Showing posts with label Cuma Opini. Show all posts
Showing posts with label Cuma Opini. Show all posts

Sunday, May 16, 2021

Maaf-maafkan

Lebaran sudah lewat beberapa hari yang lalu. Jalanan sudah mulai ramai, dipenuhi oleh orang-orang yang baru saja pulang liburan. Suasana Idulfitri perlahan menguap di udara, namun masih saja ketika bertemu teman pas nongkrong, ada yang langsung menyodorkan tangan saat baru datang dan berucap "minal aidin ya?".

Lah?

Terlepas dari arti "minal aidin wal faizin" yang sebenarnya adalah penggalan doa yang artinya sama sekali bukan permohonan maaf, bagi gue meminta maaf ketika sudah lewat dua hari dari Idulfitri sudah tidak relevan.

Bahkan menurut gue meminta maaf ketika Lebaran pun tidak relevan dari sananya.

Kita tidak ngomongin maaf yang "maaf, permisi ya." atau sejenisnya ya by the way. Itu beda lagi maafnya.

Bicara tentang minta maaf, memang untuk sebagian orang hal itu tidak mudah dilakukan, karena ego yang tinggi. Oleh karena itu momen Idulfitri menjadi hari simbolis untuk mengobral kalimat maaf di mana-mana. Jadinya, menurut kacamata gue, maafnya jadi terkesan murah. Diumbar di mana-mana, padahal seharusnya kita itu meminta maaf secara pribadi ke orang yang pernah kita sakiti karena kita berbuat salah yang kepadanya.

Maaf di hari Idulfitri di mata gue tidaklah beda dengan basa-basi "hei, HBD WYATB?" yang seringkali diucapkan oleh orang yang nggak benar-benar WYATB.

Lalu kalau ngomongin tentang minta maaf, tidak lupa juga pasti ada memaafkan di dalamnya. Ketika diguyur dengan ucapan mohon maaf di hari Lebaran, banyak orang pasti akan refleks mengiyakan. Mengiyakan untuk memaafkan, padahal muka masih kecut ketika melihat orang yang meminta maaf itu berada di satu ruangan.

Menurut gue minta maaf dan memaafkan itu sangat personal dan intim. Tidak bisa dipaksakan dengan hari raya yang datang setahun sekali. Kita punya 365 hari untuk melakukan itu dalam setahun, namun perkara kita siap untuk minta maaf dan memaafkan itu beda lagi ceritanya.

Gue akui untuk meminta maaf secara tulus itu jauh lebih mudah ketimbang memaafkan sepenuh hati. Keduanya memiliki efek menenangkan diri sendiri, namun proses memaafkan itu sangat spritual. Jauh lebih sulit. Banyak hal yang gue pribadi masih belum bisa maafkan. Gue masih tidak damai sepenuhnya, karena belum memaafkan diri sendiri dan beberapa hal lain.

Gue cukup tahu diri gue untuk mengidentifikasi apa saja yang masih belum bisa gue maafkan. Oleh karena itu gue tidak langsung bilang "iya" ketika ada seseorang yang minta maaf ke gue sedangkan gue masih belum bisa memaafkannya. Seringkali gue kasih jawaban menggantung dengan kalimat yang tidak menjawab, gue alihkan ke pembicaraan lain, atau mungkin tidak gue jawab. Lampu hijau dari gue adalah ketia bilang kata "iya", dan gue tahu kalau tidak bisa langsung mengiyakan.

Memaafkan dan minta maaf itu keramat.

Oleh karena itu tiap Idulfitri gue selalu geli ketika mendengar kalimat maaf di mana-mana. Ketidaksungguhannya terasa pekat sekali. Minta maaf di hari Lebaran seharusnya sudah bisa dianggap basa-basi yang basi, karena kita tahu mereka tidak sungguh-sungguh, dan kadang untuk beberapa orang, kita tahu kalau kita belum bisa memaafkannya.

Lagipula seperti yang gue bilang sebelumnya, meminta maaf dan memaafkan itu personal dan intim. Seharusnya dilakukan secara personal di waktu yang intim.

Tentunya intim yang gue maksud bukan intim yang vulgar ya, dasar cabul! 

Sunday, May 9, 2021

Jadi...

Hari ini gue ke M Bloc Space untuk ketiga kalinya dalam hidup gue... dan gue masih tidak suka.

Gue masih ingat ketika tempat itu perdana buka, hype di media sosial luar biasa besarnya. Para influencer tentu menjadi salah satu faktor kenapa tempat yang amat biasa itu menjadi sangat populer.

Kini tempat itu masih konsisten ramainya ketika akhir minggu. Gue tadi ke sana karena ingin bertemu seseorang, kenapa di tempat itu ya karena tempat awal tujuan kami tutup. Ketika menginjakkan kaki di sana, aduhai aura edgy-nya kuat sekali. Tiba-tiba gue ingin menyetel lagu Oasis yang Don't Look Back In Anger, lagu kebangsaannya anak edgy JakSel.

Gue tidak bilang tempatnya jelek, biasa saja. Kalau Anda anak muda yang edgy sepertinya akan cocok di sana, karena di sana itu seperti habitat alami anak muda seperti itu. Ka'bahnya lah. ✌🏼

Wednesday, May 5, 2021

Al-Kohl

"Alkohoooool... Kamu jahat tapi enaaaaaaak." 

Nggak. Bagi gue alkohol itu rasanya nggak pernah enak.

Di atas adalah penggalan lirik dari lagu yang belakangan ini sempat gue putar seharian penuh, lagu itu dibawakan oleh band lokal bernama Sisitipsi, dan lagu itu berjudul "Alkohol". Gue putar berulang-ulang ya semata-mata karena lagunya enak, bukan karena gue memiliki hubungan erat dengan alkohol.

Dan ya, menurut gue rasa alkohol itu tidak pernah enak. Gue nggak pernah suka rasa alkohol apa pun itu jenisnya. Gue akan tegas lebih memilih susu stroberi sebagai minuman enak nomor satu gue, kedua air mineral, dan alkohol entah ada di nomor berapa, yang jelas bukan lima besar.

Selain rasanya tidak enak, gue juga tidak begitu suka efek setelah meminumnya. Apa yang bisa dinikmati dari kepala pusing dan penglihatan berputar-putar?

Oleh karena itu gue suka bertanya-tanya kenapa orang bisa menikmati alkohol dan bahkan ketergantungan dengannya? Rasa heran yang sama pun gue rasakan ketika memikirkan kenapa orang bisa menganggap rokok itu enak.

Namun walaupun begitu, gue tidak bilang kalau gue tidak mengonsumsinya. Atasan gue ketika masih menjadi orang iklan dulu pernah semacam memberikan wejangan yang sampai saat ini masih gue indahkan. Dia berkata rokok dan alkohol itu adalah sarana pencair suasana.

Gue setuju.

Pernyataannya dulu itu membuat gue menjadi perokok atau peminum sosial. Jadi hanya merokok atau minum ketika lawan bicara pun merokok atau minum. Tujuannya ya tentu untuk membuat proses mengakrabkan diri dengan lawan bicaranya menjadi lancar, dan seringkali efektif.

Gue pribadi bukan perokok atau peminum. Tapi ketika gue sedang berada di suasana yang mengharuskan melakukan itu agar bisa bersilaturahmi dengan lancar, kenapa tidak? Intinya ya akan gue lakukan juga, walaupun after taste-nya tidak enak.

So... Yeah, gue nggak suka rasa alkohol dan efek di tubuh setelah meminumnya, tetapi gue suka keakraban yang sering tercipta darinya.

Jadi lirik lagu dari Sisitipsi itu mungkin akan lebih relevan buat gue kalau penggalan di atas menjadi begini:

"Alkohoooool... Kamu jahat tapi kebersamaan dan keakraban yang diciptakan dari mengonsumsi alkohol selama beberapa waktu itu enak."

Euh... Sekarang gue tau kenapa gue nggak jadi penulis lagu.

Tuesday, May 4, 2021

Simpel Itu Lebih Dari Cukup

Bagi gue, orang yang pintar berbahasa Indonesia itu adalah orang yang bisa ngobrol memakai bahasa Indonesia dengan lawan bicaranya dan lawannya mengerti.

