Tuesday, March 25, 2014

Bokap dan Internet

Minggu pagi kemarin, sebelum gue berangkat ke GOR Bekasi untuk olahraga, gue dan bokap terjebak pembicaraan tentang Internet.

Pembicaraan kami gue anggap lucu, karena bokap gue termasuk orang yang agak buta dengan Internet. Tetapi bagi orang yang tidak benar-benar mengenal bokap gue dengan baik mungkin akan berpikiran lain. Impresi yang diberkan bokap gue justru malah sebaliknya, karena gadget yang dia pakai adalah perangkat-perangkat yang Internet bangethdz pake H, D, dan Z! Beliau selalu membeli gadget terbaru (sekarang dia pakai Samsung Galaxy Note 3 dan iPad keluaran sekian), dan gue menganggap itu hal yang mubazir, karena yang beliau lakukan dengan gadget-nya seringkali hanya baca berita atau mendengarkan radio. Dan ketika gue tanya kenapa harus beli yang mahal hanya untuk digunakan seperti itu, beliau menjawab, "lho ini kan terbaru." Haha.

Pembicaraan kami kemarin dimulai ketika gue lihat adik gue yang masih kecil menonton berita pas tahun 1997, dan tebak siapa pembawa beritanya? Ya, bokap gue yang masih muda. Bokap gue dulu pembaca berita di TVRI. Gue bertanya sedikit, dari mana beliau mendapatkannya, dan beliau berkata dari kantornya. Lalu dia meminta gue untuk mengunggahnya ke YouTube.

"Oh, bisa banget, Pa. Mau kapan di-upload-nya?"

"Terserah. Oh, sekalian juga bikinin papa blog. Biar nama papa ada di Google," beliau langsung mengambil gadget-nya dan membuka Google dan mengetik namanya, "nih, kayak gini lho. Ini tentang X ini tentang Y (X dan Y adalah artikel tentang apa yang ditulis tentangnya)." lanjutnya sambil senyum bangga.

Gue nggak mau merusak kebahagian bokap gue saat itu, tapi demi kemajuan umat manusia, gue harus memberitahu dia kalau namanya muncul di Google bukanlah hal yang "wah!". Dan gue berusaha menjelaskannya sesimpel mungkin. Itu susah!

"Jadi, kalau nama papa ada di Google itu karena nama papa disebut di Internet, entah dari apapun, artikel berita, atau sosial media yang transparan sama Google, atau mungkin ada lagu tentang papa. Apapun! Pokoknya kalau disebut di Internet ya bakal nongol di Google. Coba aja ketik 'Omar Firdauzy', hasilnya juga bakal banyak. Soalnya Ozzy aktif di Internet." jelas gue.

Ekspresi bokap gue tampak seperti tercerahkan, mungkin dia mengerti. Namun kalimat yang keluar dari mulutnya setelah itu malah membuat gue putus asa. 

"Tapi ini liat lho, ada foto papa. Tapi bukan foto papa aja." ucap beliau sambil membuka penelusuran gambar dengan keyword namanya

Gue melihat ada beberapa foto bokap gue dan orang yang nggak gue kenal. Oh bokap gue mau memberitahu kalau ada orang yang namanya sama dengan beliau yang cukup sering disebut di Internet.

"Papa mau nulis di blog, untuk nulis kalau ada kerjaan seperti peresmian atau hal lain. Nah biar foto dan nama papa juga ada di Google. Kan itu sedikit tuh kalau sekarang." katanya.

Gue sudah agak menyerah sih, karena senyum sumringahnya saat itu bikin gue nggak mau mengakhiri kebahagian bokap gue saat itu. Haha. Jadi gue tawari 2 pilihan situs untuk membuat blog yang umum dipakai orang: Blogger atau Wordpress.

Bokap gue menunduk termenung. Bokap gue kelihatan galau. Gue tahu apa yang terjadi. Dia bingung lagi.

"Oke, Blogger aja ya? Ozzy juga pakai Blogger kok selama ini. Nanti papa bikinnya pakai email papa," jelas gue, "atau papa udah punya akun Google biar gampang?"

"Yah, papa nggak punya akun Google." katanya.

"Yaudah nanti Ozzy bua..." gue terhenti sebentar. Gue berpikir jangan-jangan bokap gue nggak tahu apa yang gue maksud dengan 'akun Google', makanya gue langsung bertanya, "...kalau Gmail?"

