Thursday, January 12, 2012

Horor

Beberapa waktu lalu, gue sama beberapa temen gue nonton film maraton. Bukan, maraton bukan nama filmnya. Maksud gue nonton film mara... euh, gimana jelasinnya ya? Jadi, gue sama temen-temen gue nonton beberapa film secara terus-menerus. Gimana udah ngerti? Belom? Ya pokoknya gitu lah. Dan genre film yang kami tonton adalah horor.

Temen gue yang ngajakin untuk nonton film secara maraton itu udah menyediakan beberapa film yang menurut dia serem bais (bahasa gaulnya habis... atau kiranya demikian), dan beberapa film yang dia sediakan udah ada yang pernah gue tonton, kayak: Insidious, Hostel, dan The Skeleton Key (yang udah sering ditayangin di TV). Kayaknya, temen gue itu orang yang lebay. Karena, menurut gue, film-film yang dia sediakan nggak begitu horor.

Sama kayak hal apa yang orang anggap lucu, apa yang orang anggap horor juga relatif. Kalau selera humor yang berbeda itu bisa ngebuat suatu humor dapet respon "haha!" atau "hah?", selera horor (aih, apa pula) yang berbeda bisa ngebuat karya (yang seharusnya) seram dapet respon "hiii!" atau "iiih!" atau bahkan "hihi!".

Gue sendiri punya selera horor yang agak menyimpang dari orang normal kebanyakan. Apa yang gue anggap seram, belum tentu kalian anggap seram. Dan begitu juga sebaliknya, apa yang kalian anggap seram, belum tentu gue anggap seram. Bisa saja kalau kalian kabur karena melihat apa yang kalian anggap seram, gue malah diam dan menertawakannya. Tapi semua orang yang baca pernyataan tadi itu pasti tau kalau kalimat itu cuma hiperbola yang dihiperbolakan (alias super lebay), tapi gue yakin kalian tau maksudnya apa. :D

Contoh gampangnya, kalau harus tinggal sendirian di rumah yang luas. Kebanyakan orang mungkin bakal agak takut dan mungkin memanggil temen-temennya. Tapi gue mungkin bakal senang-senang dan pesta pora sendirian. Kalau kebanyakan orang mungkin bakal ketakutan karena mikir di rumah itu banyak setan atau sejenisnya, gue mungkin nggak ketakutan karena mikir di rumah itu dikit setan atau sejenisnya (lho?). Hal itu bukan disebabkan karena gue belum pernah ngalamin kejadian mistis sebelumnya, gue pernah, bahkan beberapa kali!

Peristiwa mistis gue yang pertama gue alami waktu gue masih kelas 2 SD. TV kamar yang tadinya udah gue matiin sebelum keluar, tiba-tiba nyala lagi waktu gue masuk. Oji kecil tentu saja ketakutan... dan kemudian main-main dan ketawa-ketiwi lagi di kamar itu. Lalu, peristiwa mistis gue yang kedua gue alami waktu gue kelas 6 SD. Waktu itu malam Jumat, dan komplek gue mati lampu. Gue ngajak temen-temen gue untuk main tak umpet sampai lampu menyala. Waktu gue mencari tempat sembunya yang bagus, gue melewati sebuah rumah yang udah berbulan-bulan kosong. Dan tebak apa yang terjadi selanjutnya? Ada suara cewek ngomong "Ganteeeng!". Nadanya sama kayak masteng (mas-mas tengil) yang godain "ceweeek" ke setiap cewek yang lewat. Dan ini bukan rekayasa! Temen-temen kecil gue pasti memberi validasi ke pernyataan tadi (soalnya waktu itu langsung gue ceritain berulang-ulang setiap saat.


Lagi ngumpul-ngumpul
Gue: Eh, kemaren gue dipanggil ganteng sama setan!
Temen: Wah, yang bener? Di mana?
Gue: Bener! Jadi, waktu...

Lagi main gundu
Gue: Eh, kemaren gue dipanggil ganteng sama setan!
Temen: Iya, iya, kemaren udah cerita!
Gue: Masa'? Tapi gue dipanggil ganteng sama setan!
Temen: ...

