Showing posts with label Bukan Curhat. Show all posts
Showing posts with label Bukan Curhat. Show all posts

Monday, November 24, 2025

Sia-Sia, Sia

Menyukai atau menginginkan suatu hal yang kita tahu tidak bisa kita dapatkan adalah sebuah sakit hati yang perlahan tapi pasti akan menjadi halusinasi. Tidak sehat untuk batin sih merupakan hal yang terjamin, tapi beberapa orang tampaknya tidak pernah keberatan akan hal itu.

Hal yang gue sadari belakangan adalah... ternyata gue salah satunya.

Gue tidak akan menjelaskan secara panjang lebar tentang apa yang gue sukai atau inginkan, tapi gue mau fokus ke rasa yang secara konsisten dirasakan ketika ada di titik tersebut. Rasa penuh harap ketika melihat secercah cahaya di ujung terowongan gelap yang kita tahu tidak akan pernah selesai kita lewati. Terus berlari ke ujung dengan senyum di muka sampai akhirnya kehabisan tenaga, kemudian langkah melambat karena sadar bahwa usaha yang dilakukan adalah sia-sia. Tidak berhenti, hanya makin lambat. Karena cahayanya masih ada di ujung sana. Ketika energi sudah kembali, lanjut berlari.

Kata kuncinya adalah harapan. Harapan yang diiringi bayangan di kepala sendiri bahwa suatu saat semuanya akan terijabah. "Bisa koook!" adalah dua kata pelipur lara yang jadi pembelaan ketika sudah mulai capek sendiri. Dua kata yang lebih bersinar ketimbang "Jangan lanjutin!" yang di mana sebenarnya itu lebih masuk akal dan lebih sehat. Buah harapan menjadi sebuah ilusi, yang kemudian menjadi halusinasi ketika bayangannya makin terinvestasi terasa asli.

Gue suka menganggap konyol orang-orang yang sedang berada di titik itu. Saat mendengarkan asanya pun kadang sebal juga ketika mereka bebal. Waktu pada akhirnya mereka sakit hati sendiri karena capek, gue hanya bisa merespon dengan "Salah sendiri, lagian goblok sih.".  Perasaan salah yang mereka rasakan menurut mereka memang tidak salah, itu hak mereka untuk merasakan itu. Tapi merespon dengan mengejek mereka melalui kata itu pun juga hak orang yang mendengarkan mereka bukan? Haha.

Goblok banget sih lo, Mar.

Saturday, July 22, 2023

Mesin Waktu

Beberapa waktu lalu gue keliling daerah Tebet. Niat awalnya adalah untuk mencari liquid rokok elektrik karena pada saat itu punya gue sedang menuju habis. Setelah menemukan tokonya dan membeli dua botol, tanpa ba-bi-bu gue langsung bergegas pulang ke kediaman gue di Menteng Dalam. Belum sempat keluar dari daerah Tebet, di perjalanan tiba-tiba ingatan masa lalu muncul di dalam kepala gue dan gue berucap dalam hati "Ini adalah jalan pulang gue pas TK dulu.".

Sebagai informasi pelengkap, gue dulu mengenyam bangku taman kanak-kanak di daerah Menteng Dalam, di satu sekolah bernama TK Melur--yang di mana sekarang sudah menjadi rumah dinas salah satu BUMN perbankan. Namun, rumah gue berada di Bekasi, yang membuat gue dan bokap setiap hari bolak-balik Jakarta - Bekasi. Bokap untuk bekerja di TVRI dan RRI, sedangkan gue untuk bermain di taman kanak-kanak dan kemudian menunggu bokap pulang untuk menjemput gue di rumah nenek.

Jadi... ya, saat itu gue melewati jalan yang sering gue lalui ketika gue masih TK. Ingatan gue kemudian mengantarkan gue untuk mengingat kembali satu objek spesifik yang berasosiasi dengan jalanan itu, jalanan yang gue sering lewati saat gue TK, yaitu: bubur ayam.

"Masih ada nggak ya?" pikir gue saat itu. Karena sudah lama sekali kan, sekitar 27 tahun gue tidak pernah kembali ke sana. Saat menyapu jalanan dengan mata, ternyata ketemu!

Bubur Ayam Sukabumi Tebet 1 namanya. Letaknya di sebelah Sop Ayam Klaten Pak Miin, dekat dengan McDonald's Tebet. Sudah ada banyak perubahan, tetapi yang membuat gue yakin kalau itu tempatnya adalah denah dalam ruangan di tempat makan bubur itu. Masih ada kesamaan dengan apa yang ada di dalam ingatan gue yang berbayang.

Ada perasaan aneh yang nyaman di dalam diri gue.

Gue memesan satu bubur ayam biasa, karena ingin menyamakan dengan apa yang gue makan saat kecil. Saat makanan datang beserta jus alpukat yang gue pesan, gue langsung mengambil suapan pertama, dan... BOOM! Nostalgia.

Gue teringat saat di mana ketika sore-sore sang ayah mengajak ke sana untuk mengunyah. Gue ingat bubur yang gue makan saat gue kecil itu memakai saos sambal, karena tidak dibolehkan memakai bubuk lada atau sambal, takut terlalu pedas untuk anak lima tahun yang nakal. Gue sekilas melihat ada bayangan bokap gue di sebrang meja, memakai kemeja biru sedang menyantap buburnya dengan lahap.

Serasa habis menggunakan mesin waktu, gue seketika kembali ke masa lalu. Keren sekali!

Otak kita diciptakan untuk mengingat, bukan untuk melupakan. Indera yang kita punya adalah instrumen yang membantu otak untuk membantu mengingat. Menurut gue pribadi indera pengecap dan indera penciuman adalah dua yang terbaik dalam konteks ini. Dan yang berperan dalam perjalanan masa lalu gue kemarin adalah indera pengecap.

Indera penglihatan bagaimana? Ya juga sama. Seperti beberapa jam lalu contohnya, gue baru saja melihat beberapa video atau foto lama yang berada di dalam ponsel gue. Gue jadi teringat bagaimana gue dan sekeliling gue pada saat gambar itu diambil. Bahkan gue ingat perasaan bahagia yang gue rasakan ketika momen itu diabadikan.

Wisata masa lalu dengan mesin waktu sederhana.

Tapi yang sudah ya sudah, masa lalu tidak bisa diulang mau bagaimana pun bahagianya saat lalu. Tidak baik terlalu sering kembali ke masa lampau lewat jalur ingatan. Kita harus ingat bahwa kita menua setiap detiknya dan masa depan selalu menunggu, yang sudah pasti kita lakukan adalah menjalaninya saja.

