Tuesday, August 4, 2026

Belajar

Definisi orang menarik menurut banyak orang itu berbeda-beda. Ada yang menganggap orang menarik itu adalah yang punya fitur fisik enak dipandang mata, ada yang standar menariknya dilihat dari wawasan, ada juga yang menilai dari vibe keseluruhan. Banyak. Gue juga yakin ketika ditanya seperti itu, kalian punya jawaban sendiri dan akan cepat jawabnya. Karena kalian sedang mendeskripsikan apa yang kalian suka.

Lalu bagaimana kalau pertanyaannya adalah hal sebaliknya? Orang yang nggak menarik itu seperti apa?

Kita di sini bicara tentang tidak menarik secara umum, bukan hal yang berbau romansa. Orang yang tidak menarik biasanya adalah orang yang membosankan. Orang yang membosankan itu seperti apa?

Dulu, kalau lagi ngobrol sama orang, gue sering iseng nanya pertanyaan itu. Nggak ada tujuan khusus. Gue cuma penasaran sama jawabannya. Pun jawaban yang sering gue dapat adalah: yang obrolannya garing. Tapi gue pernah sekali mendapatkan jawaban yang gue suka.

"Orang membosankan menurut gue itu orang yang berhenti belajar."

Kenapa gue suka dengan jawaban itu? Karena gue keseringan mendapatkan jawaban yang sama, dan jawaban berbeda itu membuat gue mikir, "benar juga ya."

Orang yang berhenti belajar adalah orang yang membosankan. Karena mereka terjebak dengan zona nyamannya. Melakukan kegiatan yang itu-itu saja. Mengonsumsi informasi yang sifatnya monoton. Dan itu semua membuat dia terhenti dan akhirnya... Ya bisa kalian tebak, jadi membosankan. Pengalamannya berhenti bertambah. Sudut pandangnya juga cenderung itu-itu saja. 

Belajar di sini pun artinya bukan baca buku mempelajari suatu hal. Dalam konteks yang gue bahas sekarang maksudnya adalah mencoba mengonsumsi atau melakukan hal baru yang tidak pernah dilakukan atau dikonsumsi sebelumnya. Sesimpel misalnya kalian nggak pernah naik kendaraan umum tertentu, lalu kemudian kalian mencoba untuk naik kendaraan umum tersebut. Atau misalnya ketika kalian sedang di minimarket, kalian mengambil minuman yang belum pernah dicoba sebelumnya dari rak kulkas.

Setelah melakukan itu, wawasan kalian akan hal baru bertambah. Informasi baru akan masuk ke kepala kalian. Output-nya mungkin kalian akan punya hal favorit yang baru, atau misalnya tidak ya kalian jadi tahu. Dan tahu banyak hal itu menyenangkan. 

Dari saat gue mendapatkan jawaban itu, gue selalu mencoba untuk belajar setiap hari. Soalnya ternyata seru! Dan juga karena orang yang terus belajar bukan cuma menambah pengetahuan. Mereka juga terus menambah cerita. Gue mau menjadi orang yang punya banyak cerita.

Monday, August 3, 2026

Level Down

Pernah bekerja di sebuah event organizer yang ritme kerjanya serba sat-set, ditambah klien yang bisa dibilang raja terakhir di dunia event korporat, ternyata sangat membentuk mental gue. Dari situ, standar gue terhadap sebuah event jadi tinggi.

Setelah keluar dari dunia itu dan mulai mengerjakan event dengan dinamika yang jauh lebih santai, gue jadi lebih sering bereaksi, "Lah, kok gitu?"

Memang lebih gampang dijalankan. Nggak seribet dulu. Tapi justru karena itu, gue lebih sering tepuk jidat ngelihat hal-hal yang sebenarnya bisa dibuat jauh lebih baik.

Kadang itu yang bikin gue kepikiran buat balik lagi ke medan perang yang dulu. Bukan karena duitnya lebih banyak, atau karena kangen stresnya. Tapi karena gue nggak mau jadi manja. Gue nggak mau standar yang udah kebentuk bertahun-tahun pelan-pelan turun hanya karena terlalu sering berada di lingkungan yang merasa, "yang penting jadi."

Duh... *tepuk jidat*

Saturday, August 1, 2026

Angin Segar

Di hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya menjadi Hari Santai Sedunia, syukurlah gue diberi kesempatan untuk sibuk. Untungnya juga sibuknya ini juga bersifat yang menghasilkan, jadi sudah semestinya gue merasa senang dong?

Tapi nggak juga. Badan gue rontok. I need some rest.

Beberapa minggu belakangan gue cukup sibuk, secara mental dan fisik. Istirahat? Tentu saja kurang.

Tapi... Sisi baiknya, di salah satu ruang kepala gue ada yang membuat gue cukup nyaman di antara banyaknya darderdor yang menerpa.

