Showing posts with label Cerita Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Fiksi. Show all posts

Friday, January 13, 2023

54321

5 bulan lalu dia terombang-ambing. Hilang arah, bingung harus merasa apa, entah. Hidung kirinya tersumbat, membuat nafas yang diambil hanya setengah. Tentu merasa sesak lah.

4 bulan lalu angin lembab di cuaca mendung ia terpa. Dia suka rasanya, karena dia akrab dengan suasananya. Tidak panas, tidak hujan. Di tengah-tengah. Dia hirup dalam-dalam udaranya sampai dia tersadar kalau nafasnya sudah terasa enak pada saat itu, bahkan mungkin lebih lega.

3 minggu lalu tawanya masih menggelegar seakan tidak ada masalah apa pun di hidupnya. Tentu itu hanya caranya menyembunyikan beban yang sebenarnya ada. Dia rasa tak apalah sesekali saja, tapi "sesekali"-nya itu sudah tak terhitung dan menggunung. Ketika sadar, kembali dia membatin "ya sudahlah. Sesekali saja." memang kebiasaan buruk tampaknya.

2 kali dia rasa harus bergegas agar lepas padahal. Dua kali pula dia mendeklarasikannya. Tapi lepas bagaimana dia pun tak tahu. Kebiasaan buruk, pola yang buruk, tampaknya sudah menjadi candu karena terbiasa. Sampai pada akhirnya...

1 jam lalu dia mendapatkan pemicunya. Pecutan keras untuknya berpikir keras kalau memang dia harus lepas agar bebas. Hal yang mendorongnya untuk melakukan kebaikan untuk dirinya, tapi dia sendiri tidak bangga dengannya. Pagi buta adalah saat yang membuatnya bergidik. Bimbang bukan kepalang. Tidak bisa tertidur padahal sebelumnya mata sudah mengajaknya untuk melindur. Perlahan hitam pekat di luar jendela berubah menjadi hitam terang. Dia takut akan pagi, tapi mentari sudah siap masuk dalam hitungan detik. Seraya cahaya matahari menyala, dia kembali membatin, "ya sudahlah..." dan...

5... 4... 3... 2... 1.

Selesai.

Monday, November 21, 2022

Seminggu

"Do you miss mami, Pa?" Tanya si kecil nomor dua, Kinar, ketika kami sedang di ruang tengah sambil duduk santai di atas sofa, menonton serial kartun malam yang biasanya dia tonton bersama mendiang istri saya. Kakaknya, Kinal, terlihat sudah terlelap sejak setengah jam lalu, bahkan ketika acaranya belum mulai.

Hari ketujuh. Seminggu sudah dia pergi meninggalkan kami. Selama itu juga sesak di dada ini masih ada karena merindukannya. Tentunya saya masih tidak siap kehilangan sosok seorang istri, begitu pula dengan anak-anak kami yang tidak siap kehilangan sosok seorang ibu. Tujuh hari tanpa mengecup keningnya. Seminggu tanpa memeluknya di pagi hari atau malam hari, walau sedang ngambek atau kesal. Yah, sebuah kebiasaan yang hilang.

Namanya banyak. Kalina, Lina, Linlin, Meimei, Alin, Mommy Kinar atau Mommy Kinal, Maam Lina, dan favorit saya: sayangku. Dia tidak suka dipanggil demikian, saya pun tahu itu, makanya saya sering memakai panggilan itu untuk menggodanya. "Panggil nama aja sih!" Katanya, tapi saya suka melihat mukanya yang juga tersipu ketika saya panggil demikian, haha.

Dia adalah orang yang sangat enerjik, ceria, dan mempunyai tawa yang menggelegar, saking kerasnya kalian bahkan bisa mendengarkannya dari ujung ruangan suara tertawanya yang biasanya keluar ketika saya sedang menceritakan lelucon yang sebenarnya receh. Oh iya, dia mudah sekali tertawa, dan ketika dia tertawa biasanya akan memukul atau menyubit saya karena gemas. Dia juga orang yang hangat, pintar, lebih suka memeluk ketimbang jabat tangan ketika bertemu kenalan. Dia adalah tipe yang kalau pergi ke suatu acara, akan membuat sekitar menjadi meriah dengan pembawaannya yang positif, celotehannya yang tajam, lucu, atau bahkan pedas. Padahal dia sendiri tidak suka makanan pedas.

Jalan-jalan dan makan enak adalah kegemarannya. "Lessgooo!" Begitu kata dia setiap kali melihat destinasi makanan yang baginya terlihat menarik di Instagram atau Twitter. Walau dia memiliki beberapa masalah kesehatan karena makanan tertentu, tapi dia tidak peduli. Living in that moment and not worrying much for the future. "Kapan lagi kan..." begitu kira-kira kalimat andalannya.

Dia menyayangi orang tuanya, orang tua saya, saudaranya, juga saudara-saudara saya dengan sepenuh hati. Ketika saya bilang sepenuh hati, maka benar-benar sepenuh hati. She would remember the birthdays, mengirim bunga atau hadiah, dan menyiapkan acara khusus untuk mereka walaupun dia sedang tidak begitu sehat pada saat itu. Tapi ya memang begitulah dia, keras kepala, keukeuh, dan memiliki hati yang amat besar walau badannya kecil. Tidak heran kalau banyak yang menyayanginya.

I miss her so much...

So much...

"Do you?" Tanya saya balik ke Kinar. Dia tertawa kecil dan menjawab iya. Saya pun menjelaskan kalau saya pun merindukan ibunya.

"What are you doing when you miss mami, papi?"

"Hmmm... Coba untuk tutup mata, terus kita bisa self-hug yang laaaamaaa. Kemudian bayangin kalau mami juga peluk kita dari surga." jawab saya dengan suara agak bergetar.

"Okay!" Jawab Kinar sambil mengangguk dan tersenyum, kemudian memalingkan kepalanya ke arah televisi untuk lanjut menonton.

Saya mengelus kepalanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan saya mengusap mata supaya airnya tidak jatuh ke pipi.

Tuesday, July 22, 2014

Yak!



Pemuda itu sedang duduk di sebuah ruangan yang hanya berisikan satu meja kayu dan satu kursi kayu. Lantainya pun terbuat dari kayu. Sudah berdencit di sana-sini, menunjukkan bahwa lantai kayu itu sudah tua. Tembok bata yang hanya berhias dua jendela yang menghadap ke arah pegunungan dan satu pintu yang juga terbuat dari kayu, mengelilingi pemuda itu. Di atas meja terdapat sebuah kotak penyimpanan.

“Lo menang deh kayaknya,” ucapnya kepada kotak metal dingin di depannya. “Jadi, mari kita lakukan, kawan.” Dia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya: sebuah gelas, sebotol wine, sebungkus rokok, dan sebuah pistol. Itu semua untuk ritual bunuh dirinya.

Wajahnya tidak tampak depresi seperti orang yang akan bunuh diri. Biasa saja. Bahkan dia sempat senyum sambil mengeluarkan botol wine. “Ini kan perayaan transformasi gue jadi atom dan menyatu sama alam semesta, harusnya gue beli sampanye saja waktu itu.” Pikirnya sambil mengeluarkan botol tadi, dan dia bahkan sempat tertawa ketika dia melihat pelurunya terisi penuh padahal dia hanya butuh satu. Satu tembakan di kepala, dan semua selesai. Kembali lagi, dia tidak terlihat murung. Mungkin dia sudah terlatih menekan emosi negatifnya, jadi dia tetap tidak bisa berekspresi muram, walaupun dia hanya sendiri. Dia terlihat ceria. Namun ada yang bilang orang paling ceria yang kamu temukan biasanya adalah orang yang paling depresi. Mungkin itu benar.


Wine dituangkan ke gelas, dan dia pun menyalakan rokoknya. Tarikan dalam, lalu hembusan ringan, diikuti bibirnya yang menyisip gelas berisi wine. Diulang. Damai.

Ritual itu memang sudah dia siapkan sejak lama ketika dia sudah merasa kalau suatu hari dia tidak kuat. Hidup kadang bisa berat dari berbagai hal, bukan hanya segi finansial saja, namun dengan tahu kita harus hidup saja bisa menjadi beban. Oleh karena itu pemuda itu menyiapkan itu semua dari beberapa tahun lalu, untuk saat di mana dia sudah tidak mampu melawan hidup.

Sebuah pistol untuk membantunya, karena dia pikir itu adalah cara paling mudah walaupun kotor. Sebungkus rokok guna membantunya berpikir secara dalam untuk terakhir kalinya. Dan sebotol wine sebagai minuman terakhir, walaupun dia belum pernah meminumnya, tapi dia sering melihat bagaimana minuman itu didewakan oleh orang-orang. Dia ingin meminum dewa sebelum bertemu dengan dewa. Semua ritual kematiannya dibuat seromantis mungkin, karena dia suka mengistimewakan hal-hal yang sepele, bahkan untuk kematiannya yang sebenarnya tidak akan dia rasakan keistimewaannya. Karena dia akan mati.

