Saturday, May 17, 2014

(Seharusnya) Lomba Makan Pizza

Sekitar sebulan lalu gue dan teman gue ikut lomba makan pizza yang diadakan oleh Papa Ron's Pizza. Ya, LOMBA... MAKAN... PIZZAAAAAAA... BROOOOOO!!! Seenggaknya waktu itu gue seantusias barusan. Ternyata waktu gue sudah di dalam lomba, “Lomba Makan Pizza” tidak lagi terdengar seasik yang gue kira, justru jadi biasa-biasa saja. Akan gue ceritakan.

Jadi saat melihat brosur lomba tersebut di Facebook, gue langsung ajak teman gue—yang kebanyakan akhirnya nggak ikut—dengan alasan senang-senang. Beberapa cewek yang rumahnya dekat lokasi juga tadinya mau gue ajak, tapi tidak jadi karena kalau mereka semua bisa, gue akan susah mengaturnya. Jadinya gue hanya mengajak yang pasti bisa saja, Isabela... yang sebelum hari H tiba-tiba katanya tidak jadi datang. Sialan.

Jadinya gue berangkat bersama teman gue Rifky yang katanya mau ikutan lomba juga, sementara beberapa teman lainnya menyusul untuk menonton kami. Rifky ini walaupun badannya menggambarkan "orang yang suka makan", tidak gue anggap sebagai saingan. Karena walaupun dia badannya tambun, kalau makan di warteg selalu kalah cepat dengan gue. Sebentar... *masukin "bisa makan cepat" di CV*. Singkat cerita, gue dan dia sampai duluan pas jam 11 tepat sesuai jadwal acaranya dimulai. HAHAHAHA. Tentunya kalian tahu gue berbohong. Gue datang jam 11 lewat.

Walaupun kami terlambat karena kami agak "Indonesia", tetapi acaranya lebih terlambat lagi. Soalnya mereka sama sekali belum mulai dan meja baru disiapkan. Mereka Indonesia banget. Pesertanya juga baru sedikit. Gue dan Rifky membayar Rp. 35.000 untuk biaya pendaftaran. Sudah selesai. Kami pun duduk menunggu.

Beberapa waktu kemudian, teman kami yang bernama Irfan datang bersama pacarnya Evi si cewek preman namun suaranya kayak Minnie Mouse. Dan kebetulan ketika mereka datang, ada 2 orang berpenampilan kayak alay acara Dahsyat musik di pagi hari menaiki panggung. Belum selesai gue berpikir sendiri "nggak mungkin lah mereka pembawa acaranya. Masa' acara begi..." mereka langsung teriak di atas panggung "Selamat datang di acara...". Bah.

Penampilan pembawa acaranya cukup "unik". Pembawa acara #1 memakai kaos garis-garis berwarna kuning-hitam, rompi coklat, bowler hat, skinny jeans warna coklat, dan sepatu boots. Pembawa acara #2 memakai kaos berwarna abu-abu yang dikeluarkan, skinny jeans hitam pudar dengan tambalan di mana-mana, sepatu boots, dan bowler hat juga. Mereka adalah penjahat fesyen! Dan logat mereka... ah, nggak usah dibahas. Yang seperti mereka hanya 2 orang di sekitar panggung. Kalau ditambah beberapa lagi, mungkin gue akan curiga kalau Raffi Ahmad dan Olga Syahputra akan muncul dan berteriak "Kembali lagi di Dahsyaaaaaaat...".

