Wednesday, December 4, 2013

Bad Boy>Nice Guy?




Dari semua topik pembuka obrolan ke cewek yang gue temui di mall, taman, atau tempat nongkrong yang biasa gue kunjungi, topik favorit gue yang ketiga adalah “Lu lebih suka cowok bertipe bad boy atau nice guy?”
 
Setelah ditanya seperti itu, hampir 90% dari para wanita menarik itu menjawab lebih suka BAD BOY!
“kenapa tuh emangnya suka sama yang tipe bad boy?” adalah lanjutan dari obrolan untuk merespon jawaban mereka tadi. Jawabannya macam-macam, kalau ditulis di sini akan panjang. Bisa sih diuraikan satu persatu, tapi gue males. Jadi berkat rasa males, jawaban dari para kaum hawa itu bakal gue ringkas: BAD BOY ITU ASIK!

(Baca: Lah, nyet, bad boy kan bajingan?)

Iya, jadi begini, anak monyet, bad boy emang bajingan, tapi... tapi, perilaku para pria bajingan dan kurang ajar itu menegaskan simbol kegilaan, kesempurnaan, kebebasan, kemegahan, “kedewasaan”, dan “kemapanan” yang sangat membuat para wanita penasaran. Hal-hal itu membangkitkan sensasi yang jarang banget bisa ditemui oleh pria yang sering berperilaku sopan, kalem, atau baik.




Kenalan gue, Lex, pernah bilang, bidang studi psikologi dapat menganalisa mengenai pria brengsek nan bajingan ini dalam hal romansa pada kombinasi Big Five berikut ini: high extraversion (penuh energi, ekspresif di hadapan orang lain), low neuroticism (jarang mengalami emosi yang tidak menyenangkan), low conscientiousness (santai, berantakan, tidak disiplin), low agreeableness (mementingkan diri sendiri, cenderung bersaing ketimbang kerjasama), high openness to experience (suka tantangan, cepat bosan, pecandu tantangan baru). Dan P.K Jonason dari New Mexico University menemukan bahwa James Bond adalah figur yang paling cocok menggambarkan seluruh sifat di atas.

Ada yang pernah liat James Bond telfon cewek untuk sekedar nanya “Kamuh dah mam lum?”



 "Apah? Kamu lum mam? Mam dong, biar nggak tatit."

Oke, nggak usah deh ya seberat itu penjelasannya. Kalau menurut kacamata para wanita yang gue ajak ngobrol, bad boy lebih menarik karena mereka itu ekspresif, nggak menye-menye (ini gue nggak tau arti pastinya, tapi... ya gitu deh), berani untuk nggak baik. Itu membuat mereka terlihat lebih fun dibanding para nice guy yang pernah mereka temui.

Menurut gue, bad boy sendiri ada 3 jenis: pertama adalah mereka yang sudah menjadi bad boy secara natural, kedua adalah mereka yang menjadi bad boy karena difasilitasi lengkap sejak kecil (tajir mampus. Yang orang tuanya kalau diare mencret duit), yang ketiga adalah mereka yang menjadi bad boy karena pengalaman pahit. Contoh nomer tiga adalah kasus yang menarik.

Orang yang menjadi bad boy karena pengalaman biasanya sudah pernah mengalami pengalaman yang menghasilkan air mata berdarah di dalam hubungan romansanya. Biasanya mereka dulunya adalah seorang nice guy yang disia-siakan oleh gebetannya. Disia-siakan karena dahulu mereka selalu ada ketika gebetannya butuh bahu saat sedang jatuh terpuruk dikarenakan lelaki yang disukainya kerap menyakitinya. Lalu dia  datang dengan memberi 1001 kata motivasi yang menghibur setelah gebetannya curhat dengan sejuta keluhan atas pria brengsek yang disukainya. Dengan usaha maksimal, mereka membuat gebetannya yang sedang sedih menjadi tertawa. Tujuannya hanya satu: agar si gebetan mau melupakan pria brengsek yang disukainya dan melihat dia yang sudah bersusah payah menjadi yang terbaik buatnya dengan cara menunjukkan kebaikan yang pria brengsek itu tidak punya. Tetapi hasilnya malah terbalik, si gebetan tetap nempel kepada si pria brengsek dan si nice guy itu hanya mendapat gelar teman baik di hati gebetannya. Rasa sakit yang ekstrim membuatnya dihadapkan pada dua pemikiran: 1. Gue harus lebih baik lagi, 2. Gue nggak bisa begini terus. 