Wine sudah habis. Rokoknya hanya dia hisap 2 batang. Jemarinya menghampiri tempat di mana sebuah revolver besi yang dingin berada. Tangannya mengangkat pistolnya. Ringan, pikirnya. Namun saat menarik pelatuk, pisol itu menjadi berat. Tangannya gemetar namun tetap mantap untuk bisa mengarahkan ujungnya ke atas telinga. Wajahnya tersenyum melihat refleksi bayangannya yang terlihat sedang berpose konyol di kaca jendela. Sambil tersenyum, dia mengangkat tangan kirinya ke depan, lalu mengacungkan jari tengah ke arah bayangannya. Sambil berkata “Yak!” dia memicu pelatuknya agar pistolnya meletus. Dan...

Gue terbangun dari mimpi gue hari ini. Dari semua mimpi gue, mungkin mimpi ini yang paling oke. Sayangnya gue kurang bisa mengemasnya dalam cerita yang bagus. Tapi tetap saja ini mimpi yang keren, dan siapa tahu ini juga termasuk ramalan...:p

Friday, May 30, 2014

Aku Tak Mau Pulang...

1. "A-aku tak mau pulang..." ucap seorang pemuda. Tubuhnya gemetar. Langit gelap menunjukkan kalau sudah malam, dan suara rintik hujan dan gemuruh petir menandakan di luar langit sedang menangis. Hujan.

2. "Kamu harus pulang," balas seorang wanita di depannya. Suara kecilnya begitu menenangkan. "Sudah waktunya." terusnya sambil tersenyum. Senyum kecilnya nampak begitu cocok dengan bibirnya yang tipis. Wajahnya ramah dihiasi oleh mata sayunya.

3. Lelaki itu terlihat murung. Dia menunduk, merenung. Terlihat bimbang. Dia memikirkan banyak hal. "Aku tak mau pulang..." katanya.

4. "Tapi kamu sudah dipanggil. Saat kau pulang, kau akan menemui mereka yang sedang menunggumu di sana. Kamu tidak bisa mengabaikannya. Kamu harus pulang." Wanita itu masih berkata dengan nada halus.

5. "T-tapi..." ucapan pemuda itu terhenti. Dia teringat bagaimana dia sangat menyukai tempat itu. Tempat di mana banyak orang yang mencintainya. Tempat di mana dia bisa tertawa tanpa dipaksa. "... aku tak mau pulang."

6. Wanita itu mendekatinya. Wajahnya tepat di depan wajah si pemuda. Tangannya membelai halus wajah pemuda. Mata pemuda itu mulai berkaca-kaca. Wanita itu pun mengatakan, "Pulanglah..."

7. "A-aku..." pemuda itu mulai terisak, namun belum menangis. Tangan wanita itu masih di pipinya.  Dia teringat akan gadis yang disukainya di tempat itu. Kenangan-kenangannya di sana membuat dia tambah enggan untuk pulang. Dia tambah merasa sakit. Sakit yang teramat di bagian dadanya.

8. Tetiba pemuda itu mundur menjauh. Badannya berbalik memunggungi sang wanita. Kali ini dia menangis. Isaknya terdengar tipis. "... tak mau pulang." ucapnya terbata-bata.

9. "Kamu tak perlu ragu. Pulanglah sekarang." Wanita itu mendekat lagi. Tangannya meraih tangan pemuda. Menggenggamnya, dan menariknya agar sang pemuda mendekat ke arah dia.

10. "Relakan apa yang kamu dapat di sini, termasuk kenangan-kenangan bersama mereka. Kau harus pulang. Tempatmu bukan lagi di sini. Aku bisa menjamin, suatu saat, mereka akan kau temui lagi. Pulanglah." Wanita itu mengakhiri ucapannya masih dengan senyumnya yang menenangkan.

11. "Aku tak mau pulang." pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Aku tak mau pulang. Aku tak mau pulang. Aku tak mau pu-" kalimatnya terputus.

12. Wanita itu menghentikan rengekan pemuda itu dengan ciuman di bibir. 5 detik... 10 detik... kemudian semua terlihat gelap.

13. Di suatu kamar rumah sakit, terlihat alat EKG yang menunjukkan garis datar dengan bunyi mendengung yang statis.

14. Sepasang orang tua tiba-tiba menangis. Di sana juga ada seorang gadis yang tampak imut. Dia juga terisak. Mereka menangisi suatu sosok yang terbaring kaku di atas kasur rumah sakit.

15. Dokter datang. Dokter menenangkan mereka. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Dokter itu mulai menutup wajah sang pemuda yang terbaring di atas kasur dengan selimut, dan berkata, "Maaf, anak kalian telah berpulang. Kami turut berduka."


Thursday, May 15, 2014

Sebuah Perjalanan

Gue punya sebuah cerita. Kebetulan cerita ini sudah pernah gue tulis di Twitter, dan kebetulan juga ada yang menyukainya sampai meminta gue membuat cerita sejenis. Tampaknya dia mengerti maksud dari ceritanya. Hehe. Dan akan gue tulis ulang di sini. Cerita ini adalah curhat dan punya arti, tapi terserah kalian mau mengartikan bagaimana lewat metafora yang ada.

Cerita ini mengenai seorang anak yang tinggal di sebuah rumah di daerah terpencil. Anak itu tinggal bersama orangtuanya, di rumah yang nyaman dengan halaman luas. Di pekarangan terlihat beberapa pohon buah yang berbuah sepanjang tahunnya, dan beberapa ternak yang digembalai oleh ibunya. Ada satu larangan utama yang diberikan orangtuanya: jangan pernah pergi keluar dari pagar halaman.

"Kenapa aku tidak boleh keluar dari pagar itu, Mama?" tanya si anak.

Kemudian ibunya menjelaskan alasan mengapa sang anak tidak boleh keluar dari pagar, dengan cerita-cerita seram. Ibunya berkata bahwa kalau si anak keluar, dia akan dimakan oleh serigala atau diculik oleh raksasa. Anak itu pun merasa takut. "Iya, makanya kamu di rumah saja. Di rumah kamu aman." kata ibunya.

Tahun demi tahun berlalu, dan si anak sudah menjadi dewasa tanpa pernah menginjakkan kakinya keluar dari pagar rumahnya. Tinggal dalam kenyamanan. Namun, dari kecil anak itu sering naik ke atas atap rumahnya untuk memandang di kejauhan. Mencoba melihat dunia di luar pagarnya. Sungai mengalir yang berkilauan, gunung-gunung yang menjulang tinggi. Oh, betapa dia sangat ingin melihat dunia di luar rumahnya.

Suatu ketika dia melihat ada seekor burung merpati yang sayapnya patah di halaman rumahnya. Anak itu menghampirinya untuk memberikan pertolongan, tetapi burung itu malah berlari menghindar. Anak itu heran, betapa cepatnya burung itu berlari.

Dia mengejar burung itu dan nekat keluar dari pagar rumahnya. Berlari jauh hingga melewati hutan. Melewati hutan yang gelap dan ditutup oleh lebatnya pepohonan. Lalu dia tersesat. Si anak kemudian menjadi takut, karena teringat tentang cerita ibunya akan raksasa dan serigala. Dia panik. Dia mencari jalan keluar dengan gelisah. Dan karena dia panik dia tidak memperhatikan sekitar, kemudian dia tergelincir dan jatuh terguling-guling sampai terjerembap di suatu tempat yang luas.

Ia membuka matanya dan dia tercengang. Dia melihat padang rumput yang begitu luaaaaaas. Hamparan bunga berwarna-warni sejauh mata memandang, pemandangan terindah yang pernah dia lihat. Tidak ada raksasa maupun serigala di sana. Hanya ada kupu-kupu, dan capung menari ceria dengan kepakan sayapnya di atas bunga. Dan juga hewan-hewan yang sedang santai melahap rumput.

"Inikah dunia luar itu?" pikirnya. Seketika dia langsung antusias untuk menjelajahi dunia luar lebih jauh. Mencari tahu lebih banyak apa saja yang ada di luar pagar rumahnya. Dia sangat bersemangat. Ketika ia sampai rumah dan menceritakan semuanya tentang padang rumput itu, dan bercertia tentang tidak adanya raksasa atau serigala di luar kepada ibunya dengan penuh semangat, ibunya marah dan murka.

"Kenapa kau tidak menuruti perintahku? Kau anak durhaka!" amuk ibunya. Cacian dan bentakan ibunya membuat sang anak merasa bersalah.

Namun dia teringat tentang padang rumput di luar pagar rumahnya, itu membuatnya mampu berdiri dan bertanya kepada ibunya. "Tidak ada raksasa dan serigala di luar sana. Kenapa kau berbohong, Ma?" tanyanya tegas.

Ibunya tertegun kaget. Kemudian ibunya menjelaskan alasan dia berbohong kepada anaknya karena dia mencintainya. Ibunya tidak mau dia keluar dari rumah itu. Ibunya menjelaskan itu sambil menangis. Sang anak tersentuh dan memeluk ibunya. "Aku juga sayang mama, bagaimanapun mama lah yang membesarkan aku." kata anak itu, "Tapi aku ingin pergi keluar melihat dunia. Biarlah aku menjalani hidup yang telah kupilih." lanjutnya.

