Showing posts with label Cuma Iseng. Show all posts
Showing posts with label Cuma Iseng. Show all posts

Monday, November 24, 2025

Sia-Sia, Sia

Menyukai atau menginginkan suatu hal yang kita tahu tidak bisa kita dapatkan adalah sebuah sakit hati yang perlahan tapi pasti akan menjadi halusinasi. Tidak sehat untuk batin sih merupakan hal yang terjamin, tapi beberapa orang tampaknya tidak pernah keberatan akan hal itu.

Hal yang gue sadari belakangan adalah... ternyata gue salah satunya.

Gue tidak akan menjelaskan secara panjang lebar tentang apa yang gue sukai atau inginkan, tapi gue mau fokus ke rasa yang secara konsisten dirasakan ketika ada di titik tersebut. Rasa penuh harap ketika melihat secercah cahaya di ujung terowongan gelap yang kita tahu tidak akan pernah selesai kita lewati. Terus berlari ke ujung dengan senyum di muka sampai akhirnya kehabisan tenaga, kemudian langkah melambat karena sadar bahwa usaha yang dilakukan adalah sia-sia. Tidak berhenti, hanya makin lambat. Karena cahayanya masih ada di ujung sana. Ketika energi sudah kembali, lanjut berlari.

Kata kuncinya adalah harapan. Harapan yang diiringi bayangan di kepala sendiri bahwa suatu saat semuanya akan terijabah. "Bisa koook!" adalah dua kata pelipur lara yang jadi pembelaan ketika sudah mulai capek sendiri. Dua kata yang lebih bersinar ketimbang "Jangan lanjutin!" yang di mana sebenarnya itu lebih masuk akal dan lebih sehat. Buah harapan menjadi sebuah ilusi, yang kemudian menjadi halusinasi ketika bayangannya makin terinvestasi terasa asli.

Gue suka menganggap konyol orang-orang yang sedang berada di titik itu. Saat mendengarkan asanya pun kadang sebal juga ketika mereka bebal. Waktu pada akhirnya mereka sakit hati sendiri karena capek, gue hanya bisa merespon dengan "Salah sendiri, lagian goblok sih.".  Perasaan salah yang mereka rasakan menurut mereka memang tidak salah, itu hak mereka untuk merasakan itu. Tapi merespon dengan mengejek mereka melalui kata itu pun juga hak orang yang mendengarkan mereka bukan? Haha.

Goblok banget sih lo, Mar.

Wednesday, February 12, 2025

Dengar-Dengar Didengar

"Elo tuh atentif kalau ngobrol sama orang..."

Itu adalah kalimat yang dulu pernah almarhum teman gue ucapkan kepada gue. Dia berkata seperti itu ketika sedang melobi gue untuk menjadi seorang host buat acaranya, karena menurutnya gue adalah pendengar yang baik setelah berkali-kali melihat gue ngobrol dengan orang yang berbeda.

Testimoni kalau gue pendengar yang baik seperti itu bukan hanya sekali atau dua kali gue dapatkan. Jika tidak secara verbal, maka melalui tindakan. Teman-teman gue menunjukkan demikian dengan bagaimana mereka dengan percaya diri menceritakan hal sensitif yang mereka punya sampai hal paling sepele seperti gosip atau ghibah. Hal itu menjadikan gue secara otomatis punya kuasa yang sangat besar jikalau sewaktu-waktu gue ingin menghancurkan image seseorang atau merusak pertemanan di antara mereka semua dengan cara mengucapkan sesuatu yang gue tahu. Untungnya saja gue pandai menjaga rahasia, haha.

Gue pribadi tidak tahu apa saja yang gue lakukan sehingga "superpower" itu gue dapatkan. Gue hanya bisa berasumsi bahwa dengan tumbuh dengan lingkungan yang tidak pernah mendengarkan gue, menjadikan gue mengerti rasanya diabaikan. Not seen enough. Menyimpan banyak hal untuk diri gue sendiri, tanpa outlet untuk bercerita. Jadi ketika sudah dewasa dan menemukan tempat untuk berbagi, seringkali gue tidak tahu bagaimana memulai ceritanya. Namun, memiliki empati antar personal yang cukup tinggi mengajak gue untuk memastikan orang yang menjadi lawan bicara gue tidak merasakan hal sama.

Atentif ketika ngobrol dengan seseorang juga sebenarnya tidak begitu sulit jika kita mendengarkan secara aktif. Maksudnya adalah memerhatikan apa yang lawan bicara ucapkan, dan kemudian "mengulik" dengan cermat sehingga dia melanjutkan ceritanya lebih dalam. Tidak perlu fokus ke semua hal yang mereka ucapkan, cukup ke bagian yang diucapkan dengan poin emosi cukup. Jika bagian emosionalnya tidak keluar, pastikan saja obrolannya tidak keluar jalur dari hal yang sebenarnya ingin mereka katakan. Tetapi lagi-lagi itu juga butuh kepekaan dan kemampuan untuk membaca situasi.

Mendengarkan seseorang bercerita itu cukup seru menurut gue. Kalian bisa memahami lebih jauh tentang seseorang dan orang yang bercerita pun merasa didengar. Informasi tentang suatu keadaan bertambah sehingga kalian makin paham harus berada di posisi apa. Tapi jangan lupa juga posisikan diri kalian ketika saat mendengarkan, supaya hasilnya tidak melenceng... Seperti pas PDKT ke gebetan misalnya, jangan disamakan seperti mendengarkan teman kalau nggak mau dianggap "bestie" doang. 🤐

Saturday, July 22, 2023

Mesin Waktu

Beberapa waktu lalu gue keliling daerah Tebet. Niat awalnya adalah untuk mencari liquid rokok elektrik karena pada saat itu punya gue sedang menuju habis. Setelah menemukan tokonya dan membeli dua botol, tanpa ba-bi-bu gue langsung bergegas pulang ke kediaman gue di Menteng Dalam. Belum sempat keluar dari daerah Tebet, di perjalanan tiba-tiba ingatan masa lalu muncul di dalam kepala gue dan gue berucap dalam hati "Ini adalah jalan pulang gue pas TK dulu.".

Sebagai informasi pelengkap, gue dulu mengenyam bangku taman kanak-kanak di daerah Menteng Dalam, di satu sekolah bernama TK Melur--yang di mana sekarang sudah menjadi rumah dinas salah satu BUMN perbankan. Namun, rumah gue berada di Bekasi, yang membuat gue dan bokap setiap hari bolak-balik Jakarta - Bekasi. Bokap untuk bekerja di TVRI dan RRI, sedangkan gue untuk bermain di taman kanak-kanak dan kemudian menunggu bokap pulang untuk menjemput gue di rumah nenek.