Dan para bad boy yang menjadi bad boy karena pengalaman adalah mereka yang belajar setelah menempuh jalur nomer dua. Tidak puas menjadi raja di zona teman sang wanita pujaan, membuatnya mengambil langkah ekstrim. Tentunya kalian tahu kalau kisah di atas adalah curhatan. Hahaha.

Memang, susah rasanya untuk tidak bersikap layaknya ksatria putih berkuda friendzone ke pada wanita yang kita suka. Tapi, hei! Wanita hanya akan tambah suka bila diperlakukan baik oleh pria yang disukainya. Pernah disukai wanita yang tidak lu sukai? Ya, mereka jadi suka karena lu memperlakukan mereka seperti biasa atau mungkin layaknya bad boy, dan lu menjadi nice guy ketika berhadapan dengan wanita yang lu suka. Terbayang? 

Jangan sembarang menunjukkan minat lu ke tiap wanita yang lu suka, berani mengatakan “Tidak!” ketika seorang wanita yang disuka meminta hal di luar akal, mampu hidup terpisah darinya, tidak harus mengikutinya ke manapun dia ingin pergi, dan berbagai hal lainnya.

Wanita tidak ingin pria yang hanya unggul dalam kebaikannya, apalagi hanya memiliki hal itu saja (kebaikan). Mereka ingin pria yang lengkap dengan keunggulan-keunggulan lainnya. Atau setidaknya pria yang mampu menunjukkan bahwa dia bisa lebih dari sekedar berbuat baik, sopan, dan menghargai wanita saja.

Jadi... gimana? Hahaha. 

Oh iya, gue belum menulis jawaban mereka kenapa tidak memilih nice guy. Karena nice guy itu mudah terbaca, membosankan, dan sifat baiknya yang sering diumbar sangat sayang untuk tidak menjadi sekedar teman. Jarang sekali ada atau bahkan tidak ada kejutan yang didapat.

Tentu para nice guy di luar sana memiliki keunggulan lain yang tidak dimiliki para bad boy. Tetapi  untuk menarik lawan jenis, sifat ini tidak begitu membantu. Lalu bagaimana? "Lu perlu berlatih mengekspresikan kombinasi Big Five di atas tanpa perlu menjadi bad boy yang bajingan, disfungsional, kekanak-kanakan, merusak dan menyakiti setiap wanita yang tertarik sama lu. Lalu kalau lu sudah siap untuk membina hubungan yang lebih serius lagi, lu harus bersedia mengurangi sedikit kesempurnaan lu dan menunjukkan sisi lemah untuk diisi oleh sang kekasih. Ijinkan dia berakar dan bertumbuh di dalam diri lu agar ia gak mudah terpikat oleh gelora pria-pria lain yang senantiasa menggodanya" kata si Lex.

Kalau lu setuju dengan tulisan di atas, gue harap, lu berjanji pada diri sendiri untuk tidak meneruskan strategi jadul yang lu lakukan selama bertahun-tahun ini sehingga membiarkan para wanita di luar sana menjadi bosan dan terpaksa karena tidak punya pilihan lain jatuh ke pelukan pria brengsek. 

Hidup adalah game, romansa adalah bagian darinya, dan seperti game pada umumnya, game romansa mempunyai strategi dan peraturan, jalani dengan benar dan lu bakal menangin game-nya!

Tuesday, October 22, 2013

Pomade

Selama ini untuk gaya rambut, gue sering beberapa kali memakai produk hairstyling. Gue sudah mencoba krim, gel, dan wax, dan masing-masing tidak ada yang benar-benar bisa menuruti kemauan gue.