Masih mengenai pembawa acaranya. Kelihatannya mereka bukanlah pembawa acara yang sudah biasa menangani event sebuah merk, melainkan pembawa acara kawinan di kampung atas. Gue tidak menjurus ke logat mereka, tetapi lebih ke beberapa kesalahan yang mereka lakukan. Gue sempat mempelajari tekhnik public speaking, jadi gue tahu kalau seorang pembicara itu tidak seharusnya melakukan kesalahan fatal, seperti:

1. Membelakangi audiens
2. Mengecek HP
3. Garing
4. Jelek
5. Jelek banget

Dan mereka melakukan semuanya. Lu boleh tidak mengacuhkan dua poin terakhir, tapi mereka memang sangat buruk dalam membawakan acara. Belum lagi beberapa kali mereka salah sebut merk menjadi Pizza Hut. Tetapi mereka mempunyai nilai plus juga. Mereka... euhm... yak mari kita lanjutkan.

Singkat cerita perlombaan dimulai. Lomba dilakukan dengan sistem siapa cepat duluan dia menang, dan yang diadu adalah 5 orang dalam sekali kloter. Untuk babak pertama peserta diberikan pizza berukuran small. Kloter pertama dimenangkan mas-mas dengan waktu 1 menit 48 detik. Babak kedua dimenangkan oleh bapak-bapak dengan waktu lebih lama sedikit, 2 menit 14 detik. "Cih, amatir!" pikir gue, sebelum akhirnya giliran gue dan Rifky maju.

Giliran gue dan Rifky maju. Gue sangat optimis menang, karena lawan gue adalah Rifky, 1 mas-mas, dan 2 dedek unyu yang tampaknya masih SMA. Peserta ditanya satu-persatu oleh pembawa acaranya. Dan sumpah naujubileh JKT48, saat pembawa acara #1 ngomong ke gue, mulutnya BAU banget! Saat itu gue bisa merasakan sel-sel di otak gue melemah dan kemudian mati, untuk beberapa detik gue sempat melihat masa lalu gue diputar di otak gue bagaikan film yang sedang diulang, gue melihat cahaya putih di depan mata gue. Gue hampir mati. Sarapan apa dia tadi? Itu gila! Dan gue hanya menjawab sesedikit mungkin pertanyaannya demi keselamatan jiwa gue.

Lomba kloter gue dimulai. Kotak pizza sudah gue buka, gue ambil satu buah untuk gue masukkan ke mulut gue. PANAS GILA! Lidah gue terbakar hanya dengan 1 kali gigit. Ini bukan lomba, ini penyiksaan! Gue paksakan kunyah dan telan, kemudian gue ambil gigitan kedua. WANJIR! KOK BERASA MAKIN PANAS?! Gue kunyah pelan-pelan, dan lalu telan. Gue kesulitan memakan pizza yang disediakan, dan saat gue lihat ke samping sepertinya semua peserta memiliki masalah yang sama. Di sini gue sudah masa bodo dengan lomba, gue hanya fokus menikmati pizza yang ada. Gue makan dengan pelan dan santai. Saat gue mencari saus dan membukanya dengan gigi, penonton semua tertawa. Gue nggak berniat membadut, gue benar-benar sudah malas dengan lombanya. Pembawa acaranya dan semua penonton malah fokus ke gue. Di saat semua peserta masih berjuang makan dengan cepat, gue malah menusukkan sedotan ke gelas Aqua yang tersedia dan menganggap tidak ada lomba. Suasana pecah.

"Ha? Lomba apa?"

Dan akhirnya lomba kloter gue dimenangkan oleh Rifky, dengan waktu 3 menit sekian detik. Ternyata kami yang amatir. Namun di kloter selanjutnya ada orang yang makan lebih cepat dari siapapun. Lidahnya tahan panas, dan dia makan seperti tidak pernah makan dari SD. Namanya Mas Agus, dia makan sangat cepat, dia menghabiskan pizza miliknya sebelum lo bisa mengeja nama panjang SBY. Jelas dia menang. Dia memenangkan kloternya dengan waktu di bawah 1 menit. Gue menengok ke Rifky, "Ky, itu raja terakhirnya. Lo nggak bakal menang." Mendengar ucapan gue, dia gemetaran. Keringat dingin keluar dari pori-pori di sekitar wajahnya, mulutnya menganga seakan-akan melihat iblis tepat di depan matanya, wajahnya memucat. Ternyata dia mules... nggak ding.