Jadi... ya, saat itu gue melewati jalan yang sering gue lalui ketika gue masih TK. Ingatan gue kemudian mengantarkan gue untuk mengingat kembali satu objek spesifik yang berasosiasi dengan jalanan itu, jalanan yang gue sering lewati saat gue TK, yaitu: bubur ayam.

"Masih ada nggak ya?" pikir gue saat itu. Karena sudah lama sekali kan, sekitar 27 tahun gue tidak pernah kembali ke sana. Saat menyapu jalanan dengan mata, ternyata ketemu!

Bubur Ayam Sukabumi Tebet 1 namanya. Letaknya di sebelah Sop Ayam Klaten Pak Miin, dekat dengan McDonald's Tebet. Sudah ada banyak perubahan, tetapi yang membuat gue yakin kalau itu tempatnya adalah denah dalam ruangan di tempat makan bubur itu. Masih ada kesamaan dengan apa yang ada di dalam ingatan gue yang berbayang.

Ada perasaan aneh yang nyaman di dalam diri gue.

Gue memesan satu bubur ayam biasa, karena ingin menyamakan dengan apa yang gue makan saat kecil. Saat makanan datang beserta jus alpukat yang gue pesan, gue langsung mengambil suapan pertama, dan... BOOM! Nostalgia.

Gue teringat saat di mana ketika sore-sore sang ayah mengajak ke sana untuk mengunyah. Gue ingat bubur yang gue makan saat gue kecil itu memakai saos sambal, karena tidak dibolehkan memakai bubuk lada atau sambal, takut terlalu pedas untuk anak lima tahun yang nakal. Gue sekilas melihat ada bayangan bokap gue di sebrang meja, memakai kemeja biru sedang menyantap buburnya dengan lahap.

Serasa habis menggunakan mesin waktu, gue seketika kembali ke masa lalu. Keren sekali!

Otak kita diciptakan untuk mengingat, bukan untuk melupakan. Indera yang kita punya adalah instrumen yang membantu otak untuk membantu mengingat. Menurut gue pribadi indera pengecap dan indera penciuman adalah dua yang terbaik dalam konteks ini. Dan yang berperan dalam perjalanan masa lalu gue kemarin adalah indera pengecap.

Indera penglihatan bagaimana? Ya juga sama. Seperti beberapa jam lalu contohnya, gue baru saja melihat beberapa video atau foto lama yang berada di dalam ponsel gue. Gue jadi teringat bagaimana gue dan sekeliling gue pada saat gambar itu diambil. Bahkan gue ingat perasaan bahagia yang gue rasakan ketika momen itu diabadikan.

Wisata masa lalu dengan mesin waktu sederhana.

Tapi yang sudah ya sudah, masa lalu tidak bisa diulang mau bagaimana pun bahagianya saat lalu. Tidak baik terlalu sering kembali ke masa lampau lewat jalur ingatan. Kita harus ingat bahwa kita menua setiap detiknya dan masa depan selalu menunggu, yang sudah pasti kita lakukan adalah menjalaninya saja.

Lalu bagaimana rasa buburnya? Kebetulan rasa yang tercampur nostalgia saat itu cukup enak.

Friday, January 13, 2023

54321

5 bulan lalu dia terombang-ambing. Hilang arah, bingung harus merasa apa, entah. Hidung kirinya tersumbat, membuat nafas yang diambil hanya setengah. Tentu merasa sesak lah.

4 bulan lalu angin lembab di cuaca mendung ia terpa. Dia suka rasanya, karena dia akrab dengan suasananya. Tidak panas, tidak hujan. Di tengah-tengah. Dia hirup dalam-dalam udaranya sampai dia tersadar kalau nafasnya sudah terasa enak pada saat itu, bahkan mungkin lebih lega.

3 minggu lalu tawanya masih menggelegar seakan tidak ada masalah apa pun di hidupnya. Tentu itu hanya caranya menyembunyikan beban yang sebenarnya ada. Dia rasa tak apalah sesekali saja, tapi "sesekali"-nya itu sudah tak terhitung dan menggunung. Ketika sadar, kembali dia membatin "ya sudahlah. Sesekali saja." memang kebiasaan buruk tampaknya.

2 kali dia rasa harus bergegas agar lepas padahal. Dua kali pula dia mendeklarasikannya. Tapi lepas bagaimana dia pun tak tahu. Kebiasaan buruk, pola yang buruk, tampaknya sudah menjadi candu karena terbiasa. Sampai pada akhirnya...

1 jam lalu dia mendapatkan pemicunya. Pecutan keras untuknya berpikir keras kalau memang dia harus lepas agar bebas. Hal yang mendorongnya untuk melakukan kebaikan untuk dirinya, tapi dia sendiri tidak bangga dengannya. Pagi buta adalah saat yang membuatnya bergidik. Bimbang bukan kepalang. Tidak bisa tertidur padahal sebelumnya mata sudah mengajaknya untuk melindur. Perlahan hitam pekat di luar jendela berubah menjadi hitam terang. Dia takut akan pagi, tapi mentari sudah siap masuk dalam hitungan detik. Seraya cahaya matahari menyala, dia kembali membatin, "ya sudahlah..." dan...

5... 4... 3... 2... 1.

Selesai.

Monday, December 12, 2022

Bar Ngebar

"Gue mau minta tolong sama kalian ya, nanti tanggal 23 gue mau bikin event Natal, temanya Christmas Love Song," ucap teman gue yang pemilik bar di suatu daerah di selatan Jakarta kepada gue dan satu teman gue. Obrolan ini terjadi baru tadi sekitar jam 3 pagi ketika kami bertiga sedang duduk-duduk di parkiran sembari cari angin. Kami pun bertanya bantuan seperti apa yang dia butuhkan. Apakah perihal promosi, teknis acara, sumbang ide untuk daftar lagu? Dia pun melanjutkan, "gue mau banget di malam itu banyak yang make out." dan gue tertawa bersama teman gue yang satunya lagi, karena kami sadar kalau baru saja diminta tolong untuk memulai berciuman bersama pasangan agar pengunjung lainnya pun berani untuk melakukan hal yang sama di bar tersebut. Dimintai tolong agar menjadi instrumen untuk melakukan perbuatan berdosa. Astaghfirullah... Or should I say astaghfirulove.

Bar yang gue sebut tadi adalah salah satu dari sekian banyak cabang bar yang berada di bawah nama yang sama. Namun, yang paling gue sering datangi adalah yang itu. Tapi jangan salah, gue sering datang ke sana bukan karena gue alkoholik atau bagaimana, tetapi karena orang-orangnya.