Seraya melepaskan pelukannya, sang anak bersiap-siap. Dia menyiapkan bekal seperlunya untuk pergi dari rumah itu. Setelah dia siap, dengan penuh tekat dan semangat yang menggebu-gebu, dia meninggalkan rumah. Berat rasanya dia meninggalkan ibunya dan rumah itu, tapi dia juga sadar kalau tidak mungkin menghabiskan seumur hidupnya di sana.

Dengan rasa cemas dan penuh harapan, dia melangkahkan kakinya keluar pagar. Untuk pertama kalinya dia merasa bebas. Senyumnya lebar, menunjukkan bahwa dia sudah siap mencaritahu tentang dunia luar lebih jauh, dan kemudian menyatu dengan luasnya alam semesta menggapai bintang-bintang... dengan bebas.

Keluar dari rumahmu yang nyaman dan temukan takdirmu...


Thursday, May 1, 2014

Hei, Mei!

Heya! Bulan Mei sudah datang lagi! Nggak kerasa sudah Mei, perasaan baru 365 hari lalu bulan Mei, eh sudah Mei lagi.

Bulan Mei adalah bulan yang cukup spesial buat gue. Bulan yang disimbolkan oleh bunga Lily ini merupakan bulan di mana 20 tahun lalu seorang pemuda yang mengannggap dirinya keren lahir. Ya, itu gue. Agak kecewa sih, kenapa gue nggak dilahirin bulan November? Kan kalau gue lahir di bulan November, berarti proses pembuatan gue itu adalah Februari yang notabene adalah bulan cinta, dengan begitu siapa tahu kehidupan percintaan gue lancar. Halah...

Tapi buat sebagian kaum, justru bulan Mei itu adalah bulan cinta. Buat bangsa Viking misalnya. Di dalam mitologi Nordik, bulan Mei merupakan bulan cinta, karena ada sepasang kekasih yang ceritanya melegenda. Akan gue ceritakan sedikit.

Menurut mitologi Nordik, dunia itu terbagi menjadi 9 bagian oleh cabang-cabang pohon Yggdrasil. Salah satunya adalah dunia yang bernama Vanaheim, dunia para Vanir atau dewa-dewi kecil yang tentunya keberadaannya tidak begitu dipedulikan oleh dewa-dewi besar di Asgard sana. Di Vanaheim, ada sepasang kekasih bernama Ruem dan Arfkhol. Mereka adalah pasangan dewa dan dewi yang sangat mesra tiap harinya. Cinta mereka terkenal paling kuat sedunia. Membuat semua dewa menjadi iri karenanya.

Suatu ketika para dewa di Asgard sedang bosan karena semuanya dalam keadaan tenang. Kemudian Loki mengusulkan untuk "bermain" sedikit. Odin bertanya, permainan macam apa yang hendak Loki mainkan. Loki berkata untuk membuat skenario bohong untuk mengetes cinta dewa-dewi yang terkenal kuat itu. Ya, mengetes cinta Arfkhol dan Ruem yang Loki maksudkan. Skenarionya sederhana, Odin datang ke Vanaheim dan bilang kalau sedang ada perang dunia antara Asgard dan Nifleheim (dunia para raksasa bawah tanah), dan butuh bantuan dari beberapa dewa-dewa Vanaheim, termasuk Arfkhol. Lalu setelah beberapa waktu, Odin datang kembali dan mengumumkan bahwa perang sudah dimenangkan namun beberapa Vanir berhasil diculik dan para Jotun (raksasa) di Nifleheim meminta tebusan berupa dewi-dewi dari Vanaheim untuk dijadikan makanan. Tentunya itu semua hanya berpura-pura, sebenarnya semua dewa Vanaheim sudah tahu skenarionya kecuali Arfkhol dan Ruem, dan dewa-dewa yang katanya diculik tersebut sedang di Asgard menikmati jamuan.

Simpel? Ya memang. Namun setelah semua dilakukan, dalam perjalanan ke Asgard mereka disergap oleh para raksasa. Itu adalah kejadian di luar skenario Loki. Odin pun bingung. Akhirnya terjadilah perang kecil yang dimenangkan para dewa. Tidak ada yang luka berat, kecuali Arfkhol yang dadanya terkena gada berduri salah satu raksasa. Odin, Loki, dan Thor menghampiri tubuhnya yang terkapar lemas di daratan. Odin memeluknya, meminta maaf, dan menjelaskan semua niat awalnya kepada Arfkhol. Niat awal melakukan skenario untuk mengetes cinta Arfkhol dan Ruem karena cinta mereka membuat para dewa iri.

Arfkhol tidak marah. Dia justru merasa terhormat bahwa seorang dewa biasa macam dia bisa mendapat perhatian dari dewa tertinggi di Asgard dan membuatnya melakukan itu semua untuk mengetes cinta Arfkhol dan Ruem. Tahu bahwa umurnya tidak akan lama, Arfkhol memberikan sebuah bola bercahaya yang dia bilang bernama Tartarus kepada Odin. Dia meminta Odin untuk memberikannya kepada Ruem dan menyampaikan permintaan maaf Arfkhol karena tidak bisa mencintai Ruem setiap harinya sampai Ruem menemui ajal sesuai janjinya kepada Ruem dulu. Lalu Arfkhol gugur. Untuk pertama kalinya Odin menyesal atas tindakannya. Loki terlihat kecewa, dan Thor membanting palunya karena kesal. Guntur yang hebat tercipta karenanya dan suara dari guntur itu menggelegar sampai ke seluruh dunia.

Singkat cerita, Ruem mendengarkan semuanya dari Odin langsung. Air matanya jatuh ke tanah, namun ia tersenyum. Dia menerima Tartarus milik Arfkhol dan memeluknya erat tanpa menangis, hanya berlinang air mata. Para dewa tahu kalau mereka harus pergi. Ruem butuh waktu sendiri. Semenjak itu Ruem tidak ceria seperti sebelumnya. Dia terlihat murung. Badannya kurus karena rasa sedih telah menghilangkan nafsu makannya.

Tartarus milik Arfkhol tiba-tiba mengeluarkan cahaya biru yang tidak biasanya. Ruem menganggap kalau itu adalah jiwa Arfkhol yang tidak mau melihat Ruem larut dalam kesedihan. Tapi justru itu membuatnya tambah sedih. Ruem menangis di depan bola itu, dan mengeluarkan kekuatannya yang tercipta karena rasa sedih, kekuatan berupa hawa dingin yang bisa dirasakan sampai Asgard. Kemudian setelah 30 hari bola itu bercahaya dan selama itu juga Ruem menangis sambil mengeluarkan kekuatannya, Ruem pun mati.


Dari cerita tersebut, bangsa Viking memberikan sebuah nama kepada satu bintang di angkasa yang hanya terlihat pada bulan Mei. Bintang kecil berwarna biru yang bernama Tartarus. Mereka menganggap itu adalah Tartarus yang sedang bercahaya milik Arfkhol yang tidak ingin melihat Ruem menangis, dan hawa dingin yang mereka rasakan disebabkan oleh Ruem yang sedang menangisi Arfkhol. Oleh karena itu di bulan Mei bangsa Viking suka melihat langit malam kalau sedang cerah, dan berdoa untuk menghormati cinta Arfkhol dan Ruem.

Jadi menurut bangsa Viking, justru bulan Mei lah bulan cinta. Apa? Nggak percaya? Ya wajar, orang gue cuman ngarang! HAHAHAHAHAHAHAHAHA! :))

Yang gue tulis itu sepenuhnya omong kosong yang asal ditulis tanpa berpikir. Lagian gue juga nggak tahu apa pada jaman Viking dulu sudah ada penanggalan masehi atau tidak. Hahahahahahahahahaha.

Okelah, sudah dulu bercelotehnya. Oh,berhubung ini bulan Mei, gue akan berusaha menaikkan frekuensi menulis di blog ini. Kenapa? Ya karena ini bulan spesial, dan juga untuk menghormati Arfkhol dan Ruem. :p

Selamat datang, Mei! :)

Wednesday, April 9, 2014

Roman Semu

Saat itu malam sangat cerah. Tak berawan, sehingga sinar bulan terasa sangat terang menyinari matanya. Tunggu, apa sebaliknya? Matanya yang menyinari rembulan. Ah, aku sudah lupa akan detail macam itu. Yang kuingat pada malam itu hanya hal-hal yang "wah" saja.

Hal-hal "wah" apa yang kumaksud kata kamu? Tentu saja hal-hal yang membuat otakku malas untuk melupakannya. Seperti bagaimana wajahnya bersinar terang. Lalu ditambahkan senyuman kecil yang membuat jantungku berdegup sangat kencang. Kecil memang senyumnya saat itu, namun tidak jarang sesuatu yang kecil mempunyai efek yang luar biasa.

Dan juga rambutnya yang saat itu terlihat bergelombang. Sedikit tidak teratur sih, dan itu membuatnya tak indah. Namun rasa kagumku membuatnya memiliki rambut terindah yang pernah kulihat.

Lalu kulitnya yang halus. Sentuhan kecilnya membuat tubuhku bergidik sedikit, namun getaran luar biasa terjadi di organ lain. Organ lain itu tentu bukan kemaluanku, melainkan jantungku, yang terpaksa melakukan kerja lebih keras dua kali lipat pada malam itu.

