Saturday, August 8, 2026

Wis Tuo

Kadang gue lupa kalau gue sudah tidak lagi muda. Bergaul dengan banyak orang membuat gue secara otomatis mempunyai lingkaran pertemanan yang jarak umurnya beragam. Menjadi lebih muda di tongkrongan, lebih tua, atau sebaya. Semua ada. Plus gue tidak dalam payung pernikahan.

Hal itu membuat jiwa muda yang gue punya tidak pernah meninggalkan gue.

Apakah itu hal baik? Sure. Tapi sayangnya raga ini sepertinya tidak bisa keep up.

Kemarin habis party. Pagi ini mesti bekerja lagi walaupun akhir pekan sampai malam. Malam ini? Ya party lagi.

Sejauh ini gue belum merasakan lelah yang segitunya. Tapi ya cukup letih juga. Walaupun rasa serunya mengalahkan capek yang gue alami, seperti yang gue bilang di atas tadi.

Gue nggak yakin badan ini bisa terus begini.

Tapi ya senang sih. Banget.

Friday, August 7, 2026

Tutup

Gue baru saja melewati tempat yang dulu biasa gue hampiri untuk bercengkrama bersama teman-teman atau pun pekerjanya. Tempat yang di mana akan gue sambangi ketika gue bingung mau ke mana atau sedang bosan saja. Sayangnya tempat itu sudah tutup.

Riuh tawanya masih sayup terdengar tiap kali gue melewatinya. Suka teringat kejadian seru atau bodoh yang pernah gue alami di sana. Momen bergosip tentang apa pun dengan siapa pun, yang ujung-ujungnya pasti akan diakhiri gelak tawa. Sayangnya tempat itu sudah tutup.

Tempat di mana gue menemukan teman baru yang masih bertahan hingga kini. Berkenalan dengan para komunitas hobi tertentu yang ternyata keren-keren walaupun sangat niche. Para manusia di dalamnya yang beragam rupa. Sayangnya tempat itu sudah tutup.

Sekarang tempat itu sudah mau beralih fungsi, tapi memori akan masa lampaunya masih terekam jelas di kepala orang-orang yang pernah menyambangi. Gue salah satunya yang menjadi saksi akan pernah berdiri tempat itu di Fatmawati.

Kadang gue merindukan tempat itu. Tapi gue lebih sering merindukan versi diri gue yang pernah tertawa di sana bersama-sama. Tapi sekali lagi, sayangnya Tori Bar Fatmawati sudah tutup.

Thursday, August 6, 2026

Ekspektasi

Semalam gue baru begadang di kantor. Tujuannya? Ya tentu saja bermain video game, haha. Video gim yang gue mainkan bernama Crimson Desert, yang pas sebelum kemunculannya sangat lantang namanya diserukan di media sosial. Para content creator bilang bahwa ini adalah gim yang setara Red Dead Redemption 2–video him bergenre koboi yang bagus banget menurut gue–tapi versi medieval. TAPI tak dinyana ternyata tidak sebagus itu. Jelek banget video gimnya. 4 jam gue main, dan gue masih belum tau isi dari ceritanya dan mekanik dari gimnya. Mengecewakan.

Rasa kecewanya sama seperti ketika datang ke tempat makan viral, tetapi ketika suapan pertama rasanya tidak sepadan dengan waktu antriannya. Atau ketika membuat janji dengan seseorang untuk bersenang-senang, janjinya dibatalkan di hari sebelumnya. Apa pun penyebab kecewanya, rasanya akan tetap sama. Tidak enak.

Semua rasa kecewa pun penyebabnya sama: tidak tercapainya sebuah ekspektasi yang ada. Ketika kita sudah membayangkan apa yang akan terjadi atau apa yang akan kita dapat, lalu semua itu dipatahkan oleh kenyataan. Bisa jadi kita yang salah, bisa jadi faktor lain yang salah. Gue pribadi lebih suka menganggap kalau memang alam semesta saja yang sedang mengingatkan kalau ekspektasi itu bukan janji.