Gue bukanlah orang yang tidak bisa bersenang-senang tanpa minuman. Gue punya banyak cara lain untuk membuat diri gue bisa menikmati diri sendiri. Lagipula gue tidak begitu menikmati rasa alkohol seperti yang pernah gue bilang di tulisan lama gue. Rasa susu strawberry tentu masih dan akan tetap menjadi nomor #1 di peringkat minuman terenak menurut gue. Jadi bisa dengan percaya diri gue bilang bahwa gue bukanlah alkoholik.

It's the people.

Pada awalnya gue sering datang sendiri ke sana. Tidak punya kenalan atau teman di bar itu, murni hanya datang sendiri karena ingin menyendiri di suatu tempat yang tidak asing dan asik. Namun lama kelamaan karena frekuensi datangnya tinggi dan gue juga ngobrol sana-sini, gue jadi kenal banyak teman baru dari sana dan dikenal oleh orang yang bahkan gue tidak tahu itu siapa. Entah sudah berapa kali gue disapa "Eey, Mar!" oleh pengunjung tapi hanya gue balas "eits, apa kabar?" karena gue nggak tahu orangnya atau namanya.

Sampai sekarang pun gue masih sering datang sendiri ke sana, karena gue tahu pasti ada saja orang yang gue kenal sedang berada di sana. Bahkan kalau gue ke bar sama di cabang lainnya, gue yakin bahwa pasti ada wajah yang gue kenal. Kalau bukan pengunjung lain, ya paling tidak pemilik atau pekerja bar itu lah.

Dari dulu sampai sekarang gue masih beranggapan bahwa rumah adalah tempat di mana lo bisa merasa nyaman dan aman. Tempat di mana lo akhirnya bisa merasakan bahagia ketika lo sedang dalam kondisi sebaliknya. Tempat di mana lo bisa yakin tidak akan merasa kesepian ketika berada di sana. Seringkali yang gue dapati rumah itu bukanlah berbentuk bangunan, melainkan berbentuk orang. Dengan definisi seperti itu, gue rasa sah saja kalau gue merasa bar tersebut sepertinya adalah rumah untuk gue.

Tidak salah dong kalau sering datang ke rumah? H3h3...

Tuesday, November 15, 2022

Hari Lahir

Pagi tadi... Ya atau kemarin pagi, berhubung sekarang sudah lebih dari tengah malam ketika gue menulis ini. Gue mengobrol dengan bokap gue di ruang makan ketika dia baru saja selesai memasak mie instan dan mau menyantapnya.

"Pa, mau nanya dong!" seru gue ketika dia sedang mengaduk mie instannya di dalam mangkuk biru hadiah dari deterjen.

"Nanya apa?" Tanyanya kebingungan. Gue dapat pahami, karena anaknya yang sudah jarang banget bertemu dengannya tiba-tiba di pagi hari langsung berkata seperti itu.

Sadar akan raut wajahnya yang kebingungan, tentunya gue tidak langsung bertanya. "Harus jahil dulu nih." pikir gue. Jadi kesempatan untuk membuat bokap gue semakin kebingungan pastinya langsung gue pakai.

"Jadi... Gini, Pa," gue berbicara dengan nada rendah, tempo bicara yang pelan, dan wajah yang agak serius. Tentunya bokap terlihat makin khawatir, itu membuat gue nggak tahan untuk merusak momennya dengan mengeluarkan senyuman. Tersenyumlah gue dan melanjutkan kalimat dengan nada normal, "ceritain dong pas Oji lahir itu gimana."

Selama 31 tahun hidup, gue nggak pernah mendengar cerita apa pun dari beliau mengenai hal ini. Informasi tentang kelahiran yang gue tahu hanya satu, yaitu gue lahir di hari Kamis. Itu juga gue cari tahu sendiri dengan menyetel tanggal gawai ke tanggal gue lahir. Jam berapa gue lahir, di mana lokasinya, proses persalinan gue dulu, dan hal lainnya sama sekali tidak ada yang gue tahu.

Singkat cerita kami ngobrol tentang hari itu. Ternyata gue lahir di pagi yang cerah di satu rumah sakit di Jatinegara. Gue dilahirkan dengan proses normal dan waktunya tidak lama. Ibu gue pun ketika mengandung dan melahirkan gue sedang tidak sakit, kangker yang beliau derita sedang mati suri alias sudah tidak terdeteksi lagi, intinya beliau sehat. Dan lucunya gue mendapatkan predikat bayi favorit saat itu dari para dokter dan para perawat, yang setelahnya bokap dan nyokap gue mendapatkan bingkisan dari rumah sakit. Baru lahir sudah dapat prestasi, tapi ketika besar justru tidak, huh! Hahaha.

Kami ngobrol selama 2 jam lebih. Obrolan tentunya tentang banyak kenangan yang ia punya ketika gue baru lahir sampai ketika ibu gue meninggal. Mendengarkan cerita sang bokap, kepala gue otomatis menerjemahkan ucapan-ucapannya menjadi sebuah film pendek yang ditayangkan di depan jidat gue. Seru sekali! Film seorang Omar Firdauzy, yang disutradarai oleh Omar Firdauzy, yang gambarnya diambil dan disunting oleh Omar Firdauzy, namun naskahnya ditulis oleh Pak Herman Zuhdi.

Ada satu perasaan nyaman ketika beliau bercerita tentang itu semua. Rasa hangat melihat sang ayah bercerita dengan wajah berseri yang dihiasi ceria dan haru, karena dia tampaknya juga menikmati nostalgianya. Sisi sang bokap yang belum pernah gue lihat sebelumnya.

Interaksi kami di pagi hari tadi membuat gue punya satu kesimpulan, kalau kami ternyata akan selalu merindukan sosok yang sama entah bagaimana situasinya. Memang dirimu itu adalah orang yang mustahil untuk tidak dirindu, Ma. :)

Tuesday, October 4, 2022

Hrtbrk

Gue mengetik ini dengan kondisi penglihatan agak berbayang dan kepala berat karena baru saja bercengkrama dengan teman-teman sambil ditemani air Tuhan di suatu tempat di Jakarta.

Jadi, baru saja gue sampai di kediaman di daerah Pancoran setelah mendengarkan seorang teman berkeluh-kesah. Dia bercerita kalau dia habis seharian menguras air mata karena adanya suatu gesekan di hubungan dia dengan pasangannya. Gue paham betul kalau dia butuh mengobrol tentang hal itu, oleh karena itu gue menyediakan telinga untuk mendengarkan.

