Thursday, May 8, 2014

Zakid, Mz

Jadi dari hari Senin kemarin gue sakit. Jadi gue tidak bisa keluar rumah untuk melakukan aktivitas yang biasa gue lakukan. Dan seperti biasa, kalau gue sakit gue malas pergi ke dokter. “Tinggal istirahat aja ini mah.” selalu menjadi solusi gue pada hampir setiap penyakit yang gue derita.

Bukannya gue alergi dokter, hanya saja pengalaman dari kecil seringkali  menunjukkan kalau penyakit yang gue derita tidak akan bertahan lebih dari 2 hari, oleh karena itu pergi ke dokter hanya buang-buang waktu saja. Gue terlalu percaya sama daya tahan tubuh gue.

Namun pernah juga gue dikhianati olehnya. Saat itu gue pernah merasakan tidak enak badan, dan gue rasa itu hanya penyakit lewat biasa dan gue yakin tubuh gue bisa melawannya, namun keesokan harinya gue lemas tak berdaya. Setelah dibawa ke dokter ternyata panas gue mencapai 45 derajat. Demam dengan semangat 45. Dokter bilang itu adalah gejala tifus. Gue berpikir, “Gejalanya aja sadis, gimana yang aslinya?” Kalau ibarat boker, panas 45 derajat itu baru kentutnya. Pas sudah acara utamanya, boker, gue mungkin sudah diopname.

Dan sekarang gue rasa gue terkena gejala tifus lagi. Demam yang gue rasa memang tidak sebesar kemarin, mungkin hanya 44,9 atau sekitarnya, namun tetap saja itu membuat gue mati kutu beberapa hari belakangan ini. Dan juga gue malas ke dokter, alasan “nggak apa-apa, cuman butuh istirahat kok.” selalu menjadi andalan gue. Dan asal kalian tahu saja, banyak orang yang seperti gue, yang menjadikan “hanya butuh istirahat” sebagai alasan. Mungkin ada juga yang seekstrim ini:

X:  ASTAGA, Y! Ayo gue bawa ke rumah sakit atau dokter terdekat!
Y: Oh, nggak apa-apa kok.
X: Nggak apa-apa gimana? Lo baru jadi korban tabrak lari mobil begitu! Udah ayo, gue gotong sinih!
Y: Beneran, nggak apa-apa kok guenya.
X: MATAMU! Kaki lo kelindes ituuuuu! Udah hampir mau putus! Kalau dibawa ke rumah sakit dan ditangani dokter dengan segera mungkin masih bisa diselamatkan.
Y: Oh, ini? Cuman butuh istirahat kok.
X: Lo bukan cicak woi! Kaki lo nggak bisa numbuh lagi!

Sekali lagi, gue bukan alergi dengan dokter, namun ada saja orang yang alergi dokter walaupun tidak seekstrim di atas. Di sisi lain, ada juga orang yang terlalu percaya dengan dokter dan tidak mau repot. Di berbagai pedesaan sendiri banyak kasus demikian, banyak orang minta disuntik walaupun hanya demam dan butuh istirahat saja, karena ya mereka tidak mau tahu dan tidak mau repot bertanya. Di buku BaM sendiri Mas Isman menjelaskan kalau temannya yang menjadi dokter gigi di Garut pasiennya selalu minta giginya dicabut.

Dokter: Oh, ini mah cuman lubang kecil, Pak. Tinggal ditambal dan semua beres, nggak ngilu lagi.
Pasien: Nggak, Dok. Cabut aja!
Dokter: ...

Bukannya tidak mungkin juga kalau dokter gigi di sana juga pernah mendapat kasus ekstrim seperti ini:

Pasien: Dok, anak saya mulutnya di bagian belakangnya katanya berasa sakit!
Dokter: Oh, ini ya? Jadi di sebelah geraham ini ada—
Pasien: Cabut aja, Dok!
Dokter: Ini sariawan, Pak...
Pasien: Bisa dicabut nggak?
Dokter: ...