Lagi main kasti
Gue: Eh, kemaren gue dipanggil gant... (PLOK! Bolanya kena muka))


Hal-hal kayak  gitu seharusnya membuat alam bawah sadar gue jadi paranoid banget sama sesuatu yang mistis, dan jadi berpikir yang nggak-nggak setiap saat. Di jalan sepi gue mungkin jadi sering berpikiran "wah, kalau tiba-tiba di depan gue ada pocong jatoh gimana ya? Gue mesti lari atau bantuin dia berdiri lagi?", di ruangan kosong gue jadi mikir "kalau waktu nonton gini tiba-tiba ada setan yang ngawasin di belakang gue gimana ya? *nengok ke belakang* *menghela nafas lega* *nengok ke depan lagi* syukur deh cuma genderuwo.", di WC mungkin gue bakal mikir "kalau waktu gue ngejan begini tiba-tiba ada setan yang narik gue ke bawah gimana ya?". Yaa, tapi itu nggak terjadi, karena... ya karena sulit gue jelasin, kita anggap saja itu takdir. :p

Balik lagi ke selera horor yang berbeda-beda. Hal di atas tadi bukan berarti gue nggak takut sama setan. Gue masih takut, cuman sedikit. Nggak kayak salah satu temen gue yang ngeliat pocong di bioskop saja sampai nangis-nangis. Nah, itu salah satu contoh selera horor yang berbeda-beda. Tapi menurut blog BaM, rasa takut itu sendiri tercipta karena hal yang sama: karena hal mengganggu yang berkontradiksi. Contohnya, kuntilanak yang sudah terkenal di masyarakat Indonesia. Dia berambut panjang dan bergaun putih yang merupakan stereotip dari kecantikan. Tapi di sisi lain, dia bisa terbang, menghilang, bahkan katanya bisa membunuh. 2 hal tersebut membuatnya semakin mengganggu karena membuat otak kita menjadi bingung saat batas antara suatu yang menyenangkan dan menyeramkan terlanggar. Oleh karena itu kita menjadi takut kuntilanak. Atau contoh lainnya pocong. Sebenarnya dia lucu karena berpakaian seperti guling, tapi dengan muka yang sering dibilang hancur dan menyeramkan, kita menjadi semakin terganggu sama bayangan pocong di benak kita.

Gue tadi bilang kalau yang gue anggap horor itu berbeda dari kebanyakan orang. Nah, inilah contoh horor menurut gue.

1. Bencong berotot yang memakai gaun merah dan bulu dadanya keluar-keluar lagi duduk di depan gue.

2. Tuyul lagi main PS

3. Kolong Wewe lagi masak

4. Riasannya Syahrini

Kalau dalam keadaan diam/biasa, mungkin gue nggak bakal ketakutan banget. Tapi karena mereka sedang seperti itu, itu mungkin bakal ngebuat gue teriak. Yaa, karena kontradiksi tadi. Ngomong-ngomong, makeup artist-nya Dorce Gamalama juga termasuk pekerjaan horor. :p


P.S: Ngomong-ngomong, salah satu temen SMA gue baru saja pindah blog. Blog lama dia yang ini pindah ke sini. Di blog dia yang baru, dia baru bikin 2 cerbung yang bagus. Kalau ada waktu, coba masuk ke blog-nya deh. :D

Tuesday, November 1, 2011

Setahun Parkour

Tanggal 30 kemarin adalah setahunnya gue dalam olahraga Parkour. Entah kebetulan atau takdir, di hari itu juga merupakan hari dilaksanakannya event Indonesia Freerun Championship di Epicentrum. Di sana mata gue dimanjakan dengan banyaknya atraksi yang keren. Peserta lompat sana-sini, salto depan-belakang, dan beberapa juga jatuh dengan tingkat cedera yang beragam (ada yang cuma kakinya bengkak sampai ada yang kepalanya bocor). Walaupun hasilnya cukup ironis karena ketiga pemenang dari INDONESIA Freerun Championship adalah orang Malaysia (dan cuma mereka bertiga orang Malaysia yang ikut lomba ke Indonesia dan ketiganya menang!) dan mereka yang akan MEWAKILI Indonesia ke World Championship, tapi gue cukup puas karena di sana gue bisa bertemu para freerunner tingkat dunia: Timothy "Livewire" Shieff dari Storm Freerun (UK), Shaun Wood dan Anan Anwar dari UNSW Parkour (Australi) sekaligus Team Farang (Bangkok), dan gue bisa berkesempatan ngobrol beberapa menit dengan mereka lalu foto bareng. Selain itu gue juga minta mereka menandatangani celana latihan gue. Itu udah kayak hadiah di ulangtahun gue yang pertama di Parkour.

Kiri ke kanan: orang camen dengan Livewire, Shaun Wood dengan orang kikuk, orang idiot dengan Anan Anwar.


Ya, gue udah setahun di olahraga ini. Dalam setahun, gue udah belajar banyak. Bukan dalam segi tekhnik, tapi pemahaman. Cara pandang gue tentang Parkour yang dulu sekarang udah berubah.