Kenyataan tidak pernah menjanjikan apa pun. Yang menjanjikan justru kepala kita sendiri. Kita yang membayangkan acaranya bakal seru. Kita yang membayangkan makanannya pasti enak. Kita yang membayangkan seseorang akan melakukan ini dan itu. Lalu ketika semua itu tidak terjadi, kita menyalahkan kenyataan.

Ekspektasi itu aneh. Dia nggak pernah benar-benar terjadi, tetapi efeknya bisa nyata. Semakin tinggi ekspektasinya, semakin juga jarak jatuhnya ketika kenyataan tidak sesuai. Dan semakin sering gue mengalami rasa kecewa, semakin gue sadar kalau yang perlu dijaga bukan cuma usaha atau hasilnya. Tapi juga bayangan yang gue bangun sebelum semuanya benar-benar terjadi. 

Gue sendiri masih payah soal urusan menurunkan ekspektasi. Suatu keahlian yang gue rasa akan sangat berguna untuk gue guna menikmati hidup. Supaya gue lebih sering menikmati kenyataan daripada sibuk membandingkannya dengan versi yang sudah gue tulis sendiri di kepala.

Kalau ternyata hasilnya lebih bagus dari yang gue bayangkan ya syukur. Kalau ternyata jelek? Yaaaaa... Paling cuman kehilangan empat jam buat main Crimson Desert. 🤦🏻

Tuesday, August 4, 2026

Belajar

Definisi orang menarik menurut banyak orang itu berbeda-beda. Ada yang menganggap orang menarik itu adalah yang punya fitur fisik enak dipandang mata, ada yang standar menariknya dilihat dari wawasan, ada juga yang menilai dari vibe keseluruhan. Banyak. Gue juga yakin ketika ditanya seperti itu, kalian punya jawaban sendiri dan akan cepat jawabnya. Karena kalian sedang mendeskripsikan apa yang kalian suka.

Lalu bagaimana kalau pertanyaannya adalah hal sebaliknya? Orang yang nggak menarik itu seperti apa?

Kita di sini bicara tentang tidak menarik secara umum, bukan hal yang berbau romansa. Orang yang tidak menarik biasanya adalah orang yang membosankan. Orang yang membosankan itu seperti apa?

Dulu, kalau lagi ngobrol sama orang, gue sering iseng nanya pertanyaan itu. Nggak ada tujuan khusus. Gue cuma penasaran sama jawabannya. Pun jawaban yang sering gue dapat adalah: yang obrolannya garing. Tapi gue pernah sekali mendapatkan jawaban yang gue suka.

"Orang membosankan menurut gue itu orang yang berhenti belajar."

Kenapa gue suka dengan jawaban itu? Karena gue keseringan mendapatkan jawaban yang sama, dan jawaban berbeda itu membuat gue mikir, "benar juga ya."

Orang yang berhenti belajar adalah orang yang membosankan. Karena mereka terjebak dengan zona nyamannya. Melakukan kegiatan yang itu-itu saja. Mengonsumsi informasi yang sifatnya monoton. Dan itu semua membuat dia terhenti dan akhirnya... Ya bisa kalian tebak, jadi membosankan. Pengalamannya berhenti bertambah. Sudut pandangnya juga cenderung itu-itu saja. 

Belajar di sini pun artinya bukan baca buku mempelajari suatu hal. Dalam konteks yang gue bahas sekarang maksudnya adalah mencoba mengonsumsi atau melakukan hal baru yang tidak pernah dilakukan atau dikonsumsi sebelumnya. Sesimpel misalnya kalian nggak pernah naik kendaraan umum tertentu, lalu kemudian kalian mencoba untuk naik kendaraan umum tersebut. Atau misalnya ketika kalian sedang di minimarket, kalian mengambil minuman yang belum pernah dicoba sebelumnya dari rak kulkas.

Setelah melakukan itu, wawasan kalian akan hal baru bertambah. Informasi baru akan masuk ke kepala kalian. Output-nya mungkin kalian akan punya hal favorit yang baru, atau misalnya tidak ya kalian jadi tahu. Dan tahu banyak hal itu menyenangkan. 