Bukannya tidak baik kalau percaya sama kemampuan medis dan kemampuan dokter, yang tidak baik itu kalau terlalu mengandalkannya. Jadi kalau merasa tidak enak badan langsung pergi ke dokter dan meminta pengobatan, padahal tidak enak badannya karena terlalu banyak kerja dan hanya membutuhkan istirahat. Dan juga jangan malas pergi ke dokter bila penyakit yang diderita itu sudah tidak wajar/tidak biasa, pekerjaan dokter itu bukan sebagai algojo kok, asal kalian mau menjadi pasien yang cerdas.

Sekarang sih gue sudah mendingan, tapi kayaknya gue masih akan sakit sampai akhir pekan besok. Jadi masih butuh “istirahat”. Lho, kenapa? Memangnya nggak boleh sakitnya tanggung sampai hari libur? :p

Wednesday, May 7, 2014

Pernahkah?

Pernahkah kamu kenal dengan orang di bawahmu yang lebih pintar/lebih dewasa/lebih berpikiran terbuka daripada dirimu dan itu membuatmu takut sehingga kau kagum? Kau menjadi kagum karena tahu kalau dia di bawahmu namun dia jauh di atasmu. Pernahkah?

Saya pernah.

Tuesday, May 6, 2014

Menikah atau Tidak?

Hari ini gue sedang sakit, dan agak terhibur karena 2 orang kenalan gue dari lingkaran yang sama, Jet dan Kei, membahas tentang pernikahan di linimasa Twitter. Dan seperti biasa, gue merasa kagum atas pemikiran mereka. Yaaa, sebenarnya bukan kagum sih, gue hanya senang bahwa orang pintar seperti mereka mempunyai cara pandang yang sama dengan gue. Dan gue senyum-senyum sendiri karenanya.

Untuk melihat pemikiran mereka tentang pernikahan, bisa dilihat di linimasa mereka. Gue nggak akan membeberkan apa saja poin-poin mereka tentang apa itu pernikahan. Kali ini gue akan ikut berbicara tentang pernikahan dari kacamata gue... walaupun gue nggak pakai kacamata. Ya tentunya kalian tahulah kalau itu cuman kiasan.

Jadi apakah pernikahan itu? Gampangnya itu adalah suatu ritual yang mengikat sepasang manusia dalam suatu hubungan yang sakral dan suci. Sepasang manusia yang sudah menikah tersebut akan membangun sebuah kelompok kecil yang disebut keluarga. Dan membangun keluarga itu merupakan tanggung jawab yang SANGAT besar dan memakan waktu seumur hidup. Berat? Iya, memang. Butuh pemikiran yang sangat matang dan tidak bisa seenaknya. Makanya gue agak bingung ketika melihat banyak banget orang yang menikah muda.

Bagi teman-teman gue yang sudah follow gue dari dulu, pasti sering banget melihat ocehan gue tentang menikah muda. Dan dari ocehan itu mungkin mereka akan menganggap kalau gue itu anti pernikahan muda atau anti pernikahan. Karena ocehan gue tentang topik ini biasanya kontra dan tidak seperti yang orang-orang pikirkan (atau seenggaknya orang di sekitar gue).

Apakah gue anti pernikahan muda? Tentu tidak. Gue setuju saja jika ada sepasang kekasih ingin meneruskan hubungannya ke tahap lebih serius. Toh itu hidup mereka, bukan gue. Asal mereka bahagia dan merasa tidak keberatan, ya bagus. Yang bikin gue kelihatan anti pernikahan muda adalah pendapat kontra gue yang didasari karena gue sudah banyak melihat pasangan muda yang tidak memiliki rencana yang cukup matang. Mereka terlihat seperti lupa kalau cinta saja itu tidak bisa menghidupi sebuah keluarga. Dan gue juga sudah melihat salah satu yang tidak bertahan lama karena masalah sepele. Itu juga membuat gue makin yakin untuk tidak menikah muda. Kebanyakan anak muda tidak mampu memikul tanggung jawab besar seperti pernikahan. Dan ya namanya juga hidup, pasti ada juga yang berhasil melaluinya, jadi nggak perlu bilang "gak juga ah." ke gue.

Gue sendiri tidak terlalu memusingkan kapan gue harus menikah. Yang terbayangkan di otak gue adalah gue menikah ketika gue sudah mapan di umur 30 ke atas. Dan bila di umur 30 ke atas itu gue belum juga mapan, ya gue tidak akan menikah. Gue nggak mau menyusahkan anak orang.