Setahun yang lalu, gue bergabung di olahraga ini hanya untuk bisa melakukan gerakan keren. Karena di Parkour, gerakan-gerakannya yang terlihat sangat keren memang bisa membuat orang terkagum-kagum.

Setahun yang lalu, ego gue untuk dapat menguasai gerakan-gerakan yang bisa dibilang tingkat tinggi, sangat besar. Oleh karena itu, gue selalu malas untuk melakukan repetisi untuk gerakan-gerakan yang terlihat sangat simpel dan langsung mencoba gerakan yang tingkat resikonya besar.

Setahun yang lalu, saat gue melihat anak yang baru bergabung dan langsung bisa melakukan gerakan yang belum gue bisa dengan sempurna, gue merasa gue harus bisa melakukan hal yang serupa. Oleh karena itu, tidak jarang gue menganggap olahraga ini sebagai kompetisi, dan menjadikan beberapa teman berlatih gue sebagai rival.

Setahun yang lalu, gue agak malas ikut kelas latihan fisik, karena gue pikir, buat apa gue melatih fisik gue sedemikian rupa? Emangnya itu bisa membantu latihan tekhnik gue? Oleh karena itu, setiap kali jadwal latihan fisik tiba, rasa malas gue mengajak gue untuk bolos latihan fisik.


.........


Namun sekarang, gue bertahan di Parkour karena gue menyukai dan menikmati prosesnya. Gue tahu, untuk bisa melakukan gerakan yang super, prosesnya akan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu, jika gue mau betah dan bertahan di olahraga ini, gue harus bisa menikmati proses perubahan dari diri gue di dalam Parkour ini. Kalau tidak, gue akan sama saja kayak orang yang hanya datang dan pergi di olahraga ini.

Dan sekarang, gue sadar pentingnya kesabaran untuk mencoba tekhnik tertentu di olahraga ini dan sadar atas pentingnya pengulangan dalam melakukan berbagai tekhnik, bahkan yang tersimpel sekalipun.

Dan sekarang, saat gue melihat anak yang baru bergabung langsung bisa melakukan gerakan yang belum gue bisa dengan sempurna, gue merasa kagum, ikut senang untuknya, dan tidak merasa tersaingi. Karena di Parkour tidak ada yang namanya rival, yang ada hanya teman berlatih. Dan di Parkour tidak ada yang namanya kompetisi, karena kami akan maju bersama.

Dan sekarang, gue sangat menyukai latihan fisik dan selalu mengusahakan untuk hadir di setiap minggu sesinya. Karena gue sadar dan tahu betul, bahwa latihan fisik di olahraga ini SANGAT penting. Dengan fisik yang kuat, tekhnik apapun yang mau dipelajari nanti akan lebih mudah. Dan lagi, resiko yang akan diterima setiap kali melakukan suatu gerakan Parkour akan jauh berkurang bahkan hilang bila fisik kita kuat. Oleh karena itu, David Belle (founder Parkour), walaupun sudah profesional dan hampir berkepala lima, dia tetap melatih fisiknya untuk menjadi lebih kuat. Itu juga karena filosofi dari Parkour yang berbunyi "to be strong, to be useful" yang mungkin bermaksud latihan Parkour itu bertujuan untuk menjadi kuat dan akhirnya kekuatan itu bisa berguna, entah untuk diri sendiri atau orang lain.

Setahun yang lalu, gue pikir gue tidak akan bertahan lama di olahraga ini. Namun sekarang, gue udah setahun di Parkour. Sekarang gue berharap kalau gue bisa bertahan lama dan menjadikan ini bukan hanya sebagai hobi. Tapi bagian dari hidup.

Parkour 4 life!

Kami bukan boyband!

Sunday, October 9, 2011

Lagi Lagi Postingan Tak Berjudul

"Mar, kalau doi begini karena gue begitu, itu tandanya apa, Mar? Gue harus gimana?"

"Mar, kan sekarang si X lagi begini, nah gue mesti gimana tuh? Kira-kira dia kenapa?"

"Mar, biar si X suka sama gue gue harus gimana?"

"Mar, bisa diem sebentar nggak sih?"

Itu adalah pertanyaan-pertanyaan bodoh yang akhir-akhir ini sering gue dapet dari orang-orang yang ada di sekitar gue, entah cewek atau cowok, atau keduanya (khusus di pertanyaan terakhir yang biasanya ada di kondisi serius dan gue nyoba bercanda).

Dan biasanya untuk 2 pertanyaan di atas tadi, gue jawab, "Mana gue tau, gue bukan DUKUN!".

