Thursday, August 20, 2026

Syukur

Orang sering lupa mereka kurang mensyukuri apa yang ada di sekitar mereka, sampai mereka harus terpisah dengan hal itu dan rasa rindu datang seperti badai hebat tiba-tiba di hari yang cerah.

Itu berlaku dari hal kecil seperti rasa pedas pada makanan yang biasa kita makan tiap harinya, atau hal besar seperti peluk hangat seorang kawan yang kita anggap bisa kita temui di hari esok. Pada saatnya semua itu tidak lagi di sekitar kita, sensor batin kita menjadi sakau, dan itu rasanya tidak enak.

Hari esok memang akan selalu ada, tapi apa yang akan ada di dalamnya mungkin tidak akan sama. Hal yang akan absen di dalamnya kita tidak pernah tahu apa. Sebuah misteri yang menjadikan itu "besok" menjadi lebih seru. Atau menjadi rindu.

Kemarin gue baru saja pulang ke Indonesia dari perjalanan seminggu gue ke Jepang. Hari ini gue menuntaskan rindu gue akan makanan kaya rasa yang setiap hari gue makan, dan rasanya menyenangkan. Juga gue seharian memeluk kasur yang sebelumnya tiap hari gue hinggapi, karena siapa sangka kasur ini pun adalah salah satu hal yang paling gue rindukan selama gue di negeri seberang.


Saturday, August 15, 2026

Muter-muter

Selama di Jepang ini langkah per hari gue nggak pernah kurang dari dua puluh ribu. Bahkan kemarin menyentuh 33 ribu langkah. That's crazy considering I'm indonesian! Well... Not really tho, tapi sebagai orang yang termasuk "rata-rata" Indonesia, angka itu fantastis.

Di Indonesia--khususnya bagi yang tinggal di Jakarta atau Bekasi, berjalan jauh itu agak sulit dilakukan. Penyebabnya banyak, tapi beberapa faktor utama yang menjadi kunci utamanya. Asal hal-hal itu terpenuhi, sebenarnya bisa saja kita semua berjalan jauh dan mencapai langkah yang banyak. Tapi kenyataannya kan tidak.

Hal-hal yang gue maksud tadi salah satunya adalah infrastruktur baik. Jalur pejalan kaki di Indonesia tempat gue tinggal itu seperti dianaktirikan. Pejalan kaki harus berjibaku dengan para pedagang di pinggir jalan juga aroma pesing yang bisa tercium di mana-mana. Hal itu tentu membuat berjalan-jalan dengan kaki tidaklah nyaman. Belum lagi akses transportasi umum antara satu titik dan titik lain tidaklah bersahabat jaraknya. Itu tidak gue temui di Jepang ini.

Hal lainnya adalah udara bersih. Langit abu-abu di daerah Jakarta dan Bekasi atau mungkin daerah Jawa lainnya adalah hal yang biasa. Kita semua tahu bahwa itu adalah tanda polusi di udara tidaklah sedikit. Gue beberapa hari di Jepang, berjalan puluh ribuan langkah tidaklah terasa melelahkan. Karena udara bersih yang seharusnya menjadi hak tiap manusia gue dapatkan di sini. Puluhan kilometer yang gue tempuh selalu diiringi dengan asupan oksigen segar yang membuat paru-paru dan otak gue bisa bekerja sama untuk melalui itu semua tanpa ngos-ngosan. Berkeringat iya, tapi nafas berat tidak. Di Jakarta? Tentu saja oksigen yang gue hirup berbanding lurus dengan uap karbon dan debu. Sampai lebih cepat justru lebih baik. Tapi sayangnya sampai lebih cepat juga sulit, karena macetnya wadidawnya bombastis.

Oleh karena itu kebanyakan di antara kita memilih untuk memakai kendaraan untuk ke mana-mana. Tapi kendaraan pribadi, bukan umum. Soalnya kendaraan umum di sini pun tidaklah begitu proper, dan itu membuat kita kembali lagi ke poin sebelumnya. Muter-muter.