Lalu bagaimana rasa buburnya? Kebetulan rasa yang tercampur nostalgia saat itu cukup enak.

Tuesday, January 3, 2023

Mo(m)nolog

Baru saja ada seseorang yang jauh di sana meminta gue mengirimkan voice note berisi gue membaca tulisan gue yang ini untuk dijadikannya pengantar tidur. Tiba-tiba gue teringat beberapa hari lalu ketika ibu gue ulang tahun.

Selamat ulang tahun, Ma!

Pada hari ulang tahunnya yang jatuh di tanggal 27 Desember kemarin, gue menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Ritual tahunan yang akhirnya bisa gue lakukan beberapa tahun belakangan, karena gue sudah tidak lagi di Jogja terhitung semenjak 2020.

Di kunjungan ulang tahun yang ketiga ini sedikit berbeda, gue bercerita banyak hal kepada dirinya. Berbincang satu arah di depan makamnya. Makam kecil yang ditandai dengan batu marmer sederhana di pemakaman daerah Jakarta.

Gue selalu menganggap kalau berbicara kepada makam layaknya film drama itu adalah hal yang konyol. Biasanya di film-film hal itu dilakukan oleh karakter utamanya untuk memberikan efek dramatis, atau hanya sekadar untuk memberitahu penonton kalau ada sesuatu yang sudah, sedang, atau akan terjadi di film tersebut. Konyol sekali pokoknya! Namun, setelah melakukannya sendiri, ternyata tidak sekonyol itu.

Apa yang membuat gue melakukan itu? Ya alasannya sama dengan alasan kenapa gue melakukan banyak hal: karena ingin saja. Gue rasa pada saat itu gue hanya sedang ingin bercerita tentang banyak hal di kehidupan gue tanpa ada umpan balik. Cuman ingin didengarkan.

Gue bercerita tentang bagaimana kehidupan gue sekarang, kabar keluarga, pertemanan baru gue, masalah asmara, dan hal lainnya. Juga tidak lupa gue meminta maaf kalau gue sekarang mungkin tidak akan membuat dirinya bangga andai saja dia masih hidup, haha.

Gue juga bercerita bagaimana gue sering berandai-andai bagaimana jadinya hidup gue kalau misalnya dia tidak pergi secepat itu. Karena jujur saja hidup yang gue jalani dari dulu tak ada arahan dari orang tua, dan gue tahu bahwa dia adalah orang yang mampu mengarahkan anaknya, memberikan saran dan arahan dengan bijak karena dia adalah orang yang bijak... Setidaknya itu apa yang orang-orang katakan.

Gue banyak bicara di makam, tetapi juga banyak terdiamnya. Bukan merenung atau apa, hanya bengong menikmati kesendirian bersama dirinya. Berkhayal kalau dia ada di samping gue ketika gue bercerita, dan memeluk gue sambil berkata "semua akan baik-baik saja, Zi. Kamu kan anaknya mama.", tentunya khayalan tetaplah menjadi khayalan, haha. Jadinya gue hanya bisa membayangkan kalau angin sepoi-sepoi yang berhembus saat itu adalah pelukannya, karena rasanya nyaman.

Tanggal 27 Desember kemarin cukup lama gue duduk di samping makamnya. Duduk bercerita diselingi bengong sambil merokok, lalu tanpa terasa sudah 4 batang rokok gue habiskan dan waktu memberitahu kalau gue sudah di sana sejam lebih. 

Gue membersihkan sedikit dedaunan dan bunga kering di makamnya, kemudian menebar kembang baru di atasnya, lalu menyiraminya dengan air mawar, setelah itu gue pamit untuk pulang. Seperjalanan pulang, entah kenapa gue merasa hati ini agak ringan. "Ini yang orang rasakan ketika pergi terapi kali ya?" pikir gue, hahaha.

Sekali lagi selamat ulang tahun, Ma! 

Terima kasih sudah mendengarkan...

Thursday, November 10, 2022

Mendung



Gue paling suka ketika langit sedang gelap karena mendung.

Tahu kan maksudnya? Cuaca yang tidak panas tapi juga tidak hujan. Langit yang tampak gelap karena matahari ditutupi awan. Dan hembusan angin lembut yang sukarela menghantam badan.

Tentunya mendung juga kadang menyebalkan kalau misalnya terjadi ketika sedang banyak cucian. Bau-bau apek dan menganggu dari baju, bukanlah aroma favorit nomor satu.

Tapi ya di luar itu, mendung adalah cuaca yang paling gue suka karena syahdu. Apalagi kalau diiringi hembusan angin yang sepoi... Beuh! Sempurna! Nggak tahu ya, menurut gue romantis saja.

Beda cerita kalau yang mendung adalah suasana hati. Antonim dari kata "suka" sih yang biasanya terjadi. Rasanya ingin sekali awan-awan gelap itu cepat pergi, supaya jiwa raga ini bisa kembali berfungsi. Ketika itu semua dirasakan, biasanya gue cuman bisa pasrah menikmati keadaan. Sambil berharap supaya mendungnya tidak lama bertahan...

... Dan juga tidak disertai hujan.

Tuesday, October 4, 2022

Hrtbrk

Gue mengetik ini dengan kondisi penglihatan agak berbayang dan kepala berat karena baru saja bercengkrama dengan teman-teman sambil ditemani air Tuhan di suatu tempat di Jakarta.

Jadi, baru saja gue sampai di kediaman di daerah Pancoran setelah mendengarkan seorang teman berkeluh-kesah. Dia bercerita kalau dia habis seharian menguras air mata karena adanya suatu gesekan di hubungan dia dengan pasangannya. Gue paham betul kalau dia butuh mengobrol tentang hal itu, oleh karena itu gue menyediakan telinga untuk mendengarkan.

Satu hal yang gue pelajari dari pengalaman pribadi dan juga dari pengalaman orang lain, patah hati adalah satu hal yang sangat menyakitkan. Lukanya tidak terlihat, tetapi nyerinya bisa merembet ke fisik dan psikis. Seseorang bisa saja melakukan tindakan impulsif yang cenderung bodoh karena hal ini.

Bagi yang mendengarkan cerita si korban patah hati mungkin akan dengan mudahnya bilang bahwa masih ada banyak ikan di lautan, tetapi mereka yang nirempati itu lupa bahwa si korban lautnya baru saja kering. Pada saat itu dia hanya ingin satu ikan yang spesifik, bukan ikan lain. Paling tidak sampai luka di hatinya kering dan sembuh.