"Oh kalau Gmail punya." ucapnya santai dan agak bangga.

"Bebaaaaas, Paaaaaa! Bebaaaaaaas!" teriak gue dalam hati.

Thursday, February 20, 2014

Siapa?

Beberapa waktu yang lalu, gue—mungkin kali ini gue akan menggunakan kata “saya” saja—mendapat pertanyaan iseng, “siapa sih kamu?”

Tentunya yang bertanya sudah tahu siapa saya, karena dia adalah orang yang saya kenal. Dan sebenarnya tidak perlu saya jawab, karena toh dia tidak benar-benar menginginkan jawaban, alias itu adalah pertanyaan retorik. Namun, saya sempat terdiam mencermati pertanyaan itu yang kemudian saya jawab dengan bercanda, “aku adalah masa depan kamu.” Dan kami tertawa geli.

Setelah sampai di rumah dan berbaring di atas tempat tidur, saya teringat pertanyaan tadi. Dan kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, “siapa ya gue?” sambil menatap kosong ke arah langit-langit.

Saya adalah campuran dari wanita keturunan Jogja dan lelaki keturunan Palembang. Keluarga dari ibu saya mungkin bisa dibilang ningrat, karena pernah disinggung dalam forum keluarga bahwa keluarga dari ibu saya masih keturunan raja. Sedangkan keluarga dari ayah saya adalah orang miskin, ayah saya adalah keturunan petani di kampung, beliau pindah ke Jakarta untuk disekolahkan saudaranya karena ibu dari ayah saya tidak sanggup dengan biayanya sedangkan ayahnya sudah meninggal, namun karena kerja keras dan kemauan yang besar, ayah saya bisa sukses seperti sekarang. Tapi itu semua tidak penting, karena toh saya tidak berniat membahas tentang ayah saya.

Saya tidak menyukai olahraga yang mayoritas laki-laki suka, seperti: sepak bola, bola basket, atau tinju. Tidak, saya tidak suka. Saya lebih menyukai olahraga ekstrim. Saya pernah beberapa kali menggeluti beberapa olahraga ekstrim, seperti BMX saat saya masih SMA, dan parkour sampai sekarang (walaupun tujuan awal saya gabung parkour sudah belok menjadi ikut kumpulnya saja sekarang). Meskipun saya bilang saya tidak suka sepak bola, sebenarnya saya punya 2 jagoan dalam sepak bola: Chelsea dan Barcelona. Tapi itu hanya karena mereka adalah tim yang enak dimainkan saat bermain video game. Saya tetap tidak mengerti sepak bola. Tetapi begitu saya mendengar kalau tim itu menang di pertandingan semalam, saya ikut senang.

Keluarga dari ibu saya sering berkata “keluarga kita itu punya darah seni. Pasti itu. Antara musik, gambar, atau nulis, atau lainnya.” Dan saya tidak bisa membantah itu juga, karena memang saudara-saudara dari keluarga ibu saya demikian. Saya sendiri tertarik pada dunia seni. Walaupun belum begitu ahli, saya menyukai seni di ketiga bidang itu.

Kalau ditanya "apa yang paling saya senangi untuk dikonsumsi?" saya akan menjawab dengan tegas "susu stroberi!" bukan minuman keras atau hal-hal memabukkan lainnya. Bahkan nyatanya, saya belum pernah mabuk atau teler. Pernah saya coba bir atau sejenisnya, tetapi tetap susu stroberi lah yang menjadi pilihan saya. Bagi saya itu adalah minuman yang langsung diracik oleh dewa di khayangan sana.

Pada dasarnya saya adalah orang yang pendiam, tidak suka berbicara dengan orang lain, dan itu membuat saya agak gagap dan grogi ketika berbicara dengan orang baru. Namun sekarang justru sebaliknya, karena saya menemukan bahwa orang itu menarik. Saya sangat suka berbicara kepada orang, apalagi orang asing, khususnya kalangan menengah ke bawah, seperti: penjual makanan di pinggir jalan, pemulung, pengamen, dan lain-lain. Percayalah, banyak sekali cerita yang bisa kau dapat dari mereka. Saya sempat kaget ketika berbicara kepada seorang pemulung di Bekasi bernama Pak Supri yang ternyata dia memiliki penyakit ginjal, penghasilannya selama seminggu tidak sampai cukup untuk biaya obat dan makan keluarganya, tidurnya pun di tangga sebuah pasar dan cuman beberapa jam. Dia sering sekali kesusahan dalam kesehariannya. Dan tebak siapa yang membantu dia? Preman pasar! Preman pasar itu sering memberi makan kepada Pak Supri, keluarganya, dan orang kesusahan lainnya di sana. Bila mereka diusik, preman pasar lah yang ada di balik punggung mereka. Jadi, tidak sepenuhnya preman itu adalah “preman”.