Serius, temen-temen gue yang sering nanya hal seputar gebetannya begitu berulang-ulang bikin gue pengen ngelempar mukanya make kolor gue. Ya walaupun gue sering ngasih contoh kenalan sama cewek asing dan ngasih wejangan tentang hal-hal beginian, bukan berarti gue bisa baca pikiran orang atau mengubah perasaan orang. Gue bukan Tuhan.

Gue sering bilang ke temen-temen gue kalau urusan romansa itu adalah game. Kenapa game? Karena layaknya game, ini seharusnya menyenangkan. Dan juga, urusan romansa itu juga ada aturannya yang ngebimbing lu supaya menang. Itu yang gue pelajarin waktu ikut pelatihan Hitman System. Nah, misalnya gebetan yang lu gebet itu cuek, nolak, dll, itu artinya lu salah aturan. Para cowok bingung? Kalau mau tau silahkan ikut pelatihannya sendiri, gue nggak bisa jelasin lengkap. :p

Nah di sini temen-temen gue jelas banget udah ngelakuin kesalahan di game yang lagi dia mainin, yaitu game PDKT. Para temen cowok gue yang PDKT biasanya kesalahannya adalah dia mainin game yang seharusnya dia mainin pada waktu udah jadian, kayak traktir, kasih hadiah, dan sejenisnya, dalam arti lain, ngasih investasi berlebih/nyogok ke cewek itu. Dulu udah pernah gue jelasin di sini kalau itu salah. Dan kesalahan lainnya adalah terlalu nunjukin kalau dia suka sama tuh cewek. Jelas itu nggak terlalu berhasil. Dulu gue juga pernah bilang di sini, cara menarik perhatian cewek adalah dengan nggak nunjukin rasa tertarik itu sendiri. Itu yang bener, dan dijamin berhasil. Paling nggak buat gue ke beberapa gebetan gue.

Dan cewek biasanya kesalahannya adalah gengsi. Cewek sering bilang, "Kok gue harus maju duluan? Gue kan cewek. Biar dia dong yang duluan." Iya, kalau si cowok emang suka ke ceweknya. Nah kalau nggak begitu suka? Cara PDKT cewek yang bener tuh dengan cara nerapin 3 cara. Cara pertama, No Gengsi! Nggak masalah kalau SMS/nelfon duluan, nyapa dan senyumin duluan, dan ajak ngobrol duluan. Bahkan gue denger ada juga cewek yang ngelamar cowoknya duluan. Toh udah jaman modern. Kedua, Be Sweet! Tunjukin ke cowok gebetanlu kalau lu itu cewek yang manis. Ya caranya yang gampang contohnya semangatin dia waktu dia lagi ada ujian atau masalah, nanya kabarnya gimana, atau jenguk dia waktu sakit. Pokoknya tunjukin kalau elu itu cewek yang manis dan dia bakal nyesel kalau nggak dapet elu. Lagipula siapa sih yang nggak suka cewek yang bersikap manis? :p Ketiga, Time Limit! Kasih batas waktu untuk usahalu yang lu lakuin ke dia. Contohnya elu ngelakuin usaha-usaha tadi itu 2 minggu atau lebih. Misalnya udah di batas waktu dan nggak ada kemajuan, ya cari gebetan lain! Kalau bisa yang banyak, supaya misalnya ada yang rese, bisa ditinggal tanpa rasa galau. Gue aja punya punya beberapa dan kami udah lebih dari konteks gebetan. Nah misalnya gue cuma punya satu dan yang udah lebih dari konteks gebetan ini rese, gue mungkin bakal mikir-mikir untuk ninggalin dia, tapi beda ceritanya kalau ada banyak.

Okelah, lanjut ke topik lain. Hal tadi gue tulis buat temen-temen gue yang sering nanya pertanyaan nggak guna tadi. Jadi misalnya dia nanya lagi, gue bisa jawab sekaligus promosi, "Baca astagadragon.blogspot.com!" Haha.

Baru-baru aja gue ngalamin kecelakaan lagi karena latihan parkour. Belum juga sembuh sempurna pergelangan kaki kiri gue karena jatuh dan ngebikin gue ngalamin siksa urut, sekarang gue ngalamin musibah lagi yang ngebikin gue nggak nyaman olahraga karena tulang ekor gue cidera.

Jadi beberapa hari lalu, gue dan beberapa temen gue jamming di atap Metropolitan Mall. Kami lompat sana-sini kayak tupai kesurupan. Banyak orang yang ngerasa aneh ngeliatnya dan banyak juga yang kagum. Sampe akhirnya gue udah mulai capek. Walaupun udah capek, gue masih mau gerak (diliatin banyak orang sih, haha) makanya gue lompat-lompat kecil yang disebut Precision Jump dari pembatas menuju pembatas lain.