Patah hati itu sangat personal dan tidak mengenal usia atau kedewasaan emosional. Nggak ada solusi mutlak untuk mengobatinya. Namun, hal terpenting yang mesti si korban tahu adalah untuk tidak menjadi bom waktu untuk diri sendiri dengan melakukan tindakan yang destruktif untuk dirinya.

Patah hati karena kehilangan bisa mengantarkan satu individu untuk menemukan dirinya sendiri, tapi bisa juga malah membuat dirinya malah makin hilang. Semua tergantung seberapa jauh dia mengenal dirinya.

Mengenal diri sendiri adalah keharusan.

Dimulai dari gelas pertama dan diakhiri di entah gelas keberapa. Terakhir sih gue masih lihat matanya berkaca-kaca, tapi semoga saja setelah bercerita bebannya agak berkurang walaupun gue yakin nggak seberapa. Karena  lagi-lagi patah hati itu sangat personal, cuman si empunya hati yang bisa paham rasanya.

Wednesday, September 14, 2022

Lubang Hidup

"Kalau punya mesin waktu atau bisa punya kesempatan untuk balik ke masa lalu dengan pengetahuan yang udah loe punya sekarang, loe mau ubah apa dalam hidup loe?" Tanya seorang teman ketika kami sedang nongkrong hahahihi di salah satu sudut kota Jakarta.

Pernah terpikir hal sama? Bohong banget kalau nggak sih. Manusia pasti pernah berkhayal seputar bahasan ini paling nggak dua kali dalam hidupnya. Memang seru membayangkan suatu hal yang mustahil terjadi.

Jujur saja gue sendiri punya banyak banget lubang yang mau gue tambal. Lubang yang terbentuk karena adanya kesalahan yang terlanjur gue lakukan selama tiga puluh tahun hidup ini. Ingin tahu saja apa yang akan terjadi misalnya satu keputusan penting yang sudah gue ambil dahulu, tidak gue lakukan. Mungkin akan membuat hidup gue lebih baik, menjadi seorang Omar yang berbeda dan lebih bahagia. Namun, tentu saja kemungkinan untuk terjadi sebaliknya juga ada.

Lucunya lubang yang gue sebut tadi, juga merupakan alasan kenapa gue menjadi seperti saat ini, dan gue cukup suka dengan Omar yang sekarang. Kesalahan yang gue lakukan di masa lalu terjadi karena keputusan yang gue ambil, itu semua memberi pelajaran untuk diri gue sehingga gue punya isi kepala komplit dengan POV seperti sekarang. Punya lingkaran pertemanan seperti sekarang yang cukup baik, dan hal lainnya yang sepatutnya gue syukuri.

Jadi, idealnya memang tidak harus mengubah apa-apa. Pertanyaan hipotesa yang diawali dengan kata "kalau" biarlah menjadi "kalau", jangan dijadikan alasan untuk menyesali yang sudah-sudah.

Lalu apa jawaban gue untuk pertanyaan teman gue tadi? Ya pertanyaan tongkrongan tentunya dijawab dengan jawaban tongkrongan dong, tidak lupa dengan bumbu ejekan dan umpatan biar lebih sedap. 

Wednesday, July 27, 2022

Tiga Minggu...

Tepat tiga minggu lalu gue dan pasangan gue pada saat itu mengakhiri hubungan. Hubungan tersingkat yang pernah gue jalani, hanya 11 bulan.

Dimulai dari komunikasi kami yang disfungsi di hari-hari sebelumnya, sampai pada akhirnya tercapai keputusan untuk menyudahi jalinan asmara di antara kami. Gue pribadi masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan apa penyebab berakhirnya hubungan kami jika ditanya oleh teman-teman. Jawaban paling simpel yang bisa gue berikan kepada mereka adalah pihak lainnya sudah merasa bosan saja. Selain karena itu adalah jawaban yang tidak melahirkan pertanyaan susulan, gue menjawab demikian juga karena gue bingung.

Patah hati memang tidak pernah enak. Patah hati karena berakhirnya hubungan resmi sih baru dua kali gue rasakan, tapi di luar itu banyak hal lainnya yang juga kadang membuat seorang Omar patah hati. Resepnya sama seperti resep kecewa: ekspektasi yang dibuat oleh diri sendiri, tetapi tidak tercapai.

Namun semua jenis rasa patah hati sama saja...

Nggak enak.


Sunday, May 30, 2021

Akhirnya Kepala Tiga

Hari ini gue berganti umur menjadi tiga puluh tahun. Gue cuman bisa kayak "daaaaaammmmnnnnnn!".

Cukup terkejut sih gue ternyata bisa hidup selama ini. Gue sebagai seorang semi-nihilist tentu tidak mengharapkannya, kalau bisa sih gue mati cepat saja supaya tidak lama-lama menjalani omong kosong yang orang sebut dengan kehidupan ini. Tapi ya gue tidak mau mengakhiri hidup gue juga karena beberapa alasan. Jadi gue hanya bisa menjalani hidup gue dengan cara gue, supaya hidup gue berjalan dengan maksimal menurut hemat gue.

Live to live. Menjalani hidup untuk/supaya hidup. Menghidupi hidup.

Tidak ada yang spesial dalam detik-detik gue berganti menjadi tiga puluh. Sama saja seperti hari-hari biasa. Gue menghabiskan malam pergantian tahun bersama orang-orang yang gue pilih, mengobrol dan tertawa sambil memutar gelas yang berisi air Tuhan. Bercengkrama dengan riang walaupun di paginya gue merasa agak kecewa hahaha.

Ucapan selamat masih mengalir hingga detik ini. I guess I am loved after all, karena mereka mengingatnya padahal gue tidak pernah vokal menyangkut ulang tahun gue. Beberapa orang yang lebih tua dari gue menyambut gue ke dalam klub kepala tiga. Gue masih kayak paragraf pertama tadi, cuman bisa membatin "daaaaaammmmnnnnnn!". 

Pagi tadi ketika gue sedang sendirian, gue rebahan di sofa sambil menatap awan dalam waktu yang lama. Rencana awalnya sih hanya ingin melamun saja, karena sudah lama sekali otak gue tidak senggang. Namun tidak sampai sejam, lamunan gue berubah menjadi refleksi diri. Gue jadi merenung mengenai banyak hal yang telah terjadi selama gue hidup. Gue melihat banyak lubang yang seharusnya bisa gue tambal atau gue hindari dalam hidup gue. Sesaat gue merasa menyesal, tapi langsung sadar kalau lubang-lubang itu juga salah satu faktor yang membentuk gue.