Berbahasa yang simpel. Memakai kosakata sesuai audiens dan konteks.

Orang yang memakai kata-kata tinggi ketika berbicara dengan lawan bicaranya, tetapi lawan bicaranya kadang malah bingung atau tidak nyaman, menurut gue hanyalah orang yang perbendaharaan kosakatanya banyak saja.

Biasanya teman gue yang kekirian yang masuk ke dalam kategori kedua. Mereka memakai kata-kata yang tak lumrah digunakan di keseharian, sekadar untuk membuat seruan perlawanannya menjadi lebih indah. Dengan harapan yang mendengar atau membaca ikut terbawa dan jiwa aktivisnya terbakar. Saya? Seringkali malah mengerutkan dahi sambil menggumam "Apa sih, bung?".

Tidak efektif karena kalimatnya tidak dekat dengan audiensnya.

Atau ada lagi pujangga media sosial yang rutin menulis curhatan seputar kegalauan, entah bertema romansa atau alam ciptaan yang maha esa. Mereka merangkai kata-kata tidak biasa yang menurut mereka terlihat indah, tapi puisi menjadi indah bukan hanya karena dirangkai dengan kata-kata cantik saja.

Gue tidak bilang kalau gue bisa komunikasi berbahasa Indonesia dengan pintar... Persetan, gue saja mengecap diri gue mempunyai disleksia ringan karena seringkali omongan gue nggak jelas. Komunikasi gue berbahasa Indonesia gue anggap tidak bagus.

Poin dari berbahasa yang bagus menurut gue ya seperti yang gue bilang di awal, yang penting lawan bicaranya mengerti karena dituturkan dengan bahasa yang sederhana. Tak perlu indah, yang penting sesuai konteks, tahu audiensnya siapa, dan lawan bicaranya tidak mengerutkan dahi ketika mendengarnya.

Sunday, September 27, 2020

Main Jauh

Beberapa hari lalu gue menonton sebuah video IGTV yang gue temukan di kolom explore akun Instagram gue. Video berdurasi hampir 10 menit berisi orang lagi berpidato menceritakan pengalaman dia yang telah membuka mata banyak orang. Orang yang berpidato itu namanya adalah Daryl Davis.

Daryl Davis adalah seorang musisi, aktivis, aktor, dan juga penulis. Isi video yang gue tonton itu menceritakan pengalaman dia mendekati sebuah organisasi di Amerika yang bernama Ku Klux Klan (KKK). Oh, gue belum bilang kalau dia adalah warga Amerika berkulit HITAM. Kulit hitam dan KKK tentu saja nggak berjodoh. Tapi Daryl Davis nggak mundur dan terus PDKT, karena dia berpikir "gimana loe bisa benci sama gue? Padahal lo nggak mengenal gue." Kata "gue" yang dimaksud adalah ras yang bukan kaukasian maksudnya.

Di video itu, Daryl Davis menceritakan pengalamannya saat mencoba mendekati ketua KKK pada saat itu, Roger Kelly. Roger Kelly pada akhirnya bersahabat dengan Daryl Davis dan sadar kalau rasnya tidak lebih superior daripada golongan lain yang dia benci selama ini. Roger Kelly pun memutuskan keluar dari KKK dengan meneriakkan kalimat terakhirnya di KKK, "Gue lebih hormat sama dia (Daryl Davis), ketimbang sama lo pada orang kulit putih (KKK)." Ketika ditanya berapa orang yang sudah keluar dari KKK karena dia, Davis menjawab 60 orang secara langsung, secara tidak langsung ratusan.

Yang dilakukan Daryl Davis adalah merangkul Roger Kelly dan anggota KKK lainnya untuk tahu/mengenal lebih jauh apa yang dia benci sebelumnya. Membuka matanya lewat obrolan diskusi juga bertukar pandangan dan tawa. Hanya lewat ngobrol, dia mengubah keyakinan dan hidup orang lain.

Hanya dengan mengenal lebih jauh, hidup seseorang bisa berubah.

Gue dulu takut sama anjing. Ketika berinteraksi pertama kali dengan anjing golden retriever pasangan gue yang bernama Cici (RIP) di rumahnya, tangan gue gemetar sebelum mendarat di badannya. Ketika sudah memegangnya, gue terlihat canggung sekali karena terlihat seperti robot ketika mengelusnya. Karena apa? Karena gue belum kenal anjing, makanya gue takut. Setelah gue mengenal anjing, gue jadi suka. Bahkan gue mengadopsi anjing teman gue yang dia telantarkan dan merawatnya sampai nafas terakhirnya.

Ketika SMA, gue jijik dengan golongan LGBTQ. Nggak jarang gue memakai kata "homo" sebagai ejekan karena gue menganggap hal itu adalah rendah. Ketika masuk kuliah, gue mengenal beberapa gay/lesbian dan juga berteman dengan mereka. Gue merasa bahwa mereka sama saja. Sama-sama manusia. Bahkan, banyak di antara mereka cenderung orang paling asli dalam bersikap, nggak pura-pura. Jadinya asik banget dijadikan teman. Pasangan gue kebetulan mempunyai ketertarikan dalam isu ini, jadi dia aktif di salah satu komunitas bertema LGBTQ di Jogja dan gue beberapa kali datang ke sana untuk ikut kegiatan kumpul mereka. Gue jadi mengenal lebih jauh dan tahu lebih banyak apa saja yang sudah mereka alami terkait orientasi seksual mereka. Gue yang sudah mengenal mereka pun nggak jijik lagi dan melihat pemakaian kata "homo" sebagai cacian tidak pantas. Kenapa? Ya karena mereka sama saja. Sama-sama manusia, bedanya hanya dapat perlakuan diskriminatif saja oleh lingkungan

Banyak contoh serupa lainnya yang diakibatkan ketidaktahuan, tapi intinya cuman satu: lo harus kenal dulu dengan hal asing atau golongan yang beda dengan elo (beda ras/orientasi seksual/keyakinan/pandangan hidup/status sosial/dan lain-lain) sebelum lo bisa bilang kalau lo benci dengan hal/golongan tersebut.

Daryl Davis bilang di akhir video IGTV itu kalau ketidaktahuan menciptakan ketakutan. Ketakutan akan menciptakan kebencian. Pada akhirnya kalau kebencian itu tidak dikontrol akan menciptakan kehancuran.

Jadi, kenalilah banyak hal/orang. 

Main yang jauh, bos!

Monday, October 26, 2015

Persimpangan

Kemarin teman gue ulang tahun. Teman nongkrong dari SMA sampai sekarang. Jadi nggak afdol rasanya kalau gue nggak mengucapkan selamat ulang tahun ke dia.

Nggak kerasa setelah mengucapkan ucapan selamat, pembicaraan malah menjadi serius. Kami bicara mengenai hidup. Sudah sejauh mana kami melangkah, seberapa banyak tujuan yang sudah tercapai, bagaimana tujuan masa depan nanti. Intinya topik ini mengenai quarter-life crisis.

What have we done so far?

Quarter-life crisis adalah titik di mana lo mempertanyakan hidup lo. Mau dibawa ke mana sih diri lo itu? Sudah ada bayangan bakal gimana di masa depan nanti? Ini terjadi di umur 20 – 25an. Sebuah krisis hidup di mana setiap keputusan yang lo ambil bakal menjadikan lo entah lo yang makin baik, atau lo yang semakin rusak, atau lo yang jadi alay. Karena di titik ini lo bakal ngerasa “hilang”, dan lo bingung. Banyak juga yang akhirnya memilih untuk mati karena merasa tidak ada apa-apa untuk dilanjutkan dan sudah merasa ketakutan melihat refleksi diri di masa depan yang tidak sesuai keinginan.

Serangan ini sudah gue alami berkali-kali dalam hidup gue. Dan keputusan yang gue ambil untuk menanganinya menjadikan gue yang sekarang dengan pola pikir seperti gue saat ini. Gue bersyukur nggak memilih mati, dan sangat-sangat bersyukur tidak menjadi (begitu) alay.