Satu hal yang gue pelajari dari pengalaman pribadi dan juga dari pengalaman orang lain, patah hati adalah satu hal yang sangat menyakitkan. Lukanya tidak terlihat, tetapi nyerinya bisa merembet ke fisik dan psikis. Seseorang bisa saja melakukan tindakan impulsif yang cenderung bodoh karena hal ini.

Bagi yang mendengarkan cerita si korban patah hati mungkin akan dengan mudahnya bilang bahwa masih ada banyak ikan di lautan, tetapi mereka yang nirempati itu lupa bahwa si korban lautnya baru saja kering. Pada saat itu dia hanya ingin satu ikan yang spesifik, bukan ikan lain. Paling tidak sampai luka di hatinya kering dan sembuh.

Patah hati itu sangat personal dan tidak mengenal usia atau kedewasaan emosional. Nggak ada solusi mutlak untuk mengobatinya. Namun, hal terpenting yang mesti si korban tahu adalah untuk tidak menjadi bom waktu untuk diri sendiri dengan melakukan tindakan yang destruktif untuk dirinya.

Patah hati karena kehilangan bisa mengantarkan satu individu untuk menemukan dirinya sendiri, tapi bisa juga malah membuat dirinya malah makin hilang. Semua tergantung seberapa jauh dia mengenal dirinya.

Mengenal diri sendiri adalah keharusan.

Dimulai dari gelas pertama dan diakhiri di entah gelas keberapa. Terakhir sih gue masih lihat matanya berkaca-kaca, tapi semoga saja setelah bercerita bebannya agak berkurang walaupun gue yakin nggak seberapa. Karena  lagi-lagi patah hati itu sangat personal, cuman si empunya hati yang bisa paham rasanya.

Wednesday, September 14, 2022

Lubang Hidup

"Kalau punya mesin waktu atau bisa punya kesempatan untuk balik ke masa lalu dengan pengetahuan yang udah loe punya sekarang, loe mau ubah apa dalam hidup loe?" Tanya seorang teman ketika kami sedang nongkrong hahahihi di salah satu sudut kota Jakarta.

Pernah terpikir hal sama? Bohong banget kalau nggak sih. Manusia pasti pernah berkhayal seputar bahasan ini paling nggak dua kali dalam hidupnya. Memang seru membayangkan suatu hal yang mustahil terjadi.

Jujur saja gue sendiri punya banyak banget lubang yang mau gue tambal. Lubang yang terbentuk karena adanya kesalahan yang terlanjur gue lakukan selama tiga puluh tahun hidup ini. Ingin tahu saja apa yang akan terjadi misalnya satu keputusan penting yang sudah gue ambil dahulu, tidak gue lakukan. Mungkin akan membuat hidup gue lebih baik, menjadi seorang Omar yang berbeda dan lebih bahagia. Namun, tentu saja kemungkinan untuk terjadi sebaliknya juga ada.

Lucunya lubang yang gue sebut tadi, juga merupakan alasan kenapa gue menjadi seperti saat ini, dan gue cukup suka dengan Omar yang sekarang. Kesalahan yang gue lakukan di masa lalu terjadi karena keputusan yang gue ambil, itu semua memberi pelajaran untuk diri gue sehingga gue punya isi kepala komplit dengan POV seperti sekarang. Punya lingkaran pertemanan seperti sekarang yang cukup baik, dan hal lainnya yang sepatutnya gue syukuri.

Jadi, idealnya memang tidak harus mengubah apa-apa. Pertanyaan hipotesa yang diawali dengan kata "kalau" biarlah menjadi "kalau", jangan dijadikan alasan untuk menyesali yang sudah-sudah.

Lalu apa jawaban gue untuk pertanyaan teman gue tadi? Ya pertanyaan tongkrongan tentunya dijawab dengan jawaban tongkrongan dong, tidak lupa dengan bumbu ejekan dan umpatan biar lebih sedap. 

Wednesday, May 4, 2022

Silsilah

Mempunyai keluarga yang besar itu kadang-kadang membingungkan. Selain karena sulit menghafal semuanya, juga karena silsilahnya yang cukup loetjoe.

Beberapa tahun lalu gue baru saja menggendong anak kecil berumur sekitar 2 atau 3 tahun. Bocah itu adalah anak dari keponakan kakak gue, yang tentu saja membuat gue menjadi seorang kakek di dalam silsilah keluarga.

Oh, by the way, itu adalah keponakan kakak gue dari keluarga bapaknya. Kami beda bapak dan gue dengan kakak gue beda 13 tahun.

Lanjut lagi, masih di keluarga yang sama. Ada juga sepupunya kakak gue--yang otomatis menjadi sepupu gue juga--yang tahun kelahirannya sama dengan bapak gue. Gue memanggilnya dengan sapaan "Mbak/Mas".

Hari ini gue silaturahmi ke rumah kakak gue yang baru saja selesai direnovasi di daerah Bintaro. Kami mengobrol ngalor-ngidul hahahihi bersama sepupunya yang lain sambil minum-minum. Kemudian menjelang malam, datang lagi laki-laki seumuran gue yang merupakan saudara dari kakak gue juga. Kami semua ngobrol melanjutkan hahahihi dengan obrolan berbeda. Di penghujung pertemuan, ketika gue mau pulang, anak kakak gue menyapa orang tersebut dengan awalan "kak".

Dan gue baru sadar kalau ditarik silsilahnya, dia adalah keponakan gue.

Lieur euy, hahaha.

Tuesday, May 3, 2022

Leba-run Away

Yak, belum apa-apa sudah kelewat satu hari... Tapi tak apa, saya sudah berdamai dengan kemalasan diri sendiri. H3he....

Tapi kali ini kalau mau dikasih pembelaan juga bisa, karena kemarin adalah hari lebaran Idulfitri. Jadi...

Selamat Idulfitri, wan-kawan!

Bagaimana lebarannya? Kenyang tidak? Apa kenyang juga dengan pertanyaan basa-basi yang kalimat tanyanya diawali dengan kata "kapan"? Gue pribadi entah kenapa nggak begitu terganggu dengan hal itu. Mungkin karena: 1. Gue nggak peduli, 2. Gue nggak peduli, dan 3. Gue nggak peduli.