Oke, langsung ke acara final  saja. Babak terakhir tetap diadakan dengan sistem yang sama, dengan jumlah orang yang sama, bedanya hanya ukuran pizza yang lebih besar. Rifky melawan jawara-jawara makan tadi, termasuk Mas Agus. Peserta lain tampak putus asa saat melihat Mas Agus. Dan begitu sudah diberi aba-aba untuk mulai, semua peserta bergerak.

Rifky sedang berjuang melawan bos terakhir.

Yang menang tidak usah ditanya, jelas Mas Agus. Dia makan dengan cepat. Peserta lain masih sibuk mengunyah, dia sudah selesai semenit sebelumnya. Bahkan dia sempat kembali ke tempat duduk saat lomba masih berlangsung. Gila! Peserta lain diremehkan. Seakan-akan dia berkata "Kalian itu sedang makan apa mengerjakan skripsi? Lama amat!"

Gue sempet heran, jangan-jangan dia memang pemburu hadiah lewat lomba makan. Jadi karirnya adalah peserta lomba makan. Gue tidak sempat melihat KTP-nya, tapi gue agak yakin kalau di kolom "Pekerjaan" di KTP-nya diisi "Peserta Lomba Makan". Jadi karena pengalaman mengikuti lomba makan, dan kemampuan yang sudah sangat terasah lewat berbagai perlombaan, wajar saja dia memiliki kemampuan sepeti itu.

Lomba selesai. Gue dan gerombolan gue naik ke lantai atas untuk mampir membeli sundae di restoran A&W. Tidak ada penyesalan apappun, karena niat kami adalah bersenang-senang, bukan menang. Bahkan gue lebih dari puas, bisa menghibur di acara yang pembawa acaranya garing seperti itu. Pembawa acaranya pun jadi ingat gue terus-terusan, karena nama gue seringkali disebut sepanjang acara walaupun gue sudah duduk.

Yak, satu lagi misi di hidup gue yang sudah gue capai: Mengikuti lomba makan.

Oh iya, ini adalah penampakan Mas Agus. Jadi kalau di sekitar lo ada lomba makan, dan orang ini ada di sana, bilang ke jurinya untuk langsung kasih hadiah pertamanya ke dia saja, nggak perlu buang-buang waktu menyilakan dia ikutan. Mending lombanya untuk merebut juara 2 dan 3 saja. 

You wanna beat me, son? Pffft... that's cute.

Friday, May 16, 2014

Langit Malam

Tengah malam tadi, saat gue pulang dari membeli Ultramilk karton besar dan Oreo Strawberry di Alfamart, gue melihat status teman di Facebook tentang bulan di malam ini. Gue melihat ke atas, dan melihat bulannya memang sedang berbeda. Ada halo-nya. Besar.


Memang, fenomena ini tidak jarang terjadi. Namun ada sesuatu yang membuat gue memutuskan untuk pergi ke lapangan terbuka dekat rumah saat itu.

Jam 00:12 gue sudah terlentang di lapangan. Sepi, sendiri. Punggung gue menyentuh dinginnya semen lapangan yang berembun malam itu. Gue membuka Oreo dan susu yang gue beli tadi. Jadi terasa piknik, bedanya gue hanya ditemani oleh suara motor dan mobil yang sesekali lewat.

Gue masih terlentang melihat langit. Melihat bulan dan halo-nya yang saat itu adalah elemen yang paling dominan di gelapnya malam. Gue membayangkan kalau halo itu adalah bayangan planet lain yang lebih besar. Apa akan seperti itu kira-kira besarnya Jupiter bila dia ada di posisi bulan? Gue takut namun kagum. Suatu perasaan yang agak susah dijelaskan, tapi itu yang gue rasakan saat itu. Gue senang bisa merasakan itu.