Well, anywaaaaay, I don't want to go deep. Pun gue rasa tulisan kali ini sangat berantakan. Jadi sepertinya gue akhiri saja.

So... Yeah. I'm old now. Meninggalkan twenties itu aneh sih. Padahal gue tahu ketika berulang tahun itu ya sama saja seperti pergantian hari biasa, namun ketika memasuki kepala tiga ini rasanya agak berbeda. Semacam dipaksa untuk memikirkan banyak aspek hidup dengan lebih serius. Dan lagi-lagi gue hanya bisa teriak dalam hati, "daaaaaammmmnnnnnn!".

Thursday, May 27, 2021

Waktu itu Relatif

Semua orang pasti pernah mengeluhkan hal yang semu, seperti contohnya mengeluhkan waktu terasa berjalan cepat sekali. Padahal ya tidak, setiap manusia sama-sama punya waktu 24 jam yang tiap jamnya terdiri dari 60 menit dan tiap menitnya memiliki 60 detik. Tapi ada kalanya kita merasa waktu yang kita habiskan di suatu momen itu habis dalam kecepatan yang tidak wajar.

Merasa seperti itu biasanya entah karena sedang berada di waktu yang menyenangkan atau karena bertemu orang yang membuat kita merasa senang berada di sekitarnya. Berapa pun lamanya, pasti akan terasa kurang.

Belakangan gue merasa begitu. Sering menyayangkan waktu yang berlalu begitu cepat. Entah karena gue sedang berada di waktu yang menyenangkan...

... atau karena gue sedang bertemu orang yang membuat gue merasa senang di sekitarnya.

Berapa pun lamanya, gue akan merasa kurang.

Tuesday, May 25, 2021

Father and Son

Kemarin ketika sedang ada sesi karaoke di tempat kerja, teman gue menyanyikan lagu berjudul Father and Son yang aslinya lagunya dinyanyikan oleh Cat Stevens. Kurang lebih lagunya bercerita tentang hubungan antara seorang ayah dan anak lelakinya, sesuai judulnya.

Kemudian gue tertegun. Baru kali itu, padahal sebelumnya ketika mendengar lagunya gue biasa-biasa saja.

Lagu itu pertama gue dengar ketika menonton film Guardian of the Galaxy Vol. 2 di bioskop. Ketika menuju akhir film, lagu itu dimainkan di adegan yang sangat pas. Akibatnya dada ini sesak karena terisak.

Ketika lagu itu sedang dinyanyikan teman gue dan gue membaca lirik di layar, gue menyimaknya. Tiba-tiba gue teringat bokap gue yang kini sudah tua, dengan rambut putihnya yang makin terlihat banyak, dan badannya yang semakin terlihat kecil di mata gue.

Sosok gagahnya tidak lagi terlihat. Raganya semakin tua.

Gue dan bokap memiliki hubungan yang baik-baik saja. Tidak ada masalah di antara kami. Kami pun sering mengobrolkan hal-hal tak penting dan bercanda seputar itu. Namun gue tahu bahwa gue belum bisa berdamai dengan diri sendiri untuk sepenuhnya memaafkan dia, karena menurut gue dia tidak membesarkan dan mendengarkan gue dengan baik seiring gue beranjak dewasa. Banyak sekali what ifs yang ada di benak gue jika saja beliau menjadi sosok ayah yang ideal menurut ego gue.

Tetapi gue sadar kalau itu egois. Gue tidak bisa memaksakan dia untuk menjadi seorang ayah yang sempurna sesuai ideal gue. Dia memiliki rutenya sendiri dalam perjalanannya menjadi seorang ayah. Gue yakin dia sudah melakukan itu (menjadi seorang ayah) dengan maksimal menurutnya. Dalam perjalanannya, dia pasti banyak bingungnya dan kemudian tersesat ketika membesarkan anak-anaknya. Tidak tahu harus berbuat dan berucap apa ketika anaknya menemui permasalahan hidup yang berbeda-beda.

Karena pada dasarnya dia hanyalah seorang anak yang memiliki anak. Menjadi orang tua itu tidak ada buku panduan 100% tepat yang dia atau orang tua lain ikuti.

Bokap gue tak lagi muda. Posturnya tak lagi tegap dengan dada yang membusung tinggi. Rambut putihnya yang sering dia cat hitam mulai menipis. Kulit wajahnya tak lagi kencang sehingga membuat pipinya terlihat turun.

Pak Herman sudah menua.

Bangun tidur pagi tadi gue mendengar suaranya sedang di ruang makan. Dia sedang berbicara kepada adik gue yang paling kecil di meja makan. Gue yang belum sepenuhnya bangun, menghampirinya dan memeluknya dari belakang. "Pagi, Pa." Sapa gue seraya melingkari tangan ke badannya.

"Kamu nggak apa-apa?" Tanyanya heran sambil mengelus kepala gue yang berada di pundaknya.

Pelukan gue membuat gue makin sadar kalau tubuhnya yang dulu besar, kini terasa lebih kecil. Tangan gue mudah sekali mengelilingi badannya, berbeda ketika gue masih kecil.

"Nggak apa-apa, Pa." Ucap gue menjawab pertanyaannya. Diikuti dengan ucapan di dalam hati setelahnya, "Tetaplah di sini, Pa. Oji masih ingin banyak ngobrol."

Monday, May 24, 2021

Buku

Gue baru saja mendapatkan iPad lawas tanpa charger, kemudian membeli charger-nya terpisah di toko daring. Buat apa? Hanya buat membaca buku digital saja.

Gue berasumsi selama ini gue tidak begitu suka membaca buku elektronik karena sarana yang gue pakai adalah ponsel, sehingga gue tidak nyaman membacanya soalnya tulisannya kecil. Sedangkan kalau di laptop tidak praktis. Kemudian gue beberapa waktu lalu berpikir, "bagaimana kalau iPad?" Gue sih berasumsi nantinya akan nyaman saja karena besar dan cara pakainya seperti ponsel pintar. Belum gue coba sih, tapi sepertinya akan begitu.

Untuk saat ini gue lebih suka baca buku fisik ketimbang buku elektronik. Selain karena selama ini cuman bisa di ponsel/laptop sehingga nggak nyaman bacanya, juga karena sudah terlanjur biasa. Padahal buku elektronik itu lebih murah dan lebih ramah limbah ketimbang buku kertas. Tapi ya mau bagaimana lagi, gue tetap membeli buku fisik karena lebih asik saja dibacanya.