Lalu satu lagi hal "wah" yang kuingat, suaranya saat mengucapkan "I love you". Begitu pelan, namun begitu nyaring. Bingung? Aku pun demikian. Aku tidak mengerti apa maksud dari kalimat tadi, namun itulah yang kurasa saat itu.

Kutatap matanya dalam-dalam, dan aku tenggelam di pupilnya. Aku tenggelam di dalam tatapannya. Dan kubalas perlahan di telinganya dengan nada mengejek, "Gak usah sok Inggris. Ngomong-ngomong, aku juga cinta kamu kok."

Aku tertawa  kecil, sedangkan dia cemberut sambil memukul gemas diriku. Haha! Kejadian yang aneh, tetapi pantas, wong aku pun aneh. Heheh.

Kutatap lagi dirinya... Ah bangsat! Malam itu bekerja sama dengan dirinya. Membuat dia sangat terlihat cantik. Dia berkonspirasi dengan malam.

Lalu dia menatap balik diriku. Mata kami bertemu, mereka saling berbicara. Tatapannya mengatakan, "aku sangat lapar akan bibirmu."

Waktu hanya salah satu faktor untuk kepalaku bergerak dengan sendirinya. Dia tak menghentikan, justru bekerjasama.

Dan akhirnya...

... kami berciuman.

Waktu serasa berhenti. Aku pun berharap untuk sang waktu berhenti. Tidak perlu sebentar, lama saja! Agar aku bisa menikmati saat di mana diriku merasakan indahnya alam semesta melalui bibirnya sampai aku bosan.

Tanganku kulingkarkan ke tubuhnya. Lalu kusadar... bahwa aku hanya merangkul udara.

Lho...?

Ada apa?

Mana dia?

Ah, tidak perlu waktu lama sampai aku mengetahui sesuatu. Rupanya otakku mengerjai diriku.

Tidak ada Melody bersama diriku saat itu. Aku sendiri... berhalusinasi.

Kecewa? Iya.

Yaaa, mungkin itu suatu pertanda kalau aku mesti berhenti menjadi wota dan cari pacar.

Hehehe.




P.S: Cerita fiksi ini nggak bermaksud menghina kalangan tertentu lho. :p

Friday, February 7, 2014

Halte




Malam. Sepi. Seorang pemuda jalan perlahan menuju halte yang terletak di pinggir jalan raya. Rokoknya yang terlihat hanya cukup untuk beberapa kali hisap lagi, dia buang ke tempat sampah yang ada di sebelah bangku halte. Kemudian dia duduk dan memainkan telefon genggamnya.

“seharusnya kau matikan dulu sebelum kau buang, Dik,” suara bersumber dari sebelahnya. Pemuda itu menengok ke kanan dan melihat seorang lelaki berumur sekitar 30an duduk di halte yang sama. “bisa terjadi kebakaran, lho.” Lanjutnya. Dia membalas ucapan lelaki itu dengan senyum dan kemudian kembali ke telfon genggamnya.

Tidak ada siapapun di halte itu. Hanya mereka berdua.
 
5 menit. Mereka tak saling bicara. Dia sibuk dengan telefon genggamnya, dan lelaki itu hanya duduk santai menatap jalanan yang dilewati oleh beberapa mobil yang berlalu-lalang. Hal yang wajar dilihat ketika dua orang yang aling tidak mengenal bertemu. Hening.

“Mau dengar sedikit cerita?” lelaki itu memecah kesunyian. Si pemuda menengok. “Di sebrang jalan ini, di tempat yang sama, di bawah lampu yang sama, dan di waktu yang sama setiap tahunnya, mereka selalu bertemu di sini.” Pemuda itu bergeming mendengarkan.

Terlihat lelaki itu agak tersenyum di dalam tatapan kosongnya ke depan. Tampak jelas di wajahnya kalau dia ingin sekali berbagi cerita itu. “ya tidak sering memang. Mereka hanya bertemu setahun sekali. Tidak seperti kalian yang bila tidak bertemu seminggu saja akan blingsatan seperti cacing kepanasan.” Lelaki itu berhenti sebentar demi menengok si pemuda apakah dia memperhatikan atau tidak. “Yaa, tetapi pertemuan yang jarang dilakukan justru yang lebih berarti daripada yang kerap dilakukan, bukan?” lanjut lelaki itu sambil kembali menatap kosong ke depan.

Pemuda itu mengubah fokusnya ke cerita lelaki itu. Telefon genggam yang sedari tadi ia pegang mulai tidak diacuhkannya. Lelaki itu masih  menatap kosong ke arah sebrang jalan. Mulutnya tertutup, sedang memberi jeda akan cerita yang tiba-tiba ia lontarkan.

“Yang laki-laki saya tidak begitu tahu dengan pasti. Namanya Bram, atau Anton, atau Budi, saya pun tak tahu. Tidak penting. Apakah dia pekerja kantoran, jaga warung, atau pengangguran, sayajuga tak tahu. Sekali lagi: tidak penting.”

Pemuda itu menyenderkan badannya ke belakang dan tetap mendengarkan cerita dari orang asing yang baru ia temui tadi.

“Yang penting adalah si perempuan.” Lanjutnya. “Namanya—ah kali ini biarkanlah saya memakai istilah 'tidak penting' semata-mata karena saya tidak ingin berbagi kenangan akan indahnya nama perempuan ini dengan kamu.” Lelaki itu tersenyum.

“Cukup kamu ketahui saja bahwa kami berasal dari kampung yang sama, bahwa kami memiliki tanggal lahir yang sama—meskipun terpaut 10 tahun—dan bahwa saya cukup mengenalnya dengan akrab. Hehe.” Lelaki itu tertawa kecil. Tawa hangat yang biasa orang keluarkan ketika sedang mengenang sesuatu yang manis.

“Cukup akrab sehingga saya tahu bahwa ia punya tahi lalat yang ia sangat benci di bawah payudara kirinya.” Lanjutnya. “Tahi lalat itu ia anggap kurang sedap dipandang, namun ia takut meminta dokter untuk mengangkat tahi lalat itu karena ia berbakat keloid dan ia khawatir keloid yang akan terjadi bila operasi kecil itu dilaksanakan akan terlihat lebih buruk daripada tahi lalat itu sendiri.”

Si pemuda yang sedang asyik mendengarkan tetiba mengeluarkan raut muka bingung. Lelaki itu yang melihatnya kemudian berkata, “Dari mana saya bisa tahu sedetil itu? Mudah saja: kami menikah. Gaya Sitti Nurbaya. Hehe. Hehehe. Hehehehe.” Jelasnya.

Anggukan kecil diberikan pemuda itu untuk menanggapi lelaki yang kemudian kembali menatap kosong ke depan.

“Dan kami berbahagia. Well, paling tidak salah satu dari kami berbahagia. Hehehe.”

“Sampai si bangsat itu datang dan mencoba merenggutnya dari saya. Dia—tunggu. Tunggu sebentar. Sudah waktunyakah?” ceritanya terpotong. Lelaki itu melihat dua sosok yang ada di sebrang jalan. Pemuda itu pun spontan berganti fokus ke arah di mana lelaki itu memandang.

“Ah, ya. Mereka memang tepat waktu. Prosesnya selalu sama, si perempuan tampak dikagetkan sesuatu yang tiba-tiba muncul di belakang si laki-laki, yang kemudian menoleh, berteriak tanpa suara, lalu menghilang. Kemudian si perempuan tampak bertengkar dengan seseorang, meronta, terbanting, lalu diam dan perlahan menghilang pula.” Ujar lelaki itu yang seperti sedang menarasikan kejadian di sebrang jalan yang persis seperti yang dia utarakan.

“Dan mereka akan muncul lagi tahun depan di tanggal yang sama, tempat yang sama dan waktu yang sama.” Lelaki itu menjelaskan. Pemuda itu masih memperhatikan. Dia melihat berubahnya raut wajah lelaki itu menjadi agak sedih.

“Dan pemandangan yang sama akan tampak lagi di hadapan saya. Sudah empatbelas tahun saya selalu melihat peristiwa itu berulang lagi, lagi dan lagi.” Ucap lelaki itu.

“Entah apa yang memaksa saya untuk kembali lagi ke sini empat belas tahun yang lalu. Entah apa yang membuat saya lantas memilih persembunyian ini untuk mengawasi tempat kedua sejoli keparat itu meregang nyawa. Yang jelas, saat pertama kali saya melihat mereka saya merasakan sakit yang amat sangat di dada ini. Kemudian semuanya gelap. Mungkin ini hukuman bagi saya yang telah menghabisi nyawa mereka limabelas tahun yang lalu?” lelaki itu terdiam sebentar, “Entahlah, yang pasti saya berharap belulang saya ditemukan lebih dahulu dari belulang mereka.”

Lalu, seraya sosok lelaki itu menghilang, lelaki itu berkata, “Saya lelah…” dan kemudian dia menghilang.

Pemuda itu tersenyum kecil. Bukan senyum yang biasa, melainkan senyum simpati setelah mendengarkan cerita tadi.