Apakah gue juga anti pernikahan? Juga tidak. Gue setuju kalau pernikahan bisa jadi salah satu sumber kebahagiaan dalam hidup, namun gue juga akui bahwa pernikahan bukan untuk semua orang. Nggak semua orang bisa memikul tanggung jawab pernikahan. Kalau kesannya gue anti itu karena gue nggak suka dengan pola pikir orang-orang yang menjadikan pernikahan itu sebagai piala kesuksesan.

Kalau mau dilihat lagi, sekarang ini pernikahan itu lebih cenderung ke tekanan sosial. Jika tidak menikah di umur sekian, masyarakat akan mengadili macam-macam. Padahal sebenarnya bisa saja orang yang tidak menikah itu memilih untuk demikian karena beberapa alasan. Bagaimanapun juga, itu lebih baik daripada menikah karena obsesi buta.

Obsesi buta yang gue maksud adalah obsesi orang terhadap pernikahan, yang menganggap kalau pernikahan itu adalah solusi dan titik pencapaian kesuksesan dalam hidup. Seolah kita sudah dicuci otaknya, jadi robot yang diprogram oleh masyarakat untuk lahir lalu sekolah kemudian kerja terus menikah dan punya anak dan diakhiri oleh mati. Dan misalnya ada orang yang mau menentukan jalan hidupnya sendiri dan menyimpang dari jalur tersebut, langsung dicemooh dan dicerca. Itu seperti dibilangin "Lo boleh bebas, tapi mesti ikutin peraturan gue." Apakah pernikahan itu adalah sebuah titik pencapaian? Bisa jadi, tapi jelas itu bukan puncaknya.

Lo mau menikah atau tidak, ya bebas. Pilih dengan bijak lo mau menempuh jalur yang mana. Cuman yang harus diingat adalah, ketika lo sudah menikah, entah di umur muda atau tua, tanggung jawab yang lo pikul menjadi bertambah berat. Lo tidak mau menikah? Ya beban lo tambah berat juga, khususnya dari pandangan masyarakat. Gue sendiri nggak menganggap kalau pernikahan itu penting. Ide kalau kedua orang saling mencintai saja sudah cukup bagi gue, tapi perlu diingat bahwa tidak semua orang berpikiran seperti gue. Jadi, mau pilih yang mana?

Oh iya, kali saja lu males nengok ke kanan, gue mau kasih tahu lagi kalau gue punya akun ask.fm lho. Jadi mari saling tanya! Kalau mau tanya pandangan gue lebih luas lagi tentang ini, juga bisa. Sila tanya di sini. Ya ya ya? Ayo dong. Kesepian nih. :(

Friday, May 2, 2014

Kurang Konsentrasi dan Mijon

Hari ini gue dan empat kerabat gue mempunyai sebuah rencana untuk pergi ke suatu tempat. Empat orang itu bernama Arya, Gembel, Mamet, dan Iwan. Tentunya nama-nama itu merupakan nama panggilan yang diberikan oleh kelompok kami. Mana ada ibu yang begitu sayang kepada anaknya sampai harus memberi nama “Gembel”? Lagipula persahabatan antar pria yang kuat itu disimbolkan dari sekasar apa mereka saling menyapa. Teori itu bisa gue beri contoh dari teman gue yang bernama Nius. Saat itu gue ingin menghubungi sahabat dia yang bernama Gonzales.

Gue: Yus, minjem HP lo dong, gue mau hubungi Gonzales. Gue nggak punya nomernya.
Dia: Oke, nih. *dia memberikan HP-nya*
Gue: Euh... mana? Kok Gonzales nggak ada?
Dia: Oh, cari di “S”. Si Tai.
Gue: ...

Kembali lagi kepada 5 sekawan tadi.

Jadi, kami sebelumnya janjian bertemu di J.Co pada jam 12 siang. Tentunya sebagai orang Indonesia sejati gue datang pada jam 12.10. Setelah gue sampai gue dikagetkan dengan tidak adanya teman-teman gue. Mereka lebih Indonesia. Sambil menunggu, gue memesan minuman coklat dan menghubungi mereka semua. Arya bilang sudah berada di lampu merah, Mamet tiba-tiba tidak bisa ikut, sedangkan sisanya bilang kalau tidak bisa datang ke J.Co dan akan langsung berangkat ke lokasi. Bagus! Selain doyan ngaret, mereka juga suka membatalkan janji seenaknya. Kalau cara mengukur ke-Indonesia-an seseorang dari kedua sifat itu, gue yakin mereka sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kriteria untuk menjadi pemimpin negri ini.

