Sunday, November 8, 2009

Indomie Afrika? Afrimie?

Di perjalanan gue nyari kitab suci di internet (hayah), gue nemuin artikel menarik dari blog orang.
Di artikel itu dikatakan kalo INDOMIE UDAH DIANGGAP MAKANAN POKOK ORANG AFRIKA KHUSUSNYA DI NIGERIA.
Oke... Jadi, pertanyaan gue selama ini udah terjawab: "Kenapa orang Afrika rambutnya nggak ada yang lurus?"

Di artikel itu disebutin juga kalo Indomie itu bahkan juga udah dianggap buatan orang Afrika sendiri. Tapi, kalo mereka (orang Afrika) bener-bener mikir, mereka pasti mikir, "Kalo Indomie buatan orang Afrika, kata "Indo" itu dari mana?" Ya tapi sayangnya mereka pada males mikir.

Daripada gue lama-lama ngebacot, mending lu baca artikelnya....


"Ok.. ok.. seriously. Orang Nigeria ternyata memang menganggap Indomie sebagai makanan pokok mereka. Ini gara-gara saya menemukan sebuah group diskusi di Facebook yang bertajuk Indomie Noodles Appreciation Society dengan anggota sampai saat saya tulis artikel ini- mencapai lebih dari 7 ribu orang. Awalnya saya pikir ini pasti 'ulah' orang Indonesia. Ternyata salah besar! Orang yang pertama memulai group diskusi ini namanya berbau Afrika. Di dalamnya juga saya menemukan banyak nama-nama Afrika yang usut punya usut ternyata banyak orang Nigeria. Sebagai pencinta Indomie, saya penasaran dan kemudian mencoba mengusut lebih jauh. Hasilnya? Gila.. Menarik banget!

Tidak jelas kapan bermula, tapi dari hasil 'investigasi' saya menemukan bahwa Indomie di Nigeria memang sudah ibarat makanan pokok. Di negara benua hitam itu, Indomie diproduksi oleh salah satu anak perusahaan Indofood yang bernama De-United yang memiliki dua pabrik besar di Nigeria . Perusahaan itu memiliki 300 distributor, 100 ribu retailer dan lebih dari 38 juta konsumen (bahkan ada yang bilang lebih dari 120 juta konsumen), dan konon merupakan investasi Indonesia terbesar di Afrika Barat. Gila!

"Anak: 'Mak, kita dipoto tuh?' Ibu: 'Nggak. Kite cuma figuran. Mienya ini yang dipoto, tong.' Anak: 'Oh. Anyway, kita orang Betawi atau Nigeria nih?'"


Yang menarik adalah, tidak seperti di Singapura atau di negara lain yang menurut saya kurang menghargai mie instan :), orang Nigeria ternyata punya banyak cara menarik untuk mengolah Indomie buatan mer eka . Lihat saja apa yang dilakukan oleh Mbak Atoyebi Ajibola yang suka memasang Indomie nya tanpa kuah ditambah telor rebus dan irisan Plaintain goreng yang saya baru tahu ternyata satu saudara dengan pisang, cuma tidak manis.


Kreasi Orang Nigeria: Mie Instant Rasa Telor Rebus dan Pisang.


Dari diskusi itu juga para penggila Indomie di seluruh bisa bertemu dan bertukar informasi mulai dari cara memasak sampai ke soal harga dan dimana bisa membeli Indomie di berbagai belahan dunia. Misalnya, ada teknik menyiapkan Indomie yang dijuluki 'Patient Cold Cooking', alias merendamnya di air dingin semalaman sampai mekar (males, dasar hehe). Ada yang suka menambahkan daun ketumbar, mayonaise, bahkan madu dan jus apel ke Indomienya dan ada juga yang hanya merendamnya di air panas. Bahkan sampai urusan cabe kering yang ada di dalam paket bumbunya juga didiskusikan di sana.

Yang menarik buat saya adalah karena ada juga semacam adu pendapat antara mer eka yang percaya bahwa Indomie itu asli Nigeria sampai mereka yang ngotot bahwa Indomie itu buatan Indonesia asli. Tak sedikit yang juga memperbandingkan antara Indomie asli Indonesia dengan Indomie Nigeria. Seru! Tapi tidak sampai ganyang-ganyangan kok.. Ini contohnya:

+ WoW.. r u kiddin me? indomie is worldwide now? since when did it happen? but anyway, man, i'm so proud being indonesian!!! Indomie rocks my world!