Kemampuan berbahasa saya cukup bagus. Saya menguasai bahasa ibu dan dan bahasa asing yang saat ini hanya bahasa Inggris saja (beberapa kali saya coba belajar bahasa Jepang, namun nampaknya teman saya yang juga sekaligus guru malah kewalahan menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari saya). Tetapi karena kecintaan saya pada bahasa ibu, saya sangat jarang berbahasa Inggris. Hanya berbahasa Inggris ketika diajak berbicara bahasa Inggris saja. Selebihnya saya lebih suka menggunakan bahasa Indonesia.

Saya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Oleh karena itu saya sering berusaha untuk ikut kegiatan sosial seperti menjadi relawan kalau sempat.

Saya suka belajar, bukan menghafal. Saya suka tahu hal baru dengan mencari tahu, oleh karena itu saya agak menyukai sains dan hal-hal yang masih asing menurut saya. Belajar seperti di sekolah? Saya justru malas. Itu lebih pantas disebut menghafal demi sebuah nilai semu.

Saya menyukai anak kecil dan orang yang sudah tua. Mereka mempunyai senyum yang sangat spesial. Senyuman hangat yang membuat hati ikut tersenyum karena merasa nyaman, dan jiwa menjadi tenang. Senyum seperti itu hanya dimiliki oleh mereka.

Saya akan mengubah ekspresi saya menjadi sinis ketika ada seseorang yang menjadikan “autis”, “downsyndrome” atau penyakit mental lain sebagai bahan candaan. Itu sama sekali tidak lucu dan tidak sensitif. Banyak artikel tentang ini yang membuat kau malu jika kau suka menjadikan “autis, dll” sebagai candaan. Saya sendiri mempunyai kerabat yang downsyndrome dan autis. Saya melihat betapa hebat perjuangan orang tuanya dalam membesarkan mereka. Betapa mereka sangat sabar dalam menghadapi anak dan omongan tidak sedap dari kenalannya. Saya yang dulu saat masih kecil suka menjadikan “autis, dll” sebagai candaan, menjadi malu sendiri.

Agama saya? Tidak usah lah dipertanyakan Tuhan apa  yang saya sembah dan bagaimana saya menyembahnya. Berbuat baik terhadap sesama dan tidak melakukan hal yang merugikan untuk orang dan diri sendiri toh termasuk salah satu beribadah kepadaNya. Lebih baik ‘kan daripada meneriakan namaNya sambil membakar rumah ibadah, atau meneriakan namaNya selagi mengkafirkan orang lain? Ibadah yang baik itu yang tidak mengganggu orang lain.

Saya tidak begitu idealis. Ide baru yang menurut saya lebih baik akan saya ambil. Bisa dibilang pikiran saya agak terbuka. Tetapi tentunya saya akan sangat menyukainya bila ide baru tersebut saya dapatkan setelah debat yang bagus. Oh, dan saya suka debat, ngomong-ngomong.

Saya bisa dengan aman bilang kalau saya adalah orang yang mempunyai etika bagus. Namun di beberapa lingkungan saya bisa menjadi sebaliknya. Ya, hanya untuk menyesuaikan diri saja.

Saya... saya... hmmm...

Saya rasa tidak bisa semua saya sebutkan semua di sini, akan terlalu panjang dan saya sendiri pun akan malas membacanya.

Oh, saya juga menyukai obrolan ngalor-ngidul yang bagus. Saya bisa terjebak di dalamnya selama berjam-jam. Jadi, siapa saya? Mari kita bicara.

Friday, February 7, 2014

Halte




Malam. Sepi. Seorang pemuda jalan perlahan menuju halte yang terletak di pinggir jalan raya. Rokoknya yang terlihat hanya cukup untuk beberapa kali hisap lagi, dia buang ke tempat sampah yang ada di sebelah bangku halte. Kemudian dia duduk dan memainkan telefon genggamnya.

