Wednesday, August 12, 2026

Warlok

Hari ini gue landing Jepang. Gue mendarat sekitar jam 9, setelah menempuh perjalanan sekian jam dari Taiwan. Setelah sampai, seperti biasa, yang gue pikirkan adalah "terus apa?"

"Now what?”

Itu adalah tema perjalanan gue mungkin ya? Soalnya cara gue menikmati suatu daerah adalah dengan berbaur dengan masyarakat. Memakan yang sehari-hari mereka makan, melakukan kegiatan non-turis, dan hal-hal lain yang berbau keseharian.

Di Taiwan sendiri gue cukup menikmati ketika gue dan teman-teman gue makan apa yang warga lokal makan. Makanan pinggir jalan yang equivalent-nya adalah warteg. Di situ gue merasa menjadi lebih dekat dengan warlok.

Nah, di Jepang sendiri gue masih belum menemukan itu. But again, gue baru 3 jam di Jepang. Gue masih punya waktu 5 harian untuk menjadi warga lokal. So... We'll see.

Tuesday, August 11, 2026

Taiwan

Sekarang gue sedang di Taiwan, tujuannya transit sekian belas jam untuk setelahnya pergi ke Jepang.

Masalahnya... Transit itu akan menyenangkan jikalau ada duitnya untuk coba ini itu. Nggak usah duit lah,  kartu untuk transaksi lintas kurs saja cukup. Tapi sayangnya gue tidak menyiapkan keduanya untuk Taiwan ini.

Soalnya, gue pikir gue akan dilarang untuk masuk Taiwan karena ada hal ini dan itu seputar persyaratan. Namun, ketika sudah di custom, kok bisa masuk???

Hasilnya? Ya bingung, hahahaha.

Sekarang gue hanya bisa mengekor teman-teman gue karena mereka yang bawa duit Taiwan. Intinya Jenius sialan lah.

Monday, August 10, 2026

Jejepangin

Gue suka dengan beberapa budaya populer Jepang, seperti musik, makanan, animasi, dan lainnya. Tapi gue tidak pernah yang benar-benar menggilai atau terobsesi dengan salah satu di antaranya.

Suka sih, tapi ya sudah hanya sekadar suka.

Hal itu membuat Jepang tidak sampai menjadi negara yang ingin gue tuju pertama kali. Jika kita bicara tentang negara yang ingin dikunjungi, pilihan pertama gue sebenarnya New Zealand atau Selandia Baru. Gue sangat terobsesi dengan pemandangan langit malam di sana, di mana kalian katanya bisa melihat jutaan bintang terhampar luas di angkasa. Garis Bima Sakti bahkan katanya bisa dilihat dengan mata telanjang karena polusi cahayanya sangat minim. Dibayangkan saja sudah membuat gue bergidik.

Namun, apa boleh buat, kesempatan untuk pergi ke luar negeri pertama jatuh kepada negara Jepang. Untuk menonton konser salah satu band Jepang favorit gue, yang gue baru tahu belakangan kalau umur mereka dan tanggal lahirnya sama. Plus gue ke sananya gratis, haha.

 I don't know, man, mungkin ini adalah cara alam semesta dalam membuat bait puisi yang berjudul Hidup Omar. Karena, walaupun Jepang bukan tujuan utama gue, tapi kepergian gue ke sana cukup romantis jalan ceritanya.

Saturday, August 8, 2026

Wis Tuo

Kadang gue lupa kalau gue sudah tidak lagi muda. Bergaul dengan banyak orang membuat gue secara otomatis mempunyai lingkaran pertemanan yang jarak umurnya beragam. Menjadi lebih muda di tongkrongan, lebih tua, atau sebaya. Semua ada. Plus gue tidak dalam payung pernikahan.

Hal itu membuat jiwa muda yang gue punya tidak pernah meninggalkan gue.

Apakah itu hal baik? Sure. Tapi sayangnya raga ini sepertinya tidak bisa keep up.

Kemarin habis party. Pagi ini mesti bekerja lagi walaupun akhir pekan sampai malam. Malam ini? Ya party lagi.

Sejauh ini gue belum merasakan lelah yang segitunya. Tapi ya cukup letih juga. Walaupun rasa serunya mengalahkan capek yang gue alami, seperti yang gue bilang di atas tadi.

Gue nggak yakin badan ini bisa terus begini.

Tapi ya senang sih. Banget.

Friday, August 7, 2026

Tutup

Gue baru saja melewati tempat yang dulu biasa gue hampiri untuk bercengkrama bersama teman-teman atau pun pekerjanya. Tempat yang di mana akan gue sambangi ketika gue bingung mau ke mana atau sedang bosan saja. Sayangnya tempat itu sudah tutup.

Riuh tawanya masih sayup terdengar tiap kali gue melewatinya. Suka teringat kejadian seru atau bodoh yang pernah gue alami di sana. Momen bergosip tentang apa pun dengan siapa pun, yang ujung-ujungnya pasti akan diakhiri gelak tawa. Sayangnya tempat itu sudah tutup.

Tempat di mana gue menemukan teman baru yang masih bertahan hingga kini. Berkenalan dengan para komunitas hobi tertentu yang ternyata keren-keren walaupun sangat niche. Para manusia di dalamnya yang beragam rupa. Sayangnya tempat itu sudah tutup.

Sekarang tempat itu sudah mau beralih fungsi, tapi memori akan masa lampaunya masih terekam jelas di kepala orang-orang yang pernah menyambangi. Gue salah satunya yang menjadi saksi akan pernah berdiri tempat itu di Fatmawati.

Kadang gue merindukan tempat itu. Tapi gue lebih sering merindukan versi diri gue yang pernah tertawa di sana bersama-sama. Tapi sekali lagi, sayangnya Tori Bar Fatmawati sudah tutup.