Dari saat gue mendapatkan jawaban itu, gue selalu mencoba untuk belajar setiap hari. Soalnya ternyata seru! Dan juga karena orang yang terus belajar bukan cuma menambah pengetahuan. Mereka juga terus menambah cerita. Gue mau menjadi orang yang punya banyak cerita.

Monday, August 3, 2026

Level Down

Pernah bekerja di sebuah event organizer yang ritme kerjanya serba sat-set, ditambah klien yang bisa dibilang raja terakhir di dunia event korporat, ternyata sangat membentuk mental gue. Dari situ, standar gue terhadap sebuah event jadi tinggi.

Setelah keluar dari dunia itu dan mulai mengerjakan event dengan dinamika yang jauh lebih santai, gue jadi lebih sering bereaksi, "Lah, kok gitu?"

Memang lebih gampang dijalankan. Nggak seribet dulu. Tapi justru karena itu, gue lebih sering tepuk jidat ngelihat hal-hal yang sebenarnya bisa dibuat jauh lebih baik.

Kadang itu yang bikin gue kepikiran buat balik lagi ke medan perang yang dulu. Bukan karena duitnya lebih banyak, atau karena kangen stresnya. Tapi karena gue nggak mau jadi manja. Gue nggak mau standar yang udah kebentuk bertahun-tahun pelan-pelan turun hanya karena terlalu sering berada di lingkungan yang merasa, "yang penting jadi."

Duh... *tepuk jidat*

Saturday, August 1, 2026

Angin Segar

Di hari Sabtu dan Minggu yang seharusnya menjadi Hari Santai Sedunia, syukurlah gue diberi kesempatan untuk sibuk. Untungnya juga sibuknya ini juga bersifat yang menghasilkan, jadi sudah semestinya gue merasa senang dong?

Tapi nggak juga. Badan gue rontok. I need some rest.

Beberapa minggu belakangan gue cukup sibuk, secara mental dan fisik. Istirahat? Tentu saja kurang.

Tapi... Sisi baiknya, di salah satu ruang kepala gue ada yang membuat gue cukup nyaman di antara banyaknya darderdor yang menerpa.

You know who you are.

Friday, July 31, 2026

Enak Gak Enak

Kayaknya gue udah bilang beberapa kali di sini kalau gue sama sekali tidak menyukai rasa alkohol. Gue masih belum paham rasa pahit seperti apa yang bisa lidah gue bisa nikmati dari rasa alkohol. Tajam di tenggorokan seperti baru menelan silet. Belum lagi efeknya ke tubuh jika dikonsumsi berlebihan.

But here I am, baru balik dari bar setelah bercengkrama bersama teman sambil minum-minum, dan memutuskan menulis ini di MRT dengan syaraf yang agak lemas.

Pertemuan kami cukup seru. Banyak kalimat terucap dengan nada menyenangkan di obrolan kami, yang di mana itu agak sulit didapatkan jika  dilakukan tanpa alkohol. Bisa saja, tapi tidak akan selepas itu. Lalu gue merasa bahwa thesis gue benar: gue hanya menyukai efek yang ditimbulkan dari alkohol ketika sedang nongkrong bersama teman-teman.

Untuk urusan rasa sudah absolut rasanya bagi gue untuk tidak suka. Namun, untuk buah mulut ketika bersama orang-orang dan suasana yang tercipta beda perkara. Obrolan ngalor-ngidul yang awal dan akhirnya tidak jelas arahnya tapi seru-seru saja. Gestur tidak perlu yang keluar karena badan sempoyongan, dan celetukan-celetukan bodoh yang terucap. Itu adalah resep seru dalam tongkrongan, dan bahan utamanya adalah cairan ethanol dalam gelas.

Tapi ya tetap, gue tidak suka rasanya. Gue hanya suka suasana yang dihasilkan setelahnya. Bagi gue minuman paling enak tetaplah satu: susu stroberi. Hahaha.