Gue menghubungi beberapa kenalan gue Mayang, Anin, dan Sandra via WhatsApp untuk mengajak mereka ngobrol tentang malam itu. Tetapi nampaknya mereka sudah tidur. Wajar, jam setengah 1 pagi ya tidak banyak orang yang masih terjaga. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi mereka juga tidak begitu menyukai kegiatan melihat langit seperti gue, jadi apa yang mau diobrolkan? Malah ngobrolin hal lain nanti. Jadinya malah mengganggu gue menikmati malam itu.

Tiba-tiba gue teringat kenalan gue yang lain, Karola. Dia manusia Jogja yang katanya juga suka melihat langit malam. Menikmati hamparan bintang yang ada di langit. Gue pergi ke Facebook untuk melihatnya online atau tidak, dan lagi, nampaknya dia sudah tidur. Sayang sekali dia melewati pemandangan langit seperti ini.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, buat apa gue melakukan itu semua? Melihat langit sambil berbalas teks terdengar sangat konyol. Lebih enak kalau ngobrol dengan orang yang menyukai kebiasaan sama. Andai si Karola ini satu wilayah dengan gue, akan terdengar sangat asik sepertinya kalau kami ngobrol omong kosong tentang apapun sambil melakukan kebiasaan melihat langit ini.

Akhirnya tidak ada satupun yang gue ajak bicara. Gue kembali  kesepian menikmati malam itu, sambil memutar lagu Depapepe yang berjudul Wedding Bell. Berisik. Akhirnya pemutar lagunya gue matikan. Sepi kembali datang. Gue melamun.

Gue pun berpikir, mungkin melamun itulah kegiatan yang paling cocok saat itu. Bukannya ngobrol dengan orang, atau mendengarkan lagu. Melamun. Memikirkan tentang apapun secara mendalam. Tentang hidup, masa lalu, masa depan, dan alam semesta. Menyatu dengan alam semesta, cukup dengan memikirkannya. Menjadi seorang filsuf dadakan. Ya, itu yang mungkin lebih cocok saat itu.

Jam 02:28, Oreo yang gue beli sudah habis. Karton susu yang gue beli juga sudah terasa ringan ketika gue angkat. Punggung gue dingin. Langit masih cerah, dan bulan masih indah. Tetapi waktu sudah larut pagi dan gue sudah mengantuk. Akhirnya gue memutuskan untuk pulang meninggalkan bulan dan binntang yang saat itu menjadi semakin cantik. Sepertinya mereka sedang berkonspirasi untuk memanjakan mata gue dan menahan gue untuk pulang. Tetapi rasa kantuk menang dan gue  pulang. Menulis ini, lalu tidur.


Thursday, May 15, 2014

Sebuah Perjalanan

Gue punya sebuah cerita. Kebetulan cerita ini sudah pernah gue tulis di Twitter, dan kebetulan juga ada yang menyukainya sampai meminta gue membuat cerita sejenis. Tampaknya dia mengerti maksud dari ceritanya. Hehe. Dan akan gue tulis ulang di sini. Cerita ini adalah curhat dan punya arti, tapi terserah kalian mau mengartikan bagaimana lewat metafora yang ada.

Cerita ini mengenai seorang anak yang tinggal di sebuah rumah di daerah terpencil. Anak itu tinggal bersama orangtuanya, di rumah yang nyaman dengan halaman luas. Di pekarangan terlihat beberapa pohon buah yang berbuah sepanjang tahunnya, dan beberapa ternak yang digembalai oleh ibunya. Ada satu larangan utama yang diberikan orangtuanya: jangan pernah pergi keluar dari pagar halaman.

"Kenapa aku tidak boleh keluar dari pagar itu, Mama?" tanya si anak.

Kemudian ibunya menjelaskan alasan mengapa sang anak tidak boleh keluar dari pagar, dengan cerita-cerita seram. Ibunya berkata bahwa kalau si anak keluar, dia akan dimakan oleh serigala atau diculik oleh raksasa. Anak itu pun merasa takut. "Iya, makanya kamu di rumah saja. Di rumah kamu aman." kata ibunya.

