Thursday, August 6, 2026

Ekspektasi

Semalam gue baru begadang di kantor. Tujuannya? Ya tentu saja bermain video game, haha. Video gim yang gue mainkan bernama Crimson Desert, yang pas sebelum kemunculannya sangat lantang namanya diserukan di media sosial. Para content creator bilang bahwa ini adalah gim yang setara Red Dead Redemption 2–video him bergenre koboi yang bagus banget menurut gue–tapi versi medieval. TAPI tak dinyana ternyata tidak sebagus itu. Jelek banget video gimnya. 4 jam gue main, dan gue masih belum tau isi dari ceritanya dan mekanik dari gimnya. Mengecewakan.

Rasa kecewanya sama seperti ketika datang ke tempat makan viral, tetapi ketika suapan pertama rasanya tidak sepadan dengan waktu antriannya. Atau ketika membuat janji dengan seseorang untuk bersenang-senang, janjinya dibatalkan di hari sebelumnya. Apa pun penyebab kecewanya, rasanya akan tetap sama. Tidak enak.

Semua rasa kecewa pun penyebabnya sama: tidak tercapainya sebuah ekspektasi yang ada. Ketika kita sudah membayangkan apa yang akan terjadi atau apa yang akan kita dapat, lalu semua itu dipatahkan oleh kenyataan. Bisa jadi kita yang salah, bisa jadi faktor lain yang salah. Gue pribadi lebih suka menganggap kalau memang alam semesta saja yang sedang mengingatkan kalau ekspektasi itu bukan janji.

Kenyataan tidak pernah menjanjikan apa pun. Yang menjanjikan justru kepala kita sendiri. Kita yang membayangkan acaranya bakal seru. Kita yang membayangkan makanannya pasti enak. Kita yang membayangkan seseorang akan melakukan ini dan itu. Lalu ketika semua itu tidak terjadi, kita menyalahkan kenyataan.

Ekspektasi itu aneh. Dia nggak pernah benar-benar terjadi, tetapi efeknya bisa nyata. Semakin tinggi ekspektasinya, semakin juga jarak jatuhnya ketika kenyataan tidak sesuai. Dan semakin sering gue mengalami rasa kecewa, semakin gue sadar kalau yang perlu dijaga bukan cuma usaha atau hasilnya. Tapi juga bayangan yang gue bangun sebelum semuanya benar-benar terjadi. 

Gue sendiri masih payah soal urusan menurunkan ekspektasi. Suatu keahlian yang gue rasa akan sangat berguna untuk gue guna menikmati hidup. Supaya gue lebih sering menikmati kenyataan daripada sibuk membandingkannya dengan versi yang sudah gue tulis sendiri di kepala.

Kalau ternyata hasilnya lebih bagus dari yang gue bayangkan ya syukur. Kalau ternyata jelek? Yaaaaa... Paling cuman kehilangan empat jam buat main Crimson Desert. 🤦🏻

Tuesday, August 4, 2026

Belajar

Definisi orang menarik menurut banyak orang itu berbeda-beda. Ada yang menganggap orang menarik itu adalah yang punya fitur fisik enak dipandang mata, ada yang standar menariknya dilihat dari wawasan, ada juga yang menilai dari vibe keseluruhan. Banyak. Gue juga yakin ketika ditanya seperti itu, kalian punya jawaban sendiri dan akan cepat jawabnya. Karena kalian sedang mendeskripsikan apa yang kalian suka.

Lalu bagaimana kalau pertanyaannya adalah hal sebaliknya? Orang yang nggak menarik itu seperti apa?

Kita di sini bicara tentang tidak menarik secara umum, bukan hal yang berbau romansa. Orang yang tidak menarik biasanya adalah orang yang membosankan. Orang yang membosankan itu seperti apa?

Dulu, kalau lagi ngobrol sama orang, gue sering iseng nanya pertanyaan itu. Nggak ada tujuan khusus. Gue cuma penasaran sama jawabannya. Pun jawaban yang sering gue dapat adalah: yang obrolannya garing. Tapi gue pernah sekali mendapatkan jawaban yang gue suka.

"Orang membosankan menurut gue itu orang yang berhenti belajar."

Kenapa gue suka dengan jawaban itu? Karena gue keseringan mendapatkan jawaban yang sama, dan jawaban berbeda itu membuat gue mikir, "benar juga ya."

Orang yang berhenti belajar adalah orang yang membosankan. Karena mereka terjebak dengan zona nyamannya. Melakukan kegiatan yang itu-itu saja. Mengonsumsi informasi yang sifatnya monoton. Dan itu semua membuat dia terhenti dan akhirnya... Ya bisa kalian tebak, jadi membosankan. Pengalamannya berhenti bertambah. Sudut pandangnya juga cenderung itu-itu saja. 