- You guys are joking right?? Indomie is Definitely in Africa, At least in NIGERIA. Anyone in Nigeria who hasn't had indomie at one point or the other, is not living in nigeria. Simple!!!
+ Ohh and if any of y'all paid attention. You would realise that a Nigerian started this group.
- that's really amazing that they advertise in africa ?!
+ wat u mean they advertise in africa ? indomie is our primary food, for any correct child that grew up in the great country of nigeria?

- Indomie, Indomie selerakuuuu?.Indomie dari dan bagi?..Indonesiaaaa?. (iklan ala Indonesia )

+ Man, truth to live by "anyone, anytime, anywhere? Indomie (iklan ala Nigeria )
Ha ha ha.. Menarik sekali! Untung belum ada orang Jepang yang ikut-ikutan protes karena merasa bahwa penemu mie instan adalah Pak Momofuku Ando (alm) yang orang Jepang itu. Well, selamat datang di era globalisasi!!

DISCLAIMER:Sebelum anda berpikir macam-macam, saya tidak dibayar sepeserpun oleh Indomie. Bahkan wajib dicatat bahwa Indomie dan saudara-saudaranya itu kebanyakan sarat MSG dan Zat Pengawet. Jadi makannya jangan berlebihanlah.. Seperti lirik lagu dangdut: 'Yang syedang-syedang sazaaa?'"

TAMAT.

Dan satu lagi, kalo mereka nganggap Mie instant itu buatan Afrika, mereka pasti mikir, "Kenapa namanya bukan Afrimie?"

TAMAT BAGIAN 2.

Dan satu lagi. Ehhhmmm... Euhmmm.... Errrrr... Ah gue lupa mau nulis apa lagi.

TAMAT YANG TERAKHIR.

Sunday, November 1, 2009

Diare...

Akhir-akhir ini gue baru sembuh dari diare.
Bagi yang belom begitu kenal sama diare, diare itu penyakit berbahaya kedua setelah AIDS (menurut gue). Diare itu menyerang sistem pencernaan, dan mental si korban (untuk nahan malu kalo berak di celana).

Oke, balik lagi ke kasus gue.
Kayak yang gue bilang tadi, gue baru sembuh dari diare akhir-akhir ini. Gue kena diare tepat sehari setelah gue habis mendatangi event Jak-Japan di monas. Gue rasa, gue kena diare gara-gara makanan di sana. Entah karena gue minum Es di sana, atau gara-gara gue makan Takoyaki buatan mereka yang busuk, dan mungkin juga, gue kena diare gara-gara gue minta takoyaki tadi, tapi temen gue nggak ikhlas. Dan waktu gue masih kena diare, rasanya tersiksa banget, Soalnya:

1. Gue jadi sering bolak-balik WC.
Di satu hari, gue bahkan ngitung berapa kali gue bolak-balik WC. Dan angkanya juga ngebuat gue jadi nggak bakal kangen sama WC untuk waktu yang lama... 7 kali. Dan gue rasa itu juga belom diitung sama “Kejadian Nggak Terduga”. Orang rumah aja sampe terus-terusan nanya, “Kenapa Ji?” ke gue. Dan gue jawab, “Kena Diare.” Sambil megangin perut dan ngebuka pintu WC. Lalu dia bilang lagi, “Aduh, kasian,” sambil nunjukkin rasa simpatik lewat muka dia yang sengaja dijelek-jelekin, dan kemudian ketawa ngejek.

2. Gue jadi nggak berani kentut sembarangan.
Kenapa gue jadi takut? Soalnya gue takut, kalo gue kentut nanti, yang keluar bukan Cuma angin doang, tapi beserta “Bonus”. Soalnya orang diare itu kalo boker sama aja kayak cewek lagi kencing. Kotorannya lebih cair daripada mencret (Lupa ngasih tau. Mending, kalo lu masih makan, bacanya udahan dulu). Dan yang gue khawatirin kalo lagi ngentut, tiba-tiba sempak gue basah dan berbau amis gitu. Masih mending kalo gue lagi di rumah, kalo nggak?