Walaupun begitu, gue bukan penggemar garis keras buku kertas. Selama ini asik membaca buku fisik cuman karena lebih nyaman saja. Bukan karena hal-hal pretensius seperti suka aroma kertasnya, sensasi membalik halamannya, tebal sampulnya, dll. Murni karena lebih nyaman bacanya saja. Nah sekarang gue sudah memiliki gawai lain untuk membaca buku elektronik. Apakah nantinya akan lebih suka baca buku elektronik? Ya semoga saja. Semoga gue menemukan kenyamanan membaca seperti saat gue membaca buku fisik, supaya iPad ini tidak sia-sia dan ke depannya bisa beli buku dengan harga lebih murah secara digital... Atau ya unduh secara ilegal.

(Bukan) Tukang Difoto

Ooops... Terlewat satu hari. Hahahahahahahahaha.

Tapi setelah dipikir-pikir tak apalah, yang penting pas tanggal 30 tulisannya ada 30.

Jadi hari Minggu kemarin gue terlalu lelah sehingga gue tertidur pulas di waktu yang lebih cepat dari biasanya. Ketika bangun jam 10 pagi tadi, TV dan lampu di kamar masih menyala, gue pun masih memakai celana panjang. Gue tertidur kurang lebih 12 jam, kemudian bangun dengan puluhan notifikasi di ponsel gue, beberapa di antaranya ada panggilan tak terjawab, padahal ponsel ada di sebelah gue persis. Akumulasi kurang tidur karena begadang dari beberapa hari sebelumnya dan energi yang habis karena melakukan aktivitas sehari-hari, berbuah tidur 12 jam seperti singa jantan pemalas yang habis makan buruan hasil berburu singa betina.

Hari Minggu kemarin gue dan teman-teman gue berburu foto. Gue berburu foto street dan beberapa di antara mereka berburu foto model. Kami berlima, dengan tiga orang di antaranya mulai dari setengah 6 pagi. Salah satunya gue.

Seperti yang gue bilang, beberapa di antara mereka berburu foto model. Gue adalah salah satu objek foto mereka. Salah satu teman gue yang ikut di hari Minggu kemarin kebetulan juga menjadikan gue sebagai model di hari sebelumnya. Jadi selama dua hari berturut-turut gue menjadi model dadakan.

Sayangnya gue nggak jago berpose.

Sudah dari lama gue menekuni hobi di dunia fotografi, khususnya dunia street photography. Gue nggak bisa bilang diri gue ahli dalam hal foto, tapi gue sedikit banyak mengerti lah masalah sudut, cahaya, komposisi, dan lainnya seputar fotografi. Kebetulan pernah juga beberapa kali dapat penghargaan dalam ajang fotografi. Jadi untuk urusan foto sedikit mengerti lah. Tapi untuk urusan difoto gue goblok.

Gue belum melihat semua hasilnya, namun gue yakin akan ada banyak yang jelek. Hasil jelek tentu bukan karena fotografernya, tapi karena guenya yang kurang bisa memberikan ekspresi bagus dan pose tubuh yang oke.

"Belum biasa aja, Mar." Hibur teman gue beberapa kali. Gue setuju akan hal itu, toh biasanya orang bisa karena biasa. Tapi gue ragu mau membiasakan diri untuk berpose, diunjukkan hasilnya beberapa saja membuat gue bergidik karena geli sendiri melihat betapa kakunya foto gue. Hahaha.

Misalnya suatu hari nanti gue terjun profesional di dunia fotografi, gue sih sangat yakin gue akan jadi tukang foto, bukan tukang difoto.

Saturday, May 22, 2021

Hhhh

Kenapa... 

Ada...

Orang...

Orang...

Yang...

Suka...

Suara...

Kendaraannya...

Nyaring...

Sih?!

Kzl gue

Seriously, tho... Why???

Thursday, May 20, 2021

Gak Mau!

Keponakan gue dari sang adik sekarang umurnya sudah setahun lebih, mungkin sudah hampir dua tahun. Entah, gue lupa. Yang jelas badannya sudah terlalu besar untuk diangkat dan kemudian dilempar tinggi-tinggi ke atas tanpa ada rasa khawatir dia akan mencium tanah karena tidak kuat menangkapnya. 

Di umurnya yang hampir dua tahun, dia sudah bisa berlarian ke sana dan ke sini. Jangkauan tangannya pun sudah lebih luas, lengah sedikit dia mungkin sudah memegang gunting dan membuat orang tuanya berteriak histeris. Mereka kemudian akan pelan-pelan membujuk keponakan gue untuk melepas gunting atau benda tajam yang dia pegang. Gue melihatnya seperti tim negosiasi kepolisian untuk membujuk seorang teroris melepaskan senjatanya. Setelah dia melepaskan guntingnya, lalu orang tua di sekitarnya akan memujinya "pinteeeer!". Tiba-tiba meletakkan gunting menjadi sebuah prestasi yang membuahkan pujian. 

Ketika masih kecil, mudah sekali mendapatkan pretasi. Ketika masih bayi, tertawa pun sebuah prestasi yang membanggakan. Kedua orang tuanya akan sangat senang dan memamerkan ke orang tua lain kalau anaknya bisa tertawa. Semuanya adalah prestasi. "Wah, pintarnya bisa tepuk tangan." "Lucu sekali bisa kasih mata genit." "wah, hebat kentutnya nyaring.". Padahal kalau sudah besar, kentut nyaring adalah hal yang membuat orang di sekitarnya sebal. 

Tidak beda dengan adik gue dan anaknya. Walaupun gue sadar bahwa itu bukanlah hal yang luar biasa, tapi entah kenapa gue ada sedikit perasaan bangga saja ketika melihat keponakan gue melakukan sesuatu hal yang remeh. Mungkin anak kecil memang memiliki kekuatan super untuk membuat semua orang bangga, namun perlahan hilang ketika beranjak dewasa. 

Dalam berkomunikasi pun walau kosakatanya masih terbatas, ada beberapa kosakata yang dia sudah mengerti penggunaannya dan bisa membantu dia untuk berbicara dengan orang lain. Contoh paling bagusnya adalah "Gak mau!". Dia sudah mengerti kalau menggabungkan kedua kata itu, dia bisa menolak hal-hal yang dia tidak sukai. "Ayo makan, satu sendok lagi." ucap adik gue ketika sedang menyuapi sayur-sayuran, lalu dengan tegas keponakan gue akan menjawab "Gak mau!", dan adik gue berhenti menyuapinya. "Yuk bobo yuk, udah malem." kemudian dijawab dengan "Gak mau!" dan dia pun akan mendapatkan waktu ekstra untuk bermain. 