Gue menunggu Arya. Arya pun ditunggu gue (halah). Kemudian tidak lama setelah itu, Arya datang dan menanyakan yang lainnya pada di mana. Obrolan kami cukup aneh... well, dianya sih yang aneh. Kenapa? Karena yang kami obrolkan kurang lebih seperti ini.

Arya: Sorry telat,mana yang lain?
Gue: Gembel masih di rumahnya sama si Iwan, katanya nanti langsung ke lokasi. Mamet juga masih di rumahnya dan nggak bisa ikut.
Arya: Laaaaah? Kok gitu sih? Kenapa si Mamet nggak bisa ikut?
Gue: Nggak tau, katanya ada urusan mendadak. Cabut nih?
Arya: Nggak bisa gitu dong! (dia agak kesal) Wong udah janjian dari Selasa kok. Itu si Gembel juga seenaknya, kan yang ngajak kumpul di sini itu dia.
Gue: Ya mau gimana lagi? Rumahnya si Gembel kan agak jauh dari sini, mungkin dia ngajak kumpul di sini buat kita doang.
Arya: Tetep aja ah! Si Mamet pake nggak bisa ikut juga, kenapa sih dia emangnya?
Gue: Euh... tadi bukannya gue udah bilang kalau dia ada urusan?
Arya: Urusan apaan?
Gue: Gue nggak tau. Kerjaan kali. Pokoknya dia bilang nggak bisa ikutan. Kapan-kapan aja.
Arya: Oh, jadi dia nggak bisa ikut?
Gue: TAU AH!

Gue nggak tahu itu dia sengaja mengulang-ulang bercanda  atau mau membuat gue ikutan kesal semata. Tapi dari matanya gue tahu kalau dia itu sedang serius, jadi bisa gue pastikan kalau dia tidak bercanda.

Nggak bisa dipungkiri (cielah “dipungkiri”) kalau kita pasti kenal dengan orang dengan kebiasaan kayak di atas. Yang gue maksud dengan kayak di atas adalah absurd. Gue nggak bisa menjelaskan mengapa mereka bisa seperti itu, namun gue punya kesimpulan kalau mereka seperti itu karena kurangnya daya konsentrasi. Kurangnya konsentrasi bisa membuat kita menjadi pelupa, susah mengingat, atau paling parah menjadi bahan ejekan teman.

Selain Arya tadi, gue juga mempunyai teman bernama Frans yang mempunyai masalah sama. Kalau si Frans ini tidak usah ditanya kisahnya. Karena terlalu banyak. Kalau dibuat buku tentang kejadian lucu keanehannya, 3 seri buku Harry Potter akan kalah tebal. Bukunya bisa dibuat untuk ditimpuk ke maling dan malingnya akan pingsan. Frans adalah Jim Hendrixnya dalam bidang kurang konsentrasi. Pernah saat itu sedang nongkrong bareng...

Frans: *menggigil* haduuuuh, dingiiiiin banget...*sambil melepas jaketnya*
Figuran: Lho, kalau kedinginan kenape jaketnya dibuka?
Frans: *bengong* *mikir* Oh iya ya... hehehehehehehehehehehehe.
Semua: ...

Dan dulu gue juga pernah ceritakan di sini tentang Mang Maman.

Bagi yang malas buka link tadi, akan gue ceritakan sedikit di sini. Mang Maman adalah asisten ibu gue yang selain agak bolot, dia juga memiliki masalah dengan konsentrasinya.

Gue bisa dibilang anak semi-gaul, makanya gue sering pulang malam. Karena gue sering  pulang malam, Mang Maman sering memastikan apakah gue sudah pulang atau belum. Kalau sudah, berarti dia bisa mengunci pintu gerbang. Kalau belum, pintu gerbang tidak dikunci agar gue bisa masuk.