Di Warnet. Lagi maen game.

Gue: *Ngentut* Cssshhhhh.
Celana Gue: *Basah karena kena You-Know-What*
Temen #1: Anjrit! Bau busuk apa ini? Ada yang ngentut ya?
Gue: (pura-pura nggak tau) wah iya! Gue sumpahin, yang kentut, lobang pantatnya nambah 3... di kepala!
Temen Gue #2: Walah! Parah ini mah! Ini bukan kentut, tapi ada yang bawa mayat ke sini!
Temen #1: Iya nih! Parah!
Temen #2: Woi panggil ambulan! Gue rasa si Temen #4 gagal jantung, dan si Temen #3 lagi sekarat. Buruan!
Temen #3: (Nggak sadarkan diri) Huah... gue lagi di mana ini? Cahaya putih apa itu? Nek? Nenek? Apakah itu dirimu?
Gue: ...

Dan gara-gara diare ini, aktifitas gue keganggu.
Pernah gue bangun jam setengah 4 Cuma gara-gara mau ke WC doang. Dan di WC itu, gue malah ngebuat kegaduhan, “BRETTT! PROT! BREBET BETTT!” tapi untungnya nggak ada yang bangun.

Setelah gue ngebuat kegaduhan itu, gue balik lagi ke kamar dalam keadaan lemes, terus tidur lagi. Baru tidur beberapa puluh menit, perut udah bunyi lagi. Akhirnya gue ke WC lagi. Dan gitu terus.

Dan bagian terparah waktu gue kena diare: Gue pernah bangun tidur dengan keadaan BOKER DI CELANA!!! Tapi itu dilakukan secara enggak sengaja. Gue ulang... NGGAK SENGAJA!!! Emang sih, nggak separah dan nggak sejijik kedengerannya. Prosesnya nggak kerasa, kotorannya Cuma dikit, dan baunya nggak bau amat (Elu: *Muntah*). Dan itu semua ngebikin gue sedikit jijik... oke, nggak sedikit. Terutama buat lu yang baca, mungkin pandangan elu ke gue bakal berubah 96.5 derajat. Di samping itu, mungkin kalo kolor gue bisa bergerak, dia mungkin udah ngerobek dirinya sendiri. Tapi kenyataannya, kolor yang kena "Bonus" itu, gue buang ke kali. Supaya gue nggak diketawain sama orang rumah. Bisa dijadiin bahan ketawaan di rumah sampe gue lulus kuliah tuh.

Tapi sekarang gue udah sembuh. Elu nggak perlu ngerubah pandangan lu lagi. Sekarang gue udah boker dengan normal, WC gue udah bisa bernafas lega lagi dengan nafas toiletnya, nggak ada lagi teh pait, dan yang paling utama... nggak ada lagi boker di celana... eh... euhm... nggak yakin deh kalo yang terakhir.

Saturday, October 10, 2009

Setahun Yang Lain

Akhirnya Cuma Iseng 2 udah berumur 1 tahun. Mudah-mudahan, blog ini bisa terus aktif sampe ada angka 0 di belakang angka 1 tadi.

Di post gue yang ini, gue cuma mau ngebahas beberapa hal. Jadi, gue nggak ngebahas tentang blog lagi. Soalnya, sebagian besar udah gue omongin di postingan gue sebelum ini.

Beberapa hal yang mau gue omongin yaitu:


1. Gue baru tau, kalo “Mas-mas Berbaju Kuning” pernah ngebaca blog gue.

Yap, Mas-mas Berbaju Kuning yang pernah gue ceritain di postingan yang berjudul “Dikejar Mas-mas” itu, ternyata juga ngebaca blog gue.
Gue tau dari OP Boss Net yang kebetulan kenalan gue. Dia sama gue ngobrol...

Gue: Ngomong nggak penting #1

Dia: Ngomong nggak penting #2

Gue: Ngomong nggak penting #3

Dia: Hahahaha, ngomong nggak penting #4

Gue: Yoi, ngomong nggak penting #5


Sampe di Ngomong nggak penting #214


Dia: Eh, ada salam dari mas-mas salon.

Gue: Ha? Salam gimana maksudnya?