Terakhir kali adalah saat gue sedang duduk di depan meja kantor selagi mencari data untuk dipresentasikan ke klien. Saat itu gue belum lulus D3 (menunggu wisuda) dan sedang bekerja sebagai accoount executive di sebuah agensi iklan digital di daerah Jakarta. Ketika gue udah merasa hidup gue monoton, gue menemukan artikel yang membuat gue menemukan pola tentang masalah krisis sebelumnya. Intinya, dari artikel itu gue memutuskan untuk tidak meneruskan kerja gue di sana, agar gue bisa jauh dari kehidupan gue saat itu.

Jauh dari kehidupan gue saat itu, itulah yang gue rasa gue perlukan saat itu. Mencoba rasa baru dari lingkungan sekitar, mencari tujuan baru untuk dicapai. Itulah alasan gue ngegembel di Jogja dulu, sehingga gue bisa tinggal di Jogja sekarang. Merasakan kehidupan baru bersama orang-orang baru, dan mencoba mencapai tujuan-tujuan yang gue temui saat tinggal di sini. Sampai akhirnya gue mulai lupa dengan quarter-life crisis yang gue alami dulu.

Lalu obrolan itu terjadi. Gue mulai sadar bahwa beberapa tujuan gue sudah tercapai, dan beberapanya lagi gue lupakan. Lalu sekarang apa? Gue mulai merasa hilang lagi, gue bingung nggak tahu harus bagaimana. Tapi satu yang gue tahu: jangan dulu menyerah sama hidup. Tujuan baru pasti datang.

Buat lo yang mungkin sekarang lagi diserang oleh quarter-life crisis, gue nggak mau kasih saran macam-macam. Gue tahu lo bingung, depresi, merasa gairah hidup berkurang karena nggak tahu apa yang lo mau, semua terasa monoton, dan banyak hal lain yang membuat lo berpikir yang negatif sampai akhirnya lo mau menangis karena kehilangan arah. Menangislah! Lakuin apa yang lo pikir harus lo lakuin. Tapi satu hal: jangan mati. Lo bakal menemukan persimpangan hidup di mana lo harus milih. Pilihan lo itu akan menentukan jadi apa lo nanti.

Nggak ada salahnya mengambil langkah yang gue pilih: merantau. 

"Merantau kok ke Jogja? Deket amat."

Bukan itu idenya. Jarak bukanlah faktor penting dari ini. Intinya adalah jauh dari kehidupan lama, dan memulai hidup baru di suatu tempat. Walaupun gue nggak bisa menjamin hasilnya, paling nggak kesibukan lo di sana untuk mengenal sekitar akan membuat lo lupa akan krisis lo.

Tuesday, June 17, 2014

Makam

Bagi beberapa orang, hanya dengan mendengarkan kata "pemakaman" saja sudah bisa membuat bergidik. Karena kata-kata lain yang otomatis terlintas di otak setelah mendengar kata pemakaman biasanya adalah: duka, sedih, berkabung, atau horor.

Pemakaman adalah tempat di mana orang-orang mengubur orang yang sudah meninggal. Rumah baru bagi orang yang sudah tak bernyawa meninggalkan kenangan bagi orang yang telah ditinggalkan. Di sana, jasad mati tersebut ditimbun oleh tanah di dalam lubang yang dalam. Dari tanah kembali ke tanah.

Banyak sekali prosesi pemakaman yang ada di dunia ini. Ada yang dikubur seperti yang biasa kita lihat, ada yang didiamkan seperti contohnya di Toraja sana, dan ada yang dibakar.

Dikubur itu adalah warisan dari nenek moyang. Jauh sebelum masehi, saat nenek moyang kita masih memakai pisau batu, belum begitu mengenal pakaian, dan belum tahu bagaimana berpose duck face. Aaah, masa-masa yang indah. Silakan di-Google untuk kelengkapan informasinya.

Dan dikubur itu caranya bercabang lagi, ada yang pakai kafan dan ada yang pakai peti. Tapi sudah lah informasi tentang kubur-menguburnya. Mari bicara bagaimana saat gue mati nanti.

Berhubung gue tinggal di negara yang mayoritas beragama Islam, dan keluarga gue pun Islam, dikafankan adalah cara yang seharusnya gue terima saat gue mati. Di dalam Islam, pengkafanan adalah salah satu proses dalam menguburkan mayat, setelah sebelumnya dimandikan dan disholatkan terlebih dahulu. Kemudian setelah itu semua, jasad yang sudah dikafankan akan dimasukkan ke liang lahat, dibuka ikatannya, dikumandangkan adzan, lalu ditutup dengan tanah.

Kalau mau dilihat lebih jauh, sebenarnya dikubur menggunakan kafan itu bukanlah ritual Islam. Jauh sebelumnya, sudah ada Yahudi yang memakai ritual tersebut. Dan kalau mau dilihat leeeebiiiiih jauh lagi, pengkafanan itu sudah ada semenjak jaman keemasan Babilonia, ribuan tahun sebelum masehi. Lalu kapan pengkafanan pertama itu ada? Gue juga nggak tahu. Informasi tentang pengkafanan sendiri kurang lengkap di Internet. Pertama kali gue mencari informasi tentang ini adalah saat gue SMA, terakhir kali adalah beberapa saat lalu sebelum menulis ini, dan apa yang mau gue cari tidak bertambah begitu banyak.

Kembali ke pemakaman. Menurut gue prosesi pemakaman itu tidak efisien dan terkesan boros. Okelah kalau itu adalah suatu adat/budaya/tradisi yang mesti diikuti, namun kalau sampai membebani sih mending tidak usah.

Kira-kira saat gue masih SMP, saat sesudah sholat tarawih di bulan puasa, komplek gue pernah mengusulkan untuk membeli tanah untuk dijadikan makam Blok A (komplek gue). Jadi ketika ada warga Blok A yang meninggal, tidak usah bingung mau dimakamkan di mana. Kenapa sampai ada usulan tersebut? Karena lahan pemakaman (katanya) semakin sedikit dan mahal.

Mengerti maksud gue?

Ya, sedikit dan mahal. Setahu gue, suatu makam akan ditimbun dengan makam baru kalau sudah lompat beberapa generasi atau sudah tidak ada yang mengurus. Tapi pertumbuhan manusia yang cepat membuat kita agak susah untuk mendapatkan lahan dengan menunggu beberapa generasi. Jadi kemungkinan akan ditimbun walaupun belum lompat beberapa generasi.

Dan biaya pengurusannya juga tidak murah. Gue nggak tahu pasti, tapi yang jelas biaya pemakaman itu tidak sedikit. Biaya tanah, biaya penguburan, biaya nisan, biaya pengurusan berkala (tahunan atau bulanan gue nggak tau), dan biaya lain yang gue belum tahu. Banyak. Dan pernahkah elo ke pemakaman umum dan melihat makam yang sudah sangat jelek dan kesepian? Diinjak-injak orang, dijadikan alas, tidak dihormati. Itu membuat gue tambah males.

Gue sendiri kalau mati lebih memilih dikremasi. Ini sudah gue pikirkan jauh sebelum gue jadi seperti sekarang. Pemikiran ini sudah cukup mantap ketika gue masih SMP. Gue tidak mau menyusahkan keluarga gue dengan segala biaya yang akan mereka tanggung setelah kematian gue. Gue tidak mau menyusahkan. Sudah mati kok gue masih nyusahin? Haha.

Yang ada di pikiran gue adalah: sebelum gue mati, gue akan meminta supaya semua organ gue yang layak donor untuk didonorkan, dan setahu gue kalau donor organ itu akan mendapat uang, uang itu bisa keluarga pakai untuk belanja, lalu setelahnya gue dikremasi. Kalau keluarga gue butuh sesuatu untuk dikenang, mereka punya kenangan di otak mereka masing-masing, itu jauh lebih berharga dari apa pun. Namun kalau mereka butuh simbol untuk mengenang gue (seperti makam), mereka bisa menyimpan abu gue.

Atau kasus ekstrim, setelah gue mendonorkan organ gue, jasad gue dipotong-potong, ditaroh ke ember, lalu dilempar ke hutan dijadikan makanan macan. Hahaha. Apa pun itu, ketika gue mati, gue tetap akan menjadi atom kecil, lalu menyatu dengan alam semesta yang luas ini. Bukankah itu terdengar keren?! Gue nggak sabar menunggu saat itu...