“seharusnya kau matikan dulu sebelum kau buang, Dik,” suara bersumber dari sebelahnya. Pemuda itu menengok ke kanan dan melihat seorang lelaki berumur sekitar 30an duduk di halte yang sama. “bisa terjadi kebakaran, lho.” Lanjutnya. Dia membalas ucapan lelaki itu dengan senyum dan kemudian kembali ke telfon genggamnya.

Tidak ada siapapun di halte itu. Hanya mereka berdua.
 
5 menit. Mereka tak saling bicara. Dia sibuk dengan telefon genggamnya, dan lelaki itu hanya duduk santai menatap jalanan yang dilewati oleh beberapa mobil yang berlalu-lalang. Hal yang wajar dilihat ketika dua orang yang aling tidak mengenal bertemu. Hening.

“Mau dengar sedikit cerita?” lelaki itu memecah kesunyian. Si pemuda menengok. “Di sebrang jalan ini, di tempat yang sama, di bawah lampu yang sama, dan di waktu yang sama setiap tahunnya, mereka selalu bertemu di sini.” Pemuda itu bergeming mendengarkan.

Terlihat lelaki itu agak tersenyum di dalam tatapan kosongnya ke depan. Tampak jelas di wajahnya kalau dia ingin sekali berbagi cerita itu. “ya tidak sering memang. Mereka hanya bertemu setahun sekali. Tidak seperti kalian yang bila tidak bertemu seminggu saja akan blingsatan seperti cacing kepanasan.” Lelaki itu berhenti sebentar demi menengok si pemuda apakah dia memperhatikan atau tidak. “Yaa, tetapi pertemuan yang jarang dilakukan justru yang lebih berarti daripada yang kerap dilakukan, bukan?” lanjut lelaki itu sambil kembali menatap kosong ke depan.

Pemuda itu mengubah fokusnya ke cerita lelaki itu. Telefon genggam yang sedari tadi ia pegang mulai tidak diacuhkannya. Lelaki itu masih  menatap kosong ke arah sebrang jalan. Mulutnya tertutup, sedang memberi jeda akan cerita yang tiba-tiba ia lontarkan.

“Yang laki-laki saya tidak begitu tahu dengan pasti. Namanya Bram, atau Anton, atau Budi, saya pun tak tahu. Tidak penting. Apakah dia pekerja kantoran, jaga warung, atau pengangguran, sayajuga tak tahu. Sekali lagi: tidak penting.”

Pemuda itu menyenderkan badannya ke belakang dan tetap mendengarkan cerita dari orang asing yang baru ia temui tadi.

“Yang penting adalah si perempuan.” Lanjutnya. “Namanya—ah kali ini biarkanlah saya memakai istilah 'tidak penting' semata-mata karena saya tidak ingin berbagi kenangan akan indahnya nama perempuan ini dengan kamu.” Lelaki itu tersenyum.

“Cukup kamu ketahui saja bahwa kami berasal dari kampung yang sama, bahwa kami memiliki tanggal lahir yang sama—meskipun terpaut 10 tahun—dan bahwa saya cukup mengenalnya dengan akrab. Hehe.” Lelaki itu tertawa kecil. Tawa hangat yang biasa orang keluarkan ketika sedang mengenang sesuatu yang manis.

“Cukup akrab sehingga saya tahu bahwa ia punya tahi lalat yang ia sangat benci di bawah payudara kirinya.” Lanjutnya. “Tahi lalat itu ia anggap kurang sedap dipandang, namun ia takut meminta dokter untuk mengangkat tahi lalat itu karena ia berbakat keloid dan ia khawatir keloid yang akan terjadi bila operasi kecil itu dilaksanakan akan terlihat lebih buruk daripada tahi lalat itu sendiri.”

Si pemuda yang sedang asyik mendengarkan tetiba mengeluarkan raut muka bingung. Lelaki itu yang melihatnya kemudian berkata, “Dari mana saya bisa tahu sedetil itu? Mudah saja: kami menikah. Gaya Sitti Nurbaya. Hehe. Hehehe. Hehehehe.” Jelasnya.

Anggukan kecil diberikan pemuda itu untuk menanggapi lelaki yang kemudian kembali menatap kosong ke depan.

“Dan kami berbahagia. Well, paling tidak salah satu dari kami berbahagia. Hehehe.”

“Sampai si bangsat itu datang dan mencoba merenggutnya dari saya. Dia—tunggu. Tunggu sebentar. Sudah waktunyakah?” ceritanya terpotong. Lelaki itu melihat dua sosok yang ada di sebrang jalan. Pemuda itu pun spontan berganti fokus ke arah di mana lelaki itu memandang.