Dia: Iya, begitu deh.

Gue: Oh, lu baca blog gue ya? Kok bisa tau?

Dia: Iya, gue kan bisa liat dari history-nya. Dan si mas salon itu kayaknya juga pernah baca.

Gue: *Terkejut* Ah! Yang bener lu! Kok dia juga bisa tau?

Dia: Beneran.


Di kuping gue tiba-tiba terdengar suara-suara yang biasa nongol di film horor.


Gue: Mati gue!!! Terus kok dia bisa tau?

Dia: Mungkin tau dari temennya.

Gue: Mati lagi gue!!! Kok temennya juga bisa tau?

Dia: Gue kasih tau.

Gue: Kampret! Gue matiin lu!

Dia: Lah, katanya lu mau mati, nggak jadi?

Gue: Sebelumnya, elu gue matiin dulu!


Ya begitu deh. Jadi, sekarang gue jadi ngerasa nggak enak setiap kali gue lewat tuh salon. Setiap kali gue lewat pasti motor gue kebutin karna gue nggak enak. Soalnya, orang yang gue omongin secara membabi buta itu ternyata ngebaca blog gue. Orang yang gue bilang homo dan hampir ngebuat gue jatuh ke lobang hitam itu ternyata ngebaca blog gue. Padahal kan belom tentu dia itu homo... mungkin semi homo.


2. Gue sekarang udah jadi Mahasiswa.
Yak, sodara-sodara. Kalian nggak salah liat. Gue emang udah jadi mahasiswa. Jadi, berhentilah ngegaruk-garuk mata.
Nggak kerasa kalo gue udah jadi mahasiswa. Padahal gue masih ngerasa gue itu masih TK. Ini serius.
Gue masih inget, waktu TK dulu, gue pernah nanya sama temen gue yang namannya Shinta sebuah pertanyaan bego waktu lagi maen bareng, yang kalo pertanyaan itu gue lontarin lagi sekarang, gue nggak bakal pernah dapet cewek.
Pertanyaan itu gue omongin waktu gue sama beberapa temen gue lagi maen di TK. Dan salah satunya, yang bernama Thomas jatoh ke kolam lalu dia ganti baju di tempat.
Gue sama yang lainnya Cuma bisa terpaku di tempat sambil ngeliatin si Thomas ditelanjangin sama pengasuhnya. Kapan lagi ngeliat anak lutung ditelanjangin?
Sementara yang lainnya bengong, dan beberapa ada yang ngiler. Gue malah nanya ke Shinta.


Gue: Shinta, shinta.

Dia: Ada apa?

Gue: Kamu pake celana dalem nggak?


Krik... Krik... Krik.


Semua pengasuh yang di sana Cuma senyum-senyum geli. Sementara si Shinta sama gue bingung apa yang mereka ketawain.

Gue ngebayangin kalo pertanyaan itu gue tanyain ke temen kampus gue. Paling-paling besok gue ijin kuliah (cielah, kuliah) karna gue lagi diopname gara-gara gegar otak.

Oke, balik lagi ke kampus... Eh, gue rasa masalah kampus nggak usah dibahas sekarang ah. Gue harus ngenal lebih dalam dulu, supaya bisa nyeritain dengan jelas dan ancur.

Dan yang terakhir...


3. Gue makin yakin kalo upil itu rasanya asin.
Untuk yang satu ini gue nggak mau cerita... -__-“


Hmmm, gue rasa udah dulu deh untuk kali ini.
(Semoga) ketemu lagi di postingan selanjutnya.

Tuesday, September 1, 2009

Setahun Jadi Blogger... (Plus Tambahan)

Yeeeeaaaah!!!
Gue sekarang udah genap 1 tahun jadi blogger lho. Hmmm... mungkin lebih beberapa hari.

Yak, gue udah setahun jadi blogger. Padahal, perasaan gue, baru kemaren gue kenal yang namanya Mbak Susi...(Iya, emang ngga nyambung. Bahkan gue ngga tau Susi itu siapa).
Seharusnya sih, menurut kalender islam, setahunnya gue itu waktu hari pertama puasa. Waktu gue pertama kali aktif nulis, dan tulisan yang mengawali aktifnya gue nulis ada di blog yang ada di Friendster, di blog Cuma Iseng (doang), dengan postingan pertama yang berjudul “Introduction”.
Tapi, kalo menurut tanggalan (Halah. Tanggalan...) biasa, setahunnya gue itu waktu...