Saat gue memakai krim, hasilnya membuat gue kurang puas. Gue mendapatkan kilau rambut dan mendapatkan efek basah pada rambut gue. Namun hanya itu saja, rambut gue mesti sering-sering ditata ulang, karena krim rambut tidak membantu membuat rambut tetap pada gaya yang gue mau. Lalu gue memakai gel, dan gue mendapatkan hasil yang cukup baik, kilau rambut dan efek basah bisa gue dapatkan, dan gaya rambut yang gue mau bisa bertahan. Sayangnya jika memakai gel, rambut akan mengeras, dan tentunya tidak bisa diatur.  Setelah itu gue memakai wax, dan untuk pemakaian wax terakhir kali gue cukup puas. Gue memakai produk wax dari Gatsby, yaitu Gatsby Moving Rubber. Walaupun kilau kurang dan cenderung terlihat kering, namun gue bisa mendapatkan gaya rambut seperti yang gue mau dan tahan lama, selain itu juga bisa diatur, namun tidak sebebas yang gue mau.

Sampai akhirnya gue menemukan produk hairstyling yang bernama pomade.




Sebenarnya gue sudah mendengar tentang pomade bertahun-tahun lalu, tetapi tidak pernah gue coba karena masih terdengar asing dan harganya yang lebih mahal dari produk hairstyling yang pernah gue tau. Sampai akhirnya sekitar sebulan lalu seorang teman meracuni gue tentang pomade. Rasa penasaran akan produk ini datang lagi, dan gue coba mencari informasi tentang si pomade ini.

Hasil dari pencarian info yang gue lakukan memberi tahu kalau pomade adalah produk lawas. Pomade itu mudah diatur seperti wax dan kuat seperti gel, hanya saja pomade mudah ditata/disisir ulang tidak seperti gel dan memberikan kilau yang lebih baik ketimbang wax. Pomade juga memiliki daya set yang bervariasi, dari yang light hold untuk yang membutuhkan kilau, medium hold, sampai yang strong hold yang bisa membuat rambut ikal menjadi lurus.

Pomade itu adalah yang orang dulu bilang minyak rambut, karena memang bahan dasarnya minyak. Walaupun bagus, orang-orang di Indonesia belum banyak yang tahu karena di sini tidak begitu populer (baru akhir-akhir ini lagi mulai kembali populer). Kalau di Amerika cukup populer sampai ada grupnya sendiri. Dan karena bahan dasarnya adalah minyak, untuk pencucian mungkin kalian akan mengalami kesulitan dalam mencucinya. Kalau keramas biasa mungkin akan hilang setelah 2-3 kali pencucian.

Kayak yang gue bilang tadi, ini adalah merk lawas. Orang tuamu pasti tahu apa itu pomade, kalau tidak tahu, berarti kakekmu yang sudah pasti tahu. Kalau tidak tahu, mungkin mereka tidak tahu kalau produknya bernama pomade, biasanya mereka menyebutkan dengan nama brand-nya, Tancho.

Tancho sendiri adalah pomade yang masih diproduksi di Indonesia, oleh karena itu harganya murah. Gatsby juga mempunyai pomade dan diproduksi di Indonesia. Sayangnya kedua brand tersebut memiliki wangi yang menyengat sehingga banyak orang yang lebih memilih pomade Amerika. Pomade Amerika sendiri ada banyak pilihannya, seperti: Murray’s, Cockgrease, dan lainnya yang mungkin akan gue bahas di post yang akan datang. Wangi dari pomade impor juga bermacam-macam dan tidak menyengat seperti pomade dari brand yang gue sebutkan di atas tadi. Untuk hold juga lebih bagus dengan tingkat kilau yang bermacam-macam juga. Masalahnya, harga pomade impor itu lebih mahal daripada pomade lokal. Murray’s yang harga aslinya cuman $3.5, bila dijual di Indonesia bisa mencapai Rp. 130 ribu dan mungkin paling murah Rp. 90 ribu.

Tetapi sekarang ini mulai banyak juga pomade buatan rumah yang kualitasnya nggak kalah dari pomade impor, dan tentu harganya juga tidak terlalu mahal dari pomade impor. Seperti pomade pertama gue, Toar & Roby’s Pomade yang gue dapatkan cuman dengan harga Rp. 50 ribu.

