Sunday, August 30, 2026

Tay

Gue rasa "tahi" atau "taik" atau "tai" adalah suatu kata yang paling efisien di dalam bahasa Indonesia. Lo bisa memakai kata itu dalam kesempatan apa pun untuk menggambarkan situasi apa pun.

Banyak emosi juga yang bisa ter-cover dengan mengucapkan kata tersebut. Sedih, marah, senang, dan lainnya bisa terwakilkan ketika lo memakai kata "tai" saat berbicara dengan orang lain, tergantung bagaimana intonasi yang elo gunakan.

Sebagai kata benda, "tai" juga bisa menjadi pengingat kecil bahwa semua manusia sebenarnya tidak serumit itu. Kita semua memilikinya dan rutin mengeluarkannya. Mau lo kaya atau miskin, good looking atau jelek, tua atau muda. Semua manusia membawanya.

Hal kecil nan vulgar yang kalau dipikirkan secara filosofis ternyata bisa sangat dalam. Tapi orang justru menghindari kata tersebut untuk digunakan karena sifatnya. Terlalu vulgar, atau terlalu remeh.

Banyak orang melewati hal kecil karena tidak terlalu penting untuk mendapatkan perhatian lebih. Padahal kadang hal kecil itu yang justru punya potensi berdampak besar untuk kehidupan nantinya. Jika sudah terlewat kesempatannya, baru kita menggunakan kata "tai" menjadi kata sifat untuk menjelaskan situasi yang ada bau sesalnya.

Tai.

Gue rasa kita perlu menaikkan kesadaran bahwa kata itu adalah kata yang bagus. Efisien untuk segala hal. Ya... Gue rasa kita harus berhenti "menaikan" kata "tai". Dan barusan adalah contoh ”tai" sebagai kata kerja.

See? Efisien.

Friday, August 28, 2026

Sunyi

Sebagai warga Indonesia (khususnya Jakarta dan sekitarnya), kita sudah pasti akrab dengan kebisingan. Suara orang teriak ketika berbicara di kendaraan umum, speaker tetangga yang memainkan lagu dengan volume penuh, atau suara kendaraan lalu lalang yang kadang diperkuat dengan modifikasi knalpot yang sebenarnya tidak perlu. Yang terakhir adalah yang paling akrab dengan keseharian gue.

Nggak, gue nggak memiliki kendaraan dengan spesifikasi tersebut. Kendaraan bermotor yang knalpotnya dimodifikasi supaya terdengar lebih gahar menurut penikmatnya. Di telinga gue justru sama sekali tidak ada nikmat-nikmatnya. Mengganggu sih iya. Preferensi gue pribadi kalau suaranya makin sunyi malah makin bagus.

Itu berlaku untuk banyak aspek di dalam hidup gue. Gue menghindari kebisingan supaya bisa menjalani hari dengan lebih tenang. Makin sunyi? Makin bagus.

Thursday, August 27, 2026

Blak-Blakan

Sudah bukan hal aneh lagi di lingkar pertemanan gue kalau gue itu adalah teman yang blak-blakan. Gue seringkali mengatakan apa yang ada di kepala gue dengan lantang melalui tindakan atau perkataan. Syukurnya sifat itu juga dibarengi dengan kepekaan terhadap sekitar, jadi jatuhnya tidak menjadi "kurang ajar". Ya... Tidak sepenuhnya.

Gue suka membuat orang tertawa karena gue. Soalnya gue sendiri sangat suka tertawa. Di kesempatan ketika bersama teman-teman, tidak jarang keblak-blakan itu gue gunakan untuk mengeluarkan celetukan yang kadang tidak lumrah dikatakan dengan santai. Sejauh ini sih lebih banyak tawa yang dihasilkan, tetapi gue juga yakin kadang gue kelewatan sehingga menyinggung orang. Di saat ada yang tersinggung karena hal itu, gue akan berusaha langsung meminta maaf.

Keblak-blakan yang menempel pada diri gue sudah mengantarkan kaki ini melangkah ke banyak hal. Apa yang ada di sekitar gue saat ini juga tidak bisa lepas darinya. Lucunya ketika beberapa hari lalu ada sesi ramal meramal dalam tongkrongan, hasil ramalan gue mengatakan umur gue akan berakhir karena benda tajam. Gue langsung mikir "fix gue kayaknya bakal ditusuk karena omongan gue."

Walaupun demikian, gue nggak berencana berhenti menjadi blak-blakan, hahahahaha.

Wednesday, August 26, 2026

Selang Seminggu

Okay, let's talk about Japan!

Setelah seminggu di negara itu tanpa menghampiri destinasi turis dan berkelana ke sana-sini, gue bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak ada yang begitu spesial di Jepang. Sekarang sudah lebih dari seminggu gue kembali ke Jakarta, dan rasa rindu akan negara tersebut masih belum ada.

Opini tersebut tentunya subyektif. Itu hanya pendapat gue pribadi berdasarkan apa yang gue rasakan. Gue tidak merasakan "it" factor ketika gue sampai dan pulang dari negara tersebut.

Harga makanan mahal, rasanya pun tidak membuat gue takjub, udaranya–karena gue di sana saat musim panas–tidak terasa beda jauh dengan Jakarta. Oh well, mungkin itu yang bisa gue bahas.

Satu-satunya hal yang jadi highlight perjalanan gue di sana adalah udara bersihnya. Dikombinasikan dengan infrastruktur yang rapi dan tertib, itu semua membuat hari-hari gue di sana dipenuhi dengan langkah-langkah kaki. Hal yang tidak akan gue dapatkan di Jakarta.

Langit bersih, udara segar, dan berjalan kaki dengan nyaman. Ya... Mungkin itu yang akan gue rindukan nanti. Yang jelas bukan saat ini.

Thursday, August 20, 2026

Syukur

Orang sering lupa mereka kurang mensyukuri apa yang ada di sekitar mereka, sampai mereka harus terpisah dengan hal itu dan rasa rindu datang seperti badai hebat tiba-tiba di hari yang cerah.

Itu berlaku dari hal kecil seperti rasa pedas pada makanan yang biasa kita makan tiap harinya, atau hal besar seperti peluk hangat seorang kawan yang kita anggap bisa kita temui di hari esok. Pada saatnya semua itu tidak lagi di sekitar kita, sensor batin kita menjadi sakau, dan itu rasanya tidak enak.

Hari esok memang akan selalu ada, tapi apa yang akan ada di dalamnya mungkin tidak akan sama. Hal yang akan absen di dalamnya kita tidak pernah tahu apa. Sebuah misteri yang menjadikan itu "besok" menjadi lebih seru. Atau menjadi rindu.

Kemarin gue baru saja pulang ke Indonesia dari perjalanan seminggu gue ke Jepang. Hari ini gue menuntaskan rindu gue akan makanan kaya rasa yang setiap hari gue makan, dan rasanya menyenangkan. Juga gue seharian memeluk kasur yang sebelumnya tiap hari gue hinggapi, karena siapa sangka kasur ini pun adalah salah satu hal yang paling gue rindukan selama gue di negeri seberang.