“Ah, ya. Mereka memang tepat waktu. Prosesnya selalu sama, si perempuan tampak dikagetkan sesuatu yang tiba-tiba muncul di belakang si laki-laki, yang kemudian menoleh, berteriak tanpa suara, lalu menghilang. Kemudian si perempuan tampak bertengkar dengan seseorang, meronta, terbanting, lalu diam dan perlahan menghilang pula.” Ujar lelaki itu yang seperti sedang menarasikan kejadian di sebrang jalan yang persis seperti yang dia utarakan.

“Dan mereka akan muncul lagi tahun depan di tanggal yang sama, tempat yang sama dan waktu yang sama.” Lelaki itu menjelaskan. Pemuda itu masih memperhatikan. Dia melihat berubahnya raut wajah lelaki itu menjadi agak sedih.

“Dan pemandangan yang sama akan tampak lagi di hadapan saya. Sudah empatbelas tahun saya selalu melihat peristiwa itu berulang lagi, lagi dan lagi.” Ucap lelaki itu.

“Entah apa yang memaksa saya untuk kembali lagi ke sini empat belas tahun yang lalu. Entah apa yang membuat saya lantas memilih persembunyian ini untuk mengawasi tempat kedua sejoli keparat itu meregang nyawa. Yang jelas, saat pertama kali saya melihat mereka saya merasakan sakit yang amat sangat di dada ini. Kemudian semuanya gelap. Mungkin ini hukuman bagi saya yang telah menghabisi nyawa mereka limabelas tahun yang lalu?” lelaki itu terdiam sebentar, “Entahlah, yang pasti saya berharap belulang saya ditemukan lebih dahulu dari belulang mereka.”

Lalu, seraya sosok lelaki itu menghilang, lelaki itu berkata, “Saya lelah…” dan kemudian dia menghilang.

Pemuda itu tersenyum kecil. Bukan senyum yang biasa, melainkan senyum simpati setelah mendengarkan cerita tadi.

Lalu, sambil mengeluarkan telefon genggam dari sakunya, pemuda itu berucap, “Makasih ceritanya, Mas. Semoga kau tenang setelah curhat tadi.”







Thanks to J. Faiz. :D

Monday, December 23, 2013

Loop

Di suatu tempat di Berlin, seorang anak muda sedang berjalan di pinggiran kota. Langit gelap menunjukkan kalau malam sedang menyelimuti saat itu. Pandangan pemuda itu dihalangi oleh kabut tebal, dan udara dingin menembus jaket kulit yang ia kenakan saat itu.

Anak muda itu terlihat sedang sangat kesal. Ia kesal karena sebelumnya tidak diberikan uang oleh orang tuanya untuk membeli gitar supaya dia bisa belajar dan bermain musik agar para wanita di sekolahnya tertarik kepadanya.

Jalanan saat itu sedang tidak dikerumuni banyak orang. Sepi. Dan juga gelap, kalau saja kalian lupa saat itu sedang malam. Anak muda itu berjalan dengan seluruh emosi negatif terkumpul di kepalanya. Dia sangat ingin sebuah gitar supaya bisa memikat para wanita di sekolahnya, tetapi dia juga tidak memiliki uang. Setan di telinganya membisikan sesuatu agar dirinya bisa menghasilkan uang dengan cepat. "Baiklah, aku akan mencuri uang dari orang saja!" ucapnya dalam hati.

Di jalanan yang sepi, di depannya terlihat orang tua yang sedang berjalan sendiri di pinggir jalan membawa tas di dadanya. Badannya gemuk, dan rambutnya putih. Anak muda itu berasumsi bahwa tas itu berisi barang yang berharga, karena buat apa sampai diepeluknya? Tanpa pikir panjang anak muda itu berniat merampasnya.

Perlahan ia ikuti orang tua itu dari belakang. Di suatu persimpangan, di bawah lampu, orang tua itu berhenti. Anak muda itu melihat kesempatan yang bagus untuk merampas tas tersebut. Dia bergegas menghampiri orang tua itu lalu mulai mencoba meraih tas yang dia pegang.