Ya, berhubung sekarang ini gue sangat suka model rambut yang tertata rapi seperti ini:

Ketimbang yang seperti ini: 

Ya pomade merupakan pilihan paling tepat. 

Dan ngomong-ngomong, gaya rambut yang bisa ditata dengan pomade tidak terbatas sama yang di atas saja. Ada banyak pilihan gaya rambut yang bisa diatur dengan pomade, seperti: Pompadour kayak anak-anak bergaya rockabilly, dan bahkan gaya mohawk/fauxhawk bisa diatur juga dengan produk ini.

Oke deh, mungkin untuk selanjutnya gue bakal bahas tentang pomade lagi, tapi ya kalau lagi pengen aje.

Oh iya, kalau mau nanya-nanya seputar pomade juga bisa lewat ask.fm gue, tinggal klik DI SINI.

Salam klimis! :D

Thursday, September 19, 2013

Tips Presentasi 101



Yak, sesuai judul, sekarang ini gue mau bahas tentang tekhnik presentasi yang paling mendasar. Hehe.

Pernah nggak elu ngeliat sebuah presentasi yang menarik? Sebuah presentasi yang membuat elu fokus kepada apa yang dipresentasikan, walaupun materi presentasi itu bukanlah hal yang sesuai dengan minat lu. Dan pernahkah elu terjebak di sebuah presentasi yang sangat membosankan di mana selama sesi presentasi elu nggak henti teriak “BURUAN SLIDE TERAKHIR KEK!” dalam hati? Padahal materi yang dipresentasikan adalah hal yang benar-benar elu sukai.

Kok bisa seperti itu? Ya, itu semua adalah efek dari pembawaan sang pembicara.

Nggak peduli seberapa bagus materi presentasi yang dibawakan, kalau pembawaannya nggak bagus maka presentasi itu bisa disebut gagal. Nggak peduli seberapa besar kharisma sang pembicara sehari-hari, kalau pembawaannya kacau maka presentasinya tidaklah menarik.

Bila bicara soal presentasi, gue bisa bilang kalau gue adalah favorit beberapa dosen kalau presentasi individual. Beberapa teman gue juga suka kalau gue presentasi di depan kelas. Katanya sih nggak ngebosenin. Bukannya sombong, tapi ya gimana lagi *benerin rambut*. Haha.

Oke, sekarang gue mau langsung saja berbagi apa saja yang mesti diingat saat melakukan presentasi.


1. Audiens Juga Butuh Perhatian
Oleh karena itu, hindari melihat laptop! Banyak sekali mahasiswa yang saat presentasi malah melihat laptop sepanjang presentasi berlangsung.  Itu salah besar! Selain karena sudah ada bayangan materi lu yang diproyeksikan proyektor di depan (yang tentu saja bisa dilihat lebih jelas karena lebih besar), dengan melihat materi presentasi di laptop terus menerus lu jadi nggak punya waktu menatap para audiens. Mereka jadi seperti tidak bisa lu kuasai, dan elu sendiri jadi terlihat seperti sedang gugup walaupun sebenarnya tidak.  Para audiens merasa sedang tidak diperhatikan, dan kalau sudah seperti itu kemungkinan besar mereka akan bosan dan tidak tertarik kepada presentasi yang elu bawakan. Jadi sekali lagi, jangan melihat materi di laptop terlalu sering. Kalau lupa apa yang dipresentasikan, elu bisa melihat bayangan proyektor di depan.