Paling populer yang bikin orang malas adalah pertanyaan "kapan nikah?". Sebagai orang yang menganggap pernikahan itu tidak begitu penting dan oleh karena itu juga gue jadi tidak menjadikan itu tujuan, gue tidak pernah merasa terganggu dengan pertanyaan senada. Pun gue tidak mendapatkan pertanyaan itu sesering itu. Tampaknya mereka sudah lelah karena tidak puas dengan jawaban gue ketika ditanya demikian, soalnya beberapa kali gue pertanyaan itu gue jawab dengan "belum siap." ketika gue dalam mode sopan, atau "males ah." kalau gue sudah menganggap pertanyaan itu berbunyi sumbang di telinga. Ada juga waktu di mana gue menjawab secara gamblang kalau gue tidak begitu ingin menikah, itu terjadi beberapa tahun lalu ketika ada saudara tiri bertanya dan sepertinya orang tua gue mendengarnya. Semenjak saat itu mereka setengah malas gitu untuk bertanya hal demikian ke gue, karena mereka sudah tau sudut pandang gue tentang pernikahan, hahaha.

Ngomong-ngomong...

Kemarin adalah lebaran ketiga gue di Bekasi. Biasanya para saudara dari pihak bokap datang untuk silaturahmi karena beliau adalah anak pertama dari nenek gue. Dari yang sudah-sudah, gue secara tidak resmi menjadi "penghibur tamu" di mana gue harus mengajak mereka ngobrol agar tidak bosan di rumah. Menjaga mereka supaya tidak selalu memegang telepon genggam agar esensi silaturahmi tidak hilang. Memastikan suasana tidak menjadi garing.

Namun entah kenapa beberapa waktu belakangan ini energi gue untuk bersosialisasi tidak sebanyak itu. Capek sekali walaupun hanya mengajak dua orang ngobrol. Belum lagi telinga ini dipaksa mendengarkan teriak bocah-bocah yang berlarian ke sana ke sini. Seharian rasanya ingin rebahan dan tidur. Ingin melarikan diri ke kos terus rasanya.

Pada akhirnya, sebelum sore tiba mereka sudah pulang semua. Tanpa ba-bi-bu gue pun cabut ke Jakarta untuk balik ke kos. Begitu sampai, nggak membutuhkan waktu lama untuk gue tertidur. Bangun jam 8 malam, makan sambil nonton, kemudian tertidur lagi.

Capek euy...

Well, gue rasa akan banyak orang di luar sana yang setuju kalau gue bilang bahwa lebaran itu memang salah satu momen yang melelahkan.

Sunday, May 1, 2022

Lis Nulis

Bangke... Ini blog kesannya diisi hanya di bulan Mei di setiap tahunnya. Terakhir posting itu akhir bulan di tahun lalu.

Ya tapi bagaimana lagi ya? Sibuk. ¯\_(ツ)_/¯

Gue tahu kalau itu hanya alasan, tapi menyalahkan sesuatu atas sesuatu itu emang terasa melegakan, hahaha.

Anyway...

Dengan gue nggak menulis untuk blog ini, bukan berarti gue berhenti menulis. Gue masih menulis di ranah profesional sebagai copywriter dan scriptwriter. Yang di mana keasikan menulisnya hampir nggak ada. :')

Resmi 4 bulan lalu gue memutuskan untuk keluar dari perusahaan event organizer karena beberapa hal, lalu sekarang gue balik ke dunia gebuk keyboard. Bukan keluar karena hal yang tidak baik tentunya. Gue masih berhubungan sangat baik dengan EO gue tersebut, masih sering nongkrong di kantornya, masih sering jadi pekerja lepas untuk mereka, dan masih terus "diminta" secara halus via bercandaan untuk balik namun gue menolak.

Sekarang gue menjadi pekerja lepas sebagai tukang nulis. Sayangnya saja gue sekarang sudah kehilangan beberapa klien lama gue dan harus memulai lagi dari nol. Kok bisa kehilangan? Simpelnya karena bekerja di EO, maka komitmen yang harus gue prioritaskan terletak di EO tersebut (walaupun kalau bicara rupiah, pundi gue dari kerja lepas itu lebih besar daripada gue di EO), sehingga klien yang ada tidak bisa terpegang karena... Man, bekerja di EO itu sangat menyita waktu.

Dan ya, sekarang gue balik menjadi pekerja lepas sebagai tukang tulis yang di mana itu adalah (gue rasa masih) hobi gue.

Kata orang, kalau seseorang melakukan pekerjaan yang kebetulan juga merupakan hobinya, maka dia pasti tidak akan merasa seperti bekerja. Nope. Sepertinya itu tidak berlaku untuk kerjaan tulis menulis berbasis permintaan. Entah ya, yang gue rasakan dari dulu rasanya beda saja gitu.

Oke...

Balik ke poin awal, tentang blog ini dan bulan Mei. Gue sepertinya akan melakukan kembali gerakan menulis setiap hari di bulan Mei ini. Menulis tentang apa saja yang gue mau walaupun sibuk. Dimulai dari hari ini, hehe.

Oh iya, selamat Idulfitri, wan-kawan!

Sunday, May 30, 2021

30 di 30

Akhirnya selesai juga proyek 30 untuk 30 ini.

Sudah lama sekali gue melupakan serunya menulis, dengan proyek menulis rutin ini sepertinya mengingatkan gue kembali akan betapa menyenangkannya menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan. 

Sebenarnya sebelum menulis ini di sini, gue juga melakukan hal yang sama sebagai terapi di "rumah" yang lain. Bagi gue lebih mudah menulis di sana, karena gue rasa tidak ada pembacanya. Gue jadi bebas curhat hahaha. Lalu gue berpikiran baiknya di sini juga, jadi ya begitulah, 30 tulisan dalam sebulan ini.

Sebentar lagi tanggal 30 selesai, dan ini adalah tulisan ketiga puluh di tanggal 30. Dengan berakhirnya proyek ini, bukan berarti gue akan mulai jarang menulis di sini, justru sebaliknya. Sepertinya gue akan mulai sering menulis lagi di Cuma Iseng 2 ini. Gue harus terus ingat bahwa menulis adalah salah satu hal yang gue suka... Selain malas-malasan... Yang sayangnya sudah jarang gue lakukan.

Apa gue bikin proyek 30 hari malas-malasan juga ya? Hahahahaha.

Anywaaaay... Yep, that was it. 30 posts in 30 days. And this is the 30th post. Walaupun banyak tulisan yang dipaksakan karena mengejar target, semua rangkaian kegiatan ini seru sekali. Semoga para pembaca juga merasakan keseruan yang sama.

Sampai ketemu lagi di tulisan selanjutnya yang--gue rasa--akan lebih teratur.

Much love,

- O -

Akhirnya Kepala Tiga

Hari ini gue berganti umur menjadi tiga puluh tahun. Gue cuman bisa kayak "daaaaaammmmnnnnnn!".