Seperti yang gue katakan tadi, menurut gue makam itu hanyalah simbol untuk orang yang ditinggalkan mengenang orang yang meninggalkan. Tapi ya mungkin ini hanya menurut gue saja, dan gue tahu kalau di tulisan ini banyak yang salah. Jadi, kenapa kalian nggak kasih komentar saja dan membenarkan apa yang salah di sini. =]

Thursday, May 8, 2014

Zakid, Mz

Jadi dari hari Senin kemarin gue sakit. Jadi gue tidak bisa keluar rumah untuk melakukan aktivitas yang biasa gue lakukan. Dan seperti biasa, kalau gue sakit gue malas pergi ke dokter. “Tinggal istirahat aja ini mah.” selalu menjadi solusi gue pada hampir setiap penyakit yang gue derita.

Bukannya gue alergi dokter, hanya saja pengalaman dari kecil seringkali  menunjukkan kalau penyakit yang gue derita tidak akan bertahan lebih dari 2 hari, oleh karena itu pergi ke dokter hanya buang-buang waktu saja. Gue terlalu percaya sama daya tahan tubuh gue.

Namun pernah juga gue dikhianati olehnya. Saat itu gue pernah merasakan tidak enak badan, dan gue rasa itu hanya penyakit lewat biasa dan gue yakin tubuh gue bisa melawannya, namun keesokan harinya gue lemas tak berdaya. Setelah dibawa ke dokter ternyata panas gue mencapai 45 derajat. Demam dengan semangat 45. Dokter bilang itu adalah gejala tifus. Gue berpikir, “Gejalanya aja sadis, gimana yang aslinya?” Kalau ibarat boker, panas 45 derajat itu baru kentutnya. Pas sudah acara utamanya, boker, gue mungkin sudah diopname.

Dan sekarang gue rasa gue terkena gejala tifus lagi. Demam yang gue rasa memang tidak sebesar kemarin, mungkin hanya 44,9 atau sekitarnya, namun tetap saja itu membuat gue mati kutu beberapa hari belakangan ini. Dan juga gue malas ke dokter, alasan “nggak apa-apa, cuman butuh istirahat kok.” selalu menjadi andalan gue. Dan asal kalian tahu saja, banyak orang yang seperti gue, yang menjadikan “hanya butuh istirahat” sebagai alasan. Mungkin ada juga yang seekstrim ini:

X:  ASTAGA, Y! Ayo gue bawa ke rumah sakit atau dokter terdekat!
Y: Oh, nggak apa-apa kok.
X: Nggak apa-apa gimana? Lo baru jadi korban tabrak lari mobil begitu! Udah ayo, gue gotong sinih!
Y: Beneran, nggak apa-apa kok guenya.
X: MATAMU! Kaki lo kelindes ituuuuu! Udah hampir mau putus! Kalau dibawa ke rumah sakit dan ditangani dokter dengan segera mungkin masih bisa diselamatkan.
Y: Oh, ini? Cuman butuh istirahat kok.
X: Lo bukan cicak woi! Kaki lo nggak bisa numbuh lagi!

Sekali lagi, gue bukan alergi dengan dokter, namun ada saja orang yang alergi dokter walaupun tidak seekstrim di atas. Di sisi lain, ada juga orang yang terlalu percaya dengan dokter dan tidak mau repot. Di berbagai pedesaan sendiri banyak kasus demikian, banyak orang minta disuntik walaupun hanya demam dan butuh istirahat saja, karena ya mereka tidak mau tahu dan tidak mau repot bertanya. Di buku BaM sendiri Mas Isman menjelaskan kalau temannya yang menjadi dokter gigi di Garut pasiennya selalu minta giginya dicabut.

Dokter: Oh, ini mah cuman lubang kecil, Pak. Tinggal ditambal dan semua beres, nggak ngilu lagi.
Pasien: Nggak, Dok. Cabut aja!
Dokter: ...

Bukannya tidak mungkin juga kalau dokter gigi di sana juga pernah mendapat kasus ekstrim seperti ini:

Pasien: Dok, anak saya mulutnya di bagian belakangnya katanya berasa sakit!
Dokter: Oh, ini ya? Jadi di sebelah geraham ini ada—
Pasien: Cabut aja, Dok!
Dokter: Ini sariawan, Pak...
Pasien: Bisa dicabut nggak?
Dokter: ...

Bukannya tidak baik kalau percaya sama kemampuan medis dan kemampuan dokter, yang tidak baik itu kalau terlalu mengandalkannya. Jadi kalau merasa tidak enak badan langsung pergi ke dokter dan meminta pengobatan, padahal tidak enak badannya karena terlalu banyak kerja dan hanya membutuhkan istirahat. Dan juga jangan malas pergi ke dokter bila penyakit yang diderita itu sudah tidak wajar/tidak biasa, pekerjaan dokter itu bukan sebagai algojo kok, asal kalian mau menjadi pasien yang cerdas.

Sekarang sih gue sudah mendingan, tapi kayaknya gue masih akan sakit sampai akhir pekan besok. Jadi masih butuh “istirahat”. Lho, kenapa? Memangnya nggak boleh sakitnya tanggung sampai hari libur? :p

Tuesday, May 6, 2014

Menikah atau Tidak?

Hari ini gue sedang sakit, dan agak terhibur karena 2 orang kenalan gue dari lingkaran yang sama, Jet dan Kei, membahas tentang pernikahan di linimasa Twitter. Dan seperti biasa, gue merasa kagum atas pemikiran mereka. Yaaa, sebenarnya bukan kagum sih, gue hanya senang bahwa orang pintar seperti mereka mempunyai cara pandang yang sama dengan gue. Dan gue senyum-senyum sendiri karenanya.

Untuk melihat pemikiran mereka tentang pernikahan, bisa dilihat di linimasa mereka. Gue nggak akan membeberkan apa saja poin-poin mereka tentang apa itu pernikahan. Kali ini gue akan ikut berbicara tentang pernikahan dari kacamata gue... walaupun gue nggak pakai kacamata. Ya tentunya kalian tahulah kalau itu cuman kiasan.

Jadi apakah pernikahan itu? Gampangnya itu adalah suatu ritual yang mengikat sepasang manusia dalam suatu hubungan yang sakral dan suci. Sepasang manusia yang sudah menikah tersebut akan membangun sebuah kelompok kecil yang disebut keluarga. Dan membangun keluarga itu merupakan tanggung jawab yang SANGAT besar dan memakan waktu seumur hidup. Berat? Iya, memang. Butuh pemikiran yang sangat matang dan tidak bisa seenaknya. Makanya gue agak bingung ketika melihat banyak banget orang yang menikah muda.

Bagi teman-teman gue yang sudah follow gue dari dulu, pasti sering banget melihat ocehan gue tentang menikah muda. Dan dari ocehan itu mungkin mereka akan menganggap kalau gue itu anti pernikahan muda atau anti pernikahan. Karena ocehan gue tentang topik ini biasanya kontra dan tidak seperti yang orang-orang pikirkan (atau seenggaknya orang di sekitar gue).

Apakah gue anti pernikahan muda? Tentu tidak. Gue setuju saja jika ada sepasang kekasih ingin meneruskan hubungannya ke tahap lebih serius. Toh itu hidup mereka, bukan gue. Asal mereka bahagia dan merasa tidak keberatan, ya bagus. Yang bikin gue kelihatan anti pernikahan muda adalah pendapat kontra gue yang didasari karena gue sudah banyak melihat pasangan muda yang tidak memiliki rencana yang cukup matang. Mereka terlihat seperti lupa kalau cinta saja itu tidak bisa menghidupi sebuah keluarga. Dan gue juga sudah melihat salah satu yang tidak bertahan lama karena masalah sepele. Itu juga membuat gue makin yakin untuk tidak menikah muda. Kebanyakan anak muda tidak mampu memikul tanggung jawab besar seperti pernikahan. Dan ya namanya juga hidup, pasti ada juga yang berhasil melaluinya, jadi nggak perlu bilang "gak juga ah." ke gue.