2. Slide Penuh Tulisan = DOSA!
Apalagi jika ternyata tulisan yang ada di slide adalah apa yang dijelaskan. TERLEBIH LAGI, ternyata saat presentasi, sang pembicara hanya membaca apa yang tertulis di depan TANPA ada penjelasan lainnya selain apa yang tertulis di depan. Jika seperti itu, selamat! Presentasi elu sepenuhnya gagal!
Ketika kita presentasi di depan kelas atau apapun, kita biasanya menggunakan software Power Point. Ya namanya juga Power Point, seharusnya hanya poin-poinnya saja yang dimasukkan ke dalam slide. JANGAN semua yang ingin lu jelasin dimasukkan ke dalamnya. Coba bayangkan lu sedang melihat sebuah presentasi dengan banyak tulisan, dan sang pembicara hanya membaca apa yang terpapar di depan. Gimana reaksi lo? Jadi nggak tertarik kan? Makanya kalau sudah tau itu membosankan, ya jangan ikut dilakukan! Usahakan tulisan yang ada di slide lu hanya sedikit. Makin sedikit semakin bagus. Kalau hanya ada gambar tanpa tulisan, LEBIH BAGUS LAGI! Itu menunjukkan kalau lu sudah menguasai banget materi yang mau lu bawa. Tapi kalau belum menguasainya, ya letakan poin-poinnya saja yang ditulis. Dengan melakukan itu semua, presentasi lu akan lebih menarik. Tetapi nggak berarti para audiens nggak bosen. Bisa saja materi lu menarik banget, tapi pasti ada saja yang bosan. Nah bagaimana cara membuat mereka nggak bosan?


3. Ice Breaker
Ada satu istilah yang namanya Ice Breaker. Itu adalah suatu cara untuk mencairkan suasana ketika situasi sudah semakin kaku dan tegang. Bagaimana caranya? Satu cara yang ampuh adalah humor!
Ketika lu sudah merasa kalau presentasi lu mulai kaku atau sunyi, lu bisa memilih: mau sisa presentasi lu menjadi garing ATAU lu pecah kesunyian itu dengan melakukan ice breaking. Kalau ice breaking tidak dilakukan, ya siap-siap saja menghadapi kesunyian.
Di kampus, gue punya contoh salah satu ice breaker yang melegenda di antara teman-teman gue. Itu terjadi pas gue mempunyai tugas menjadi brand manager Indomie.
Jadi saat gue sedang menjelaskan tentang varian rasa baru Indomie, gue menambahkan 1 gambar “Indomie Rasa Ayam Kampus” yang modelnya Miyabi. Gue nggak membahas Miyabi, tapi gue menjelaskan contoh rasa baru dengan serius. Teman dan dosen gue tertawa lepas. Pecah! Haha. Orang-orang yang tadinya sudah hilang perhatian dan mulai tidak peduli terhadap presentasi gue, mulai kembali fokus ke presentasi yang gue bawakan di depan. Itulah gunanya ice breaker.
 Tidak mesti gambar sih, bisa juga humor-humor cerdas seperti melakukan stand-up comedy, dan ini yang biasanya gue pakai. Tapi ingat, jangan garing! Haha.


4. Interaksi
Salah satu bentuk cara menguasai audiens adalah lu mengajak mereka berinteraksi. Apapun interaksinya, yang penting interaksi! Entah itu membuat salah satu audiens maju sebagai peragaan, atau bertanya. Contoh:

Elu: Yak, coba Anda yang bermuka seperti pecandu narkoba di sana. Tahukah Anda tentang mobil listrik?
Dia: *menjawab*
Elu:  Yak! Mobil listrik adalah blablabla...

Walaupun hanya satu orang yang elu ajak interaksi, kemungkinan semua orang akan memperhatikan. Dan kalau bisa orang yang elu ajak berinteraksi adalah orang yang kelihatannya sudah mulai bosan, agar dia kembali fokus.


5. KUASAI MATERI
Dan kembali lagi, KUASAI MATERI. Ini sangat gue tekankan karena ini adalah inti dari semuanya. Kuasai materi yang akan elu bawakan nanti. Jadi saat presentasi nanti, elu nggak melulu liat bayangan proyektor dan membaca materi presentasi lu di depan. BASI, MAN! Gue sering banget melihat presentasi yang pembawaannya sangat buruk. Slide seperti koran, tulisan melulu, dan pembicara membaca terus-menerus materinya di depan. Poin yang sudah tertera jelas di layar dia baca tanpa memberikan penjelasan. Sesekali dia berbalik menatap audiens, tetapi tidak jelas siapa yang dia tatap. Jelas sekali kalau dia tidak menguasai benar materi yang dia bawakan. Elu mau seperti itu?
Beda kalau elu menguasai materi. Kalau elu menguasai materi yang elu bawakan, elu akan otomatis pede lalu presentasi akan lancar. Dan walaupun tidak tau 4 poin di atas sebelum ini, kalau elu menguasai materi dengan benar-benar, melihat materi terus-terusan dan presentasi yang membosankan kemungkinan tidak akan terjadi.