Wow, praktis sekali! 

Belakangan ini gue sedang dikejar beberapa kerjaan di luar kerjaan utama yang rempongnya minta ampun. Karena melalui banyak tangan, brief yang diberikan tidak sempurna, sehingga revisi datang dari tangan pertama. Mantapnya lagi revisinya selalu datang bergerombol di saat-saat terakhir. Akan seru sekali sepertinya kalau gue punya kekuatan super seperti keponakan gue. 

"Mar, ternyata yang ini dan ini dipotong aja deh. Terus yang bagian awal, ditambahin dikit. Akhirannya juga dipersingkat aja gimana? Terus malam ini dikirim ke gue. Besok dipresentasikan ke klien soalnya." teman gue menjelaskan. 

"Gak mau!"

"Oh oke deh." Kemudian revisi tidak jadi ada. Haha.

Tuesday, May 18, 2021

Jadi Biasa-biasa Saja

Gue selalu tidak mau menjadi menonjol di keluarga inti gue. Ketika ada suatu keahlian yang gue kebetulan bisa atau ada pencapaian yang gue dapati, gue akan memilih untuk diam saja ketimbang bicara kepada keluarga--khususnya ke orang tua gue--tentang hal itu. Alasannya simpel, tidak mau dimintai tolong ini-itu. Mending dilihat biasa-biasa saja.

Sebelum dicap anak tidak berbakti oleh kalian, gue punya alasan yang kuat kenapa begitu. Orang tua gue sayangnya termasuk yang kolot dan sulit terbuka dengan hal baru. Itu membuat mereka seringkali meleset mengartikan suatu hal yang gue jelaskan, akhirnya  meminta tolong tentang ini-itunya pun tidak relevan.

Contohnya ketika gue masih SMA. Gue adalah anak yang sering berada di warnet, kemudian orang tua gue sempat bertanya karena risih kenapa sering banget main ke warnet. Gue jelaskan kalau gue di warnet itu untuk berselancar di Internet dan juga untuk bermain game online, gue pun sudah menghasilkan pundi rupiah dari game online tersebut.

Semenjak saat itu, di mata mereka gue adalah tech genius karena anaknya adalah anak dalam jaringan banget, mengerti dinamika Internet beserta isinya, dan bisa hack Pentagon. Apa-apa berbau teknologi pasti larinya ke gue. Seperti membantu mengganti thumbnail YouTube contohnya.

Atau mungkin contoh lainnya adalah seperti terakhir kali gue mendapatkan tugas dari bapak dan ibu gue karena menurutnya gue sangat ahli urusan teknologi, tugas itu adalah buatkan kartu ucapan Lebaran untuk mereka kirim ke grup WhatsApp mereka yang jumlahnya puluhan itu. Tentu gue buatkan, hanya saja memakai Canva, namun mereka girang sekali melihat hasilnya. Mata mereka bersinar dan senyum terbentang lebar dari telinga kanan ke telinga kiri.

"Brengsek, jadilah gue seorang desainer di mata mereka sekarang." Keluh gue dalam hati saat melihatnya.

Atau kasus lain ketika mereka tahu gue bisa memakai kamera profesional untuk mengambil foto. Tiap ada kesempatan di acara keluarga, pasti gue akan dimintai tolong untuk mengambil foto... Memakai ponsel... Yang di mana orang tanpa keahlian kamera pun bisa.

Banyak hal remeh tidak relevan yang mereka seringkali mintai tolong gue karena mereka berpikir gue memiliki prestasi di bidang tersebut. Padahal itu adalah hal biasa yang sebenarnya sangat mudah untuk dipelajari. Tapi sayangnya orang tua gue sudah ada di fase tidak tertarik belajar hal baru. Dalam kasus Canva tadi saja contohnya, gue sempat ingin mengajari mereka dan menunjukkan betapa mudahnya untuk membuat desain receh yang nantinya mereka bisa pamerkan ke teman-temannya. Namun mereka selalu sembunyi di balik kata "gaptek" untuk tidak belajar.

Gue pernah menang lomba menulis dan lomba fotografi, namun belajar dari yang sudah-sudah, tentu gue tidak mau bicara tentang keahlian gue yang lain itu--yang jelas-jelas sudah pernah ada prestasi dari sana. Bisa-bisa mereka menganggap gue seperti sosok Darwis Triadi atau Stephen King, kemudian meminta tolong gue untuk mengambil foto dari ponsel untuk mereka unggah ke Instagram kemudian sekalian membuat caption-nya.

Ra mashook.

Monday, May 17, 2021

Akar

Siang tadi gue membaca ulang tulisan-tulisan gue beberapa tahun ke belakang sampai 2014. Bukannya apa-apa sih, cuman untuk melihat sejauh mana gue berkembang. Hal yang paling kelihatan adalah kemampuan menulis gue tidak di situ-situ saja. Belum bagus, tapi lebih baik seiring berjalannya waktu. Gue rasa itu hal yang lumayan lah ya.

Lalu gue menjadi ingat, awal mula mendirikan blog ini tahun 2008 tujuannya adalah untuk dijadikan blog humor. Kemudian gue geli sendiri. HAHAHAHA.

Ketika SMA, upaya caper gue salah salah satunya adalah melucu. Salah satu sarananya adalah menulis di blog, yang kebetulan banyak teman sekolah yang baca. Caper berhasil. Kemudian tidak sampai memakan waktu lama, entah kenapa blog gue cukup dikenal oleh orang luar sekolah juga. Dikenal oleh banyak orang, jadinya agak terkenal. Kalau tidak salah ketika Bena Kribo masih menulis, dia sering mampir ke sini. Kemudian gue baru tahu kalau dia cukup terkenal di dunia tulis-menulis remaja. I didn't read his blog tho. HAHAHA.

Kiblat menulis gue dulu pas SMA adalah Raditya Dika, yang di mana gue pun tahu namanya ketika teman gue bilang kalau tulisan gue gayanya mirip dia. Karena penasaran, gue beli lah bukunya. Setelah baca satu buku, ternyata gue suka dan menjadikan dia role model dalam menulis... Euh... Masih geli gue membayangkannya.

