Monday, August 31, 2026

Angkot

Dari semua transum yang pernah gue naiki, angkot ada di peringkat terakhir dalam daftar transportasi umum favorit gue. Sudahlah tidak ramah orang tinggi, tingkat kenyamanan minim, cara berkendara supirnya pun bak mantan pembalap Formula 1. Belum lagi kebiasaan mereka yang suka berhenti menunggu penumpang yang belum ada batang hidungnya, atau istilahnya "ngetem".

Walaupun demikian, angkot juga pernah menjadi bagian dari keseharian gue ketika gue masih sekolah menengah pertama. Pun gue rasa aman untuk bilang bahwa angkot masih menjadi andalan banyak orang lainnya di luar sana. Hal lain yang gue yakini adalah para penumpang angkot itu juga sama kayak gue: naik angkot bukan karena itu adalah pilihan favoritnya.

Sesuatu yang dirasa butuh, bukan yang kita mau.

Banyak "angkot" lain yang ada di hidup gue. Hal itu bisa berupa kata benda, sifat, atau kerja. Sesuatu yang sebenarnya gue tidak mau atau tidak suka, tapi gue butuh itu. Hal yang harus dilakukan supaya hidup gue bisa berjalan tanpa hambatan, nggak terlalu lama "ngetem". Kadang gue menyambutnya dengan ogah-ogahan, tapi tetap gue naiki. 

Tapi nggak jarang juga gue hindari, walaupun konsekuensinya kadang bikin gue membatin dalam hati, "anjir, harusnya gue naik."

No comments:

Post a Comment