Cukup terkejut sih gue ternyata bisa hidup selama ini. Gue sebagai seorang semi-nihilist tentu tidak mengharapkannya, kalau bisa sih gue mati cepat saja supaya tidak lama-lama menjalani omong kosong yang orang sebut dengan kehidupan ini. Tapi ya gue tidak mau mengakhiri hidup gue juga karena beberapa alasan. Jadi gue hanya bisa menjalani hidup gue dengan cara gue, supaya hidup gue berjalan dengan maksimal menurut hemat gue.

Live to live. Menjalani hidup untuk/supaya hidup. Menghidupi hidup.

Tidak ada yang spesial dalam detik-detik gue berganti menjadi tiga puluh. Sama saja seperti hari-hari biasa. Gue menghabiskan malam pergantian tahun bersama orang-orang yang gue pilih, mengobrol dan tertawa sambil memutar gelas yang berisi air Tuhan. Bercengkrama dengan riang walaupun di paginya gue merasa agak kecewa hahaha.

Ucapan selamat masih mengalir hingga detik ini. I guess I am loved after all, karena mereka mengingatnya padahal gue tidak pernah vokal menyangkut ulang tahun gue. Beberapa orang yang lebih tua dari gue menyambut gue ke dalam klub kepala tiga. Gue masih kayak paragraf pertama tadi, cuman bisa membatin "daaaaaammmmnnnnnn!". 

Pagi tadi ketika gue sedang sendirian, gue rebahan di sofa sambil menatap awan dalam waktu yang lama. Rencana awalnya sih hanya ingin melamun saja, karena sudah lama sekali otak gue tidak senggang. Namun tidak sampai sejam, lamunan gue berubah menjadi refleksi diri. Gue jadi merenung mengenai banyak hal yang telah terjadi selama gue hidup. Gue melihat banyak lubang yang seharusnya bisa gue tambal atau gue hindari dalam hidup gue. Sesaat gue merasa menyesal, tapi langsung sadar kalau lubang-lubang itu juga salah satu faktor yang membentuk gue.

Well, anywaaaaay, I don't want to go deep. Pun gue rasa tulisan kali ini sangat berantakan. Jadi sepertinya gue akhiri saja.

So... Yeah. I'm old now. Meninggalkan twenties itu aneh sih. Padahal gue tahu ketika berulang tahun itu ya sama saja seperti pergantian hari biasa, namun ketika memasuki kepala tiga ini rasanya agak berbeda. Semacam dipaksa untuk memikirkan banyak aspek hidup dengan lebih serius. Dan lagi-lagi gue hanya bisa teriak dalam hati, "daaaaaammmmnnnnnn!".

Friday, May 28, 2021

Fetish Dua Miliar

"Lo coba deh foto kaki lo, Mar. Pasti banyak yang mau beli." Ujar teman gue tadi, ketika gue sedang selonjoran di kamarnya. Kami sedang bahas tentang masalah minuman, lalu tiba-tiba pernyataan begitu dia lontarkan. Gue kemudian bingung. Hahahaha.

Tentu pernyataannya itu maksudnya mengacu untuk orang yang mempunyai ketertarikan seksual terhadap kaki atau bahasa Manadonya: foot fetish.

Ya, gue tidak mengada-ada, ada yang mempunyai fetish terhadap kaki. Kalau tidak salah bahkan ada satu segmen porno tersendiri untuk hal tersebut. Salah satu serial favorit gue, Family Guy, bahkan pernah membuat satu episode sendiri yang bercerita tentang itu. Meg Griffin menjadi bintang porno, hanya saja cuman kakinya yang dijadikan model untuk dimasukkan ke forum foot fetish.

Gue mengerti bahwa jenis fetish orang-orang itu berbeda. Ada yang mainstream sampai ada yang sangat tidak lumrah. Untuk fetish kaki sendiri bagi gue tidak begitu aneh, karena gue pernah membaca banyak yang lebih aneh, salah satu contohnya Mucophilia yang maksudnya seseorang akan sangat bergairah kepada bersin atau tepatnya ingus yang keluar dari sana.

Lantas apakah fetish kaki itu wajar? Ya gue nggak bisa menyalahkannya juga, karena kalau bicara masalah itu sudah masuk bahasan selera. Ketika mendebatkan selera tentunya tidak akan ada habisnya, karena tidak ada yang salah dan benar. Namun apakah gue mempunyai fetish kaki? Sepertinya sih tidak. Gue kayaknya tidak akan tegang walaupun melihat kaki yang paling indah sekali pun.

Gue akan tegang kalau dikasih dua miliar. Fetish gue adalah dapat uang dua miliar rupiah.

Thursday, May 27, 2021

Waktu itu Relatif

Semua orang pasti pernah mengeluhkan hal yang semu, seperti contohnya mengeluhkan waktu terasa berjalan cepat sekali. Padahal ya tidak, setiap manusia sama-sama punya waktu 24 jam yang tiap jamnya terdiri dari 60 menit dan tiap menitnya memiliki 60 detik. Tapi ada kalanya kita merasa waktu yang kita habiskan di suatu momen itu habis dalam kecepatan yang tidak wajar.

Merasa seperti itu biasanya entah karena sedang berada di waktu yang menyenangkan atau karena bertemu orang yang membuat kita merasa senang berada di sekitarnya. Berapa pun lamanya, pasti akan terasa kurang.

Belakangan gue merasa begitu. Sering menyayangkan waktu yang berlalu begitu cepat. Entah karena gue sedang berada di waktu yang menyenangkan...

... atau karena gue sedang bertemu orang yang membuat gue merasa senang di sekitarnya.

Berapa pun lamanya, gue akan merasa kurang.

Wednesday, May 26, 2021

Diet X-3m

Pernah melakukan diet ekstrim ternyata secara tidak langsung memengaruhi perspektif gue dalam mengeluarkan uang untuk membeli makanan. Gue jadi agak pelit dalam membelanjakan uang untuk membeli makanan, soalnya gue berpikir tujuannya ya sama saja: supaya perut terisi. Jadi kalau ada alternatif yang lebih baik value-nya, kenapa harus beli yang mahal?

Jadi beberapa tahun lalu ketika masih di Jogja, gue pernah berupaya untuk menurunkan berat badan gue yang hampir mendekati 90 kilogram. Metode defisit kalori yang gue gunakan bisa dibilang ekstrim. Gue nggak akan makan sampai gue merasa lapar yang membuat perut sakit. Lapar biasa biasanya akan hilang kalau dibiarkan selama 10 sampai 15 menit, dan memang begitu yang gue rasakan. Makannya pun juga minim, paling sedikit itu hanya 4 gorengan dalam sehari. Seharian tidak makan pun bisa saja, tapi gue tidak mau merusak badan gue lebih jauh. Toh riset terhadap badan sendiri ini pun gue sadari kalau sebenarnya merusak badan.