Yada yada yada, tulisannya mengarah ke Raditya Dika, yada yada yada, gue mulai agak terkenal akhirnya. Mulai ada perasaan kalau gue harus menulis untuk orang lain. Kesenangan dalam menulis mulai hilang. Banyak pertimbangan yang sebenarnya nggak perlu dalam proses menulis gue, kayak: bagaimana kalau mereka nggak suka? Lucu nggak ya lelucon ini? Dll. Hal yang lucu adalah, gue bahkan belum terkenal beneran tapi sudah seperti orang yang memiliki blog dengan pembaca jutaan orang. Lebih lucu lagi, tulisan gue sebenarnya ya kagak lucu. Ya mungkin agak lucu sih bagi yang humornya masih seputar Kambing Jantan dll.

Ya intinya referensi gue kurang lah ketika itu.

Setelah membaca banyak judul buku dari banyak penulis, akhirnya ada satu buku dari penulis yang kebetulan teman kakak gue, yang tulisannya membentuk gue. Selain membentuk dalam cara gue menulis, tulisannya juga membentuk selera humor gue. Buku itu adalah Bertanya atau Mati! karya Mas Isman. Beliau juga salah satu penggagas komedi tunggal Indonesia, jadi kalau komika sekarang ada di mana-mana, secara tidak langsung karena dia, soalnya beliau adalah salah satu orang yang berperan memomulerkannya dari sangat-sangat awal.

Kembali tentang menulis, jadi gue suka menulis itu kelas 2 SMA, dan gue ketemu buku BaM! itu ketika awal lulus SMA. Puji Tuhan fase Raditya Dika gue tidaklah lama hahaha. Bertanya atau Mati! itu buku humor ngomong-ngomong, yang entah punya gue hilang ke mana setelah dipinjam. Sepertinya setelah menulis ini gue akan membeli lagi tetapi yang bekas di toko daring.

Ya, akar blog ini adalah blog caper yang isinya tulisan sok melucu dengan selera humor anak SMA yang jarang baca buku. Seiring berjalannya waktu, gue tidak mengarah ke sana lagi, karena: 1. Melucu itu sulit, apalagi kalau dalam bentuk tulisan, 2. Ya gue nggak merasa lucu.

Ya gue bersyukur sih gue nggak memaksakan diri harus tetap berjalan di jalan blog humor atau apalah. Nggak kebayang akan sejayus apa nantinya, blog berisi lelucon om-om yang ditulis oleh om-om nanggung. Lagipula lebih nyaman menulis seperti yang gue lakukan sekarang. Seperti diary.

Lucu juga ya kalau baca tulisan-tulisan lama. Hanya saja bukan lucu yang "HAHAHAHA", melainkan lucu yang geli "IDIH APAAN SIH ANJIR?!".

Saturday, May 15, 2021

Nonton

Sudah lama sekali gue tidak menonton film secara maraton. Sebelum-sebelumnya karena memang frekuensi gue berada di dalam kamar sangat jarang, sehingga gue tidak sering bertemu dengan TV tercinta untuk menonton film-film buah karya dari Netflix, Amazon, atau yang lainnya. Namun belakangan ini, ketika gue sering di kamar, gue tetap tidak melakukan hal itu.

Kenapa yak?

Tentu gue masih suka menonton film, tapi mood-nya untuk menghabiskan film yang ada di dalam watch-list gue tidak pernah terkumpul. Lagi-lagi kembali menonton ulang serial Family Guy sampai goblok.

Ini pun gue tulis ketika gue sedang menonton Family Guy, sebuah serial yang gue anggap tontonan aman dari dulu. Maksud gue dengan tontonan aman adalah sebuah tontonan yang bisa gue tonton kapan saja tanpa ada rasa beban, setelah nontonnya pun gue terhibur saja walaupun bosan juga.

Tak tahu lah, mungkin memang belum terkumpul saja mood-nya. Semoga tidak lama-lama seperti ini.

Friday, May 14, 2021

Big Mac

Gue teringat ketika masih di Jogja dulu, makanan Lebaran gue bukanlah opor ayam campur ketupat, melainkan Paket Hemat Big Mac dari gerai McDonald's. Tiap Lebaran pasti larinya ke sana, karena semua tempat makanan yang biasa gue datangi tutup. Entah sudah berapa Lebaran gue melakukan kebiasaan itu.

Tahun 2020--ketika sudah di Bekasi--gue dipertemukan lagi dengan opor dan ketupat, bersama lauk khas Lebaran lainnya. Tentu gue bahagia, karena rindu sekali mengonsumsi itu di hari raya. Nikmatnya beda dibandingkan ketika memakan itu di luar Lebaran.

Kemarin pun sama dengan tahun lalu, gue dan keluarga menyantap opor ayam beserta ketupat dkk untuk hari Lebaran. Namun jauh di lubuk hati, gue merasa ada yang kurang. Rasanya tetap enak layaknya opor ayam dan ketupat, lantas kenapa? Gue berasumsi karena gue rindu kebiasaan lama ketika masih di Jogja dulu. Gue butuh bernostalgia, memakan McDonald's di hari Lebaran.

Akhirnya setelah tidur siang dan bingung mau apa, dengan perut yang masih sangat penuh karena bergelut dua ronde dengan ketupat opor di pagi harinya, gue memutuskan untuk keluar. Ke mana? Ya ke McDonald's.

Gue memesan paket Big Mac dan memakannya. I kid you not, it was the best Big Mac I've ever eaten in a year! Rasanya mau meninggal, bukan karena diabetes, serangan jantung, atau kolesterol yang disebabkan junk food tersebut, tapi karena rasanya enak banget. Nggak ngerti lagi deh.

Faktor yang memengaruhi keagungan Big Mac yang gue makan saat itu tentu adalah perasaan nostalgia. Teringat kembali kebiasaan lama memakan itu setiap Lebaran di McDonald's Jalan Kaliurang atau Jalan Sudirman, ketika menyuapkannya ke mulut. Every bite I took was effin' glorious. I said that without exaggeration.

Malam ini sebelum ke rumah teman, gue mampir ke McDonald's lagi. Maksud hati ingin mengulang pengalaman yang sama dengan kemarin, toh masih dalam suasana Lebaran juga. Gue bahkan sampai rela antri sampai kurang lebih setengah jam. Namun ternyata gue menyadari dari gigitan pertama yang gue ambil, kalau pengalaman kemarin tidak bisa terulang. Cukup kecewa, namun ya sudahlah.