Lalu, sambil mengeluarkan telefon genggam dari sakunya, pemuda itu berucap, “Makasih ceritanya, Mas. Semoga kau tenang setelah curhat tadi.”







Thanks to J. Faiz. :D

Monday, December 23, 2013

Loop

Di suatu tempat di Berlin, seorang anak muda sedang berjalan di pinggiran kota. Langit gelap menunjukkan kalau malam sedang menyelimuti saat itu. Pandangan pemuda itu dihalangi oleh kabut tebal, dan udara dingin menembus jaket kulit yang ia kenakan saat itu.

Anak muda itu terlihat sedang sangat kesal. Ia kesal karena sebelumnya tidak diberikan uang oleh orang tuanya untuk membeli gitar supaya dia bisa belajar dan bermain musik agar para wanita di sekolahnya tertarik kepadanya.

Jalanan saat itu sedang tidak dikerumuni banyak orang. Sepi. Dan juga gelap, kalau saja kalian lupa saat itu sedang malam. Anak muda itu berjalan dengan seluruh emosi negatif terkumpul di kepalanya. Dia sangat ingin sebuah gitar supaya bisa memikat para wanita di sekolahnya, tetapi dia juga tidak memiliki uang. Setan di telinganya membisikan sesuatu agar dirinya bisa menghasilkan uang dengan cepat. "Baiklah, aku akan mencuri uang dari orang saja!" ucapnya dalam hati.

Di jalanan yang sepi, di depannya terlihat orang tua yang sedang berjalan sendiri di pinggir jalan membawa tas di dadanya. Badannya gemuk, dan rambutnya putih. Anak muda itu berasumsi bahwa tas itu berisi barang yang berharga, karena buat apa sampai diepeluknya? Tanpa pikir panjang anak muda itu berniat merampasnya.

Perlahan ia ikuti orang tua itu dari belakang. Di suatu persimpangan, di bawah lampu, orang tua itu berhenti. Anak muda itu melihat kesempatan yang bagus untuk merampas tas tersebut. Dia bergegas menghampiri orang tua itu lalu mulai mencoba meraih tas yang dia pegang.

Orang tua itu kaget. Dia reflek untuk mempererat pegangannya ke tas itu. Lalu orang tua itu melihat wajah dan kedua mata anak muda yang mencoba mengambil tasnya. Orang tua itu terkejut. Dia melonggarkan pegangannya, dan berusaha membuka mulutnya untuk berbicara. "Hei, tungg..." belum selesai orang tua itu menyelesaikan ucapannya, anak muda itu langsung menarik tasnya dengan sekuat tenaga karena pegangannya mulai terasa longgar. Tas dengan gampang anak muda itu ambil, namun orang tua itu tampak terbujur kaku di jalan yang dingin. Dia seperti mati.

Walaupun anak muda itu sedang panik, tetapi dia masih sempat mengecek kondisi orang tua itu. Rupanya memang orang tua itu mati. Kepala belakangnya terbentur tiang lampu yang berada tepat di belakang ketika dia terpeleset jatuh saat tasnya diambil. Anak muda itu ingin berteriak minta tolong, tetapi jalanan sedang sepi. Lagipula kalau dia berteriak minta tolong, dia akan dipenjara. Dia langsung berlari menjauhi mayat orang tua tersebut sambil membawa tas yang dia rampas sebelumnya.

Saat di rumah, anak muda itu menangis, karena memang pada dasarnya anak muda itu adalah anak yang baik-baik. Entah iblis hebat apa yang berhasil menyuruhnya melakukan tindak kriminal. Setelah dia tenang, dia mengecek tas yang berhasil dia rampas. Isinya membuat dia terkejut, karena tas itu berisi uang yang cukup banyak. Melihatnya, anak muda itu tidak lagi merasa senang. Perasaan bersalah membuat obsesinya akan gitar hilang.

Setelah kejadian itu, si anak muda menjadi anak yang pendiam. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah belajar ketimbang bermain di luar bersama temannya. Perasaan bersalah adalah salah satu faktor yang membuat dia malas ke luar rumah. Karena di rumah tidak ada sesuatu untuk dikerjakan, maka dia lebih sering menghabiskan waktu dengan belajar di rumahnya. Uang yang cukup banyak itu pun juga dipakai untuk membeli buku ilmu pengetahuan yang banyak.

Waktu berlalu, karena saat muda dia menghabiskan banyak waktu untuk belajar, ketika dewasa si anak muda telah menjadi seorang ahli fisika. Dia telah menemukan banyak peralatan yang sudah membantu kehidupan manusia di seluruh dunia. Dia menjadi kaya. Dia juga sudah menikah dengan seorang wanita yang tadinya adalah rekan kerjanya. Dia juga memiliki 2 anak yang keduanya adalah laki-laki.

Waktu terus berlalu, anak muda itu sekarang terlihat tua dan gemuk. Sekarang ia terlihat sedang di gudang, baru saja menyelesaikan terobosan paling dahsyat dari seluruh temuannya. Dia baru saja menciptakan mesin waktu.

Setelah beberapa kali percobaan, dia sudah yakin kalau sudah aman untuk digunakan oleh manusia. Dia ingin manusia pertama yang mencoba mesin waktunya adalah dia sendiri. Tetapi dia bingung ingin ke mana. "Masa lalu? Masa depan? Ah... ya! Saat itu..." teriak orang tua tersebut.

Dia berencana kembali ke masa lalu. Tepatnya saat dia muda, saat dia yang muda sedang kesal tidak diberi uang untuk membeli gitar. Ya, malam di mana rasa bersalah mulai menghantuinya dan mengubah seluruh hidupnya. Malam ketika secara tidak sengaja dia membunuh seseorang. "Aku akan menghentikan diriku untuk membunuh orang. Aku akan memberinya uang, agar dia tidak merampok."

Persiapan telah selesai. Orang tua itu memasuki mesin waktu dengan membawa tas berisi uang yang cukup banyak. Lalu dia mengatur mesinnya agar dia bisa kembali ke malam dingin berkabut untuk memberi uang kepada dirinya yang masih muda. Perjalanan melintasi waktu pun terjadidan berhasil.


Orang tua itu sampai ke Berlin di masa lalu. Udaranya sangat dingin dan berkabut. Dia memeluk tasnya agar terasa sedikit hangat. Lalu dia mulai berjalan mencari dirinya yang muda sebelum dia membunuh orang. Dia berjalan dan terus berjalan sampai dia terhenti di persimpangan jalan. Dia berhenti karena dia melihat lampu jalan di persimpangan yang terasa sangat akrab di pikirannya. Dia mencoba mengingat sebentar, kemudian dia sadar bahwa tempat itu adalah tempat di mana dirinya yang muda secara tidak sengaja membunuh orang tua.

Dia merasa ada yang janggal. Lalu dia mencoba berpikir mencari tahu apa yang janggal. Saat dia berpikir, ada seseorang yang mencoba merampas tas yang dia bawa. Orang tua itu dengan sigap memeluknya dengan erat. Kemudian orang tua itu melihat sosok yang mencoba merampas tasnya. Ternyata yang mencoba merampas adalah dirinya yang muda.

Dirinya tersadar bahwa dirinya adalah yang di bunuh saat dia muda. Dia menghentikan perlawanan, dan ingin memberikan tas berisi uang itu langsung agar tidak ada kecelakaan yang terjadi, maka dia mengendorkan pegangannya, dan mencoba berbicara "Hei, tungg..." Namun setelah dilonggarkan, dirinya yang muda malah menariknya dengan paksa sehingga dia terdorong ke belakang dan terpeleset. Kakinya terpeleset, badannya miring, dan dia jatuh sebelum menyelesaikan kata-katanya. Ketika jatuh, kepalanya terbentur tiang di belakangnya dengan keras dan kemudian dia mati.

Tuesday, September 17, 2013

Palin





Di ruang sepi
Gelap
Sunyi

Seseorang bercerita… sementara… satunya mendengarkan. 

Mereka berdua terus berbicara.


X: Aku mau mati aja.

Y: Oh, terus gimana tuh?

X: Ya kalau aku sih  nggak tau lagi mau ngapain. Semuanya sudah mulai terasa hambar. 

Y: Memang sih, aku pun pernah merasakan hal serupa. Tapi ya aku tetap berusaha untuk menikmatinya kok sejauh ini.

X: Merasakan hal kayak aku gitu? Bayangin aja, pernah nggak sih kau merasa kalau kamu itu kayak robot? Bangun tidur, kerja, main, pulang ke rumah, lalu tidur lagi. Kegiatan rutin yang kalau dipikir-pikir membosankan begitu. Apa bedanya sama mesin? Aku muak!

Y: Haha, perasaan kayak gitu sih wajar kali. Setiap manusia pasti pernah mikirin hal serupa.

X: Ya nggak tau lah. Mungkin saja iya. Atau mungkin cuman diriku saja yang sedang dilanda kebingungan yang berat.

Y: Hmm... Apa kau lagi merindu seseorang? Mungkin itu masalahnya. Ada lubang kecil namun sekaligus besar di dalam hidupmu. Makanya kau kelihatan sedang tersesat. Hal yang mungkin bisa memandumu tidak ada. Matamu jelas sekali menunjukkan kalau kau sedang hilang arah.