Mau tahu apa lagi yang muter-muter?

Orang malas jalan kaki karena nggak nyaman - akhirnya orang pakai kendaraan pribadi ke mana-mana - karena orang-orang pakai kendaraan pribadi, kendaraan di jalan menjadi banyak - karena kendaraan banyak, polusi juga banyak - karena polusi banyak, orang malas jalan kaki karena nggak nyaman.

Muter-muter.

Friday, August 14, 2026

Bonding

Banyak cara untuk menambah teman. Di umur gue yang sudah tidak muda ini, gue justru melihat banyak jalannya. Sayang sekali, ketika gue masih muda justru tidak sadar akan hal-hal itu.

Ada yang bisa bonding dari sekadar omongan tentang hobi yang sama, ada yang dari minuman pelemas syaraf, ada yang dari aktivitas menyenangkan bersama.

Kali ini gue bonding dengan sesuatu yang gue belum pernah sebelumnya: berjudi. 

HAHAHAHAHAHA...


... Tapi tanpa duit ya.



Thursday, August 13, 2026

Gerimis

Hari ini gue mengelilingi Jepang dengan syahdu. Penuh dengan jalan kaki dan juga berbasah-basahan. Sesuatu yang mungkin tidak akan gue lakukan di Indonesia.

Jepang seharian ini penuh dengan hujan gemes. Tidak yang deras banget, tapi tidak bisa dibilang kecil juga intensitasnya. Sebuah hujan yang biasa kalian lihat di film-film yang karakter utamanya masih bisa memilih beraktivitas outdoor ketika hujan ketimbang berteduh.

Gue pun memilih untuk tidak berteduh. Karena menurut gue para karakter film yang sedang berada di hujan seperti itu keren. Gue? Kuyup. Jauh dari keren.

But again, ini adalah sesuatu yang mungkin tidak akan pernah gue lakukan di Indonesia. Karena pertama, jalanan di Indonesia tidak beres. Kedua, hujan gemes seperti ini di Indonesia biasanya berakhir nyolot.

Wednesday, August 12, 2026

Warlok

Hari ini gue landing Jepang. Gue mendarat sekitar jam 9, setelah menempuh perjalanan sekian jam dari Taiwan. Setelah sampai, seperti biasa, yang gue pikirkan adalah "terus apa?"

"Now what?”

Itu adalah tema perjalanan gue mungkin ya? Soalnya cara gue menikmati suatu daerah adalah dengan berbaur dengan masyarakat. Memakan yang sehari-hari mereka makan, melakukan kegiatan non-turis, dan hal-hal lain yang berbau keseharian.

Di Taiwan sendiri gue cukup menikmati ketika gue dan teman-teman gue makan apa yang warga lokal makan. Makanan pinggir jalan yang equivalent-nya adalah warteg. Di situ gue merasa menjadi lebih dekat dengan warlok.

Nah, di Jepang sendiri gue masih belum menemukan itu. But again, gue baru 3 jam di Jepang. Gue masih punya waktu 5 harian untuk menjadi warga lokal. So... We'll see.

Tuesday, August 11, 2026

Taiwan

Sekarang gue sedang di Taiwan, tujuannya transit sekian belas jam untuk setelahnya pergi ke Jepang.

Masalahnya... Transit itu akan menyenangkan jikalau ada duitnya untuk coba ini itu. Nggak usah duit lah,  kartu untuk transaksi lintas kurs saja cukup. Tapi sayangnya gue tidak menyiapkan keduanya untuk Taiwan ini.

Soalnya, gue pikir gue akan dilarang untuk masuk Taiwan karena ada hal ini dan itu seputar persyaratan. Namun, ketika sudah di custom, kok bisa masuk???

Hasilnya? Ya bingung, hahahaha.

Sekarang gue hanya bisa mengekor teman-teman gue karena mereka yang bawa duit Taiwan. Intinya Jenius sialan lah.