Ya segitu dulu saja deh. Untuk selanjutnya, gue akan menjelaskan bahasa tubuh apa yang semestinya jangan dan harus digunakan saat presentasi. Untuk sementara lakukan itu saja dulu, dijamin elu bisa melakukan presentasi dengan menarik. Hal yang sangat penting adalah kuasai materi, slide jangan berisi banyak tulisan dan jangan hanya membaca apa yang terpapar di slide lu. Ya logikanya, kalau elu hanya membaca apa yang tertulis di slide elu, buat apa maju dan ngomong untuk presentasi? Biar saja mereka yang membaca. Haha.

Oke, selamat mencoba itu semua, para mahasiswa! :D

Tuesday, September 17, 2013

Palin





Di ruang sepi
Gelap
Sunyi

Seseorang bercerita… sementara… satunya mendengarkan. 

Mereka berdua terus berbicara.


X: Aku mau mati aja.

Y: Oh, terus gimana tuh?

X: Ya kalau aku sih  nggak tau lagi mau ngapain. Semuanya sudah mulai terasa hambar. 

Y: Memang sih, aku pun pernah merasakan hal serupa. Tapi ya aku tetap berusaha untuk menikmatinya kok sejauh ini.

X: Merasakan hal kayak aku gitu? Bayangin aja, pernah nggak sih kau merasa kalau kamu itu kayak robot? Bangun tidur, kerja, main, pulang ke rumah, lalu tidur lagi. Kegiatan rutin yang kalau dipikir-pikir membosankan begitu. Apa bedanya sama mesin? Aku muak!

Y: Haha, perasaan kayak gitu sih wajar kali. Setiap manusia pasti pernah mikirin hal serupa.

X: Ya nggak tau lah. Mungkin saja iya. Atau mungkin cuman diriku saja yang sedang dilanda kebingungan yang berat.

Y: Hmm... Apa kau lagi merindu seseorang? Mungkin itu masalahnya. Ada lubang kecil namun sekaligus besar di dalam hidupmu. Makanya kau kelihatan sedang tersesat. Hal yang mungkin bisa memandumu tidak ada. Matamu jelas sekali menunjukkan kalau kau sedang hilang arah.

X: Begitu ya? Jujur aku tidak berpikir sampai ke situ. Mungkin saja sih yang kau katakan itu benar adanya.  Tapi...

Y: Haha! Nggak perlu lah kau memusingkannya. Toh kau ini masih muda. Aku pun masih muda. Kita ini muda, kawan! Perjalanan kita masih lah jauh. Memikirkan hal seperti hanya membuatmu tersendat.

X: Ya mungkin akunya saja ya yang sedang mengalami krisis kehidupan?

Y: Haha! Nggak perlu lah kau memusingkannya. Toh kau ini masih muda. Aku pun masih muda. Kita ini muda, kawan! Perjalanan kita masih lah jauh. Memikirkan hal seperti hanya membuatmu tersendat.

X: Begitu ya? Jujur aku tidak berpikir sampai ke situ. Mungkin saja sih yang kau katakan itu benar adanya.  Tapi...

Y: Hmm... Apa kau lagi merindu seseorang? Mungkin itu masalahnya. Ada lubang kecil namun sekaligus besar di dalam hidupmu. Makanya kau kelihatan sedang tersesat, hal yang mungkin bisa memandumu tidak ada. Matamu jelas sekali menunjukkan kalau kau sedang hilang arah.

X: Ya nggak tau lah. Mungkin saja iya. Atau mungkin cuman diriku saja yang sedang dilanda kebingungan yang berat.

Y: Haha, perasaan kayak gitu sih wajar kali. Setiap manusia pasti pernah mikirin hal serupa.