X: Begitu ya? Jujur aku tidak berpikir sampai ke situ. Mungkin saja sih yang kau katakan itu benar adanya.  Tapi...

Y: Haha! Nggak perlu lah kau memusingkannya. Toh kau ini masih muda. Aku pun masih muda. Kita ini muda, kawan! Perjalanan kita masih lah jauh. Memikirkan hal seperti hanya membuatmu tersendat.

X: Ya mungkin akunya saja ya yang sedang mengalami krisis kehidupan?

Y: Haha! Nggak perlu lah kau memusingkannya. Toh kau ini masih muda. Aku pun masih muda. Kita ini muda, kawan! Perjalanan kita masih lah jauh. Memikirkan hal seperti hanya membuatmu tersendat.

X: Begitu ya? Jujur aku tidak berpikir sampai ke situ. Mungkin saja sih yang kau katakan itu benar adanya.  Tapi...

Y: Hmm... Apa kau lagi merindu seseorang? Mungkin itu masalahnya. Ada lubang kecil namun sekaligus besar di dalam hidupmu. Makanya kau kelihatan sedang tersesat, hal yang mungkin bisa memandumu tidak ada. Matamu jelas sekali menunjukkan kalau kau sedang hilang arah.

X: Ya nggak tau lah. Mungkin saja iya. Atau mungkin cuman diriku saja yang sedang dilanda kebingungan yang berat.

Y: Haha, perasaan kayak gitu sih wajar kali. Setiap manusia pasti pernah mikirin hal serupa.

X: Merasakan hal kayak aku gitu? Bayangin aja, pernah nggak sih kau merasa kalau kamu itu kayak robot? Bangun tidur, kerja, main, pulang ke rumah, lalu tidur lagi. Kegiatan rutin yang kalau dipikir-pikir membosankan begitu. Apa bedanya sama mesin? Aku muak!

Y: Memang sih, aku pun pernah merasakan hal serupa. Tapi ya aku tetap berusaha untuk menikmatinya kok sejauh ini.

X: Ya kalau aku sih  nggak tau lagi mau ngapain. Semuanya sudah mulai terasa hambar. 

Y: Oh, terus gimana tuh?

X: Aku mau mati aja.


Mereka berdua terus berbicara.

Satunya mendengarkan… sementara… seseorang bercerita

Sunyi
Gelap
Di ruang sepi.

Wednesday, May 8, 2013

Dia

"Mmmh... kurang enak nih ini." Keluh seorang wanita berkacamata setelah selesai menyuapkan 1 sendok tiramisu ke mulutnya. "Terus sampai di mana tadi?" tanya si wanita.

Seorang pria berbaju abu-abu yang berada di depannya menghentikan hisapan rokoknya. Asap berhembus bersamaan dengan nafas yang dia buang lewat mulutnya. Bibirnya tersenyum kecil. Kemudian dia mengambil nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya.

"Ya, aku rasa aku jatuh cinta sama dia. Sudah lama banget aku nggak ngerasa kayak gini. Seperti sudah bertahun-tahun aku merasa hampa, dan sekarang dia seperti mengisi kekosongan yang ada di dalam diriku." Dia menunggu reaksi wanita yang terlihat serius mendengarkan. Wanita itu tersenyum kecil.

"Kutahu aku cinta sama dia ketika dia memintaku melihatnya ketika dia sedang latihan bicara." lanjutnya.

"Oh ya?" tanya si wanita.

Pria itu memutar matanya ke atas, berpikir sebentar. "Ya, aku yakin itu adalah momennya. Dia menatap diriku tajam sambil berbicara. Suaranya pelan namun tegas. Tetapi diriku tak ingat apa yang dikatakannya. Karena," pria itu berhenti sejenak, "aku sudah terlanjur hanyut dalam tatapannya."

Wanita itu tertawa kecil dan meminum kopinya karena tampaknya sepiring tiramisu di depannya sudah sepi.   Si pria juga tertawa sambil memicingkan matanya selagi dia mengambil hisapan panjang dari rokoknya. Tidak ada pengunjung yang merasa terganggu. Hanya heran melihat pria itu, namun tidak lama mereka kembali tak acuh.

"Emang kamu suka apanya?" tanya si wanita kembali dengan sedikit antusias dan senyum yang sumringah.

"Maksudmu apa yang kusuka darinya?" tanya si pria. Wanita itu mengangguk kecil sambil menaikan alisnya sedikit.

Sambil tersenyum pria itu berkata, "Aku bisa membuat buku dari menjawab pertanyaanmu, karena begitu banyak hal yang kusuka darinya. Aku suka tatapannya, begitu dalam seakan dia melihat langsung ke jiwaku. Aku suka dengan suaranya, tidak begitu bagus tapi begitu menenangkan. Gayanya berjalan, caranya protes ketika tidak setuju, dan," pria itu melebarkan senyumnya, "gelak tawanya yang aneh. Itu membuatku tersenyum ketika mendengarnya."

Wanita di depannya melipat tangan di meja dan menopang dagu dengan tangan kanannya , bibirnya manyun sambil mendengarkan.

Pria itu melanjutkan ceritanya, "Aku juga suka alisnya yang suka naik dengan sendirinya ketika dia bertanya-tanya atau tersenyum, dan turun dengan otomatis ketika dia sedang kecewa atau cemberut. Dan juga rambut lurusnya, begitu halus sehingga indera perasaku tidak bisa melupakannya."

Pria itu termenung sejenak, "Tapi bukan itu semua yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Aku bahkan tidak tahu apa sebabnya."

Dia berhenti sebentar sementara si wanita bertanya, "Yang bener?"

"Yah, aku yakin aku memang cinta dia, tapi aku juga yakin kalau aku tidak bisa menjelaskan kenapa. Kadang untuk mencintai seseorang kita tidak perlu tahu alasannya. Cukup mencintainya. Agak tolol memang. Tapi bisa saja itu adalah alasan yang terbaik. Aku mencintainya karena aku cinta dia."

Pria itu mengambil satu hisapan terakhir dari rokoknya. Menghembuskannya. Dan mematikannya. Dengan sedikit tertawa dia berkata, "Sok romantis memang kelihatannya. Ya tapi bagaimana lagi? Itu yang aku rasakan saat ini. Lagu-lagu cinta yang kemarin terdengar bodoh sekarang mulai menjadi masuk akal bagiku."

Dia berhenti sejenak, menunduk, kemudian tersenyum lebar sambil berkata, "Semua karena dia..."

"Permisi, Pak, ini bill-nya." Seorang pelayan tiba-tiba muncul dan menaruh selembar kertas di meja pria itu. "Apa ada yang lainnya, Pak?"

Dia menggeleng sedikit. Mengeluarkan dompetnya,  menaruh sejumlah uang, dan memberikannya kepada si pelayan.

"Terima kasih, ya." Ujar pria itu. Lalu sang pria lanjut mengetik sambil berbicara kepada laptop yang menyala di hadapannya.

Di sebrang meja pria itu sekumpulan wanita melirik dengan tatapan heran kepada si pria yang daritadi sedang mengetik sambil bergumam sendiri. Beberapa saat, satu wanita berkacamata di meja itu lalu melanjutkan pembicaraannya dengan temannya. "Jadi, habis dari sini kita ke toko yang kamu bilang tadi ya."





Cerita ini terinspirasi "dan..." ujungpena.blogspot.com.

Tuesday, January 22, 2013

Anak

Kenapa saya tidak bisa mempunyai anak?

Normalnya, saya seharusnya sudah bisa mempunyai buah hati. Tetapi nyatanya sampai sekarang telinga ini masih sepi menunggu suara anak kecil yang berteriak "mama". Bahkan karena keinginan untuk memiliki anak, telinga ini malah semakin tegar karena hinaan orang sekitar dan bentakan suami-suami saya.

Ya, suami-suami

Dalam dekade terakhir, saya sudah menikah sebanyak 3 kali. Dan ketiganya tidak pernah mendapat kesan baik.

Pernikahan pertama adalah dengan seorang pria bernama Jodi. Dia adalah laki-laki yang umurnya sama. Badannya besar berotot; rahangnya kotak; dan tatapannya tajam. Pernikahan dengannya lah yang sangat berkesan. Karena sangat menyakitkan. Hubungan dengannya tidak direstui oleh orangtua saya. Masih teringat di benak wajah seram ayah yang berteriak setelah memukul dan lalu mengusir saya dari rumahnya. Beliau berteriak tidak mau menganggap saya sebagai anaknya lagi apabila menikahi Jodi, sementara ibu hanya duduk di sofa sambil menangis ditemani dua saudaraku. Saya pun mengambil keputusan, lalu meninggalkan mereka tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

Pernikahan dengannya berjalan selama 3 tahun, lalu kami berpisah. Kami bercerai karena ternyata Jodi adalah orang yang kasar. Dia selalu lepas kontrol ketika mabuk. Keadaan semakin parah ketika saya bercerita kepadanya kalau saya ingin mempunyai anak. "Kau itu harus sadar kalau kau itu tak bisa mempunyai anak, goblok! Dan aku tidak ingin mempunyai satupun!" Dan, ya, kami bercerai karena saya sudah tidak tahan akan perlakuan dan ucapan dia.