Tahun demi tahun berlalu, dan si anak sudah menjadi dewasa tanpa pernah menginjakkan kakinya keluar dari pagar rumahnya. Tinggal dalam kenyamanan. Namun, dari kecil anak itu sering naik ke atas atap rumahnya untuk memandang di kejauhan. Mencoba melihat dunia di luar pagarnya. Sungai mengalir yang berkilauan, gunung-gunung yang menjulang tinggi. Oh, betapa dia sangat ingin melihat dunia di luar rumahnya.

Suatu ketika dia melihat ada seekor burung merpati yang sayapnya patah di halaman rumahnya. Anak itu menghampirinya untuk memberikan pertolongan, tetapi burung itu malah berlari menghindar. Anak itu heran, betapa cepatnya burung itu berlari.

Dia mengejar burung itu dan nekat keluar dari pagar rumahnya. Berlari jauh hingga melewati hutan. Melewati hutan yang gelap dan ditutup oleh lebatnya pepohonan. Lalu dia tersesat. Si anak kemudian menjadi takut, karena teringat tentang cerita ibunya akan raksasa dan serigala. Dia panik. Dia mencari jalan keluar dengan gelisah. Dan karena dia panik dia tidak memperhatikan sekitar, kemudian dia tergelincir dan jatuh terguling-guling sampai terjerembap di suatu tempat yang luas.

Ia membuka matanya dan dia tercengang. Dia melihat padang rumput yang begitu luaaaaaas. Hamparan bunga berwarna-warni sejauh mata memandang, pemandangan terindah yang pernah dia lihat. Tidak ada raksasa maupun serigala di sana. Hanya ada kupu-kupu, dan capung menari ceria dengan kepakan sayapnya di atas bunga. Dan juga hewan-hewan yang sedang santai melahap rumput.

"Inikah dunia luar itu?" pikirnya. Seketika dia langsung antusias untuk menjelajahi dunia luar lebih jauh. Mencari tahu lebih banyak apa saja yang ada di luar pagar rumahnya. Dia sangat bersemangat. Ketika ia sampai rumah dan menceritakan semuanya tentang padang rumput itu, dan bercertia tentang tidak adanya raksasa atau serigala di luar kepada ibunya dengan penuh semangat, ibunya marah dan murka.

"Kenapa kau tidak menuruti perintahku? Kau anak durhaka!" amuk ibunya. Cacian dan bentakan ibunya membuat sang anak merasa bersalah.

Namun dia teringat tentang padang rumput di luar pagar rumahnya, itu membuatnya mampu berdiri dan bertanya kepada ibunya. "Tidak ada raksasa dan serigala di luar sana. Kenapa kau berbohong, Ma?" tanyanya tegas.

Ibunya tertegun kaget. Kemudian ibunya menjelaskan alasan dia berbohong kepada anaknya karena dia mencintainya. Ibunya tidak mau dia keluar dari rumah itu. Ibunya menjelaskan itu sambil menangis. Sang anak tersentuh dan memeluk ibunya. "Aku juga sayang mama, bagaimanapun mama lah yang membesarkan aku." kata anak itu, "Tapi aku ingin pergi keluar melihat dunia. Biarlah aku menjalani hidup yang telah kupilih." lanjutnya.

Seraya melepaskan pelukannya, sang anak bersiap-siap. Dia menyiapkan bekal seperlunya untuk pergi dari rumah itu. Setelah dia siap, dengan penuh tekat dan semangat yang menggebu-gebu, dia meninggalkan rumah. Berat rasanya dia meninggalkan ibunya dan rumah itu, tapi dia juga sadar kalau tidak mungkin menghabiskan seumur hidupnya di sana.