Monday, August 10, 2026

Jejepangin

Gue suka dengan beberapa budaya populer Jepang, seperti musik, makanan, animasi, dan lainnya. Tapi gue tidak pernah yang benar-benar menggilai atau terobsesi dengan salah satu di antaranya.

Suka sih, tapi ya sudah hanya sekadar suka.

Hal itu membuat Jepang tidak sampai menjadi negara yang ingin gue tuju pertama kali. Jika kita bicara tentang negara yang ingin dikunjungi, pilihan pertama gue sebenarnya New Zealand atau Selandia Baru. Gue sangat terobsesi dengan pemandangan langit malam di sana, di mana kalian katanya bisa melihat jutaan bintang terhampar luas di angkasa. Garis Bima Sakti bahkan katanya bisa dilihat dengan mata telanjang karena polusi cahayanya sangat minim. Dibayangkan saja sudah membuat gue bergidik.

Namun, apa boleh buat, kesempatan untuk pergi ke luar negeri pertama jatuh kepada negara Jepang. Untuk menonton konser salah satu band Jepang favorit gue, yang gue baru tahu belakangan kalau umur mereka dan tanggal lahirnya sama. Plus gue ke sananya gratis, haha.

 I don't know, man, mungkin ini adalah cara alam semesta dalam membuat bait puisi yang berjudul Hidup Omar. Karena, walaupun Jepang bukan tujuan utama gue, tapi kepergian gue ke sana cukup romantis jalan ceritanya.

Saturday, August 8, 2026

Wis Tuo

Kadang gue lupa kalau gue sudah tidak lagi muda. Bergaul dengan banyak orang membuat gue secara otomatis mempunyai lingkaran pertemanan yang jarak umurnya beragam. Menjadi lebih muda di tongkrongan, lebih tua, atau sebaya. Semua ada. Plus gue tidak dalam payung pernikahan.

Hal itu membuat jiwa muda yang gue punya tidak pernah meninggalkan gue.

Apakah itu hal baik? Sure. Tapi sayangnya raga ini sepertinya tidak bisa keep up.

Kemarin habis party. Pagi ini mesti bekerja lagi walaupun akhir pekan sampai malam. Malam ini? Ya party lagi.

Sejauh ini gue belum merasakan lelah yang segitunya. Tapi ya cukup letih juga. Walaupun rasa serunya mengalahkan capek yang gue alami, seperti yang gue bilang di atas tadi.

Gue nggak yakin badan ini bisa terus begini.

Tapi ya senang sih. Banget.

Friday, August 7, 2026

Tutup

Gue baru saja melewati tempat yang dulu biasa gue hampiri untuk bercengkrama bersama teman-teman atau pun pekerjanya. Tempat yang di mana akan gue sambangi ketika gue bingung mau ke mana atau sedang bosan saja. Sayangnya tempat itu sudah tutup.

Riuh tawanya masih sayup terdengar tiap kali gue melewatinya. Suka teringat kejadian seru atau bodoh yang pernah gue alami di sana. Momen bergosip tentang apa pun dengan siapa pun, yang ujung-ujungnya pasti akan diakhiri gelak tawa. Sayangnya tempat itu sudah tutup.

Tempat di mana gue menemukan teman baru yang masih bertahan hingga kini. Berkenalan dengan para komunitas hobi tertentu yang ternyata keren-keren walaupun sangat niche. Para manusia di dalamnya yang beragam rupa. Sayangnya tempat itu sudah tutup.

Sekarang tempat itu sudah mau beralih fungsi, tapi memori akan masa lampaunya masih terekam jelas di kepala orang-orang yang pernah menyambangi. Gue salah satunya yang menjadi saksi akan pernah berdiri tempat itu di Fatmawati.

Kadang gue merindukan tempat itu. Tapi gue lebih sering merindukan versi diri gue yang pernah tertawa di sana bersama-sama. Tapi sekali lagi, sayangnya Tori Bar Fatmawati sudah tutup.