Jarak yang gue lompatin nggak begitu jauh kira-kira cuma satu setengah meter. Dan pembatas yang jadi tempat gue mendarak juga nggak begitu kecil, kira-kira sebatu bata. Tapi sialnya agak licin. Nah di situ lah masalahnya.

Otak gue terlalu cerdas untuk mengira pembatas licin itu sangat aman untuk jadi tempat mendarat loncatan. Jadinya, pas gue mendarat, gue terpeleset, dan pantat gue jatuh di pembatas itu. Tulang ekor gue kepentok lumayan keras, rasa sakitnya sampe naik ke kepala, hidung gue langsung berasa nyium bau darah (pernah ditonjok di sekitar hidung? Ya kayak gitu rasanya). Orang-orang yang ngeliat diem, temen gue nyamperin gue dan nanya "kenapa lu, Mar?", dan gue langsung berdiri dan pasang pose keren lalu menjawab "oh, sepatu gue licin." (gue kadang-kadang nyalahin barang atas kebegoan gue sendiri, dulu gue pernah jatuh dari sepeda dan nyalahin sendal gue, padahal nggak ada hubungannya).

Akibat dari cidera itu, gue jadi susah ngapa-ngapain. Mau berdiri dari tempat tidur gue mesti berusaha keras. Waktu lari-lari sakitnya jadi kerasa, waktu sit-up sakitnya jelas banget kerasa, bahkan waktu ngejan pas boker sakitnya berasa. Belom pernah kan denger orang ngejannya lebay pas boker? Ke rumah gue aja pas gue lagi cidera.

Gue cerita ke temen-temen gue tentang cidera ini dan minta saran, tapi jawaban yang gue dapet nggak ada yang bener, bahkan ada yang saranin untuk diurut! Bayangin, gimana urutnya? Pantat gue dipijet-pijet?

Gue: Mbak, mau urut dong bagian tubuh yang cidera.
Dia: Oh silahkan. Apa yang lagi sakit, mas? Tangan? Kaki?
Gue: Tulang ekor.
Dia: Oh, gampang, itu mah tinggal... eh, tulang ekor kan di pantat ya?
Gue: Iya.
Dia: ... Satpaaaam! Tolong bawa orang ini keluaaaar!
Gue: *sambil diseret* eh eh, gue bayar kok nanti! Pantat gue bersih kok! Bersiiiiiiiiiiih... (dan gue ditendang keluar)

Ya intinya, gue nggak bisa ngelakuin beberapa kegiatan, salah satunya olahraga favorit gue selain tidur, sit-up. Yaaa, mungkin saran temen gue tentang pijat pantat itu nggak ada salahnya dicoba, tapi mana ada tempat yang mau. Okelah, daripada ngeluh terus dan nyerocos, mending sekarang gue cari panti pijat yang nyediain jasa pijat pantat. Doain ye! :D

Sunday, August 28, 2011

Tu, Wa, Ga, Pat

Hai!

Udah lama juga gue nggak nyumbang tulisan di sini. Tulisan gue yang terakhir kalo nggak salah Juni kemaren. Berarti gue udah lebih dari SEBULAN nggak nulis! Kangen nggak? Kangen doong? Kangen ya, please kangen doong. Sip, kangen!

Udah lama nggak nulis, dan sekarang gue nyumbang tulisan lagi pas udah mau lebaran.

WOW!

Ya, gue tau gue blogger durhaka. Dan berhubung ada banyak banget yang mau gue tulis tentang ramadhan ini dan juga karena gue terlalu bego untuk mengundur-undur semuanya sampe akhir ramadhan (gue rasa kalo gue undur lagi, postingan ini kesimpen terus sampe gue punya anak nanti), gue rangkum aja apa yang mau gue tulis kemaren-kemaren.

1. Hawa naga
Di bulan puasa ini udah jelas kalo nggak boleh makan dari subuh sampe maghrib. Itu ngebuat mulut kita nggak kemasukan apa-apa kecuali angin sama sikat gigi. Itu juga yang ngebuat mulut jadi bau kutang bekas. Nah, untungnya beberapa temen sepermainan gue mulutnya nggak bau kutang bekas... tapi bau jamban. Gue orangnya agak blak-blakan, jadi gue nyindir si doi. Waktu lagi ngumpul dan bercanda-canda, gue bilang "Lu habis makan celana dalem? Kagak puasa lu?" sambil tutup hidung. Terus dia jawab sambil senyum 3 jari, "nikmatin aja, Ji. Bau surga ini". Kita semua ketawa. Lalu gue respon pernyataan temen gue tadi, "sumpah, kalo surga baunya kayak gitu, gue mending jualan pengharum ruangan di luar gerbangnya, gue udah pasti kaya." Dan kita semua ketawa lagi.