Belajar di sini pun artinya bukan baca buku mempelajari suatu hal. Dalam konteks yang gue bahas sekarang maksudnya adalah mencoba mengonsumsi atau melakukan hal baru yang tidak pernah dilakukan atau dikonsumsi sebelumnya. Sesimpel misalnya kalian nggak pernah naik kendaraan umum tertentu, lalu kemudian kalian mencoba untuk naik kendaraan umum tersebut. Atau misalnya ketika kalian sedang di minimarket, kalian mengambil minuman yang belum pernah dicoba sebelumnya dari rak kulkas.

Setelah melakukan itu, wawasan kalian akan hal baru bertambah. Informasi baru akan masuk ke kepala kalian. Output-nya mungkin kalian akan punya hal favorit yang baru, atau misalnya tidak ya kalian jadi tahu. Dan tahu banyak hal itu menyenangkan. 

Dari saat gue mendapatkan jawaban itu, gue selalu mencoba untuk belajar setiap hari. Soalnya ternyata seru! Dan juga karena orang yang terus belajar bukan cuma menambah pengetahuan. Mereka juga terus menambah cerita. Gue mau menjadi orang yang punya banyak cerita.

Monday, August 3, 2026

Level Down

Pernah bekerja di sebuah event organizer yang ritme kerjanya serba sat-set, ditambah klien yang bisa dibilang raja terakhir di dunia event korporat, ternyata sangat membentuk mental gue. Dari situ, standar gue terhadap sebuah event jadi tinggi.

Setelah keluar dari dunia itu dan mulai mengerjakan event dengan dinamika yang jauh lebih santai, gue jadi lebih sering bereaksi, "Lah, kok gitu?"

Memang lebih gampang dijalankan. Nggak seribet dulu. Tapi justru karena itu, gue lebih sering tepuk jidat ngelihat hal-hal yang sebenarnya bisa dibuat jauh lebih baik.

Kadang itu yang bikin gue kepikiran buat balik lagi ke medan perang yang dulu. Bukan karena duitnya lebih banyak, atau karena kangen stresnya. Tapi karena gue nggak mau jadi manja. Gue nggak mau standar yang udah kebentuk bertahun-tahun pelan-pelan turun hanya karena terlalu sering berada di lingkungan yang merasa, "yang penting jadi."

Duh... *tepuk jidat*

Saturday, August 1, 2026

Angin Segar

Di hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya menjadi Hari Santai Sedunia, syukurlah gue diberi kesempatan untuk sibuk. Untungnya juga sibuknya ini juga bersifat yang menghasilkan, jadi sudah semestinya gue merasa senang dong?

Tapi nggak juga. Badan gue rontok. I need some rest.

Beberapa minggu belakangan gue cukup sibuk, secara mental dan fisik. Istirahat? Tentu saja kurang.

Tapi... Sisi baiknya, di salah satu ruang kepala gue ada yang membuat gue cukup nyaman di antara banyaknya darderdor yang menerpa.

You know who you are.

Friday, July 31, 2026

Enak Gak Enak

Kayaknya gue udah bilang beberapa kali di sini kalau gue sama sekali tidak menyukai rasa alkohol. Gue masih belum paham rasa pahit seperti apa yang bisa lidah gue bisa nikmati dari rasa alkohol. Tajam di tenggorokan seperti baru menelan silet. Belum lagi efeknya ke tubuh jika dikonsumsi berlebihan.

But here I am, baru balik dari bar setelah bercengkrama bersama teman sambil minum-minum, dan memutuskan menulis ini di MRT dengan syaraf yang agak lemas.

Pertemuan kami cukup seru. Banyak kalimat terucap dengan nada menyenangkan di obrolan kami, yang di mana itu agak sulit didapatkan jika  dilakukan tanpa alkohol. Bisa saja, tapi tidak akan selepas itu. Lalu gue merasa bahwa thesis gue benar: gue hanya menyukai efek yang ditimbulkan dari alkohol ketika sedang nongkrong bersama teman-teman.

Untuk urusan rasa sudah absolut rasanya bagi gue untuk tidak suka. Namun, untuk buah mulut ketika bersama orang-orang dan suasana yang tercipta beda perkara. Obrolan ngalor-ngidul yang awal dan akhirnya tidak jelas arahnya tapi seru-seru saja. Gestur tidak perlu yang keluar karena badan sempoyongan, dan celetukan-celetukan bodoh yang terucap. Itu adalah resep seru dalam tongkrongan, dan bahan utamanya adalah cairan ethanol dalam gelas.

Tapi ya tetap, gue tidak suka rasanya. Gue hanya suka suasana yang dihasilkan setelahnya. Bagi gue minuman paling enak tetaplah satu: susu stroberi. Hahaha.