(Ngecek-ngecek)

...Tanggal 30 Agustus kemaren.
Gue masih inget waktu itu gue nulis di warnet yang dijagain operator yang namanya ngga boleh disebut. Kita panggil aja, Operator yang Motornya Ilang dan Karna Ilang, Dia Langsung Berhenti Dari Situ .
Dan gue bahkan masih inget, kalo billing gue waktu itu adalah Rp. 8000 dan gue bayarnya ngutang (Soalnya malemnya mau diterusin main game), dan ngga dibolehin, malah diomelin terus ditimpuk botol Tebs (Cih! Lebay).
Sungguh masa-masa yang... biasa aja.

Selama setahun ini, perubahan tulisan gue keliatan banget. Terutama dari segi penulisannya.

Dulu,gw msh make tlsn yg di sngkat2 ky gn nih..!!
Yg ngebuat mata gw sndiri jd kapalan...?!
Tlsn yg sama sekali nyuekin EYD dan ngga pduli sama tnda baca,,
Bhkan pnlisanya sndiri lbh ancur drpd muka budi anduk,,!?!
Pokoknya tlisn yg ga di anjurn bwt di baca...!..!

Kalo sekarang, tulisan gue udah jauh lebih bagus. Ngga disingkat-singkat kayak dulu.
Sekarang, tulisan gue adalah tulisan yang ngebuat orang buta jadi bisa liat, dan yang bisa liat bisa jadi orang buta... (kalo gue colok).
Tulisan yang udah peduli sama EYD, bahkan udah temenan ama EYD. Dan peduli sama titik dan koma dan tanda baca lainnya, walaupun kadang-kadang bingung harus ditaro dimana.
Tulisan yang udah ganteng deh, sama kayak penulisnya.
Dan tulisan yang dianjurkan sama dokter gigi yang punya gelar sarjana ekonomi.

Dan itu berkat satu tahun tadi...

(Baca: Tadi lu bilang, tanggal 30 Agustus. Tapi kan sekarang bukan tanggal 30.)

Iya, emang bukan.
Waktu tanggal 30 kemaren, di komplek gue terjadi musibah yang menimpa bocah yang bisa dibilang temen (karna dia sering ikut-ikutan) yang ngebikin gue ngga bisa nulis, karena gue harus ngurusin itu bareng temen-temen gue.

Di pagi hari tanggal 30 kemaren, waktu gue lagi duduk-duduk sama temen-temen gue, di pinggir lapangan. Si bocah ini maen-maen di portal sama temen-temennya (udah SMP kok maennya portal...-_-“).
Dan waktu gue lagi asik ngobrolin tentang ekonomi dunia yang terganggu karena krisis global, si bocah dan temennya si bocah itu teriak ke kita, “WOI! Di libanon sekarang udah imsak!”... hehe, ngga deh.
Sebenernya dia teriak, “Woi, tangannya si xXx putus woi!” Gue sama temen-temen gue ngeliat ke arah dia dan malah ketawa. Soalnya dia bilang kalo tangannya putus, sementara yang kita liat, tangannya masih nyambung.
Gue sama temen gue tetep ketawa sementara dia terus teriak, “Beneran ini woi!”

Setelah beberapa menit dia teriak gitu, gue sama satu orang nyamperin dia.
Dan setelah gue udah deket, gue ngeliat kalo bukan tangannya. Tapi jarinya.
Gue ngeliat kalo jari telunjuknya yang di tangan kiri, ruas depannya udah putus ngegantung. Yang nahan jari itu supaya ngegantung, tinggal daging di jarinya yang ngga seberapa.
Dengan spontan gue ngomong ke dia, “Kuku lu bagus. Sering manicure ya?” dan dia ngejawab. “Iya nih. Tapi di bulan ini sih ngga, soalnya lagi sibuk.”... oke, tadi itu ngga terjadi. Yang benernya, gue langsung ngomong ke dia, “Wah! Cepet pulang lu!”