Gue sendiri tidak terlalu memusingkan kapan gue harus menikah. Yang terbayangkan di otak gue adalah gue menikah ketika gue sudah mapan di umur 30 ke atas. Dan bila di umur 30 ke atas itu gue belum juga mapan, ya gue tidak akan menikah. Gue nggak mau menyusahkan anak orang.

Apakah gue juga anti pernikahan? Juga tidak. Gue setuju kalau pernikahan bisa jadi salah satu sumber kebahagiaan dalam hidup, namun gue juga akui bahwa pernikahan bukan untuk semua orang. Nggak semua orang bisa memikul tanggung jawab pernikahan. Kalau kesannya gue anti itu karena gue nggak suka dengan pola pikir orang-orang yang menjadikan pernikahan itu sebagai piala kesuksesan.

Kalau mau dilihat lagi, sekarang ini pernikahan itu lebih cenderung ke tekanan sosial. Jika tidak menikah di umur sekian, masyarakat akan mengadili macam-macam. Padahal sebenarnya bisa saja orang yang tidak menikah itu memilih untuk demikian karena beberapa alasan. Bagaimanapun juga, itu lebih baik daripada menikah karena obsesi buta.

Obsesi buta yang gue maksud adalah obsesi orang terhadap pernikahan, yang menganggap kalau pernikahan itu adalah solusi dan titik pencapaian kesuksesan dalam hidup. Seolah kita sudah dicuci otaknya, jadi robot yang diprogram oleh masyarakat untuk lahir lalu sekolah kemudian kerja terus menikah dan punya anak dan diakhiri oleh mati. Dan misalnya ada orang yang mau menentukan jalan hidupnya sendiri dan menyimpang dari jalur tersebut, langsung dicemooh dan dicerca. Itu seperti dibilangin "Lo boleh bebas, tapi mesti ikutin peraturan gue." Apakah pernikahan itu adalah sebuah titik pencapaian? Bisa jadi, tapi jelas itu bukan puncaknya.

Lo mau menikah atau tidak, ya bebas. Pilih dengan bijak lo mau menempuh jalur yang mana. Cuman yang harus diingat adalah, ketika lo sudah menikah, entah di umur muda atau tua, tanggung jawab yang lo pikul menjadi bertambah berat. Lo tidak mau menikah? Ya beban lo tambah berat juga, khususnya dari pandangan masyarakat. Gue sendiri nggak menganggap kalau pernikahan itu penting. Ide kalau kedua orang saling mencintai saja sudah cukup bagi gue, tapi perlu diingat bahwa tidak semua orang berpikiran seperti gue. Jadi, mau pilih yang mana?

Oh iya, kali saja lu males nengok ke kanan, gue mau kasih tahu lagi kalau gue punya akun ask.fm lho. Jadi mari saling tanya! Kalau mau tanya pandangan gue lebih luas lagi tentang ini, juga bisa. Sila tanya di sini. Ya ya ya? Ayo dong. Kesepian nih. :(

Saturday, April 12, 2014

Tips: Mempelajari Tekhnik Scream 101

Kemarin gue dan salah satu teman gue terjebak di sebuah pembicaraan tentang vokal metal. Dan kalau membicarakan tentang vokal metal, tentunya hal paling dekat yang bisa diasosiasikan adalah nyanyian teriak atau yang biasa orang-orang bilang scream.

Lha, salah gambar...

Nggak perlu waktu lama untuk gue sadar ke mana teman gue mau mengarahkan pembicaraannya. Kami berbicara tentang cara scream dan bagaimana bunyinya, lalu dia bertanya, “Lu masuk band temen gue aja, Ji! Masih baru sih, tapi udah punya lagu.” Sudah gue duga.

Gue dulu adalah vokalis band metal. Lucunya, gue adalah vokalis freelance. Jadi gue nggak terikat sama suatu band, tetapi gue sering dipanggil untuk mengisi posisi vokalis. Gue “disewa” untuk latihan mereka, atau misal ada konser di tempat lain sebagai pembantu atau pengganti. Dan gue melakukan itu semua dengan sukarela. Jadi kalau dibayar ya syukur, nggak ya juga oke.

Kalau tidak salah band yang sempat gue temani ada sekitar 4 band. 2 di antaranya adalah band teman gue, dan sisanya adalah band dari temannya teman gue. Sempat gue ditawari jadi personil tetap, tapi gue menolaknya karena beberapa alasan.

Seperti dulu saat di studio musik teman gue ada sebuah band yang inisialnya FTV. Setelah mereka selesai dan mau pulang, gue masuk untuk cek mik dengan teriak-teriak. Mereka mendengarnya dan salah satu personilnya masuk ke dalam lagi untuk menawarkan gue menjadi vokalis baru mereka. Dengan rendah hati gue tolak, alasannya karena musik mereka punya lirik yang jelek (tapi mereka sekarang terakhir gue cek sudah punya ribuan fans di Facebook). Dan saat kemarin teman gue menawarkan untuk jadi vokalis band temannya, gue juga menolaknya karena nama bandnya aneh. Haha.

Bebas kalian mau bilang gue terlalu sombong atau apalah, tapi alasan gue nggak pernah bikin/masuk sebuah band karena standar gue tentang band yang mau gue gawangi tinggi. Tentu supaya bisa dibanggakan. Kalau nama bandnya sendiri saja sudah aneh karena bahasa Inggris yang maksa atau liriknya terlalu “band Indonesia”, mending nggak usah. Malah malu nanti.

Teman  : Wih! Gue denger lu jadi vokalis band metal yang terkenal ya? Nama bandnya apa?
Gue       : ah, nggak usah tau deh mendingan. Malu gue. Hehe.
Teman  : ayolah, orang band terkenal kok malu-malu. Emangnya namanya apaan? Kali aja gue pernah denger.
Gue       : The Red Dahlia Twenty Nine My Age.
Teman  : o.... kay...

Oke, mari kembali ke judul. Seperti yang judul bilang, tulisan ini akan memberi tahu sedikit tips dasar untuk nyanyi teriak.

"Biji gue sakit celananya terlalu ketaaaat, gyaaaaaargh!"

Sebelumnya ada 2 teknik teriakan yang gue tahu: Inhale Scream dan Exhale Scream.

Sesuai namanya, inhale adalah yang ditarik (nafasnya) dan exhale adalah yang dikeluarkan. Masing-masing punya penggemarnya tersendiri. Gue sendiri bisa keduanya. Gue pakai inhale scream saat jaman gue masih SMA sampai lulus SMA. Terdengar bagus dan brutal memang tipe teriakan ini. Untuk growl, pig squeal terdengar halus dengan teriakan tipe ini. Dan biasanya tipe ini adalah teknik pertama yang vokalis band metal bisa, karena memang sangat mudah.

Cara melakukan inhale scream adalah dengan menarik udara lewat mulut lalu diproses di tenggorokan. Pernah menirukan suara mendengkur? Kurang lebih seperti itu, tetapi tidak melibatkan hidung di dalamnya. Jadi suara yang dihasilkan adalah melalui kerja sama udara yang ditarik lewat mulut, diproses di tenggorokan, lalu berakhir di dada. Untuk pengaturan suara tinggi-rendahnya bisa diatur lebar mulut yang dibuka dan udara yang ditarik. Dan untuk pig squeal-nya tinggal bagaimana kalian memainkan tenggorokan. Simpel dan mudah. 

Untuk beberapa tahun gue memakai jenis teriakan ini, dan gue sempat bangga bisa teriak selama 26 detik pakai satu nafas dengan tipe ini. Namun lama-lama gue sadar kalau jenis inhale scream ini tidak begitu sadis, dan beberapa vokalis metal di luar sana malah bilang kalau ini berbahaya. “Jangan teriak dengan cara ditarik, itu bakal nyakitin diri lu sendiri.” Kata Ed Hermida, vokalis All Shall Perish yang sekarang sudah menjadi vokalis Suicide Silence, saat gue tanya apakah dia pakai exhale atau inhale. Maksud dia “nyakitin diri lu sendiri” adalah inhale scream itu katanya nggak baik untuk suara atau tenggorokan. Banyak orang di YouTube yang bilang begitu. Walaupun gue agak nggak percaya tapi akhirnya gue meninggalkan cara itu dan gue belajar teknik exhale scream.