Suatu ketika gue pulang tidak terlalu malam, di bawah jam 12. Gue sudah di kamar, menyalakan lampu dan juga menghidupkan TV (saat itu gue masih suka menonton TV). Lalu tiba-tiba ada suara ketukan dari luar. Gue buka kamar pintu gue, menengok ke luar, dan menemukan ternyata Mang Maman yang mengetuk pintu. Saat gue tanya “Ada apa?” Dia menjawab santai dengan satu pertanyaan yang hampir membuat gue hilang harapan terhadap umat manusia. Dia bertanya “Oji udah pulang?” (bukalink tadi untuk cerita lengkapnya)

Sekali lagi, gue nggak bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan mereka. Yang bisa gue simpulkan adalah mereka kurang konsentrasi, sehingga daya otaknya agak ya-gitu-deh. Terus bagaimana sebaiknya kalau Anda merupakan salah satu yang demikian? Coba banyak-banyak minum Mijon. Kalau tidak sembuh juga, ya paling nggak sudah berusaha.

Moral dari cerita ini? Seperti biasa: nggak ada. Tapi satu hal yang mesti diingat, kalau Anda kurang konsentrasi di atas, bersiaplah jadi bahan ejekan kawan Anda. :)

Thursday, May 1, 2014

Hei, Mei!

Heya! Bulan Mei sudah datang lagi! Nggak kerasa sudah Mei, perasaan baru 365 hari lalu bulan Mei, eh sudah Mei lagi.

Bulan Mei adalah bulan yang cukup spesial buat gue. Bulan yang disimbolkan oleh bunga Lily ini merupakan bulan di mana 20 tahun lalu seorang pemuda yang mengannggap dirinya keren lahir. Ya, itu gue. Agak kecewa sih, kenapa gue nggak dilahirin bulan November? Kan kalau gue lahir di bulan November, berarti proses pembuatan gue itu adalah Februari yang notabene adalah bulan cinta, dengan begitu siapa tahu kehidupan percintaan gue lancar. Halah...

Tapi buat sebagian kaum, justru bulan Mei itu adalah bulan cinta. Buat bangsa Viking misalnya. Di dalam mitologi Nordik, bulan Mei merupakan bulan cinta, karena ada sepasang kekasih yang ceritanya melegenda. Akan gue ceritakan sedikit.

Menurut mitologi Nordik, dunia itu terbagi menjadi 9 bagian oleh cabang-cabang pohon Yggdrasil. Salah satunya adalah dunia yang bernama Vanaheim, dunia para Vanir atau dewa-dewi kecil yang tentunya keberadaannya tidak begitu dipedulikan oleh dewa-dewi besar di Asgard sana. Di Vanaheim, ada sepasang kekasih bernama Ruem dan Arfkhol. Mereka adalah pasangan dewa dan dewi yang sangat mesra tiap harinya. Cinta mereka terkenal paling kuat sedunia. Membuat semua dewa menjadi iri karenanya.

Suatu ketika para dewa di Asgard sedang bosan karena semuanya dalam keadaan tenang. Kemudian Loki mengusulkan untuk "bermain" sedikit. Odin bertanya, permainan macam apa yang hendak Loki mainkan. Loki berkata untuk membuat skenario bohong untuk mengetes cinta dewa-dewi yang terkenal kuat itu. Ya, mengetes cinta Arfkhol dan Ruem yang Loki maksudkan. Skenarionya sederhana, Odin datang ke Vanaheim dan bilang kalau sedang ada perang dunia antara Asgard dan Nifleheim (dunia para raksasa bawah tanah), dan butuh bantuan dari beberapa dewa-dewa Vanaheim, termasuk Arfkhol. Lalu setelah beberapa waktu, Odin datang kembali dan mengumumkan bahwa perang sudah dimenangkan namun beberapa Vanir berhasil diculik dan para Jotun (raksasa) di Nifleheim meminta tebusan berupa dewi-dewi dari Vanaheim untuk dijadikan makanan. Tentunya itu semua hanya berpura-pura, sebenarnya semua dewa Vanaheim sudah tahu skenarionya kecuali Arfkhol dan Ruem, dan dewa-dewa yang katanya diculik tersebut sedang di Asgard menikmati jamuan.