Akhirnya gue nganterin dia pulang, bareng temen gue yang laen.
Selama perjalanan, gue ngomong ke dia, buat ngebikin dia supaya ngga panik, “Astaga! Astaga! Astaga!”
Temen-temen gue yang tadi juga ngetawain dia, langsung nyamperin dan ngerubungin dia untuk ngeliat jarinya.
Mereka udah kayak para fans yang minta foto bareng sama artis idolanya, bedanya, mereka ngeluarin muka enk setelah ngerubungin.
Dan temen-temen gue juga ngga henti-hentinya nenangin si bocah, dengan ngomong, “Astaga! Astaga! Astaga!”
Gue sama mereka udah kayak paduan suara yang Cuma bisa nyanyi “Astaga! Astaga! Astaga” dengan gue di suara bass dan yang laen ada yang sopran dan lainnya.
Waktu dia udah sampe rumah, gue tanya ke temennya. Katanya, jarinya putus gitu, gara-gara kejepit portal. Bener-bener naas.

Gue salut sama tuh anak. Soalnya dia sama sekali ngga nangis atau nunjukkin kalo dia itu panik.
Bahkan waktu dia teriak, “Tangan gue putus wooi!” dia make nada tenang.
Coba kalo gue yang dapet kecelakaan. Gue mah ngga mungkin panik juga, gue juga ngga bakal nangis karena panik, bahkan gue ngga bakal teriak-teriak... soalnya gue udah pasti pingsan duluan sebelum ngelakuin itu.

Waktu malemnya, gue dikasih tau sama bapaknya kalo jarinya udah diamputasi. Soalnya itu udah ngga bisa ditolong lagi... (Baca: Ya namanya juga udah gitu, mana bisa ditolong?!”)
Weits, jangan salah. RT di komplek gue pernah dapet kecelakaan motor, dan jempol kaki kanannya hampir putus. Tapi sekarang, jarinya udah nyatu lagi, walaupun masih di perban karena ngeluarin nanah. Tapi hampir sembuh lah.
Oke, balik lagi ke si bocah. Bapaknya bilang kalo udah ngga bisa ditolong lagi, soalnya tulangnya udah hancur, dan lagi, waktu nyampe di rumah sakit, darah dia udah beku.

Ya mudah-mudahan, si korban dan keluarganya dikasih ketabahan.
Dan semoga si bocah bisa ngeliat semua dari sisi positif. Contohnya: paling ngga, waktu gunting kuku, waktunya jadi kehemat dikit karena ngga perlu motong kuku yang di telunjuk kiri.
Mari sama-sama ucapkan Amin.

AMIN.

C.S: Gue lupa nambahin. Berhubung sekarang gue udah setahun jadi blogger, dan jumlah postingan ada 99. Gue mau bilang kalo gue... Ganteng...(Lho?)
Gue mau ngasih tau, postingan ke 100 nanti ditulis waktu Cuma Iseng 2 ulang tahun juga.
Dan kalo udah 100, gue sih niatnya mau ngga nulis dulu.
Soalnya gue masih libur. (Baca: Lho apa hubungannya?)... Ya, di blog ini kan isinya tentang kejadian sehari-hari gue. Nah, kalo liburan, gue mau nulis apa? Mau nulis gini, "Pagi-pagi gue bangun jam 7. Terus gue makan, nonton, terus tidur lagi sampe sore. Terus makan, nonton, dan tidur lagi sampe pagi."?
Mending kosong kan? Jadi, gue ngga perlu ngejawab pertanyaan, kayak "Mar, blog lu mana nih? Kok ngga ada update?"
Selesai.

Tuesday, August 11, 2009

Siksa pra-Kubur

Gila!
Hari ini gue udah ngerasain yang namanya SISKA NERAKA... lho? Maksud gue... SIKSA NERAKA sebelum gue mati.
Gue udah disiksa karna dosa gue menjadi ganteng, sehingga tadi muka gue dianiaya di suatu tempat yang gue anggep sebagai alam barzah pra-mati.
Tempat itu ditungguin sama 4 wanita iblis, dan di dalamnya ada 4 tempat tidur yang di mata gue lebih mirip peti paku.
Tempat itu adalah tempat perawatan wajah (tempatnya di Giant kalimalang, 2 lantai di bawah XXI. Dan gue lupa namanya)

Gue tau, elu pada mau nanya, ngapain gue ada di tempat kayak gitu... bukan, bukan. Gue bukannya udah jadi cowok metroseksual. Gue tadi dipaksa sama ibu gue buat kesana.