Banyak vokalis metal Indonesia amatir yang mengeluh kalau exhaling itu susah, oleh karena itu banyak yang tetap pakai inhale scream. Dan akhirnya mereka terdengar seperti sampah, karena terdengar maksa dan tidak nyaring. Gue pun awalnya mengalami kesusahan belajar teknik exhale scream ini. Gue belajar berbulan-bulan lewat tutorial yang disediakan YouTube. Sampai akhirnya gue menemukan tutorial yang benar-benar membantu yang dibuat oleh Edward James Belk.

Tutorial-nya menurut gue sangat membantu, dan orangnya juga sangat ramah. Dia bersedia gue tanya-tanya lewat Facebook dan dengan senang hati menjelaskannya walaupun gue tidak add dia sebagai teman. Dan akhirnya, gue menguasai teknik ini.

Teknik exhale scream ini jauuuuh lebih sadis ketimbang teknik inhale dalam semua bidang. Suara lebih nyaring dan terdengar lebih bagus. Lebih gampang, dan dapat dikombinasikan dengan nyanyian biasa (ketika nyanyi dengan suara asli, bisa disambung dengan teriakan. Teknik inhaling jelas nggak bisa ini). Dan rahasia dari jenis teriakan ini adalah nafas dari perut.

Ya, pada dasarnya nafas dari perut adalah kunci dari teriakan jenis ini. Exhale scream adalah kerja sama antara tenggorokan, dan perut. Jadi suara yang dihasilkan berasal dari tenggorokan, lalu dibantu nafas dari perut. Ingat, dari perut! Bukan nafas dari paru-paru. Kalau memakai nafas paru-paru, suara yang dihasilkan malah seperti orang tercekik. Gampangnya begini, kalian coba tirukan suara monster yang biasa kalian keluarkan ketika menggoda anak kecil, lalu suara monster itu dibantu dengan hembusan nafas dari perut yang dikeluarkan lewat mulut. Atau teriak ketakutan tetapi dibantu udara dari perut. Itu saja mungkin sudah membantu. Untuk tinggi-rendahnya suara, kalian bisa mengatur lebar mulut dan kekuatan nafas kalian. Cara exhale scream sendiri bisa terbagi lagi, tapi coba dulu untuk mengolah suara seperti tadi untuk pengalaman pertama. Hehe.

Tiap orang memiliki karakter teriak yang berbeda. Gue sendiri awalnya punya karakter teriak yang sama dengan Oliver Sykes di 2 album awal BMTH, dan vokalis Alesana. Bisa dibilang karakter teriakan gue standar. Agak sedih memang, karena gue sangat ingin punya karakter teriak seperti Mitch Lucker atau Ed Hermida tadi. Tapi ternyata susah. Dan lebih susah lagi itu teriakan band Jepang. Gue sempat berlatih mencari celah bagaimana untuk bisa teriak seperti Ruki (vokalis The Gazette), tapi tidak bisa dimiripkan, hanya mendekati. Ya, sekali lagi, karakter teriakan orang berbeda-beda.

Dan jika kalian mengalami sakit di tenggorokan setelah mencoba exhaling, berarti kalian masih salah. Ada yang minum dulu sebelum teriak, dengan tujuan mengurangi rasa sakit atau supaya lebih bagus suaranya. Ya, menurut gue itu nggak begitu berpengaruh sih. Ada juga yang bilang kalau mau terdengar bagus, teriaknya sambil mendongak ke atas. Sekali lagi, itu nggak berpengaruh. Konyol iya. Kan nggak lucu kalau habis konser atau latihan lehernya mesti diurut karena salah urat. :p

Mungkin itu saja yang bisa gue kasih tahu. Sebenarnya masih banyak yang mau ditulis, cuman ya akan sangat panjang dan konsentrasi membaca kalian untuk sebuah artikel tidaklah lama, takutnya malah tidak terbaca.

Mau pakai teknik inhale scream atau exhale scream itu terserah kalian. Gue pribadi sekarang lebih menyukai exhale scream. Bahkan sekarang band metal yang memakai teknik inhale scream adalah band cupu di mata gue, alias jelek (dulu gue suka Chelsea Grin, tapi tidak lagi setelah gue bisa exhale scream). Sekali lagi, bebas kalian mau pakai yang mana. Gue? Gue sih sekarang lebih suka bernyanyi jazz ketimbang metal. Jadi nggak perlu repot mengajak gue masuk band metal kalian. Kecuali nama bandnya masuk akal dan tidak seperti The Red Dahlia Twenty Nine My Age. :p

Wednesday, December 4, 2013

Bad Boy>Nice Guy?




Dari semua topik pembuka obrolan ke cewek yang gue temui di mall, taman, atau tempat nongkrong yang biasa gue kunjungi, topik favorit gue yang ketiga adalah “Lu lebih suka cowok bertipe bad boy atau nice guy?”
 
Setelah ditanya seperti itu, hampir 90% dari para wanita menarik itu menjawab lebih suka BAD BOY!
“kenapa tuh emangnya suka sama yang tipe bad boy?” adalah lanjutan dari obrolan untuk merespon jawaban mereka tadi. Jawabannya macam-macam, kalau ditulis di sini akan panjang. Bisa sih diuraikan satu persatu, tapi gue males. Jadi berkat rasa males, jawaban dari para kaum hawa itu bakal gue ringkas: BAD BOY ITU ASIK!

(Baca: Lah, nyet, bad boy kan bajingan?)

Iya, jadi begini, anak monyet, bad boy emang bajingan, tapi... tapi, perilaku para pria bajingan dan kurang ajar itu menegaskan simbol kegilaan, kesempurnaan, kebebasan, kemegahan, “kedewasaan”, dan “kemapanan” yang sangat membuat para wanita penasaran. Hal-hal itu membangkitkan sensasi yang jarang banget bisa ditemui oleh pria yang sering berperilaku sopan, kalem, atau baik.




Kenalan gue, Lex, pernah bilang, bidang studi psikologi dapat menganalisa mengenai pria brengsek nan bajingan ini dalam hal romansa pada kombinasi Big Five berikut ini: high extraversion (penuh energi, ekspresif di hadapan orang lain), low neuroticism (jarang mengalami emosi yang tidak menyenangkan), low conscientiousness (santai, berantakan, tidak disiplin), low agreeableness (mementingkan diri sendiri, cenderung bersaing ketimbang kerjasama), high openness to experience (suka tantangan, cepat bosan, pecandu tantangan baru). Dan P.K Jonason dari New Mexico University menemukan bahwa James Bond adalah figur yang paling cocok menggambarkan seluruh sifat di atas.

Ada yang pernah liat James Bond telfon cewek untuk sekedar nanya “Kamuh dah mam lum?”



 "Apah? Kamu lum mam? Mam dong, biar nggak tatit."

Oke, nggak usah deh ya seberat itu penjelasannya. Kalau menurut kacamata para wanita yang gue ajak ngobrol, bad boy lebih menarik karena mereka itu ekspresif, nggak menye-menye (ini gue nggak tau arti pastinya, tapi... ya gitu deh), berani untuk nggak baik. Itu membuat mereka terlihat lebih fun dibanding para nice guy yang pernah mereka temui.

Menurut gue, bad boy sendiri ada 3 jenis: pertama adalah mereka yang sudah menjadi bad boy secara natural, kedua adalah mereka yang menjadi bad boy karena difasilitasi lengkap sejak kecil (tajir mampus. Yang orang tuanya kalau diare mencret duit), yang ketiga adalah mereka yang menjadi bad boy karena pengalaman pahit. Contoh nomer tiga adalah kasus yang menarik.