Dengan rasa cemas dan penuh harapan, dia melangkahkan kakinya keluar pagar. Untuk pertama kalinya dia merasa bebas. Senyumnya lebar, menunjukkan bahwa dia sudah siap mencaritahu tentang dunia luar lebih jauh, dan kemudian menyatu dengan luasnya alam semesta menggapai bintang-bintang... dengan bebas.

Keluar dari rumahmu yang nyaman dan temukan takdirmu...


Wednesday, May 14, 2014

Ditinggal

Salah satu teman kecil gue baru saja kehilangan ayahnya. Saat gue bertemu dengannya di pemakaman, gue nggak mengatakan apapun selain "be strong..." karena tidak ada kata lain yang bisa mengurangi kepedihan kehilangan orang yang dicintai. Gue hanya menyalaminya dan memeluknya singkat. Gue tahu, hanya itu yang dia butuhkan dari gue; bukan wejangan, bukan kalimat menghibur. Dia hanya butuh tahu gue ada untuk dia pada saat itu.

Begitu pun ketika ibunya meninggal 2 tahun lalu. Gue melakukan hal yang sama. Hanya datang ke tempatnya dan menemaninya ngobrol. Ada untuknya. Tidak memberikan kalimat penghibur, tidak memberikan nasihat. Hanya ada.

Karena kepedihan itu hal yang sangat pribadi.

Ketika ibunya meninggal 2 tahun lalu, gue merasakan adanya kesamaan dengannya. Ibu kami sama-sama kalah oleh penyakit kanker. Ibu gue meninggal ketika gue masih kecil. Gue masih belum tahu banyak tentang apa itu meninggal. Ketika bendera kuning dipasang di rumah nenek gue, dan gue diberitahu bahwa ibu gue meninggal, gue hanya berlari dan menangis tanpa benar-benar memahami kalau seseorang yang gue sangat cintai tidak lagi bisa menemani perjalanan hidup gue lebih lama. Hanya menangis karena tahu ibu gue meninggal. Tidak lebih. Karena gue masih kecil dan belum begitu mengerti.

Beda kalau gue kehilangan ibu gue di umur sekarang. Pedihnya akan lebih terasa menyakitkan. Gue bisa membayangkannya, dan gue ragu bisa setegar teman gue tadi. Dia terlihat sangat kuat. Dia masih bisa tersenyum dan menghibur kami, para tamu, agar tidak bosan. Dia tertawa, walaupun gue tahu kalau sebenarnya dia sedang merasa sakit teramat sangat. Gue tidak tahu pasti tentang hal itu, gue hanya berasumsi. Namun satu hal yang gue tahu, dia tidak merasakan kesepian pada saat itu.

Banyak hal yang dia ucapkan pagi tadi, tapi ada satu yang masih gue ingat, "Bokap gue galak, dan kadang suka marah. Kalau gue malah keliatan sedih sekarang, bokap gue nggak bakal seneng." Katanya sambil bercanda. Dan kami pun tertawa dibuat-buat untuk menghargai bercandaannya.

Thursday, May 8, 2014

Zakid, Mz

Jadi dari hari Senin kemarin gue sakit. Jadi gue tidak bisa keluar rumah untuk melakukan aktivitas yang biasa gue lakukan. Dan seperti biasa, kalau gue sakit gue malas pergi ke dokter. “Tinggal istirahat aja ini mah.” selalu menjadi solusi gue pada hampir setiap penyakit yang gue derita.

Bukannya gue alergi dokter, hanya saja pengalaman dari kecil seringkali  menunjukkan kalau penyakit yang gue derita tidak akan bertahan lebih dari 2 hari, oleh karena itu pergi ke dokter hanya buang-buang waktu saja. Gue terlalu percaya sama daya tahan tubuh gue.

