Saturday, August 15, 2026

Muter-muter

Selama di Jepang ini langkah per hari gue nggak pernah kurang dari dua puluh ribu. Bahkan kemarin menyentuh 33 ribu langkah. That's crazy considering I'm indonesian! Well... Not really tho, tapi sebagai orang yang termasuk "rata-rata" Indonesia, angka itu fantastis.

Di Indonesia--khususnya bagi yang tinggal di Jakarta atau Bekasi, berjalan jauh itu agak sulit dilakukan. Penyebabnya banyak, tapi beberapa faktor utama yang menjadi kunci utamanya. Asal hal-hal itu terpenuhi, sebenarnya bisa saja kita semua berjalan jauh dan mencapai langkah yang banyak. Tapi kenyataannya kan tidak.

Hal-hal yang gue maksud tadi salah satunya adalah infrastruktur baik. Jalur pejalan kaki di Indonesia tempat gue tinggal itu seperti dianaktirikan. Pejalan kaki harus berjibaku dengan para pedagang di pinggir jalan juga aroma pesing yang bisa tercium di mana-mana. Hal itu tentu membuat berjalan-jalan dengan kaki tidaklah nyaman. Belum lagi akses transportasi umum antara satu titik dan titik lain tidaklah bersahabat jaraknya. Itu tidak gue temui di Jepang ini.

Hal lainnya adalah udara bersih. Langit abu-abu di daerah Jakarta dan Bekasi atau mungkin daerah Jawa lainnya adalah hal yang biasa. Kita semua tahu bahwa itu adalah tanda polusi di udara tidaklah sedikit. Gue beberapa hari di Jepang, berjalan puluh ribuan langkah tidaklah terasa melelahkan. Karena udara bersih yang seharusnya menjadi hak tiap manusia gue dapatkan di sini. Puluhan kilometer yang gue tempuh selalu diiringi dengan asupan oksigen segar yang membuat paru-paru dan otak gue bisa bekerja sama untuk melalui itu semua tanpa ngos-ngosan. Berkeringat iya, tapi nafas berat tidak. Di Jakarta? Tentu saja oksigen yang gue hirup berbanding lurus dengan uap karbon dan debu. Sampai lebih cepat justru lebih baik. Tapi sayangnya sampai lebih cepat juga sulit, karena macetnya wadidawnya bombastis.

Oleh karena itu kebanyakan di antara kita memilih untuk memakai kendaraan untuk ke mana-mana. Tapi kendaraan pribadi, bukan umum. Soalnya kendaraan umum di sini pun tidaklah begitu proper, dan itu membuat kita kembali lagi ke poin sebelumnya. Muter-muter.

Mau tahu apa lagi yang muter-muter?

Orang malas jalan kaki karena nggak nyaman - akhirnya orang pakai kendaraan pribadi ke mana-mana - karena orang-orang pakai kendaraan pribadi, kendaraan di jalan menjadi banyak - karena kendaraan banyak, polusi juga banyak - karena polusi banyak, orang malas jalan kaki karena nggak nyaman.

Muter-muter.

Friday, August 14, 2026

Bonding

Banyak cara untuk menambah teman. Di umur gue yang sudah tidak muda ini, gue justru melihat banyak jalannya. Sayang sekali, ketika gue masih muda justru tidak sadar akan hal-hal itu.

Ada yang bisa bonding dari sekadar omongan tentang hobi yang sama, ada yang dari minuman pelemas syaraf, ada yang dari aktivitas menyenangkan bersama.

Kali ini gue bonding dengan sesuatu yang gue belum pernah sebelumnya: berjudi. 

HAHAHAHAHAHA...


... Tapi tanpa duit ya.



Thursday, August 13, 2026

Gerimis

Hari ini gue mengelilingi Jepang dengan syahdu. Penuh dengan jalan kaki dan juga berbasah-basahan. Sesuatu yang mungkin tidak akan gue lakukan di Indonesia.

Jepang seharian ini penuh dengan hujan gemes. Tidak yang deras banget, tapi tidak bisa dibilang kecil juga intensitasnya. Sebuah hujan yang biasa kalian lihat di film-film yang karakter utamanya masih bisa memilih beraktivitas outdoor ketika hujan ketimbang berteduh.

Gue pun memilih untuk tidak berteduh. Karena menurut gue para karakter film yang sedang berada di hujan seperti itu keren. Gue? Kuyup. Jauh dari keren.

But again, ini adalah sesuatu yang mungkin tidak akan pernah gue lakukan di Indonesia. Karena pertama, jalanan di Indonesia tidak beres. Kedua, hujan gemes seperti ini di Indonesia biasanya berakhir nyolot.

Wednesday, August 12, 2026

Warlok

Hari ini gue landing Jepang. Gue mendarat sekitar jam 9, setelah menempuh perjalanan sekian jam dari Taiwan. Setelah sampai, seperti biasa, yang gue pikirkan adalah "terus apa?"

"Now what?”

Itu adalah tema perjalanan gue mungkin ya? Soalnya cara gue menikmati suatu daerah adalah dengan berbaur dengan masyarakat. Memakan yang sehari-hari mereka makan, melakukan kegiatan non-turis, dan hal-hal lain yang berbau keseharian.

Di Taiwan sendiri gue cukup menikmati ketika gue dan teman-teman gue makan apa yang warga lokal makan. Makanan pinggir jalan yang equivalent-nya adalah warteg. Di situ gue merasa menjadi lebih dekat dengan warlok.

Nah, di Jepang sendiri gue masih belum menemukan itu. But again, gue baru 3 jam di Jepang. Gue masih punya waktu 5 harian untuk menjadi warga lokal. So... We'll see.

Tuesday, August 11, 2026

Taiwan

Sekarang gue sedang di Taiwan, tujuannya transit sekian belas jam untuk setelahnya pergi ke Jepang.

Masalahnya... Transit itu akan menyenangkan jikalau ada duitnya untuk coba ini itu. Nggak usah duit lah,  kartu untuk transaksi lintas kurs saja cukup. Tapi sayangnya gue tidak menyiapkan keduanya untuk Taiwan ini.

Soalnya, gue pikir gue akan dilarang untuk masuk Taiwan karena ada hal ini dan itu seputar persyaratan. Namun, ketika sudah di custom, kok bisa masuk???

Hasilnya? Ya bingung, hahahaha.

Sekarang gue hanya bisa mengekor teman-teman gue karena mereka yang bawa duit Taiwan. Intinya Jenius sialan lah.