X: Merasakan hal kayak aku gitu? Bayangin aja, pernah nggak sih kau merasa kalau kamu itu kayak robot? Bangun tidur, kerja, main, pulang ke rumah, lalu tidur lagi. Kegiatan rutin yang kalau dipikir-pikir membosankan begitu. Apa bedanya sama mesin? Aku muak!

Y: Memang sih, aku pun pernah merasakan hal serupa. Tapi ya aku tetap berusaha untuk menikmatinya kok sejauh ini.

X: Ya kalau aku sih  nggak tau lagi mau ngapain. Semuanya sudah mulai terasa hambar. 

Y: Oh, terus gimana tuh?

X: Aku mau mati aja.


Mereka berdua terus berbicara.

Satunya mendengarkan… sementara… seseorang bercerita

Sunyi
Gelap
Di ruang sepi.

Friday, September 13, 2013

Kekuatan Bercerita



Belakangan ini gue lagi menyukai seni bercerita atau story telling. Kenapa? Karena semua orang suka mendengar suatu cerita yang bagus.

Pernah nggak lu mengalami situasi di mana seseorang bercerita, entah itu teman lu, dosen, orang tua, atau orang asing, yang ceritanya membuat lu fokus ke si pencerita dan penasaran akan kelanjutannya? Si pencerita membuat lu ikut membayangkan pengalaman apa yang si pencerita ceritakan dan elu merasa mengalami situasi apapun yang si pencerita itu ucapkan.

Elu asik mendengarkan dia. Lu bukan hanya mendengarkan, tetapi juga menyimak apa yang dia ucapkan. Dan ketika cerita berakhir, lu ingin dia menceritakan hal lain.

Itu lah kehebatan dari story telling yang dibawakan dengan baik dan tepat!

Sebuah cerita memiliki efek yang luar biasa terhadap orang yang mendengarkannya. Kita selalu mudah terpengaruh oleh sebuah cerita, baik melalui novel, film, bahkan lagu.

Kita “belajar” dari cerita.

Kita ikut tersedot masuk ketika mendengarkan sebuah cerita yang dibawakan dengan tepat. Beberapa orang mungkin bilang seperti terhipnotis. Itu mungkin alasannya kenapa sering kali saat kita memanggil teman yang sedang membaca buku, mereka seakan-akan tidak mendengarkan kita sama sekali. Ya, karena mereka sedang terhipnotis oleh cerita itu.

Sama seperti saat lu mendengarkan sebuah cerita bagus dari teman lu, perasaan nggak sabar akan endingnya mengganggu pikiran lo. Ketika ada gangguan seperti dia sedang ditelfon, lu menghembuskan nafas sedikit kecewa dan tidak sabar mendengarkan dia bercerita lagi.

Betapa dahsyat efek dari bercerita! :D

Itu juga nilai plus buat lu para cowok di mata cewek. Cerita lu nggak mesti bagus, cukup cerita sederhana, dan itu saja sudah membuat lo berada di atas para cowok lainnya yang pernah dia temui.

Kenapa? Karena saat lu bercerita dengan bagus, dia merasakan mood dan interest  yang terbawa naik turun. Bahkan ikut secara aktif membayangkan kejadian yang lu ceritakan. Pengalaman yang diceritakan dengan baik memberikan emosi yang timbul tenggelam, emosi yang membuat dia menginginkan lu untuk terus bercerita. Dan perempuan adalah makhluk yang sensitif soal tersentuh dan penasaran, bila kita membicarakan emosi.

Lewat cerita, lu bisa menceritakan diri lu dengan cara yang nggak biasa. Lu bisa mengungkapkan hobi, kepribadian, dan lain-lain dengan cara yang tidak membosankan.

Oke, gue bakal berbagi sedikit cara dan tekhnik story telling yang telah gue pelajari. Berikut sedikit hal yang mesti lu perhatikan ketika lu bercerita.