Thursday, August 6, 2026

Ekspektasi

Semalam gue baru begadang di kantor. Tujuannya? Ya tentu saja bermain video game, haha. Video gim yang gue mainkan bernama Crimson Desert, yang pas sebelum kemunculannya sangat lantang namanya diserukan di media sosial. Para content creator bilang bahwa ini adalah gim yang setara Red Dead Redemption 2–video him bergenre koboi yang bagus banget menurut gue–tapi versi medieval. TAPI tak dinyana ternyata tidak sebagus itu. Jelek banget video gimnya. 4 jam gue main, dan gue masih belum tau isi dari ceritanya dan mekanik dari gimnya. Mengecewakan.

Rasa kecewanya sama seperti ketika datang ke tempat makan viral, tetapi ketika suapan pertama rasanya tidak sepadan dengan waktu antriannya. Atau ketika membuat janji dengan seseorang untuk bersenang-senang, janjinya dibatalkan di hari sebelumnya. Apa pun penyebab kecewanya, rasanya akan tetap sama. Tidak enak.

Semua rasa kecewa pun penyebabnya sama: tidak tercapainya sebuah ekspektasi yang ada. Ketika kita sudah membayangkan apa yang akan terjadi atau apa yang akan kita dapat, lalu semua itu dipatahkan oleh kenyataan. Bisa jadi kita yang salah, bisa jadi faktor lain yang salah. Gue pribadi lebih suka menganggap kalau memang alam semesta saja yang sedang mengingatkan kalau ekspektasi itu bukan janji.

Kenyataan tidak pernah menjanjikan apa pun. Yang menjanjikan justru kepala kita sendiri. Kita yang membayangkan acaranya bakal seru. Kita yang membayangkan makanannya pasti enak. Kita yang membayangkan seseorang akan melakukan ini dan itu. Lalu ketika semua itu tidak terjadi, kita menyalahkan kenyataan.

Ekspektasi itu aneh. Dia nggak pernah benar-benar terjadi, tetapi efeknya bisa nyata. Semakin tinggi ekspektasinya, semakin juga jarak jatuhnya ketika kenyataan tidak sesuai. Dan semakin sering gue mengalami rasa kecewa, semakin gue sadar kalau yang perlu dijaga bukan cuma usaha atau hasilnya. Tapi juga bayangan yang gue bangun sebelum semuanya benar-benar terjadi. 

Gue sendiri masih payah soal urusan menurunkan ekspektasi. Suatu keahlian yang gue rasa akan sangat berguna untuk gue guna menikmati hidup. Supaya gue lebih sering menikmati kenyataan daripada sibuk membandingkannya dengan versi yang sudah gue tulis sendiri di kepala.

Kalau ternyata hasilnya lebih bagus dari yang gue bayangkan ya syukur. Kalau ternyata jelek? Yaaaaa... Paling cuman kehilangan empat jam buat main Crimson Desert. 🤦🏻

Tuesday, August 4, 2026

Belajar

Definisi orang menarik menurut banyak orang itu berbeda-beda. Ada yang menganggap orang menarik itu adalah yang punya fitur fisik enak dipandang mata, ada yang standar menariknya dilihat dari wawasan, ada juga yang menilai dari vibe keseluruhan. Banyak. Gue juga yakin ketika ditanya seperti itu, kalian punya jawaban sendiri dan akan cepat jawabnya. Karena kalian sedang mendeskripsikan apa yang kalian suka.

Lalu bagaimana kalau pertanyaannya adalah hal sebaliknya? Orang yang nggak menarik itu seperti apa?

Kita di sini bicara tentang tidak menarik secara umum, bukan hal yang berbau romansa. Orang yang tidak menarik biasanya adalah orang yang membosankan. Orang yang membosankan itu seperti apa?