Tentunya defisit kalori gila-gilaan ini benar-benar berhasil. Gue turun hampir 10 kilogram dalam 10 hari. Pengeluaran untuk makan pribadi pun tidak sampai 300 ribu dalam sebulan. Namun konsekuensinya adalah metabolisme gue rusak sampai sekarang, gue rasa.

Seperti yang gue bilang di atas, itu memengaruhi gue dalam belanja makanan. Gue jadi berpikiran kalau tidak perlu/ada alternatif lain, ya tidak usah dibeli untuk dimakan. Membeli makanan/minuman dengan efektif. Hal yang gue rasa baik untuk dompet sih.

Tapi sayangnya untuk membeli barang, gue masih kebalikannya. Gue masih suka belanja hal yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Apalagi misalnya itu adalah barang hobi. Sepatu misalnya.

Kalau rak sepatu tidak penuh, gatal sekali ingin membeli sepatu baru. Sampai saat ini gue belum membeli rak sepatu lagi, karena sadar kalau ada ruangan kosong di rak itu, jempol ini akan mengantarkan gue ke toko daring untuk membeli sepatu. Tidak membeli rak adalah upaya gue dalam diet sepatu.

Namun brengseknya hobi baru datang lagi. Juga gue belum menemukan cara untuk diet parfum. Nah loh?!

Yaaaa... sepertinya dompet masih belum aman. ¯\_(ツ)_/¯

Monday, May 24, 2021

Buku

Gue baru saja mendapatkan iPad lawas tanpa charger, kemudian membeli charger-nya terpisah di toko daring. Buat apa? Hanya buat membaca buku digital saja.

Gue berasumsi selama ini gue tidak begitu suka membaca buku elektronik karena sarana yang gue pakai adalah ponsel, sehingga gue tidak nyaman membacanya soalnya tulisannya kecil. Sedangkan kalau di laptop tidak praktis. Kemudian gue beberapa waktu lalu berpikir, "bagaimana kalau iPad?" Gue sih berasumsi nantinya akan nyaman saja karena besar dan cara pakainya seperti ponsel pintar. Belum gue coba sih, tapi sepertinya akan begitu.

Untuk saat ini gue lebih suka baca buku fisik ketimbang buku elektronik. Selain karena selama ini cuman bisa di ponsel/laptop sehingga nggak nyaman bacanya, juga karena sudah terlanjur biasa. Padahal buku elektronik itu lebih murah dan lebih ramah limbah ketimbang buku kertas. Tapi ya mau bagaimana lagi, gue tetap membeli buku fisik karena lebih asik saja dibacanya.

Walaupun begitu, gue bukan penggemar garis keras buku kertas. Selama ini asik membaca buku fisik cuman karena lebih nyaman saja. Bukan karena hal-hal pretensius seperti suka aroma kertasnya, sensasi membalik halamannya, tebal sampulnya, dll. Murni karena lebih nyaman bacanya saja. Nah sekarang gue sudah memiliki gawai lain untuk membaca buku elektronik. Apakah nantinya akan lebih suka baca buku elektronik? Ya semoga saja. Semoga gue menemukan kenyamanan membaca seperti saat gue membaca buku fisik, supaya iPad ini tidak sia-sia dan ke depannya bisa beli buku dengan harga lebih murah secara digital... Atau ya unduh secara ilegal.

(Bukan) Tukang Difoto

Ooops... Terlewat satu hari. Hahahahahahahahaha.

Tapi setelah dipikir-pikir tak apalah, yang penting pas tanggal 30 tulisannya ada 30.

Jadi hari Minggu kemarin gue terlalu lelah sehingga gue tertidur pulas di waktu yang lebih cepat dari biasanya. Ketika bangun jam 10 pagi tadi, TV dan lampu di kamar masih menyala, gue pun masih memakai celana panjang. Gue tertidur kurang lebih 12 jam, kemudian bangun dengan puluhan notifikasi di ponsel gue, beberapa di antaranya ada panggilan tak terjawab, padahal ponsel ada di sebelah gue persis. Akumulasi kurang tidur karena begadang dari beberapa hari sebelumnya dan energi yang habis karena melakukan aktivitas sehari-hari, berbuah tidur 12 jam seperti singa jantan pemalas yang habis makan buruan hasil berburu singa betina.

Hari Minggu kemarin gue dan teman-teman gue berburu foto. Gue berburu foto street dan beberapa di antara mereka berburu foto model. Kami berlima, dengan tiga orang di antaranya mulai dari setengah 6 pagi. Salah satunya gue.

Seperti yang gue bilang, beberapa di antara mereka berburu foto model. Gue adalah salah satu objek foto mereka. Salah satu teman gue yang ikut di hari Minggu kemarin kebetulan juga menjadikan gue sebagai model di hari sebelumnya. Jadi selama dua hari berturut-turut gue menjadi model dadakan.

Sayangnya gue nggak jago berpose.

Sudah dari lama gue menekuni hobi di dunia fotografi, khususnya dunia street photography. Gue nggak bisa bilang diri gue ahli dalam hal foto, tapi gue sedikit banyak mengerti lah masalah sudut, cahaya, komposisi, dan lainnya seputar fotografi. Kebetulan pernah juga beberapa kali dapat penghargaan dalam ajang fotografi. Jadi untuk urusan foto sedikit mengerti lah. Tapi untuk urusan difoto gue goblok.

Gue belum melihat semua hasilnya, namun gue yakin akan ada banyak yang jelek. Hasil jelek tentu bukan karena fotografernya, tapi karena guenya yang kurang bisa memberikan ekspresi bagus dan pose tubuh yang oke.

"Belum biasa aja, Mar." Hibur teman gue beberapa kali. Gue setuju akan hal itu, toh biasanya orang bisa karena biasa. Tapi gue ragu mau membiasakan diri untuk berpose, diunjukkan hasilnya beberapa saja membuat gue bergidik karena geli sendiri melihat betapa kakunya foto gue. Hahaha.

Misalnya suatu hari nanti gue terjun profesional di dunia fotografi, gue sih sangat yakin gue akan jadi tukang foto, bukan tukang difoto.

Friday, May 21, 2021

Ada "Intim" Dalam "Intimidatif"

"Gue orangnya intimidatif gak sih?" Tanya gue ke teman gue malam ini, setelah kami nongkrong bertiga bersama temannya yang kebetulan sempat bikin gue penasaran. Ketika gue ajak ngobrol, temannya itu jarang sekali melakukan kontak mata ke gue. Asumsi gue ya karena tatapan gue terkesan menyerang dan mengintimidasi.