2. Bulan ramadhan bulan yang rawan
Gue jadi ragu sama pernyataan "selama bulan ramadhan, setan dikurung". Kenapa? Buktinya, justru saat ramadhan ini banyak banget tindak kriminal, bahkan katanya meningkat 100%.  Temen gue juga nyicipin dimaling motornya di bulan ramadhan ini. Gara-gara itu, gue juga sempet was-was dan mikir yang nggak-nggak di beberapa kejadian. Dari yang masuk akal sampe yang nggak. Misalnya waktu gue SOTR bareng temen-temen gue dan gue sholat subuh di mesjid terdekat. Motor gue parkir di depan, karena mesjidnya nggak ada parkiran, yang ada cuma lahan kosong di depan tempat sendal. Waktu sholat gue jadi nggak khusu. Orang-orang baca doa, gue mikir "motor gue, motor gue, motor gue". Tau deh tuh  sholat dapet pahala atau kagak. Atau waktu gue lagi latihan parkour di GOR Bekasi. Berhubung kalo malem-malem banyak banci di sana, gue jadi was-was dan mikir nggak-nggak, "Mati gue, kalo gue diculik, disekap, dan diperkosa sama mereka gimana?" Sinting.
Dan waktu awal-awal puasa juga bokap gue ditelfon sama penipu. Tau dong, modus penipuan yang bilang kalo anaknya lagi keringkus pesta narkoba? Nah bokap gue ditelfon begitu. Beliau ditelfon kalo anaknya (yaitu gue) ketangkep pas lagi pesta narkoba. Bokap gue jelas nggak percaya, karena pas bokap gue ngomong ke orang yang katanya gue itu, suaranya beda, dan juga gue kan anak baik-baik (ehem), jadi bokap gue malah ngomong dengan nada nantang dan mojokin ke penipu itu. Nggak lama kemudian, telfon ditutup dan bokap gue langsung nelfon gue pas gue tidur dan cerita ke gue. Coba aja gue yang ditelfon sama tuh penipu, kali aja gue bisa manfaatin.

Dia: Halo, Pak! Anak bapak telah diringkus karena sedang mengadakan pesta narkoba.
Gue: Oh ya? Bagaimana keadaannya? Sekarang sedang berada di polsek mana?
Dia: Sekarang ada belum dimasukan ke polsek, dia sekarang masih bersama kami di lokasi. Kami bisa saja melepaskan dia kalau Anda bersedia mentransfer uang sebesar 4 juta ke kami. Bagaimana?
Gue: Oh, baik, Pak. Tapi semua uang saya semua berada di rumah saya yang di Bekasi. Saldo saya di bank hanya ada dua ratus ribu. Dan sekarang saya ada di Bali. Apakah bapak bisa mentransfer dulu uang sebesar 2 juta untuk ongkos pesawat pulang ke Bekasi? Nanti saya ganti bersama uang tebusan itu, pak.
Dia: Oh ya? Oke-oke. Berapa nomer rekening bapak?
Gue: *nyengir*

3. Alhamdulillah ya, sesuatu!
Pasti kalian pernah liat kalimat kayak di atas. Kalo kalian 4naK GaWl gila yang punya akun Twitter pasti tau, karena itu (katanya) heboh di Twitter. Menurut yang gue tau, kalimat itu adalah kalimat yang awalnya diucapin sama penyanyi ber-makeup tebel (banget-mampus-gila), Syahrini, yang kemudian jadi nge-tren dan akhirnya ditambah-tambah sama "sesuatu". Menurut gue yang lucu ya gimana "sesuatu" itu sekarang jadi kata serbaguna. Bisa diucapin untuk ngegantiin apa aja, karena "alhamdulillah ya, sesuatu" tadi. Sekarang bahasa Indonesia gaul makin ngebingungin lagi. Misalnya aja gue anak yang gaul mampus, mungkin gue bakal ikut ngebingungin temen gue pake "sesuatu" tadi.

Temen: Mar, mau ke mana lu?
Gue: Biasa, mau ke sesuatu.
Temen: Hah?