Dulu, kalau lagi ngobrol sama orang, gue sering iseng nanya pertanyaan itu. Nggak ada tujuan khusus. Gue cuma penasaran sama jawabannya. Pun jawaban yang sering gue dapat adalah: yang obrolannya garing. Tapi gue pernah sekali mendapatkan jawaban yang gue suka.

"Orang membosankan menurut gue itu orang yang berhenti belajar."

Kenapa gue suka dengan jawaban itu? Karena gue keseringan mendapatkan jawaban yang sama, dan jawaban berbeda itu membuat gue mikir, "benar juga ya."

Orang yang berhenti belajar adalah orang yang membosankan. Karena mereka terjebak dengan zona nyamannya. Melakukan kegiatan yang itu-itu saja. Mengonsumsi informasi yang sifatnya monoton. Dan itu semua membuat dia terhenti dan akhirnya... Ya bisa kalian tebak, jadi membosankan. Pengalamannya berhenti bertambah. Sudut pandangnya juga cenderung itu-itu saja. 

Belajar di sini pun artinya bukan baca buku mempelajari suatu hal. Dalam konteks yang gue bahas sekarang maksudnya adalah mencoba mengonsumsi atau melakukan hal baru yang tidak pernah dilakukan atau dikonsumsi sebelumnya. Sesimpel misalnya kalian nggak pernah naik kendaraan umum tertentu, lalu kemudian kalian mencoba untuk naik kendaraan umum tersebut. Atau misalnya ketika kalian sedang di minimarket, kalian mengambil minuman yang belum pernah dicoba sebelumnya dari rak kulkas.

Setelah melakukan itu, wawasan kalian akan hal baru bertambah. Informasi baru akan masuk ke kepala kalian. Output-nya mungkin kalian akan punya hal favorit yang baru, atau misalnya tidak ya kalian jadi tahu. Dan tahu banyak hal itu menyenangkan. 

Dari saat gue mendapatkan jawaban itu, gue selalu mencoba untuk belajar setiap hari. Soalnya ternyata seru! Dan juga karena orang yang terus belajar bukan cuma menambah pengetahuan. Mereka juga terus menambah cerita. Gue mau menjadi orang yang punya banyak cerita.

Monday, August 3, 2026

Level Down

Pernah bekerja di sebuah event organizer yang ritme kerjanya serba sat-set, ditambah klien yang bisa dibilang raja terakhir di dunia event korporat, ternyata sangat membentuk mental gue. Dari situ, standar gue terhadap sebuah event jadi tinggi.

Setelah keluar dari dunia itu dan mulai mengerjakan event dengan dinamika yang jauh lebih santai, gue jadi lebih sering bereaksi, "Lah, kok gitu?"

Memang lebih gampang dijalankan. Nggak seribet dulu. Tapi justru karena itu, gue lebih sering tepuk jidat ngelihat hal-hal yang sebenarnya bisa dibuat jauh lebih baik.

Kadang itu yang bikin gue kepikiran buat balik lagi ke medan perang yang dulu. Bukan karena duitnya lebih banyak, atau karena kangen stresnya. Tapi karena gue nggak mau jadi manja. Gue nggak mau standar yang udah kebentuk bertahun-tahun pelan-pelan turun hanya karena terlalu sering berada di lingkungan yang merasa, "yang penting jadi."

Duh... *tepuk jidat*

Saturday, August 1, 2026

Angin Segar

Di hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya menjadi Hari Santai Sedunia, syukurlah gue diberi kesempatan untuk sibuk. Untungnya juga sibuknya ini juga bersifat yang menghasilkan, jadi sudah semestinya gue merasa senang dong?

Tapi nggak juga. Badan gue rontok. I need some rest.

Beberapa minggu belakangan gue cukup sibuk, secara mental dan fisik. Istirahat? Tentu saja kurang.

Tapi... Sisi baiknya, di salah satu ruang kepala gue ada yang membuat gue cukup nyaman di antara banyaknya darderdor yang menerpa.

You know who you are.