1. Eye Contact.
Sebuah cerita yang menarik pasti melibatkan kontak mata di dalamnya. Nggak mungkin lu bisa bercerita dengan baik kalau lu nggak menatap mata orang/orang-orang yang lu ajak bercerita. Kenapa? Karena mata adalah jendela jiwa. Mata bisa saja bercerita lebih baik daripada mulut. Karena lu juga mengirimkan emosi dan perasaan lu ketika bercerita lewat mata. Selain itu, tanpa kontak mata, lu juga menunjukkan kalau elu agak minder dan tertutup.


2. Spesifik
Kalau bercerita sebaiknya nggak tanggung-tanggung. Jelaskan secara spesifik, entah itu situasi saat itu, orang yang sedang lu ceritakan, apa yang lu lakukan saat itu. Spesifik. Dan kalau bisa ditambah dengan kata-kata yang tidak biasa seperti: menaklukan, mengembara, petualangan, memperhatikan, dll. Dan bisa juga ditambah bumbu puitis. Jangan takut dibilang norak. Justru kenorakan lu itu yang sedang dia simak dengan asik. :D


3. Gesture dan mimik
Dalam bercerita, lu nggak bisa diam saja atau melipat tangan atau menopang dagu dan hanya menggerakan bibir saja. Lambaian tangan, gerakan kaki, goyangan badan, anggukan kepala, dan ekspresi yang beragam SANGAT MEMBANTU membuat lu semakin disimak. Apa pernah lu mendengarkan orang yang jago bercerita, namun dia hanya diam dan ngomong aja? Nggak kan? Tentu mereka aktif menggerakan anggota badan dan menggunakan mimik muka yang ekspresif dan membuat ceritanya semakin seru.


4. Jeda, efek suara, dan umpatan
Ini semua adalah bumbu-bumbu penyedap yang membuat cerita lu terdengar semakin nyata di pikiran mereka. Efek yang ditimbulkan akan semakin kuat jika elu menambahkan bumbu-bumbu ini.


Gue kasih contoh saja sekarang. Seorang cewek bertanya ke elu “kok lu memar?” dan elu menjelaskan kalau lu baru saja kecelakaan.

Lu bisa saja bilang “kemarin gue kecelakaan di Kalimalang. Diserempet motor. Untung aja gue nggak kenapa-kenapa.”

Atau “Jadi kemarin gue mau ke kampus sekitar jam 2 siang. Dan lu tau dong pasti, jam 2 siang itu... beuh! Cuacanya panas banget! Sebenernya agak males juga sih panas-panasan, soalnya kelenjar keringat di kulit gue lagi malas mengeluarkan keringat berlebih, tapi ya gimana lagi, absen gue udah mentok. Maklum lah anak bandel. Haha. Setelah siap, gue langsung keluar pakai motor gue. Untung aja bensin udah full, jadi gue nggak perlu lama-lama isi bensin lagi. Gila aja, antrian jam segitu kan biasanya panjang, dan gue udah telat pula. Gue kendarain motor gue dengan sedikit ngebut di jalan raya. Dan banyak yang ngebut juga, ya karena sepi. Tiba-tiba... DUAR! Ada motor matik berwarna merah nabrak ban belakang gue dan gue langsung jatoh. Motor yang nyerempet gue nggak kenapa-kenapa, kampretnya lagi, dia langsung kabur. Bangke emang! Untungnya aja, pas motor udah agak oleng, gue langsung lompat dari motor, jadi gue nggak keseret. Dan blablablablablabla”

Coba, mana yang lebih seru?

Sebenarnya setiap orang sudah jago dalam bercerita, namun ada saja hal-hal yang membuat orang itu tidak bisa bercerita ke semua orang (jadi hanya ke beberapa orang saja). Entah karena dia menyukai orang yang diajak bicara, atau karena faktor-faktor internal lainnya. Entah, namun gue sendiri banyak menemukan orang yang saat bercerita terdengar sangat menarik, dan juga ada yang malah terasa kurang, dan gue adalah salah satunya. Tapi gue belajar untuk bisa bercerita dengan baik, dan hasilnya sekarang lumayan bagus.

Kalau gue sendiri yang tidak bisa dan malas bercerita jadi suka bercerita, kenapa elu nggak? :)