Orang tua itu kaget. Dia reflek untuk mempererat pegangannya ke tas itu. Lalu orang tua itu melihat wajah dan kedua mata anak muda yang mencoba mengambil tasnya. Orang tua itu terkejut. Dia melonggarkan pegangannya, dan berusaha membuka mulutnya untuk berbicara. "Hei, tungg..." belum selesai orang tua itu menyelesaikan ucapannya, anak muda itu langsung menarik tasnya dengan sekuat tenaga karena pegangannya mulai terasa longgar. Tas dengan gampang anak muda itu ambil, namun orang tua itu tampak terbujur kaku di jalan yang dingin. Dia seperti mati.

Walaupun anak muda itu sedang panik, tetapi dia masih sempat mengecek kondisi orang tua itu. Rupanya memang orang tua itu mati. Kepala belakangnya terbentur tiang lampu yang berada tepat di belakang ketika dia terpeleset jatuh saat tasnya diambil. Anak muda itu ingin berteriak minta tolong, tetapi jalanan sedang sepi. Lagipula kalau dia berteriak minta tolong, dia akan dipenjara. Dia langsung berlari menjauhi mayat orang tua tersebut sambil membawa tas yang dia rampas sebelumnya.

Saat di rumah, anak muda itu menangis, karena memang pada dasarnya anak muda itu adalah anak yang baik-baik. Entah iblis hebat apa yang berhasil menyuruhnya melakukan tindak kriminal. Setelah dia tenang, dia mengecek tas yang berhasil dia rampas. Isinya membuat dia terkejut, karena tas itu berisi uang yang cukup banyak. Melihatnya, anak muda itu tidak lagi merasa senang. Perasaan bersalah membuat obsesinya akan gitar hilang.

Setelah kejadian itu, si anak muda menjadi anak yang pendiam. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah belajar ketimbang bermain di luar bersama temannya. Perasaan bersalah adalah salah satu faktor yang membuat dia malas ke luar rumah. Karena di rumah tidak ada sesuatu untuk dikerjakan, maka dia lebih sering menghabiskan waktu dengan belajar di rumahnya. Uang yang cukup banyak itu pun juga dipakai untuk membeli buku ilmu pengetahuan yang banyak.

Waktu berlalu, karena saat muda dia menghabiskan banyak waktu untuk belajar, ketika dewasa si anak muda telah menjadi seorang ahli fisika. Dia telah menemukan banyak peralatan yang sudah membantu kehidupan manusia di seluruh dunia. Dia menjadi kaya. Dia juga sudah menikah dengan seorang wanita yang tadinya adalah rekan kerjanya. Dia juga memiliki 2 anak yang keduanya adalah laki-laki.

Waktu terus berlalu, anak muda itu sekarang terlihat tua dan gemuk. Sekarang ia terlihat sedang di gudang, baru saja menyelesaikan terobosan paling dahsyat dari seluruh temuannya. Dia baru saja menciptakan mesin waktu.

Setelah beberapa kali percobaan, dia sudah yakin kalau sudah aman untuk digunakan oleh manusia. Dia ingin manusia pertama yang mencoba mesin waktunya adalah dia sendiri. Tetapi dia bingung ingin ke mana. "Masa lalu? Masa depan? Ah... ya! Saat itu..." teriak orang tua tersebut.

Dia berencana kembali ke masa lalu. Tepatnya saat dia muda, saat dia yang muda sedang kesal tidak diberi uang untuk membeli gitar. Ya, malam di mana rasa bersalah mulai menghantuinya dan mengubah seluruh hidupnya. Malam ketika secara tidak sengaja dia membunuh seseorang. "Aku akan menghentikan diriku untuk membunuh orang. Aku akan memberinya uang, agar dia tidak merampok."

Persiapan telah selesai. Orang tua itu memasuki mesin waktu dengan membawa tas berisi uang yang cukup banyak. Lalu dia mengatur mesinnya agar dia bisa kembali ke malam dingin berkabut untuk memberi uang kepada dirinya yang masih muda. Perjalanan melintasi waktu pun terjadidan berhasil.


Orang tua itu sampai ke Berlin di masa lalu. Udaranya sangat dingin dan berkabut. Dia memeluk tasnya agar terasa sedikit hangat. Lalu dia mulai berjalan mencari dirinya yang muda sebelum dia membunuh orang. Dia berjalan dan terus berjalan sampai dia terhenti di persimpangan jalan. Dia berhenti karena dia melihat lampu jalan di persimpangan yang terasa sangat akrab di pikirannya. Dia mencoba mengingat sebentar, kemudian dia sadar bahwa tempat itu adalah tempat di mana dirinya yang muda secara tidak sengaja membunuh orang tua.