"Gak kok, mungkin belum biasa aja." Katanya. Namun gue kok ya masih ragu.

Keraguan gue ini gue anggap wajar, karena semenjak SMA ke atas banyak teman gue yang awalnya merasa terintimidasi oleh aspek-aspek yang ada pada diri gue. "Lo tinggi banget soalnya." Adalah alasan paling populer di antara teman gue. Lalu ada juga yang bilang merasa terintimidasi awalnya karena tampang gue seram. I was like... Yang bener aja muka culun gini seram dari mananya? Hahaha.

Tapi memang ada masanya gue bergaya rambut yang yang membuat perawakan gue terlihat seram. Bahkan karena gaya rambut itu, gue sempat sempat dikira anak punk oleh anak punk beneran di Blok M. Rambut gondrong tetapi sampingnya botak, kemudian diikat pula.

Jadi suatu hari gue pulang kuliah dan naik metromini ke Blok M. Ketika di Bulungan ada dua anak punk yang mencoba mengamen dengan persiapan yang sangat luar biasa niat: hanya menepuk-menepuk tangan. Gue duduk di bangku paling belakang, dekat pintu sambil melihat keluar. Setelah menyanyikan lagu dengan lirik perlawanan yang sangat panjang: kurang dari dua menit, mereka meminta duit di tiap bangku dari depan. Satu persatu bangku memberikan recehan, tentu bukan karena terhibur. Kemudian datanglah dia ke bangku paling belakang. Kami bertatap mata, kemudian dia mengangguk. Bukan hanya anggukannya yang membuat gue bingung, namun juga kalimat setelahnya.

"Si (sebut nama di sini) ada?" Tanya dia ke gue seakan-akan seseorang yang dia sebut itu adalah teman gue. Belum selesai bingung gue mengartikan anggukannya, datang lagi kebingungan baru. Bukan karena pertanyaannya, tapi jawaban apa yang mesti gue berikan supaya gue bisa play along.

Selang beberapa detik gue balas, "Ada tadi di Taman."

"Sama siapa aja?" Tanyanya lagi.

"Biasa, sama anak-anak." Jawab gue sok tahu. Kenapa gue bilang "sama anak-anak" pula gue tidak tahu kenapa. Padahal bisa saja orang yang jadi topik bahasan kami ini sebenarnya suka menyendiri dan tidak punya teman. Namun tampaknya anak punk itu percaya saja. Gue membatin "oh aman, ternyata memang ada anak-anak."

"Oh." Jawabnya.

Kemudian hening terjadi selama beberapa menit. Metromini yang kami naiki perlahan berhenti karena lampu merah. Gue bingung mau jawab apa lagi kalau dia menyebut nama lain. Nggak mungkinlah gue jawab "ya, di Taman juga, dia itu termasuk anak-anak yang lagi ngumpul sama yang tadi." Akan terlihat sekali bohongnya. Namun untungnya anak punk itu langsung turun dan pamit pula ke gue.

"Duluan, bos."

"Iya." Tutup gue.

Thursday, May 20, 2021

Gak Mau!

Keponakan gue dari sang adik sekarang umurnya sudah setahun lebih, mungkin sudah hampir dua tahun. Entah, gue lupa. Yang jelas badannya sudah terlalu besar untuk diangkat dan kemudian dilempar tinggi-tinggi ke atas tanpa ada rasa khawatir dia akan mencium tanah karena tidak kuat menangkapnya. 

Di umurnya yang hampir dua tahun, dia sudah bisa berlarian ke sana dan ke sini. Jangkauan tangannya pun sudah lebih luas, lengah sedikit dia mungkin sudah memegang gunting dan membuat orang tuanya berteriak histeris. Mereka kemudian akan pelan-pelan membujuk keponakan gue untuk melepas gunting atau benda tajam yang dia pegang. Gue melihatnya seperti tim negosiasi kepolisian untuk membujuk seorang teroris melepaskan senjatanya. Setelah dia melepaskan guntingnya, lalu orang tua di sekitarnya akan memujinya "pinteeeer!". Tiba-tiba meletakkan gunting menjadi sebuah prestasi yang membuahkan pujian. 

Ketika masih kecil, mudah sekali mendapatkan pretasi. Ketika masih bayi, tertawa pun sebuah prestasi yang membanggakan. Kedua orang tuanya akan sangat senang dan memamerkan ke orang tua lain kalau anaknya bisa tertawa. Semuanya adalah prestasi. "Wah, pintarnya bisa tepuk tangan." "Lucu sekali bisa kasih mata genit." "wah, hebat kentutnya nyaring.". Padahal kalau sudah besar, kentut nyaring adalah hal yang membuat orang di sekitarnya sebal. 

Tidak beda dengan adik gue dan anaknya. Walaupun gue sadar bahwa itu bukanlah hal yang luar biasa, tapi entah kenapa gue ada sedikit perasaan bangga saja ketika melihat keponakan gue melakukan sesuatu hal yang remeh. Mungkin anak kecil memang memiliki kekuatan super untuk membuat semua orang bangga, namun perlahan hilang ketika beranjak dewasa. 

Dalam berkomunikasi pun walau kosakatanya masih terbatas, ada beberapa kosakata yang dia sudah mengerti penggunaannya dan bisa membantu dia untuk berbicara dengan orang lain. Contoh paling bagusnya adalah "Gak mau!". Dia sudah mengerti kalau menggabungkan kedua kata itu, dia bisa menolak hal-hal yang dia tidak sukai. "Ayo makan, satu sendok lagi." ucap adik gue ketika sedang menyuapi sayur-sayuran, lalu dengan tegas keponakan gue akan menjawab "Gak mau!", dan adik gue berhenti menyuapinya. "Yuk bobo yuk, udah malem." kemudian dijawab dengan "Gak mau!" dan dia pun akan mendapatkan waktu ekstra untuk bermain. 

Wow, praktis sekali! 

Belakangan ini gue sedang dikejar beberapa kerjaan di luar kerjaan utama yang rempongnya minta ampun. Karena melalui banyak tangan, brief yang diberikan tidak sempurna, sehingga revisi datang dari tangan pertama. Mantapnya lagi revisinya selalu datang bergerombol di saat-saat terakhir. Akan seru sekali sepertinya kalau gue punya kekuatan super seperti keponakan gue. 

"Mar, ternyata yang ini dan ini dipotong aja deh. Terus yang bagian awal, ditambahin dikit. Akhirannya juga dipersingkat aja gimana? Terus malam ini dikirim ke gue. Besok dipresentasikan ke klien soalnya." teman gue menjelaskan. 

"Gak mau!"

"Oh oke deh." Kemudian revisi tidak jadi ada. Haha.