Pernikahan kedua kulewati bersama Koko. Umurnya 8 tahun lebih tua dari saya. Badannya gemuk; kepalanya botak; dan kulitnya sawo matang. Apa yang membuat saya jatuh hati kepadanya? Selain karena dia bisa menerima saya, dia juga adalah orang yang kelewat ramah. Jika kami bertikai, dia tidak seperti Jodi. Dia lebih tenang. Ya mungkin karena sudah berumur, makanya bisa lebih dewasa dalam menghadapi konflik. Jikalaupun dia marah, satu hal yang membuatku sakit hanyalah kata-kata sarkasnya. Halus, namun sangat tajam. Kalimat sarkasnya memang jarang, namum hal itu berubah ketika saya berbicara mengenai anak. Ucapannya memang terdengar tenang, tapi dari intisari kata-katanya, saya tahu bahwa dia menolaknya. Namun saya tidak akan menyerah untuk membujuknya. Hehe.

Di umur pernikahan kami yang 2 setengah tahun, kami mengalami kecelakaan hebat di pulau Bali ketika sedang berlibur. Dia meninggal di tempat, sedangkan saya di rawat di rumah sakit selama 7 bulan.

Selama 7 bulan di rumah sakit saya menghabiskan waktu dalam kesedihan. Namun ada 1 perawat yang bernama Widodo yang selalu menghibur saya. Agak aneh memang orang bernama Widodo hidup di Bali, tetapi dia juga pernah bercerita kalau dia bukanlah penduduk Bali asli. Dia asli Semarang. Widodo selalu bercerita kalau dia adalah anak peternak bebek di kampungnya, dan bisa dibilang kalau keluarganya termasuk kaya dan terpandang di tempat tinggalnya. Dia pindah ke Bali karena dia memang punya kemauan untuk meninggalkan daerah asalnya. Jiwa berpetualangnya masih sangat besar. Mungkin karena umurnya yang masih muda, lebih muda 4 tahun dari saya, tepatnya.

Kami pun menikah setelah berpacaran selama setahun. Kami bisa dibilang pasangan yang sangat dimabuk asmara di 3 bulan pertama pernikahan kami. Karena suasanya sedang bagus, saya tidak lama-lama mengulur waktu untuk berbicara dengannya tentang memiliki anak. Karena di 2 pernikahan sebelumnya, berbicara tentang "itu" setelah lama berhubungan hanyak berakhir menyakitkan. Lalu coba tebak apa? Dia lalu mengiyakannya! Setelah mendengarkan cerita saya tentang betapa saya sangat ingin memiliki anak, dia lalu mengiyakannya. Bayangkan, betapa bahagianya saya saat itu.

Namun di bulan ke-5 pernikahan kami, dia pergi. Dia dan kekasih barunya pergi ke luar negri.

Kembali, hati ini seperti ditusuk tombak, disayat pisau, lalu diolesi potongan jeruk nipis di bekas sayatannya. Walaupun tidak yakin, saya rasa ini karena masalah anak.

"Cukup dengan permintaan akan anak!" sesal saya.

Saya marah kepada diri saya sendiri. Saya mulai menyalahkan semuanya. Saya menyalahkan Tuhan.

Kalau saja saya tidak ingin memiliki anak; kalau saja saya tidak terus-menerus mengganggu suami-suami saya dengan permintaan aneh yang saya lontarkan; kalau saja saya bisa mengandung; kalau saja saya bukanlah seorang laki-laki. Tentu saja semua itu tidak akan saya alami.

Saturday, May 30, 2009

Cerita Kerudung Merah Full Version: Episode Terakhir

Flashback: Pada cerita sebelumnya, si srigala sudah lumayan stress. Karna ceritanya selalu dipotong saat dia sudah terbiasa. Tapi kali ini dia bisa bernafas lega, karna ini adalah episode terakhir dari cerita ini. Apakah dia akan menjadi legenda? Mari kita baca.


Setelah beberapa lama, dialog si Nenek dan si Srigala sempat terabaikan. Dialog mereka pun berlanjut...

Nenek: stop. Udah dulu yaaa. Gue mau ngumpul-ngumpul sama temen-temen gue neh, Mau Dugem.
Srigala: hah? Dugem?
Nenek: iya. Biasa lah. Anak muda. Kerjaanya Nge-dugeeem terus.
Srigala: Tapi kan, lo nenek-nenek?
Nenek: oh iya, ralat deh. Biasa lah. Nenek-nenek. Kerjaanya Nge-Dugeeem terus.
Srigala: ...
Nenek: Dan nanti kalo si KM dateng, salamin yaa. Bilangin kalo neneknya ga bisa dimakan srigala karna mau nongkrong. Kalo lo mau makan, di lemari ada masakan cina, masakan indonesia, dan masakan gosong. Dah yaaa byeeee.

Lalu si nenek pergi dengan menggunakan mobil Mercedes yang belum dibuat oleh perusahaan mobil yang belum ada di kota yang bahkan belum ada juga (kalo mau ngerti, baca beberapa kali).

Lalu si srigala mencari baju di lemari si nenek untuk menyamar.

Srigala: buset nih nenek-nenek. Baju-bajunya kok ketat semua?!
Nenek: gue pernah jadi SPG (Sales Promotion Girl) cuy.
Srigala: owh. Loh kok, lu bisa ngomong ama gue? Lu kan udah pergi.
Nenek: owh, ini? Biasalah, ba-...
Srigala: ssst, jangan ngomong. Lu mau bilang “baru dikasih kemampuan telepati” kan?”
Nenek: sip.
Srigala: agh, sompret. Kalo cerita ini bersambung lagi, si penulis yang ga adil ini, bakal gue cabik-cabik nih.

Berhubung karna di lemari si nenek ngga ada pakaian yang wajar buat seorang nenek-nenek. Sang srigala itu membuat pakaian yang layak buat seorang nenek, yaitu daster.

Sementara itu si kerudung merah masih berjalan sambil menyanyikan lagu kangen band.

KM: selayaknya enkau tahu...bla..blaaa..blaa..(penulis ga sanggup menulis liriknya lagi karna bisa dihajar oleh para fans dan bisa menyebabkan bertambahnya dosa untuk penulis).

Akhirnya si kerudung merah atau KM sampai di rumah neneknya yang sebenarnya sudah tiada, mari kita bacakan “inalillahi... rojiun”. Tetapi berhubung si nenek belum meninggal mari kita ucapkan “alhamdulillahi.…alamin”. Tetapi karna yang membaca blog ini bukan orang islam saja mari kita ucapkan “lama banget kapan ceritanya mulai lagi”. Dan amin.
Si km pun mengetuk pintu rumah neneknya yang sebenarnya sudah tiada, mari kita bacakan inallilla…(ga usah diterusin,nanti bisa gila lho)

Knok knok…(pintu diketuk)
bzzzzzzzzz…(tetep suara hujan)
Preeeeeet….(penulis ngentut)
Aaaaaaghh…(org disebelah penulis marah-marah)
Teng nong neng…(bintang tamu kita,siapa hayooo)


Bersambung...

Srigala: akhirnya bersambung juga. Mampus lu penulis sialan.
Penulis: eh, eh. Ga jadi deh tanggung.
Srigala: licik. Ngomong-ngomong, kenapa ga make kata “tampan” lagi? Udah sadar?
Penulis Tampan: eh sorry, gue lupa. Untung diingetin kalo gue itu tampan.
Srigala: ah, menyesal gue.
Penulis Tampan: oke deh, lanjut.

Si srigala yg menyamar pun menjawab tapi karna namanya terlalu panjang kita singkat menjadi SSYM.

SSYM: siapa yaaa? (pura pura ga tahu)
KM: ini cucu mu yang cantik dan menawan nek, walau bau ketiaknya seperti nasi padang yang sudah basi dan mulutnya bau cumi panggang asam manis yang dimakan kucing lalu dimuntahkan lalu dimakan lagi dan di keluarkan lewat anus atau BAB, tetapi tetap anggun.

Si SSYM pun berpikir "darimana anggunnya? Dari mendengar deretan baunya aja udah angker". Lalu si SSYM berdoa kepada tuhanya agar diberikan kekuatan untuk menghadapi anak aneh itu. Dia berdoa dengan khusu dan sambil nangis-nangis.

SSYM: masuk nak.

Lalu si srigala berbaring diatas kasur air yang mungkin belum di buat di zaman itu, dan berpura-pura sakit.

KM: halo nenek. Apa kabar? Pasti sakit kan. Sakit apa? Pasti sakit yang aneh-aneh kan..(nanya sendiri kok jawab sendiri). Makanya nenek kalo gaul jangan sama orang yang bla..bla..blaaa.

Lalu si KM pun mulai mengobrol dengan neneknya yang sebenarnya bukan neneknya, tetapi ia pikir itu neneknya, tapi sebenarnya bukan neneknya, tetapi di dalam cerita ini dia itu neneknya, tetapi sebenarnya dia itu adalah serigala yang menyamar menjadi neneknya oleh karna itu ia pikir itu neneknya (bingung kan…?)