Thursday, July 30, 2026

Pintar

Gue pernah terjebak diskusi bersama teman-teman gue tentang apa itu pintar. Diskusi pagi buta di sebuah warkop di tengah-tengah riuhnya kota Jogja. Tentunya obrolan awalnya bukanlah itu, kalau tidak salah kami sedang membahas masalah demo mahasiswa dan bagaimana gue kurang suka dengan cara orasi para mahasiswa yang pernah gue lihat. Dari obrolan jam 2 pagi itu, gue menemukan definisi pintar menurut gue.

Sebagai orang yang tidak menganggap nilai sempurna di jenjang akademis itu adalah hal penting, gue tidak begitu melihat orang yang seperti demikian adalah orang pintar. Gue pernah kok mengobrol dengan seorang cum laude universitas negeri, dan sepanjang ngobrol dia lebih banyak ngang-ngongnya. Gue pernah juga mengobrol dengan seorang insinyur yang katanya banyak pencapaiannya, tetapi ketika bercengkrama banyak nggak jelasnya. 

Di sisi lain, ada masa gue berinteraksi dengan para pedagang pinggir jalan atau tukang parkir di pasar lalu obrolannya malah seru dan jenaka. Atau office boy perkantoran suatu distrik bisnis dan kemudian dia menceritakan perjalanan hidupnya dengan diksi dan alur yang tertata. Komunikasinya bagus.

Buat gue, salah satu cara menilai kepintaran seseorang adalah dari cara dia berkomunikasi. Orang yang bisa luwes berbicara dengan siapa saja dari golongan apa saja dengan pemilihan kalimat yang tepat. Pintar bukanlah ketika seseorang bisa menjelaskan isi buku Nietzsche secara panjang lebar dengan presisi dan kata-kata "tinggi". Pintar adalah ketika seseorang itu bisa merangkum dan menjelaskan isinya sesuai siapa yang diajak bicara. Karena jelas sekali berkomunikasi dengan seorang dokter dan tukang daging di pasar caranya berbeda.

Inti dari komunikasi adalah penyampaian pesan. Jika pesan yang disampaikan tidak dipahami yang menerima, maka komunikasi itu bisa dibilang gagal dan komunikasi yang jelek. Orang pintar menurut gue adalah orang yang bisa beradaptasi menyesuaikan cara komunikasinya sesuai lawan bicaranya. Dia dapat menyederhanakan suatu pesan komunikasi yang rumit menjadil simpel supaya bisa diterima oleh orang yang lebih luas. Bukan menjelaskan hal rumit memakai pemilihan kata yang tidak umum supaya terlihat pintar.

Dan mungkin itu juga alasan kenapa gue kurang menikmati orasi yang pernah gue dengar waktu itu. Bukan karena pesannya salah, tapi karena cara menyampaikannya membuat orang yang seharusnya diajak bicara justru tertinggal di belakang. Karena pada akhirnya, orang pintar menurut gue bukanlah orang yang paling banyak tahu, melainkan orang yang tahu bagaimana menyampaikan apa yang dia tahu.

Wednesday, July 29, 2026

Biasa Bisa

Saat masih latihan parkour dulu, gue punya teman yang lantang sekali berorasi bahwa dia tidak percaya dengan yang namanya bakat. Sebagai konteks, di sini dia berbicara tentang bakat menggambar.

"Yang namanya 'bakat' itu nggak ada, men. Yang lo perlu cuman (dibiasakan) latihan."

Gue sebagai orang yang melihat buah karyanya secara berkala, pada saat itu setuju dengan apa yang dia katakan. Gue masih ingat ketika dia menggambar orang yang dia suka ketika dia masih awal-awal menggambar, rencananya mau diberikan ke sang wanita. Kalimat penghancur semangat seperti "Kayaknya jangan lo kasih ke dia deh, man." menari-nari indah di ujung lidah gue. Soalnya juelek puarah! Mata kiri dan kanannya terlihat seperti orang yang sedang mengidap stroke. Hidung dan kepalanya asimetris. Dan giginya seperti leak Bali. Intinya jelek.

Tapi untunglah gue tidak pernah mengucapkan kalimat itu. Karena lama-kelamaan gambarnya perlahan menjadi bagus. Well, pada akhirnya bisa dibilang lebih dari bagus. 