Bernostalgia memang baiknya dilakukan sesekali saja, I guess. ¯\_(ツ)_/¯

Thursday, May 13, 2021

Wawa-kun

Beberapa bulan belakangan gue sedang suka-sukanya mendengarkan podcast di Spotify. Podcast yang gue dengarkan bukanlah podcast tongkrongan yang isinya beberapa orang bercanda hahahihi tanpa ada arah khusus akan haluan podcast-nya. Tujuannya ya simpel saja: untuk menambah wawasan. Ikut tertawa karena pembawaannya yang lucu ya hanya bonus. Kalau di podcast tongkrongan, entah kenapa gue tidak puas karena merasa tidak mendapatkan apa-apa.

Guna utama Spotify di ponsel gue sekarang berganti dari hanya mendengarkan lagu, menjadi mendengarkan orang berbicara tentang suatu hal yang dibawakan secara menarik, dengan bahasa pintar, dan dibahas dengan ringan. Mendengarkan lagu sih tentu masih, tapi porsinya sudah timplang.

Merasa kalau wawasan sudah bertambah itu adalah perasaan yang menyenangkan. Baru tahu akan suatu hal atau mendengarkan suatu opini yang unik, apalagi yang bikin sampai membatin dalam hati "oh ya?", itu cukup seru. Bikin kita menjadi pintar sih belum tentu, sering kok hanya lewat di telinga doang, namun sensasi "oh ya?"-nya tadi itu nagih, karena tahu hal baru.

Selain mendengarkan podcast, cara menambah wawasan ada banyak sekali. Bertemu kemudian bicara dengan orang baru, traveling ke tempat baru, membaca, mendengarkan lagu, bahkan menonton pun. Intinya, yang penting aktif mengonsumsi informasi yang bervariasi, tidak itu-itu saja.

Gue punya saudara yang sudah pernah ke banyak tempat di penjuru dunia sedari kecil karena pekerjaan orang tuanya. Dia pastinya sudah bertemu banyak orang dari banyak latar belakang. Referensi yang dia punya akan  hal-hal pun banyak. Maka ketika ngobrol dengan dia, gue sudah bisa membaca kalau dia pintar tanpa harus dia deklarasikan "eh gue tau ini itu lho.". Alasan gue ingin hidup nomaden karena melihat dia deh kalau nggak salah.

Kembali lagi bicara tentang wawasan.

Dari cara bicara kita bisa melihat seseorang mempunyai wawasan yang luas. Kita bisa berasumsi bahwa dia entah sudah bertemu banyak orang, baca banyak buku, atau pergi ke banyak tempat, semua dari cara bicaranya. Entah ya, gue sih melihatnya begitu. Gue pun mau bisa seperti itu, memiliki  wawasan yang luas. Sayangnya saja gue masih belum pintar juga sampai saat ini. Gue masih menganggap banyak sekali yang belum gue tahu. Wawasan gue belum luas, jadinya ya goblok saja guenya. Hahaha.

Dang! I need to broaden my horizon.

Oh and by the way, selamat Idulfitri dan hari kenaikan Yesus Kristus!

Monday, May 10, 2021

Mimpi

Dari kecil sampai besar, mimpi yang sepertinya sering gue impikan adalah: Mimpi kiamat dan mimpi gigi rontok.

Banyak sumber bacaan yang bisa menjelaskan mengenai mimpi gigi rontok. Ada yang masuk akal karena dikaitkan dengan ilmu psikologi, pun ada yang menjelaskan secara klenik. Ya kita tahu lah mana yang lebih kredibel.

Tetapi untuk mimpi tentang kiamat, hingga kini gue belum menemukan penjelasan yang memuaskan. Tidak ada literatur yang menjelaskan dengan penjelasan rasional yang bisa membuat otak gue kenyang karena diberi asupan yang masuk akal.

Tapi ya itu hanya mimpi. Kecuali gue Mama Lauren, mimpi gue ya hanya buah tidur yang nggak butuh-butuh amat dicari maknanya.

Masih bicara tentang mimpi, ada satu mimpi bergenre fantasi yang pernah gue alami, yang menurut gue adalah mimpi gue yang paling menarik. Gue memimpikan dunia di mana langitnya berwarna pink, dengan gedung-gedung besar yang menjulang tinggi ke langit. Kemudian di langit pink itu terlihat jelas luar angkasa dengan berbagai planet tetangga yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Juga terlihat elemen paling menarik di luar angkasa tersebut: kura-kura raksasa sebesar planet sedang melayang di antara planet yang gue tinggali dan planet-planet tetangga.

Told ya, fantasi abis.

Mimpi itu hanya gue alami sekali, namun sangat-sangat membekas di otak gue. Dunia yang terlihat menarik untuk ditinggali, karena seingat gue juga tidak ada pos Pemuda Pancasila atau ormas lain di sana, atau tukang parkir supermarket yang suka tidak ada ketika kendaraan datang namun muncul tiba-tiba ketika mau keluar.

Indah.

Lompat ke beberapa tahun ketika gue sudah SMP/SMA, gue sekilas melihat ada sebuah film yang berjudul The Colour of Magic. Gue saat itu cukup terkejut ketika melihat ada scene yang mempunyai elemen seekor kura-kura raksasa yang melayang di luar angkasa.

Tercengang!

The Colour of Magic itu adalah film adaptasi dari buku berseri Discworld karya Terry Pratchett. Bukunya kurang lebih bercerita tentang dunia yang datar. Bumi yang datar  berbentuk disc itu dipikul oleh empat gajah raksasa, yang gajah raksasanya itu berdiri di punggung seekor kura-kura raksasa yang bernama Great A'tuin.


Wow!

Gue nggak pernah nonton itu sebelumnya. Juga gue tidak pernah membaca satu pun buku berseri dari Discwolrd karya Pakde Pratchett. Namun kenapa kami mempunyai fantasi sama atas satu makhluk kosmik itu? Apakah Pakde Pratchett juga memimpikannya sebelum dia menjadikan makhluk itu sebagai elemen penting di bukunya dan memberikannya nama? Apakah Pakde Pratchett sebelumnya pernah tinggal di Bekasi seperti gue? Pernah nggak ya dia naik angkot 19A?

Entahlah. I do believe great minds think alike, tho. Jadi mungkin banyak orang di luar sana yang mempunyai mimpi sama walaupun tidak tahu Great A'tuin itu apa. Bedanya mungkin itu tidak terekam di kepala mereka, karena mereka hanya menganggap itu hanya mimpi. Emang guenya saja yang suka menganggap hal tidak penting menjadi spesial.

Huu, dasar Omar.