa, karena kemarin adalah hari lebaran Idulfitri. Jadi...

Selamat Idulfitri, wan-kawan!

Bagaimana lebarannya? Kenyang tidak? Apa kenyang juga dengan pertanyaan basa-basi yang kalimat tanyanya diawali dengan kata "kapan"? Gue pribadi entah kenapa nggak begitu terganggu dengan hal itu. Mungkin karena: 1. Gue nggak peduli, 2. Gue nggak peduli, dan 3. Gue nggak peduli.

Paling populer yang bikin orang malas adalah pertanyaan "kapan nikah?". Sebagai orang yang menganggap pernikahan itu tidak begitu penting dan oleh karena itu juga gue jadi tidak menjadikan itu tujuan, gue tidak pernah merasa terganggu dengan pertanyaan senada. Pun gue tidak mendapatkan pertanyaan itu sesering itu. Tampaknya mereka sudah lelah karena tidak puas dengan jawaban gue ketika ditanya demikian, soalnya beberapa kali gue pertanyaan itu gue jawab dengan "belum siap." ketika gue dalam mode sopan, atau "males ah." kalau gue sudah menganggap pertanyaan itu berbunyi sumbang di telinga. Ada juga waktu di mana gue menjawab secara gamblang kalau gue tidak begitu ingin menikah, itu terjadi beberapa tahun lalu ketika ada saudara tiri bertanya dan sepertinya orang tua gue mendengarnya. Semenjak saat itu mereka setengah malas gitu untuk bertanya hal demikian ke gue, karena mereka sudah tau sudut pandang gue tentang pernikahan, hahaha.

Ngomong-ngomong...

Kemarin adalah lebaran ketiga gue di Bekasi. Biasanya para saudara dari pihak bokap datang untuk silaturahmi karena beliau adalah anak pertama dari nenek gue. Dari yang sudah-sudah, gue secara tidak resmi menjadi "penghibur tamu" di mana gue harus mengajak mereka ngobrol agar tidak bosan di rumah. Menjaga mereka supaya tidak selalu memegang telepon genggam agar esensi silaturahmi tidak hilang. Memastikan suasana tidak menjadi garing.

Namun entah kenapa beberapa waktu belakangan ini energi gue untuk bersosialisasi tidak sebanyak itu. Capek sekali walaupun hanya mengajak dua orang ngobrol. Belum lagi telinga ini dipaksa mendengarkan teriak bocah-bocah yang berlarian ke sana ke sini. Seharian rasanya ingin rebahan dan tidur. Ingin melarikan diri ke kos terus rasanya.

Pada akhirnya, sebelum sore tiba mereka sudah pulang semua. Tanpa ba-bi-bu gue pun cabut ke Jakarta untuk balik ke kos. Begitu sampai, nggak membutuhkan waktu lama untuk gue tertidur. Bangun jam 8 malam, makan sambil nonton, kemudian tertidur lagi.

Capek euy...

Well, gue rasa akan banyak orang di luar sana yang setuju kalau gue bilang bahwa lebaran itu memang salah satu momen yang melelahkan.

Sunday, May 1, 2022

Lis Nulis

Bangke... Ini blog kesannya diisi hanya di bulan Mei di setiap tahunnya. Terakhir posting itu akhir bulan di tahun lalu.

Ya tapi bagaimana lagi ya? Sibuk. ¯\_(ツ)_/¯

Gue tahu kalau itu hanya alasan, tapi menyalahkan sesuatu atas sesuatu itu emang terasa melegakan, hahaha.

Anyway...

Dengan gue nggak menulis untuk blog ini, bukan berarti gue berhenti menulis. Gue masih menulis di ranah profesional sebagai copywriter dan scriptwriter. Yang di mana keasikan menulisnya hampir nggak ada. :')

Resmi 4 bulan lalu gue memutuskan untuk keluar dari perusahaan event organizer karena beberapa hal, lalu sekarang gue balik ke dunia gebuk keyboard. Bukan keluar karena hal yang tidak baik tentunya. Gue masih berhubungan sangat baik dengan EO gue tersebut, masih sering nongkrong di kantornya, masih sering jadi pekerja lepas untuk mereka, dan masih terus "diminta" secara halus via bercandaan untuk balik namun gue menolak.

Sekarang gue menjadi pekerja lepas sebagai tukang nulis. Sayangnya saja gue sekarang sudah kehilangan beberapa klien lama gue dan harus memulai lagi dari nol. Kok bisa kehilangan? Simpelnya karena bekerja di EO, maka komitmen yang harus gue prioritaskan terletak di EO tersebut (walaupun kalau bicara rupiah, pundi gue dari kerja lepas itu lebih besar daripada gue di EO), sehingga klien yang ada tidak bisa terpegang karena... Man, bekerja di EO itu sangat menyita waktu.

Dan ya, sekarang gue balik menjadi pekerja lepas sebagai tukang tulis yang di mana itu adalah (gue rasa masih) hobi gue.

Kata orang, kalau seseorang melakukan pekerjaan yang kebetulan juga merupakan hobinya, maka dia pasti tidak akan merasa seperti bekerja. Nope. Sepertinya itu tidak berlaku untuk kerjaan tulis menulis berbasis permintaan. Entah ya, yang gue rasakan dari dulu rasanya beda saja gitu.

Oke...

Balik ke poin awal, tentang blog ini dan bulan Mei. Gue sepertinya akan melakukan kembali gerakan menulis setiap hari di bulan Mei ini. Menulis tentang apa saja yang gue mau walaupun sibuk. Dimulai dari hari ini, hehe.

Oh iya, selamat Idulfitri, wan-kawan!