Orang yang menjadi bad boy karena pengalaman biasanya sudah pernah mengalami pengalaman yang menghasilkan air mata berdarah di dalam hubungan romansanya. Biasanya mereka dulunya adalah seorang nice guy yang disia-siakan oleh gebetannya. Disia-siakan karena dahulu mereka selalu ada ketika gebetannya butuh bahu saat sedang jatuh terpuruk dikarenakan lelaki yang disukainya kerap menyakitinya. Lalu dia  datang dengan memberi 1001 kata motivasi yang menghibur setelah gebetannya curhat dengan sejuta keluhan atas pria brengsek yang disukainya. Dengan usaha maksimal, mereka membuat gebetannya yang sedang sedih menjadi tertawa. Tujuannya hanya satu: agar si gebetan mau melupakan pria brengsek yang disukainya dan melihat dia yang sudah bersusah payah menjadi yang terbaik buatnya dengan cara menunjukkan kebaikan yang pria brengsek itu tidak punya. Tetapi hasilnya malah terbalik, si gebetan tetap nempel kepada si pria brengsek dan si nice guy itu hanya mendapat gelar teman baik di hati gebetannya. Rasa sakit yang ekstrim membuatnya dihadapkan pada dua pemikiran: 1. Gue harus lebih baik lagi, 2. Gue nggak bisa begini terus. 

Dan para bad boy yang menjadi bad boy karena pengalaman adalah mereka yang belajar setelah menempuh jalur nomer dua. Tidak puas menjadi raja di zona teman sang wanita pujaan, membuatnya mengambil langkah ekstrim. Tentunya kalian tahu kalau kisah di atas adalah curhatan. Hahaha.

Memang, susah rasanya untuk tidak bersikap layaknya ksatria putih berkuda friendzone ke pada wanita yang kita suka. Tapi, hei! Wanita hanya akan tambah suka bila diperlakukan baik oleh pria yang disukainya. Pernah disukai wanita yang tidak lu sukai? Ya, mereka jadi suka karena lu memperlakukan mereka seperti biasa atau mungkin layaknya bad boy, dan lu menjadi nice guy ketika berhadapan dengan wanita yang lu suka. Terbayang? 

Jangan sembarang menunjukkan minat lu ke tiap wanita yang lu suka, berani mengatakan “Tidak!” ketika seorang wanita yang disuka meminta hal di luar akal, mampu hidup terpisah darinya, tidak harus mengikutinya ke manapun dia ingin pergi, dan berbagai hal lainnya.

Wanita tidak ingin pria yang hanya unggul dalam kebaikannya, apalagi hanya memiliki hal itu saja (kebaikan). Mereka ingin pria yang lengkap dengan keunggulan-keunggulan lainnya. Atau setidaknya pria yang mampu menunjukkan bahwa dia bisa lebih dari sekedar berbuat baik, sopan, dan menghargai wanita saja.

Jadi... gimana? Hahaha. 

Oh iya, gue belum menulis jawaban mereka kenapa tidak memilih nice guy. Karena nice guy itu mudah terbaca, membosankan, dan sifat baiknya yang sering diumbar sangat sayang untuk tidak menjadi sekedar teman. Jarang sekali ada atau bahkan tidak ada kejutan yang didapat.

Tentu para nice guy di luar sana memiliki keunggulan lain yang tidak dimiliki para bad boy. Tetapi  untuk menarik lawan jenis, sifat ini tidak begitu membantu. Lalu bagaimana? "Lu perlu berlatih mengekspresikan kombinasi Big Five di atas tanpa perlu menjadi bad boy yang bajingan, disfungsional, kekanak-kanakan, merusak dan menyakiti setiap wanita yang tertarik sama lu. Lalu kalau lu sudah siap untuk membina hubungan yang lebih serius lagi, lu harus bersedia mengurangi sedikit kesempurnaan lu dan menunjukkan sisi lemah untuk diisi oleh sang kekasih. Ijinkan dia berakar dan bertumbuh di dalam diri lu agar ia gak mudah terpikat oleh gelora pria-pria lain yang senantiasa menggodanya" kata si Lex.

Kalau lu setuju dengan tulisan di atas, gue harap, lu berjanji pada diri sendiri untuk tidak meneruskan strategi jadul yang lu lakukan selama bertahun-tahun ini sehingga membiarkan para wanita di luar sana menjadi bosan dan terpaksa karena tidak punya pilihan lain jatuh ke pelukan pria brengsek. 

Hidup adalah game, romansa adalah bagian darinya, dan seperti game pada umumnya, game romansa mempunyai strategi dan peraturan, jalani dengan benar dan lu bakal menangin game-nya!

Friday, September 13, 2013

Kekuatan Bercerita



Belakangan ini gue lagi menyukai seni bercerita atau story telling. Kenapa? Karena semua orang suka mendengar suatu cerita yang bagus.

Pernah nggak lu mengalami situasi di mana seseorang bercerita, entah itu teman lu, dosen, orang tua, atau orang asing, yang ceritanya membuat lu fokus ke si pencerita dan penasaran akan kelanjutannya? Si pencerita membuat lu ikut membayangkan pengalaman apa yang si pencerita ceritakan dan elu merasa mengalami situasi apapun yang si pencerita itu ucapkan.

Elu asik mendengarkan dia. Lu bukan hanya mendengarkan, tetapi juga menyimak apa yang dia ucapkan. Dan ketika cerita berakhir, lu ingin dia menceritakan hal lain.

Itu lah kehebatan dari story telling yang dibawakan dengan baik dan tepat!

Sebuah cerita memiliki efek yang luar biasa terhadap orang yang mendengarkannya. Kita selalu mudah terpengaruh oleh sebuah cerita, baik melalui novel, film, bahkan lagu.

Kita “belajar” dari cerita.

Kita ikut tersedot masuk ketika mendengarkan sebuah cerita yang dibawakan dengan tepat. Beberapa orang mungkin bilang seperti terhipnotis. Itu mungkin alasannya kenapa sering kali saat kita memanggil teman yang sedang membaca buku, mereka seakan-akan tidak mendengarkan kita sama sekali. Ya, karena mereka sedang terhipnotis oleh cerita itu.

Sama seperti saat lu mendengarkan sebuah cerita bagus dari teman lu, perasaan nggak sabar akan endingnya mengganggu pikiran lo. Ketika ada gangguan seperti dia sedang ditelfon, lu menghembuskan nafas sedikit kecewa dan tidak sabar mendengarkan dia bercerita lagi.

Betapa dahsyat efek dari bercerita! :D

Itu juga nilai plus buat lu para cowok di mata cewek. Cerita lu nggak mesti bagus, cukup cerita sederhana, dan itu saja sudah membuat lo berada di atas para cowok lainnya yang pernah dia temui.

Kenapa? Karena saat lu bercerita dengan bagus, dia merasakan mood dan interest  yang terbawa naik turun. Bahkan ikut secara aktif membayangkan kejadian yang lu ceritakan. Pengalaman yang diceritakan dengan baik memberikan emosi yang timbul tenggelam, emosi yang membuat dia menginginkan lu untuk terus bercerita. Dan perempuan adalah makhluk yang sensitif soal tersentuh dan penasaran, bila kita membicarakan emosi.

Lewat cerita, lu bisa menceritakan diri lu dengan cara yang nggak biasa. Lu bisa mengungkapkan hobi, kepribadian, dan lain-lain dengan cara yang tidak membosankan.

Oke, gue bakal berbagi sedikit cara dan tekhnik story telling yang telah gue pelajari. Berikut sedikit hal yang mesti lu perhatikan ketika lu bercerita.


1. Eye Contact.
Sebuah cerita yang menarik pasti melibatkan kontak mata di dalamnya. Nggak mungkin lu bisa bercerita dengan baik kalau lu nggak menatap mata orang/orang-orang yang lu ajak bercerita. Kenapa? Karena mata adalah jendela jiwa. Mata bisa saja bercerita lebih baik daripada mulut. Karena lu juga mengirimkan emosi dan perasaan lu ketika bercerita lewat mata. Selain itu, tanpa kontak mata, lu juga menunjukkan kalau elu agak minder dan tertutup.