Namun pernah juga gue dikhianati olehnya. Saat itu gue pernah merasakan tidak enak badan, dan gue rasa itu hanya penyakit lewat biasa dan gue yakin tubuh gue bisa melawannya, namun keesokan harinya gue lemas tak berdaya. Setelah dibawa ke dokter ternyata panas gue mencapai 45 derajat. Demam dengan semangat 45. Dokter bilang itu adalah gejala tifus. Gue berpikir, “Gejalanya aja sadis, gimana yang aslinya?” Kalau ibarat boker, panas 45 derajat itu baru kentutnya. Pas sudah acara utamanya, boker, gue mungkin sudah diopname.

Dan sekarang gue rasa gue terkena gejala tifus lagi. Demam yang gue rasa memang tidak sebesar kemarin, mungkin hanya 44,9 atau sekitarnya, namun tetap saja itu membuat gue mati kutu beberapa hari belakangan ini. Dan juga gue malas ke dokter, alasan “nggak apa-apa, cuman butuh istirahat kok.” selalu menjadi andalan gue. Dan asal kalian tahu saja, banyak orang yang seperti gue, yang menjadikan “hanya butuh istirahat” sebagai alasan. Mungkin ada juga yang seekstrim ini:

X:  ASTAGA, Y! Ayo gue bawa ke rumah sakit atau dokter terdekat!
Y: Oh, nggak apa-apa kok.
X: Nggak apa-apa gimana? Lo baru jadi korban tabrak lari mobil begitu! Udah ayo, gue gotong sinih!
Y: Beneran, nggak apa-apa kok guenya.
X: MATAMU! Kaki lo kelindes ituuuuu! Udah hampir mau putus! Kalau dibawa ke rumah sakit dan ditangani dokter dengan segera mungkin masih bisa diselamatkan.
Y: Oh, ini? Cuman butuh istirahat kok.
X: Lo bukan cicak woi! Kaki lo nggak bisa numbuh lagi!

Sekali lagi, gue bukan alergi dengan dokter, namun ada saja orang yang alergi dokter walaupun tidak seekstrim di atas. Di sisi lain, ada juga orang yang terlalu percaya dengan dokter dan tidak mau repot. Di berbagai pedesaan sendiri banyak kasus demikian, banyak orang minta disuntik walaupun hanya demam dan butuh istirahat saja, karena ya mereka tidak mau tahu dan tidak mau repot bertanya. Di buku BaM sendiri Mas Isman menjelaskan kalau temannya yang menjadi dokter gigi di Garut pasiennya selalu minta giginya dicabut.

Dokter: Oh, ini mah cuman lubang kecil, Pak. Tinggal ditambal dan semua beres, nggak ngilu lagi.
Pasien: Nggak, Dok. Cabut aja!
Dokter: ...

Bukannya tidak mungkin juga kalau dokter gigi di sana juga pernah mendapat kasus ekstrim seperti ini:

Pasien: Dok, anak saya mulutnya di bagian belakangnya katanya berasa sakit!
Dokter: Oh, ini ya? Jadi di sebelah geraham ini ada—
Pasien: Cabut aja, Dok!
Dokter: Ini sariawan, Pak...
Pasien: Bisa dicabut nggak?
Dokter: ...

Bukannya tidak baik kalau percaya sama kemampuan medis dan kemampuan dokter, yang tidak baik itu kalau terlalu mengandalkannya. Jadi kalau merasa tidak enak badan langsung pergi ke dokter dan meminta pengobatan, padahal tidak enak badannya karena terlalu banyak kerja dan hanya membutuhkan istirahat. Dan juga jangan malas pergi ke dokter bila penyakit yang diderita itu sudah tidak wajar/tidak biasa, pekerjaan dokter itu bukan sebagai algojo kok, asal kalian mau menjadi pasien yang cerdas.

Sekarang sih gue sudah mendingan, tapi kayaknya gue masih akan sakit sampai akhir pekan besok. Jadi masih butuh “istirahat”. Lho, kenapa? Memangnya nggak boleh sakitnya tanggung sampai hari libur? :p