Jadi, kronologinya begini.
Sekitar jam 10, ibu gue tiba-tiba ngajakin buat pergi keluar bareng kakak gue. Padahal, gue belom mandi, belek masih mengerak, dan rambut gue kayak pembalap motor yang ngga make helm. Intinya, masih naas.
Gue mau nolak ajakannya, tapi dipaksa. Akhirnya, gue minta 10 menit buat siap-siap.
Setelah gue udah ganteng (yang sebelumnya padahal udah ganteng juga), kita semua langsung pergi. Di setengah perjalanan, gue tanya sama ibu gue kita semua mau kemana. Dan dia ngejawab kalo pengen makan-makan aja. Ngedenger jawabannya gue santai-santai aja, duduk-duduk setengah tidur di jok mobil.

Singkat kata, setelah sampe di Giant, ibu gue langsung berpatroli nyari food court yang aneh-aneh. Akhirnya ketemulah tempatnya, kalo ngga salah namanya BMK. Ibu gue milih tempat itu Cuma karna 1 hal: Dia ngeliat makanan unik yang namanya Nasi Goreng Burger.
Dia tertarik sama nama tuh makanan, tapi dia sendiri malah mesen Mie Ayam Katsu... (Catatan: Di keluarga gue, orang yang umurnya udah 18+ pasti aneh, kayak bokap contohnya. Keliling tebet buat nyari makanan, akhirnya ke rumah makan padang juga).

Setelah kita semua selesai makan, gue kira kita semua mau balik ke rumah. Tapi ternyata perkiraan gue salah 123,445%.
Setelah ibu gue turun satu lantai, dia malah ngga jalan menuju eskalator, tapi malah ngejauhinnya. Gue mau bilang, “Ma, sejak kapan jadi buta arah?” tapi percuma, ibu gue Cuma bakal ngejawab dengan jawaban yang cerdas “Ha?”.
Ibu gue malah jalan ngejauhin eskalator, dan jalan ke tempat dimana salon pada berjejer.
Bulu idung gue merinding, gue tiba-tiba sesak nafas, badan gue kejang-kejang. Karna gue ngeliat banyak banget banci salon (Catatan: gue trauma sama yang namanya banci salon. Banci salon phobia).
Selagi gue lagi nunjukin gejala epilepsi tadi, ibu gue nunjuk ke salah satu tempat (yang gue lupa namanya) perawatan wajah gitu. Ibu gue masuk, kakak gue masuk, gue (yang ngga mau, tapi dipaksa) masuk.

Setelah semua masuk. Ibu gue langsung bilang, “Buat 3 orang”. Gue ngitung-ngitung ulang, sambil nunjuk-nunjuk, “Satu, dua... lho? Ceweknya Cuma 2. Coba lagi. Satu... Dua... lho? Bener kok Cuma 2 orang. Kok jadi 3?” Selagi gue lagi ngitung-ngitung ngga jelas sendirian. Ibu gue nyuruh gue buat tiduran di salah satu kasur. Ternyata orang ketiga itu adalah GUE.
Gue mau bilang, “Ngga ah ma, mending berdua aja. Tiga itu nomer sial lho. Nanti malah meledak tokonya.” Atau “Ngga ah ma. Mbak-mbaknya jelek!” Tapi akhirnya, gue ngejawab “Ngga ah ma. Harga diri oji bisa jatoh ini!!!”
Tapi ibu gue tetep maksa. Dan gue tetep ngelawan, demi terjaganya harga diri gue ini.

Pada akhirnya, gue ikutan juga. Bukan karna gue mau. Tapi karena gue Cuma coba-coba demi ilmu pengetahuan.
Pada awalnya, muka gue dielus-elus make krim apalahnamanya.
Gue sempet berpikir, “Ngga terlalu buruk ah. Ternyata begini doang” tapi setelah muka gue dielus-elus, muka gue selanjutnya disentuh sama beberapa alat yang gue anggap sebagai alat penyiksa modern. Alat-alat itu adalah:

1. pemijit: Tingkat kelaknatan = 4
2. penyedot: Tingkat kelaknatan = 200
3. penusuk: Tingkat kelaknatan = Alat 1 x Alat 2

Tentu aja bukan nama asli alatnya. Namanya gue samarin, demi kerahasiaan identitas.