You know who you are.

Friday, July 31, 2026

Enak Gak Enak

Kayaknya gue udah bilang beberapa kali di sini kalau gue sama sekali tidak menyukai rasa alkohol. Gue masih belum paham rasa pahit seperti apa yang bisa lidah gue bisa nikmati dari rasa alkohol. Tajam di tenggorokan seperti baru menelan silet. Belum lagi efeknya ke tubuh jika dikonsumsi berlebihan.

But here I am, baru balik dari bar setelah bercengkrama bersama teman sambil minum-minum, dan memutuskan menulis ini di MRT dengan syaraf yang agak lemas.

Pertemuan kami cukup seru. Banyak kalimat terucap dengan nada menyenangkan di obrolan kami, yang di mana itu agak sulit didapatkan jika  dilakukan tanpa alkohol. Bisa saja, tapi tidak akan selepas itu. Lalu gue merasa bahwa thesis gue benar: gue hanya menyukai efek yang ditimbulkan dari alkohol ketika sedang nongkrong bersama teman-teman.

Untuk urusan rasa sudah absolut rasanya bagi gue untuk tidak suka. Namun, untuk buah mulut ketika bersama orang-orang dan suasana yang tercipta beda perkara. Obrolan ngalor-ngidul yang awal dan akhirnya tidak jelas arahnya tapi seru-seru saja. Gestur tidak perlu yang keluar karena badan sempoyongan, dan celetukan-celetukan bodoh yang terucap. Itu adalah resep seru dalam tongkrongan, dan bahan utamanya adalah cairan ethanol dalam gelas.

Tapi ya tetap, gue tidak suka rasanya. Gue hanya suka suasana yang dihasilkan setelahnya. Bagi gue minuman paling enak tetaplah satu: susu stroberi. Hahaha.

Thursday, July 30, 2026

Pintar

Gue pernah terjebak diskusi bersama teman-teman gue tentang apa itu pintar. Diskusi pagi buta di sebuah warkop di tengah-tengah riuhnya kota Jogja. Tentunya obrolan awalnya bukanlah itu, kalau tidak salah kami sedang membahas masalah demo mahasiswa dan bagaimana gue kurang suka dengan cara orasi para mahasiswa yang pernah gue lihat. Dari obrolan jam 2 pagi itu, gue menemukan definisi pintar menurut gue.

Sebagai orang yang tidak menganggap nilai sempurna di jenjang akademis itu adalah hal penting, gue tidak begitu melihat orang yang seperti demikian adalah orang pintar. Gue pernah kok mengobrol dengan seorang cum laude universitas negeri, dan sepanjang ngobrol dia lebih banyak ngang-ngongnya. Gue pernah juga mengobrol dengan seorang insinyur yang katanya banyak pencapaiannya, tetapi ketika bercengkrama banyak nggak jelasnya. 

Di sisi lain, ada masa gue berinteraksi dengan para pedagang pinggir jalan atau tukang parkir di pasar lalu obrolannya malah seru dan jenaka. Atau office boy perkantoran suatu distrik bisnis dan kemudian dia menceritakan perjalanan hidupnya dengan diksi dan alur yang tertata. Komunikasinya bagus.

Buat gue, salah satu cara menilai kepintaran seseorang adalah dari cara dia berkomunikasi. Orang yang bisa luwes berbicara dengan siapa saja dari golongan apa saja dengan pemilihan kalimat yang tepat. Pintar bukanlah ketika seseorang bisa menjelaskan isi buku Nietzsche secara panjang lebar dengan presisi dan kata-kata "tinggi". Pintar adalah ketika seseorang itu bisa merangkum dan menjelaskan isinya sesuai siapa yang diajak bicara. Karena jelas sekali berkomunikasi dengan seorang dokter dan tukang daging di pasar caranya berbeda.

Inti dari komunikasi adalah penyampaian pesan. Jika pesan yang disampaikan tidak dipahami yang menerima, maka komunikasi itu bisa dibilang gagal dan komunikasi yang jelek. Orang pintar menurut gue adalah orang yang bisa beradaptasi menyesuaikan cara komunikasinya sesuai lawan bicaranya. Dia dapat menyederhanakan suatu pesan komunikasi yang rumit menjadil simpel supaya bisa diterima oleh orang yang lebih luas. Bukan menjelaskan hal rumit memakai pemilihan kata yang tidak umum supaya terlihat pintar.

Dan mungkin itu juga alasan kenapa gue kurang menikmati orasi yang pernah gue dengar waktu itu. Bukan karena pesannya salah, tapi karena cara menyampaikannya membuat orang yang seharusnya diajak bicara justru tertinggal di belakang. Karena pada akhirnya, orang pintar menurut gue bukanlah orang yang paling banyak tahu, melainkan orang yang tahu bagaimana menyampaikan apa yang dia tahu.