SSYM: kamu bawa apa nak? (suara pura pura sakit dengan nada ¼ ketukan)
KM: oh,ini? Tadi aku beli makanan dari KFC(kang maman fried chicken). Kalo burger ini aku beli di McBommal…(apa lagi tuh).
SSYM: oh. Kelihatanya enak tuh dagingmu….(masih ¼ ketukan, dan menahan air liur di mulut juga menahan upil di ujung hidung)
KM: apa nek…?
SSYM: oh, nenek tadi bilang kelihatanya enak tuh makananmu…..(panik)
KM: oh. Aku kira tadi nenek bilang "enak tuh dagingmu". Akhir-akhir ini kupingku mulai ada gangguan.

Lalu si KM memeriksa kupingnya lagi dan kali ini keluar berbagai benda yang tidak jelas seperti PS3, mini mp3, mp4, kipas anging, AC, dan i-pod nano.

KM: waduh, pantes dari tadi gatel-gatel, ada ini toh. Kayanya aku cocok untuk kerja di bidang sulap deh.
SSYM: kayaknya kamu lebih cocok di bidang bisnis deh. Kamu kayaknya cocok buat bikin toko peralatan electronic (sambil kagum dan menahan muntah)

sementara itu si KM mulai curiga, lalu dia berkata….

KM: nek. Kok nenek matanya besar?
SSYM: oh ini? Nenek kemaren habis jadi pemeran pengganti di film ROCKY BALBOA, dan nenek tanding tinju sama si Stalone. Makanya mata nenek bengkak..
KM: nenek menang?
SSYM: apa peduli mu? Lebih baik lanjut ke pertanyaan yang seharusnya.
KM: iya iya. Kok hidung nenek juga besar?
SSYM: oh. Ini cuma jerawat kok.
KM: terus nama jaringan kulit yg mengeluarkan keringat apa?
SSYM: oh ituu…..

Semakin lama pertanyaan KM pun mulai ilmiah, ia bertanya kepada neneknya yang sebenarnya bukan neneknya. Mulai dari hal yang mencurigakan sampai ke pertanyaan biologi, MTK, fisika, penjaskes, kesenian, dan kimia. Tetapi karna SSYM adalah lulusan S2 dari UYSTA..(Universitas Yang Tidak Pernah Ada), maka ia pun menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan santai-santai saja.
pertanyaan pun berlanjut.

KM: terus, berapa mol dari 100ml larutan HCl?
SSYM: wahai cucuku yang mempunyai bau yang angker. Lebih baik kita teruskan pertanyaan-pertanyaan mengenai diriku yang mencurigakan saja. Agar ceritanya berlanjut.
KM: oh iya.

Lalu si KM bertanya lagi…

KM: kok nenek matanya besar?
SSYM: tadi kan udah.
KM: oh ya? Terus kenapa hidung nenek besar?
SSYM: tadi juga udah.
KM: terus yg belom apa?
SSYM: menurut dongengnya sih, telinga dan gigi doang. Gimana sih?!. Ga pernah baca cerita si kerudung merah ya?! (marah marah)
KM: maaf, maaf. Gue males beli bukunya, lagian kan Gramedia masih belom di buat. Hmmmmm, Kenapa nenek giginya besar besar?
SSYM: begini ya kerudung merah. Jika kamu melihat orang, jangan dari fisiknya. Tetapi lihatlah dari hatinya.

KM: oh. Begituuu.

Lalu si KM pergi ke dapur untuk mengambil pisau, lalu kembali lagi ke SSYM

KM: sini nek, aku mau lihat hatinya nenek.

Lalu si SSYM pun panik dan berlari dari Kerudung merah. Tapi si KM mengejar si SSYM lalu terjadilah kejar-kejaran yang diiringi musik india.
Setelah beberapa lama yang darimana beberapa itu adalah waktunya, si SSYM pun mulai kelelahan dan akhirnya dia pasrah akan nasibnya yang akan di bunuh oleh mangsanya.

Maaf, pada bagian ini tidak bisa dijelaskan. Karna akan ada pembunuhan kejam yang sangat kejam ditambah sedikit kejam. Karna si kerudung merah menusuk hati sang srigala lalu mengeluarkan hatinya yang berlumuran darah, ditambah lendir-lendir dan sirup tanpa pemanis buatan. Kok malah di jelasin sih? Sizenya digedein dan pake ditebelin segala lagi.
Lalu setelah beberapa lama yang dimana beberapa itu berapa lama, ia pun sadar yang ia bunuh adalah srigala jahat yang sebenarnya adalah srigala yg sangat jahat. Yang darimana bagaimana dimananya dia itu bukanlah neneknya melainkan serigala jahat buron yg telah diburu oleh F.B.I, C.I.A, D.E.A, L.A.P.D, B.C.L, I.K.J, O.M.G, B.A.B, B.E.G.O, tentara gabungan, hansip setempat, dan bar waria.
Lalu si KM pun menjadi terkenal dan masuk beberapa infotaiment seperti buser, sergap... Eh itu bukan infotaiment ya? Maksud saya seperti insert, format, file, silet, golok, clurit, keris, DLL.
Dan seperti inilah bunyi dari berita itu.

"Selamat pagi pemirsa atau siang pemirsa.
Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan terbunuhnya srigala jahat oleh kerudung merah yang namanya tidak ingin disebutkan.
Menurut kerudung merah yang berumur 14 tahun dan tinggi 165cm dan beratnya 43 kg yang tinggal di belakang gunung krakatau no.1½, yang tidak ingin disebutkan identitasnya.
Dia membunuh srigala itu dengan unsur sengaja, tidak sengaja, intrinsik, dan ekstirnsik.
Dia hanya mengikuti naluri kekerudunganya yg di dorong oleh kemampuan otak yg sedikit.
Tapi karena si kerudung merah tidak ingin disebutkan identitasnya.
Maka kami tidak memberi tahu kalau nama dia adalah kerudung merah.
Dan kami tidak memberi tahu kalau dia tinggal di belakang gunung krakatau no.1½.
Dan kami juga tidak memberi tahu kalau dia adalah anak dari kerudung biru dan sarung putih.
Dan demikianlah sebilas info langsung dari studio bekas krans TV."


Dari berita-berita sampah itulah kerudung merah menjadi terkenal dan dikenal tanpa mengenalkan diri kepada orang yang tidak dikenalnya.
Tetapi setelah beberapa abad yang ditambah beberapa tahun sedikit.
Cerita kerudung merah mulai di ubah-ubah oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan muka-muka yang tidak dirawat.
Oleh karna itu saya sebagai penulis dan sebagai orang GANTENG. Saya ulangi. GANTENG.
Menceritakan ulang cerita kerudung merah yang asli, bukan bajakan, dan tanpa bahan pengawet, lewat blog ini.
Jika kalian mempunya permintaan seperti meminta cerita baru, meminta tanda tangan, tanda kaki, dan tanda lahir atau meminta souvenir.
Kalian tinggal teriakan saja nama saya 3 kali. Percayalah, orang di sekitar anda akan mengira anda kurang waras atau sableng atau gila atau sinting atau apa apa saja yg aneh……DIJAMIN…!!!

Dan 1 lagi permintaan saya sebagai penulis dan sebagai orang GANTENG. Saya ulangi. GANTENG.
Ceritakanlah cerita ini kepada orang-orang terdekat anda. Karna jika anda menceritakan kepada orang-orang yang jauh dari anda, pasti akan susah karna harus teriak-teriak.
Dan bilang cerita ini dibuat oleh saya. Saya kan mau terkenal juga…^^
DAH YAAA….
MAKASI UDAH BACA.

DAN DEMIKIANLAH CERITA KERUDUNG MERAH DINYATAKAN LULUS SENSOR DAN TAMAT DAN FIN DAN THE END DAN TERSERAHLAH.
DAN PENULIS JUGA MAU MEMINTA MAAF BILA DI DALAM CERITA INI TERDAPAT NAMA, TEMPAT, JULUKAN ATAU NAMA BAND YANG SAMA.SEMUA DILAKUKAN DENGAN SENGAJA KOK…..
DOMO ARIGATO.

Ditulis Ulang : 29-05-2009

Akhirnya selesai juga.
Dari cerita yang udah gue modifikasi sedikit ini, bisa ketauan kan perubahan dari tulisan gue?
Coba deh, lu bandingin cerita Kerudung merah dulu sama yang sekarang.
Dari segi tulisan dan leluconya udah beda banget kan?
Kalo yang dulu, gue masih suka MAKSA banget dalam merangkai kata untuk jadi joke. Kalo sekarang gue lebih mengalir, ngga Maksa, dan lebih... hmmm... ya ngga maksa. Itu bisa diliat dari tambah-tambahan yang ada di cerita ini.
Itu karna gue sempet terpengaruh sama penulis yang namanya Isman (yang nulis buku parodi film seru).
Di buku itu, lelucon-leluconya dia ngga ada yang maksa, tapi efeknya keren. Oleh karna itu gue jadi terpengeruh sama joke dia, dan gue jadi berubah.
Tapi, gue ngga tau deh, perubahan gue ini jadi lebih lucu atau lebih garing atau datar.
Jadi, tolong kasih tau yaaaa...^^