Simpel? Ya memang. Namun setelah semua dilakukan, dalam perjalanan ke Asgard mereka disergap oleh para raksasa. Itu adalah kejadian di luar skenario Loki. Odin pun bingung. Akhirnya terjadilah perang kecil yang dimenangkan para dewa. Tidak ada yang luka berat, kecuali Arfkhol yang dadanya terkena gada berduri salah satu raksasa. Odin, Loki, dan Thor menghampiri tubuhnya yang terkapar lemas di daratan. Odin memeluknya, meminta maaf, dan menjelaskan semua niat awalnya kepada Arfkhol. Niat awal melakukan skenario untuk mengetes cinta Arfkhol dan Ruem karena cinta mereka membuat para dewa iri.

Arfkhol tidak marah. Dia justru merasa terhormat bahwa seorang dewa biasa macam dia bisa mendapat perhatian dari dewa tertinggi di Asgard dan membuatnya melakukan itu semua untuk mengetes cinta Arfkhol dan Ruem. Tahu bahwa umurnya tidak akan lama, Arfkhol memberikan sebuah bola bercahaya yang dia bilang bernama Tartarus kepada Odin. Dia meminta Odin untuk memberikannya kepada Ruem dan menyampaikan permintaan maaf Arfkhol karena tidak bisa mencintai Ruem setiap harinya sampai Ruem menemui ajal sesuai janjinya kepada Ruem dulu. Lalu Arfkhol gugur. Untuk pertama kalinya Odin menyesal atas tindakannya. Loki terlihat kecewa, dan Thor membanting palunya karena kesal. Guntur yang hebat tercipta karenanya dan suara dari guntur itu menggelegar sampai ke seluruh dunia.

Singkat cerita, Ruem mendengarkan semuanya dari Odin langsung. Air matanya jatuh ke tanah, namun ia tersenyum. Dia menerima Tartarus milik Arfkhol dan memeluknya erat tanpa menangis, hanya berlinang air mata. Para dewa tahu kalau mereka harus pergi. Ruem butuh waktu sendiri. Semenjak itu Ruem tidak ceria seperti sebelumnya. Dia terlihat murung. Badannya kurus karena rasa sedih telah menghilangkan nafsu makannya.

Tartarus milik Arfkhol tiba-tiba mengeluarkan cahaya biru yang tidak biasanya. Ruem menganggap kalau itu adalah jiwa Arfkhol yang tidak mau melihat Ruem larut dalam kesedihan. Tapi justru itu membuatnya tambah sedih. Ruem menangis di depan bola itu, dan mengeluarkan kekuatannya yang tercipta karena rasa sedih, kekuatan berupa hawa dingin yang bisa dirasakan sampai Asgard. Kemudian setelah 30 hari bola itu bercahaya dan selama itu juga Ruem menangis sambil mengeluarkan kekuatannya, Ruem pun mati.


Dari cerita tersebut, bangsa Viking memberikan sebuah nama kepada satu bintang di angkasa yang hanya terlihat pada bulan Mei. Bintang kecil berwarna biru yang bernama Tartarus. Mereka menganggap itu adalah Tartarus yang sedang bercahaya milik Arfkhol yang tidak ingin melihat Ruem menangis, dan hawa dingin yang mereka rasakan disebabkan oleh Ruem yang sedang menangisi Arfkhol. Oleh karena itu di bulan Mei bangsa Viking suka melihat langit malam kalau sedang cerah, dan berdoa untuk menghormati cinta Arfkhol dan Ruem.

Jadi menurut bangsa Viking, justru bulan Mei lah bulan cinta. Apa? Nggak percaya? Ya wajar, orang gue cuman ngarang! HAHAHAHAHAHAHAHAHA! :))

Yang gue tulis itu sepenuhnya omong kosong yang asal ditulis tanpa berpikir. Lagian gue juga nggak tahu apa pada jaman Viking dulu sudah ada penanggalan masehi atau tidak. Hahahahahahahahahaha.

Okelah, sudah dulu bercelotehnya. Oh,berhubung ini bulan Mei, gue akan berusaha menaikkan frekuensi menulis di blog ini. Kenapa? Ya karena ini bulan spesial, dan juga untuk menghormati Arfkhol dan Ruem. :p

Selamat datang, Mei! :)