Dia merasa ada yang janggal. Lalu dia mencoba berpikir mencari tahu apa yang janggal. Saat dia berpikir, ada seseorang yang mencoba merampas tas yang dia bawa. Orang tua itu dengan sigap memeluknya dengan erat. Kemudian orang tua itu melihat sosok yang mencoba merampas tasnya. Ternyata yang mencoba merampas adalah dirinya yang muda.

Dirinya tersadar bahwa dirinya adalah yang di bunuh saat dia muda. Dia menghentikan perlawanan, dan ingin memberikan tas berisi uang itu langsung agar tidak ada kecelakaan yang terjadi, maka dia mengendorkan pegangannya, dan mencoba berbicara "Hei, tungg..." Namun setelah dilonggarkan, dirinya yang muda malah menariknya dengan paksa sehingga dia terdorong ke belakang dan terpeleset. Kakinya terpeleset, badannya miring, dan dia jatuh sebelum menyelesaikan kata-katanya. Ketika jatuh, kepalanya terbentur tiang di belakangnya dengan keras dan kemudian dia mati.

Wednesday, December 4, 2013

Bad Boy>Nice Guy?




Dari semua topik pembuka obrolan ke cewek yang gue temui di mall, taman, atau tempat nongkrong yang biasa gue kunjungi, topik favorit gue yang ketiga adalah “Lu lebih suka cowok bertipe bad boy atau nice guy?”
 
Setelah ditanya seperti itu, hampir 90% dari para wanita menarik itu menjawab lebih suka BAD BOY!
“kenapa tuh emangnya suka sama yang tipe bad boy?” adalah lanjutan dari obrolan untuk merespon jawaban mereka tadi. Jawabannya macam-macam, kalau ditulis di sini akan panjang. Bisa sih diuraikan satu persatu, tapi gue males. Jadi berkat rasa males, jawaban dari para kaum hawa itu bakal gue ringkas: BAD BOY ITU ASIK!

(Baca: Lah, nyet, bad boy kan bajingan?)

Iya, jadi begini, anak monyet, bad boy emang bajingan, tapi... tapi, perilaku para pria bajingan dan kurang ajar itu menegaskan simbol kegilaan, kesempurnaan, kebebasan, kemegahan, “kedewasaan”, dan “kemapanan” yang sangat membuat para wanita penasaran. Hal-hal itu membangkitkan sensasi yang jarang banget bisa ditemui oleh pria yang sering berperilaku sopan, kalem, atau baik.




Kenalan gue, Lex, pernah bilang, bidang studi psikologi dapat menganalisa mengenai pria brengsek nan bajingan ini dalam hal romansa pada kombinasi Big Five berikut ini: high extraversion (penuh energi, ekspresif di hadapan orang lain), low neuroticism (jarang mengalami emosi yang tidak menyenangkan), low conscientiousness (santai, berantakan, tidak disiplin), low agreeableness (mementingkan diri sendiri, cenderung bersaing ketimbang kerjasama), high openness to experience (suka tantangan, cepat bosan, pecandu tantangan baru). Dan P.K Jonason dari New Mexico University menemukan bahwa James Bond adalah figur yang paling cocok menggambarkan seluruh sifat di atas.

Ada yang pernah liat James Bond telfon cewek untuk sekedar nanya “Kamuh dah mam lum?”



 "Apah? Kamu lum mam? Mam dong, biar nggak tatit."

Oke, nggak usah deh ya seberat itu penjelasannya. Kalau menurut kacamata para wanita yang gue ajak ngobrol, bad boy lebih menarik karena mereka itu ekspresif, nggak menye-menye (ini gue nggak tau arti pastinya, tapi... ya gitu deh), berani untuk nggak baik. Itu membuat mereka terlihat lebih fun dibanding para nice guy yang pernah mereka temui.

Menurut gue, bad boy sendiri ada 3 jenis: pertama adalah mereka yang sudah menjadi bad boy secara natural, kedua adalah mereka yang menjadi bad boy karena difasilitasi lengkap sejak kecil (tajir mampus. Yang orang tuanya kalau diare mencret duit), yang ketiga adalah mereka yang menjadi bad boy karena pengalaman pahit. Contoh nomer tiga adalah kasus yang menarik.

