Thursday, July 30, 2026

Pintar

Gue pernah terjebak diskusi bersama teman-teman gue tentang apa itu pintar. Diskusi pagi buta di sebuah warkop di tengah-tengah riuhnya kota Jogja. Tentunya obrolan awalnya bukanlah itu, kalau tidak salah kami sedang membahas masalah demo mahasiswa dan bagaimana gue kurang suka dengan cara orasi para mahasiswa yang pernah gue lihat. Dari obrolan jam 2 pagi itu, gue menemukan definisi pintar menurut gue.

Sebagai orang yang tidak menganggap nilai sempurna di jenjang akademis itu adalah hal penting, gue tidak begitu melihat orang yang seperti demikian adalah orang pintar. Gue pernah kok mengobrol dengan seorang cum laude universitas negeri, dan sepanjang ngobrol dia lebih banyak ngang-ngongnya. Gue pernah juga mengobrol dengan seorang insinyur yang katanya banyak pencapaiannya, tetapi ketika bercengkrama banyak nggak jelasnya. 

Di sisi lain, ada masa gue berinteraksi dengan para pedagang pinggir jalan atau tukang parkir di pasar lalu obrolannya malah seru dan jenaka. Atau office boy perkantoran suatu distrik bisnis dan kemudian dia menceritakan perjalanan hidupnya dengan diksi dan alur yang tertata. Komunikasinya bagus.

Buat gue, salah satu cara menilai kepintaran seseorang adalah dari cara dia berkomunikasi. Orang yang bisa luwes berbicara dengan siapa saja dari golongan apa saja dengan pemilihan kalimat yang tepat. Pintar bukanlah ketika seseorang bisa menjelaskan isi buku Nietzsche secara panjang lebar dengan presisi dan kata-kata "tinggi". Pintar adalah ketika seseorang itu bisa merangkum dan menjelaskan isinya sesuai siapa yang diajak bicara. Karena jelas sekali berkomunikasi dengan seorang dokter dan tukang daging di pasar caranya berbeda.

Inti dari komunikasi adalah penyampaian pesan. Jika pesan yang disampaikan tidak dipahami yang menerima, maka komunikasi itu bisa dibilang gagal dan komunikasi yang jelek. Orang pintar menurut gue adalah orang yang bisa beradaptasi menyesuaikan cara komunikasinya sesuai lawan bicaranya. Dia dapat menyederhanakan suatu pesan komunikasi yang rumit menjadil simpel supaya bisa diterima oleh orang yang lebih luas. Bukan menjelaskan hal rumit memakai pemilihan kata yang tidak umum supaya terlihat pintar.

Dan mungkin itu juga alasan kenapa gue kurang menikmati orasi yang pernah gue dengar waktu itu. Bukan karena pesannya salah, tapi karena cara menyampaikannya membuat orang yang seharusnya diajak bicara justru tertinggal di belakang. Karena pada akhirnya, orang pintar menurut gue bukanlah orang yang paling banyak tahu, melainkan orang yang tahu bagaimana menyampaikan apa yang dia tahu.

Wednesday, July 29, 2026

Biasa Bisa

Saat masih latihan parkour dulu, gue punya teman yang lantang sekali berorasi bahwa dia tidak percaya dengan yang namanya bakat. Sebagai konteks, di sini dia berbicara tentang bakat menggambar.

"Yang namanya 'bakat' itu nggak ada, men. Yang lo perlu cuman (dibiasakan) latihan."

Gue sebagai orang yang melihat buah karyanya secara berkala, pada saat itu setuju dengan apa yang dia katakan. Gue masih ingat ketika dia menggambar orang yang dia suka ketika dia masih awal-awal menggambar, rencananya mau diberikan ke sang wanita. Kalimat penghancur semangat seperti "Kayaknya jangan lo kasih ke dia deh, man." menari-nari indah di ujung lidah gue. Soalnya juelek puarah! Mata kiri dan kanannya terlihat seperti orang yang sedang mengidap stroke. Hidung dan kepalanya asimetris. Dan giginya seperti leak Bali. Intinya jelek.

Tapi untunglah gue tidak pernah mengucapkan kalimat itu. Karena lama-kelamaan gambarnya perlahan menjadi bagus. Well, pada akhirnya bisa dibilang lebih dari bagus. 

Kami pada saat itu juga bergabung ke komunitas menggambar, dan gambar dia adalah salah satu yang terbaik dari seluruh anggota komunitas tersebut. Bahkan ketika komunitas menggambar itu diundang untuk mengisi semacam seminar di sekolah-sekolah, dia adalah salah satu yang ikut menjadi pembicara. Orang sama yang dulu dengan sukses menggambar gebetannya hancur sempurna, kemudian setelahnya menjadi pembicara untuk memberi motivasi tentang menggambar. Dan hal yang selalu ia ucapkan ketika menjadi pembicara adalah, "Yang lo butuh cuman dibiasakan latihan."

Bisa karena biasa. Kalimat tua itu sudah beredar entah sejak kapan. Dan untuk banyak hal, itu benar adanya. Banyak orang menjadi ahli di berbagai bidang karena sudah terbiasa menangani hal itu. Awalnya pasti mereka tidak ada apa-apanya. Contohnya adalah kasus di atas. Teman gue gambarnya jelek sekali, tetapi setelah bertahun-tahun konsisten dibiasakan untuk menggambar dia menjadi ahli. Gue juga dulu gagap ketika disuruh ngobrol dengan orang asing, rasanya berat sekali melakukan itu. Tapi karena pernah membiasakan mengajak ngobrol banyak orang asing, melakukan itu sekarang bukanlah beban.

Menggambar dan mengobrol hanyalah dua contoh. Gue rasa prinsip ini berlaku untuk jauh lebih banyak hal. Bukan cuman kemampuan, tapi juga... rasa. Kita bisa menemukan rasa yang berbeda ketika kita sudah di tahap terbiasa. Rasa berat yang muncul di awal akan menjadi ringan kalau dibiasakan. Rasa sukar dilakukan ketika memulai akan menjadi mudah bila konsisten.

Konsistensi menjadi kunci perjalanan rasa. Itu juga yang gue temukan belakangan. Gue dihadapkan dengan hal yang awalnya terkesan biasa. Namun, karena terbiasa lama-lama ada rasa yang berbeda. Dan gue belum kembali biasa dalam menikmatinya.