Dan tahap-tahap penyiksaannya sebagai berikut:
Pertama-tama. Muka gue dielus make krim tadi, setelah itu muka gue dipijit make alat yang namanya pemijit. Pemberitahuan: Jangan tertipu oleh nama.
Namanya boleh pemijit, tapi dia juga punya kegunaan lain, yaitu menyetrum. Jadi, waktu gue lagi dipijit make tuh alat laknat, alatnya nyetrum-nyetrum sendiri. Hidung gue udah beberapa kali kena setrum sama tuh pemijit. Dan rasanya... ya kayak idung diestrum.

Kedua-dua. Setelah muka gue dipijit, alat penyedot mengisi gilirannya. Kenapa alatnya gue namain penyedot? Soalnya nyedot-nyedot gitu. Emang sih, alat ini ngga begitu sakit. Yang bikin sakit tuh mbak-mbaknya. Dia make tuh alat dengan cara ditekan sekuat tenaga (kalo bisa sampe urat keluar) ke muka sang korban. Jadi, muka gue diteken-teken sama tuh alat. Bayangin aja rasanya, muka lu disedot sambil diteken gila-gilaan. Sakitnya minta ampun. Gue sih lebih milih ditonjokin sama orang sekomplek, dan orangnya itu nenek-nenek semua.

Ketiga-tiga. Setelah muka gue disiksa sedemikian rupa, penderitaan gue ternyata belum berakhir. Waktu gue denger alat penyedotnya udah mati, gue sempet senyum. Tapi ternyata, yang lebih buruk mau dipake. Yaitu Penusuk!
Cara kerjanya ya seperti namanya. Ditusuk ke muka. Ini fungsinya kurang gue mengerti. Buat apa coba muka ditusuk-tusuk? Mungkin mbak-mbaknya sengaja ke gue doang. Mungkin dia lagi ada masalah sama pasangannya, makanya dilampiasin ke pengunjung (Catatan: Jangan ke tempat ini kalo Anda tau kondisi jiwa sang mbak-mbak sedang labil).

Setelah muka gue ditusuk, dicongkel ngga jelas. Muka gue disambut sama si Penyedot lagi dan setelah itu sama si Pemijit. Jadi, totalnya ada 5 sesi, dan di sela-sela setiap sesi, muka gue disiram make alkohol. Mungkin kalo bakteri di kulit wajah gue adalah bakteri pemabuk, dia bakal teriak, “Aaaaaaahhhh, hujan alkohol! Terima kasih Tuhaaaan!”

Jadi, selama setengah jam lebih tadi, gue udah disiksa sedemikian rupa. Dan rasanya SAKITMAMPUS! (namanya juga disiksa, mana ada disiksa enak?)
Gue jadi tambah kagum sama kaum wanita, dan ngaku kalo laki-laki kalah kuat sama kaum mereka. Kenapa? Karena, selain karna mereka bisa kuat melahirkan, untuk tampil cantik aja, mereka harus disiksa kayak gitu.
Mereka hampir tiap minggu suka di-wax (yang belom tau ini kayak gimana rasanya. Bayangin kalo kaki lu yang berbulu dilumurin sama lilin khusus, terus dibalut plester, dan kemudian... SREEKKKK! Euuuhh), lalu mereka juga suka melakukan rutinitas kayak hal diatas, yang gue anggap penyiksaan tadi. Gue ngga kuat ngebayangin kalo gue harus kayak gitu setiap minggu. Gue bisa mati muda.
Kalo gue sih udah ngga mau diperlakukan kayak tadi lagi. Dan demi Tuhan gue MENGUTUK hal-hal semacam itu.

C.S: Kalo mau nyoba, silahkan datang ke Giant, 2 lantai di bawah XXI. Cari aja tempat yang dijaga sama Mbak-mbak yang punya tanduk merah, ekor merah, dan membawa Trisula raksasa.