Orang yang menjadi bad boy karena pengalaman biasanya sudah pernah mengalami pengalaman yang menghasilkan air mata berdarah di dalam hubungan romansanya. Biasanya mereka dulunya adalah seorang nice guy yang disia-siakan oleh gebetannya. Disia-siakan karena dahulu mereka selalu ada ketika gebetannya butuh bahu saat sedang jatuh terpuruk dikarenakan lelaki yang disukainya kerap menyakitinya. Lalu dia  datang dengan memberi 1001 kata motivasi yang menghibur setelah gebetannya curhat dengan sejuta keluhan atas pria brengsek yang disukainya. Dengan usaha maksimal, mereka membuat gebetannya yang sedang sedih menjadi tertawa. Tujuannya hanya satu: agar si gebetan mau melupakan pria brengsek yang disukainya dan melihat dia yang sudah bersusah payah menjadi yang terbaik buatnya dengan cara menunjukkan kebaikan yang pria brengsek itu tidak punya. Tetapi hasilnya malah terbalik, si gebetan tetap nempel kepada si pria brengsek dan si nice guy itu hanya mendapat gelar teman baik di hati gebetannya. Rasa sakit yang ekstrim membuatnya dihadapkan pada dua pemikiran: 1. Gue harus lebih baik lagi, 2. Gue nggak bisa begini terus. 

Dan para bad boy yang menjadi bad boy karena pengalaman adalah mereka yang belajar setelah menempuh jalur nomer dua. Tidak puas menjadi raja di zona teman sang wanita pujaan, membuatnya mengambil langkah ekstrim. Tentunya kalian tahu kalau kisah di atas adalah curhatan. Hahaha.

Memang, susah rasanya untuk tidak bersikap layaknya ksatria putih berkuda friendzone ke pada wanita yang kita suka. Tapi, hei! Wanita hanya akan tambah suka bila diperlakukan baik oleh pria yang disukainya. Pernah disukai wanita yang tidak lu sukai? Ya, mereka jadi suka karena lu memperlakukan mereka seperti biasa atau mungkin layaknya bad boy, dan lu menjadi nice guy ketika berhadapan dengan wanita yang lu suka. Terbayang? 

Jangan sembarang menunjukkan minat lu ke tiap wanita yang lu suka, berani mengatakan “Tidak!” ketika seorang wanita yang disuka meminta hal di luar akal, mampu hidup terpisah darinya, tidak harus mengikutinya ke manapun dia ingin pergi, dan berbagai hal lainnya.

Wanita tidak ingin pria yang hanya unggul dalam kebaikannya, apalagi hanya memiliki hal itu saja (kebaikan). Mereka ingin pria yang lengkap dengan keunggulan-keunggulan lainnya. Atau setidaknya pria yang mampu menunjukkan bahwa dia bisa lebih dari sekedar berbuat baik, sopan, dan menghargai wanita saja.

Jadi... gimana? Hahaha. 

Oh iya, gue belum menulis jawaban mereka kenapa tidak memilih nice guy. Karena nice guy itu mudah terbaca, membosankan, dan sifat baiknya yang sering diumbar sangat sayang untuk tidak menjadi sekedar teman. Jarang sekali ada atau bahkan tidak ada kejutan yang didapat.

Tentu para nice guy di luar sana memiliki keunggulan lain yang tidak dimiliki para bad boy. Tetapi  untuk menarik lawan jenis, sifat ini tidak begitu membantu. Lalu bagaimana? "Lu perlu berlatih mengekspresikan kombinasi Big Five di atas tanpa perlu menjadi bad boy yang bajingan, disfungsional, kekanak-kanakan, merusak dan menyakiti setiap wanita yang tertarik sama lu. Lalu kalau lu sudah siap untuk membina hubungan yang lebih serius lagi, lu harus bersedia mengurangi sedikit kesempurnaan lu dan menunjukkan sisi lemah untuk diisi oleh sang kekasih. Ijinkan dia berakar dan bertumbuh di dalam diri lu agar ia gak mudah terpikat oleh gelora pria-pria lain yang senantiasa menggodanya" kata si Lex.

Kalau lu setuju dengan tulisan di atas, gue harap, lu berjanji pada diri sendiri untuk tidak meneruskan strategi jadul yang lu lakukan selama bertahun-tahun ini sehingga membiarkan para wanita di luar sana menjadi bosan dan terpaksa karena tidak punya pilihan lain jatuh ke pelukan pria brengsek. 

Hidup adalah game, romansa adalah bagian darinya, dan seperti game pada umumnya, game romansa mempunyai strategi dan peraturan, jalani dengan benar dan lu bakal menangin game-nya!