Kami pada saat itu juga bergabung ke komunitas menggambar, dan gambar dia adalah salah satu yang terbaik dari seluruh anggota komunitas tersebut. Bahkan ketika komunitas menggambar itu diundang untuk mengisi semacam seminar di sekolah-sekolah, dia adalah salah satu yang ikut menjadi pembicara. Orang sama yang dulu dengan sukses menggambar gebetannya hancur sempurna, kemudian setelahnya menjadi pembicara untuk memberi motivasi tentang menggambar. Dan hal yang selalu ia ucapkan ketika menjadi pembicara adalah, "Yang lo butuh cuman dibiasakan latihan."

Bisa karena biasa. Kalimat tua itu sudah beredar entah sejak kapan. Dan untuk banyak hal, itu benar adanya. Banyak orang menjadi ahli di berbagai bidang karena sudah terbiasa menangani hal itu. Awalnya pasti mereka tidak ada apa-apanya. Contohnya adalah kasus di atas. Teman gue gambarnya jelek sekali, tetapi setelah bertahun-tahun konsisten dibiasakan untuk menggambar dia menjadi ahli. Gue juga dulu gagap ketika disuruh ngobrol dengan orang asing, rasanya berat sekali melakukan itu. Tapi karena pernah membiasakan mengajak ngobrol banyak orang asing, melakukan itu sekarang bukanlah beban.

Menggambar dan mengobrol hanyalah dua contoh. Gue rasa prinsip ini berlaku untuk jauh lebih banyak hal. Bukan cuman kemampuan, tapi juga... rasa. Kita bisa menemukan rasa yang berbeda ketika kita sudah di tahap terbiasa. Rasa berat yang muncul di awal akan menjadi ringan kalau dibiasakan. Rasa sukar dilakukan ketika memulai akan menjadi mudah bila konsisten.

Konsistensi menjadi kunci perjalanan rasa. Itu juga yang gue temukan belakangan. Gue dihadapkan dengan hal yang awalnya terkesan biasa. Namun, karena terbiasa lama-lama ada rasa yang berbeda. Dan gue belum kembali biasa dalam menikmatinya.

Wednesday, March 18, 2026

Debí Tirar Más Fotos

Gue jarang banget merekam momen ketika sedang bercengkrama. Mengambil foto atau video bukan prioritas gue ketika sedang bersama siapa saja, karena pikir gue baiknya nikmati saja waktu yang ada dengan menjadi "ada" di sana. 

Tentunya hal itu membuat gue merasakan tiap momennya dengan utuh. Gue ingat tiap tawa ketika ada lelucon yang dilontarkan, cahaya hangat dari pemandangan bagus yang pernah gue perhatikan, atau tiap penampilan keren yang gue tonton entah di mana.

Dengan berpikir melakukan itu artinya "lebih hadir", gue menjadi lupa semuanya bisa kapan saja berakhir. Lupa kalau mengingat saja kadang tidak cukup dalam kegiatan bernostalgia. Sejenak gue lupa kalau manusia juga bisa lupa. 

Apalagi dengan kejadian yang terasa biasa. Padahal hal-hal remeh nan sepele itu justru seringkali yang menjadi bumbu sedap dalam mengingat ulang. Mengingat ulang suatu tempat, kejadian, atau orang.

Dalam waktu tak tentu pemandangan sama yang dilewati setiap hari bisa menjadi berbeda. Tempat yang sering dikunjungi sewaktu-waktu bisa menghilang. Orang terdekat yang selalu sedia bersama kapan pun bisa tiada. Bahkan kita sendiri tiap menit ke depan tidak akan pernah sama dengan menit sebelumnya.

Jika ada satu hal di dunia ini yang tidak akan berubah, hal itu adalah perubahan. Perubahan itu konsisten dan akan selalu ada. Mengingat sesuatu yang sudah berubah akan lebih syahdu kalau ada sesuatu yang bisa membantu.

Nggak ada yang salah dengan "live in the moment", tapi ketika suatu saat ingin kembali ke moment lampau yang sepele, lupa adalah musuh besarnya. Jikalau sudah seperti itu, gue cuman bisa bergumam...

"I should've taken more photos."