4. Potongan rambut ala...
Gue bingung, setiap potongan rambut gue pasti selalu dicocok-cocokin sama selebritis. Waktu gue SD, potongan belah tengah yang mirip mas-mas Jawa gue dibilang mirip Andre Stinky. Dan begitu SMP, gue sempet berambut jambul dan dibilang mirip Rifky Balweel. Waktu awal-awal masuk kuliah, gue sempet berambut panjang emo dan dibilang mirip Andika Kangen Band. Akhirnya gue ubah jadi semi belah tengah dan abang gue bilang mirip Charly ST12. Nggak kuat menanggung beban batin karena disamain sama 2 seleb terakhir, rambut gue potong lebih berani jadi kayak yakuza (mohawk sampingnya dan tengahnya dikuncir ke belakang) dan temen gue bilang kayak aktor di film Crow Zero (waktu itu gue bahkan nggak tau apa itu Crow Zero). Dan nggak lama ini gue potong lagi jadi pendek tapi tengah tetep panjang dan gue dibilang kayak Morgan Sm*sh. Harga diri gue terinjak-injak. Bukan hanya terinjak. Ini harga diri gue terinjak terus diludahin, dimutilasi, dimasukin kardus dan dibuang ke kali. Akhirnya belakangan ini gue potong lagi dengan potongan yang hampir sama kayak yang terakhir, bedanya sampingnya gue potong sendiri di salonnya. Gue udah ngerasa pede karena yakin nggak bakal dibilang mirip Morgan lagi. Tapi begitu gue bukber bareng temen SMA, temen gue malah bilang mirip Dicky Sm*sh. Tambah paraaaaaah. Tapi, seenggaknya kebanyakan temen cewek gue bilang kalo lebih suka rambut gue yang ala Dic... ya itu lah! Nggak perlu disebut, intinya respon mereka bagus. Satu-satunya yang bilang jelek cuma bokap gue. (dia bilang, "potong rambut apaan itu? Jelek". Bener-bener bokap yang mendukung)


Hmmm, sebenernya sih masih banyak yang kesimpen di otak gue. Tapi karena hawa jahat dari mulut beberapa temen gue (dan mungkin gue sendiri) yang menyebabkan berjuta-juta sel otak jadi mati, memori tentang apa yang mau gue tulis jadi ilang.

(Baca: Alibi, nyet!)

Yah, apa pun lah. Dan berhubung udah mau lebaran gue mohon maaf kalo misalnya blog ini ada kesalahan kecuali salah eja atau salah penulisan. Dan untuk postingan maaf, bisa lu baca di sini. Maaf juga, gue males nulis ulang. Hehe.

Oke, kayaknya harus selesai di sini. Besok gue harus siap-siap buat mudik dengan terpaksa. Bye!

Monday, June 6, 2011

Jadilah Dirilu yang Terbaik

"Gue mau jadi diri gue sendiri, nggak mau jadi orang lain..."

Gue yakin kalian pernah ngeliat kalimat kayak gitu atau paling nggak sejenis. Kalo gue sih pernah, bahkan sering. Gue ngeliat di status Facebook/Twitter temen-temen gue, dan ada juga yang bilang langsung ke gue kalimat yang intinya "gue mau jadi diri gue sendiri, dan dapet orang yang nerima gue apa adanya."

"Be yourself" kalimat itu keliatan cetek banget menurut gue. Itu juga udah kuno. Bagi gue, ada beberapa alasan kenapa orang bilang "gue mau jadi diri gue sendiri aja. I just wanna be myself."

1. Dia nggak begitu tau apa itu konsep diri sendiri dan jelas nggak kenal dirinya sendiri.
2. Dia bilang kayak gitu untuk alasan pembelaan diri. Padahal alasan sebenernya dia nggak nyaman atau takut kalo harus ngelakuin perubahan.

Kayak yang udah pernah gue bilang dulu, okelah kalo diri lu yang sekarang udah menarik, hiduplu udah seru, dan dikelilingi sama orang-orang yang emang  lu mau mereka untuk ada ngelilingin lu, lu baru bisa bilang "jadi diri sendiri". Tapi kalo kebalikannya? Diri lu yang sekarang kepribadiannya kurang menarik, tiap hari cuma duduk di depan komputer untuk online kalo ada waktu kosong, dan satu-satunya tempat lu punya banyak temen cuma di game online atau media sosial. Lu masih mau megang prinsip "be yourself"? Kalo kasusnya kayak yang terakhir tadi, lu harus belajar untuk berubah!

Manusia sebenernya makhluk pembelajar. Semua yang elu tau itu hasil dari belajar, karena kalo lu nggak belajar, lu nggak bakal tau apa-apa kecuali bernafas, berkedip, buang air, dan tidur. Jadi, apa yang lu tau tentang apa itu agama, persahabatan, pacaran, dan semua hal lainnya, semua itu lu dapet dari luar dirilu!