2. Spesifik
Kalau bercerita sebaiknya nggak tanggung-tanggung. Jelaskan secara spesifik, entah itu situasi saat itu, orang yang sedang lu ceritakan, apa yang lu lakukan saat itu. Spesifik. Dan kalau bisa ditambah dengan kata-kata yang tidak biasa seperti: menaklukan, mengembara, petualangan, memperhatikan, dll. Dan bisa juga ditambah bumbu puitis. Jangan takut dibilang norak. Justru kenorakan lu itu yang sedang dia simak dengan asik. :D


3. Gesture dan mimik
Dalam bercerita, lu nggak bisa diam saja atau melipat tangan atau menopang dagu dan hanya menggerakan bibir saja. Lambaian tangan, gerakan kaki, goyangan badan, anggukan kepala, dan ekspresi yang beragam SANGAT MEMBANTU membuat lu semakin disimak. Apa pernah lu mendengarkan orang yang jago bercerita, namun dia hanya diam dan ngomong aja? Nggak kan? Tentu mereka aktif menggerakan anggota badan dan menggunakan mimik muka yang ekspresif dan membuat ceritanya semakin seru.


4. Jeda, efek suara, dan umpatan
Ini semua adalah bumbu-bumbu penyedap yang membuat cerita lu terdengar semakin nyata di pikiran mereka. Efek yang ditimbulkan akan semakin kuat jika elu menambahkan bumbu-bumbu ini.


Gue kasih contoh saja sekarang. Seorang cewek bertanya ke elu “kok lu memar?” dan elu menjelaskan kalau lu baru saja kecelakaan.

Lu bisa saja bilang “kemarin gue kecelakaan di Kalimalang. Diserempet motor. Untung aja gue nggak kenapa-kenapa.”

Atau “Jadi kemarin gue mau ke kampus sekitar jam 2 siang. Dan lu tau dong pasti, jam 2 siang itu... beuh! Cuacanya panas banget! Sebenernya agak males juga sih panas-panasan, soalnya kelenjar keringat di kulit gue lagi malas mengeluarkan keringat berlebih, tapi ya gimana lagi, absen gue udah mentok. Maklum lah anak bandel. Haha. Setelah siap, gue langsung keluar pakai motor gue. Untung aja bensin udah full, jadi gue nggak perlu lama-lama isi bensin lagi. Gila aja, antrian jam segitu kan biasanya panjang, dan gue udah telat pula. Gue kendarain motor gue dengan sedikit ngebut di jalan raya. Dan banyak yang ngebut juga, ya karena sepi. Tiba-tiba... DUAR! Ada motor matik berwarna merah nabrak ban belakang gue dan gue langsung jatoh. Motor yang nyerempet gue nggak kenapa-kenapa, kampretnya lagi, dia langsung kabur. Bangke emang! Untungnya aja, pas motor udah agak oleng, gue langsung lompat dari motor, jadi gue nggak keseret. Dan blablablablablabla”

Coba, mana yang lebih seru?

Sebenarnya setiap orang sudah jago dalam bercerita, namun ada saja hal-hal yang membuat orang itu tidak bisa bercerita ke semua orang (jadi hanya ke beberapa orang saja). Entah karena dia menyukai orang yang diajak bicara, atau karena faktor-faktor internal lainnya. Entah, namun gue sendiri banyak menemukan orang yang saat bercerita terdengar sangat menarik, dan juga ada yang malah terasa kurang, dan gue adalah salah satunya. Tapi gue belajar untuk bisa bercerita dengan baik, dan hasilnya sekarang lumayan bagus.

Kalau gue sendiri yang tidak bisa dan malas bercerita jadi suka bercerita, kenapa elu nggak? :)

Thursday, May 23, 2013

Lucu Itu Relatif

Udah lama banget blog ini nggak diisi dengan tulisan (yang diusahakan) lucu. Tulisan semacam itu terakhir kali mungkin yang gue tulis tahun lalu yang berjudul Ganti Provider Bikin Keder. Gue rasa sih ada banyak faktor yang menyebabkan gue nggak bisa (berusaha) menulis lucu lagi. Entah karena gue makin sibuk sama kegiatan sehari-hari gue, entah karena lingkungan, entah karena kompor di dapur dipindahin dekat kulkas makanya fengshui-nya jadi jelek. Entah.

Sebenarnya untuk membuat suatu hal menjadi lucu itu tidaklah gampang. Karena setiap orang mempunyai perspektif sendiri terhadap apa yang mereka anggap lucu. Orang-orang mempunyai selera humor yang berbeda. Itu disebabkan oleh apa yang orang-orang terima (lihat atau dengar) dari lingkungannya. Itulah yang membuat 'lucu' menjadi tidak universal.

Gue punya teman dari berbagai kalangan. Kalangan atas sampai kalangan bawah. Orang kota sampai orang daerah. Dan jika dibandingkan, apa yang mereka anggap lucu itu mempunyai perbedaan yang sangat jelas. Bisa saja lelucon yang kita anggap "basi" malah terdengar sangat lucu di telinga teman kita yang dari daerah berbeda. Dan sebaliknya, yang kita anggap lucu malah terdengar garing di telinganya. 

Gue: Dosen gue baru potong rambut kemarin. Sekarang kepalanya botak, kayak deodoran.
Dia: Hahahahaahaha! Deodoran! Hahahahaha!
Gue: Respon lo berlebihan, man. Oh iya, dia juga tadi kasih tes tiba-tiba, gue belom belajar pula. Kepala gue berasep tadi ngerjainnya.
Dia: Jiahahahahahaha! Saking kebanyakan mikir ye, jadi berasep! Hahahahahahahahahahahaha!
Gue: Ooo... keee... emangnya itu lucu?
Dia: Hahahahahahahahahahaha! Lucu banget kali!
Gue: ...

Ada juga yang suka lelucon semacam "Aaaah, dasar ujung knalpot!", "Yeeee, gedebong pisang!", atau "Yeee, pinggiran jamban!". Nah gue termasuk orang yang tidak menyukai lelucon seperti itu. Tetapi banyak orang yang gue kenal masih memakai lelucon ini. 

Pasti kalian pernah lah mendengar lelucon yang bertujuan merendahkan lawan bicara dengan mencocok-cocokan lawan bicara dengan hal yang yang tidak rasional ini. Dan menurut gue itu sama sekali nggak efektif. Maksud gue... ayolah, tujuan mengejek itu kan untuk membuat orang sakit hati. Tetapi kalau diejek seperti itu apa sakit hatinyaaaa? Maksudnya, apa lu bakal sakit hati begitu lu disamakan dengan gedebong pisang? Gedebong pisang kan berguna menyimpan air supaya buah pisang bisa tumbuh dan dimakan oleh manusia, dan bisa juga dijadikan rakit gedebongnya. See? Itu berguna! Lu dibilang kalau elu itu berguna apa bakal sakit hati? Selain itu kita itu manusia, bila disamakan dengan benda mati ya jelas kita nggak seharusnya marah, malah berduka atas otak si pengejek yang intelegensianya ketinggalan 20 tahun dari manusia normal. Gue justru bakal lebih sakit hati misalnya disamakan dengan orang yang melontarkan ejekan seperti itu. 

Dia Yeeee, sendal jepit!
Gue: *mengerutkan dahi* ha? Coba yang lebih baik lagi.
Dia: Dasar botol kecap!
Gue: Segitu aja?
Dia: Yeeee, gue!
Gue: Ha?! Apa lu bilang?! Lu bilang kalau gue itu elo?! MATI LOOO!!!

Biasanya sih gue cukup membalas dengan senyum sedikit saja untuk menghargai usaha mereka untuk membuat hal lucu. Tetapi dalam hati gue teriak dengan lepas "ANJIR JAYUS AMAT!". 

Ya memang, untuk membuat hal lucu untuk membuat semua orang tertawa itu tidak mudah, dikarenakan apa yang orang anggap lucu itu relatif beda. Gue sendiri sering mendapat apreasiasi dan penolakan terhadap lelucon yang gue utarakan. Tetapi... tunggu, tunggu. Maksud dari postingan ini itu apaan sih? Anjir nggak jelas sendiri gue! Yaudah lah, gue rasa ini akan menjadi makin rancu kalau gue teruskan. Mendingan gue sudahi saja tulisan gue yang satu ini. Intinya... ya nggak ada intinya sih. Ya pokoke gitu lah. Postingan (yang diusahakan) lucunya lain kali aja lah ya. Haha.