Simpelnya: apapun kepercayaan, pola pikir, kebiasaan, sifat, pembawaan, dan seluruh sikap elu, semua itu cuma "cetakan" dari budaya, lingkungan sosial, dan pembelajaran elu sendiri. Coba elu nggak lahir di Indonesia, misalnya elu lahir di India, nah udah pasti "diri" elu beda. Kemungkinan elu itu bakalan beragama Hindu, percaya kalo sapi itu binatang keramat, dan elu suka nyanyi sambil nari-nari di bawah hujan kalo lagi ada konflik sama pacar.

Jadi, kalo seluruh “diri” elu tergantung sama budaya, lingkungan dan informasi yang elu terima, lalu siapa diri elu yang sesungguhnya? Apa semua sifat, sikap, dan kebiasaan elu adalah benar-benar dirilu? Kenapa elu bisa bersikap berbeda waktu ada dalam situasi yang berbeda? Apakah  kalimat “just be yourself” masih memiliki makna yang berarti? Dan apakah gue bakal nerusin nanya-nanya sendiri kayak gini?

Coba pikir lagi. Banyak hal yang permanen di dirilu yang ditentuin sama faktor genetik dan kelahiran, kayak bentuk fisik, kecerdasan, dll, tapi di luar itu, masih bisa diubah. Jadi elu nggak dilahirin langsung kayak sekarang. Nggak ada bayi yang dilahirin pemalu, pendiem, minder, atau penakut. Semua bayi jago nangis, teriak, dan mereka nggak kenal rasa malu, minder, atau takut. Kalo sekarang elu ngerasa dirilu yang sekarang itu: pendiem, pemalu, takut ngerubah penampilan, nggak berani ngobrol sama orang baru, maka sebenernya itu bukan dirilu yang sesungguhnya.

Elu jadi pendiem, pemalu, dan minder, karena elu udah belajar, ngelatih, dan terbiasa jadi begitu tanpa elu sadari selama hiduplu. Jadi secara nggak sadar, elu udah jadi orang yang jago dan ahli dalam hal gugup, grogi, dan kaku. Tapi semua itu bisa diubah dengan cara belajar dan ngebiasain diri sama apa yang lu pelajarin. Karena dirilu yang sekarang cuma hasil dari pengaruh budaya, lingkungan sosial dan pembelajaran elu, dan itu berarti sebenarnya “diri” elu nggak permanen dan bisa berubah jadi seperti apapun yang elu inginkan. Elu punya potensi yang luar biasa dan nggak terbatas, tergantung dari apa yang elu terima dan pelajari.

Itu sebabnya gue nggak pernah nyuruh orang untuk pegang prinsip “be yourself” karena itu adalah prinsip kuno dan gue cuma geleng-geleng waktu orang bilang "be yourself". Itu cuma pembenaran diri atas kemalasan dan rasa takut yang menghambat dirilu meraih potensi maksimal. Itu yang ngebikin temen gue cuma minta saran terus-terusan dan nggak pernah dipraktekin, karena ngerasa nggak nyaman dan bersembunyi di balik kalimat, “Menjadi diri sendiri”.

Intinya, prinsip "be yourself" itu jangan lagi ditanamkan di otak kalian. Seharusnya kalian pegang prinsip, "be your best self". Prinsip ini jelas lebih baik daripada yang sebelumnya. Karena elu nggak cuma jadi dirilu sendiri, tapi jadi dirilu sendiri yang terbaik. Kalo elu berpikir kalo elu cuma ingin jadi “diri sendiri apa adanya” dan nggak mau ngelakuin perubahan apapun, maka wajar aja kalo elu cuma dapet “apa adanya” aja dalam kehidupan romansa, pergaulan sosial, karir, akademis,dan semua aspek dalam hiduplu. Dan kalo elu udah jadi dirilu yang terbaik, maka udah pasti elu bakal dapet pasangan, kehidupan romansa dan pergaulan sosial yang terbaik yang layak elu dapatkan. Karena itu memang udah hak elu, bung. Logis kan?

Jadi, sekali lagi, hapus prinsip "be yourself" dari otak lu, pasang prinsip "be your best self" yang jelas bakal ngebuat elu ngerasa kalo elu yang terbaik karena udah ngelakuin yang terbaik ketimbang pasrah tanpa daya, dan layak dapet hidup yang terbaik pula.

And thanks to Hitman System karena udah ngasih inspirasi. :D