Sunday, May 30, 2021

30 di 30

Akhirnya selesai juga proyek 30 untuk 30 ini.

Sudah lama sekali gue melupakan serunya menulis, dengan proyek menulis rutin ini sepertinya mengingatkan gue kembali akan betapa menyenangkannya menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan. 

Sebenarnya sebelum menulis ini di sini, gue juga melakukan hal yang sama sebagai terapi di "rumah" yang lain. Bagi gue lebih mudah menulis di sana, karena gue rasa tidak ada pembacanya. Gue jadi bebas curhat hahaha. Lalu gue berpikiran baiknya di sini juga, jadi ya begitulah, 30 tulisan dalam sebulan ini.

Sebentar lagi tanggal 30 selesai, dan ini adalah tulisan ketiga puluh di tanggal 30. Dengan berakhirnya proyek ini, bukan berarti gue akan mulai jarang menulis di sini, justru sebaliknya. Sepertinya gue akan mulai sering menulis lagi di Cuma Iseng 2 ini. Gue harus terus ingat bahwa menulis adalah salah satu hal yang gue suka... Selain malas-malasan... Yang sayangnya sudah jarang gue lakukan.

Apa gue bikin proyek 30 hari malas-malasan juga ya? Hahahahaha.

Anywaaaay... Yep, that was it. 30 posts in 30 days. And this is the 30th post. Walaupun banyak tulisan yang dipaksakan karena mengejar target, semua rangkaian kegiatan ini seru sekali. Semoga para pembaca juga merasakan keseruan yang sama.

Sampai ketemu lagi di tulisan selanjutnya yang--gue rasa--akan lebih teratur.

Much love,

- O -

Akhirnya Kepala Tiga

Hari ini gue berganti umur menjadi tiga puluh tahun. Gue cuman bisa kayak "daaaaaammmmnnnnnn!".

Cukup terkejut sih gue ternyata bisa hidup selama ini. Gue sebagai seorang semi-nihilist tentu tidak mengharapkannya, kalau bisa sih gue mati cepat saja supaya tidak lama-lama menjalani omong kosong yang orang sebut dengan kehidupan ini. Tapi ya gue tidak mau mengakhiri hidup gue juga karena beberapa alasan. Jadi gue hanya bisa menjalani hidup gue dengan cara gue, supaya hidup gue berjalan dengan maksimal menurut hemat gue.

Live to live. Menjalani hidup untuk/supaya hidup. Menghidupi hidup.

Tidak ada yang spesial dalam detik-detik gue berganti menjadi tiga puluh. Sama saja seperti hari-hari biasa. Gue menghabiskan malam pergantian tahun bersama orang-orang yang gue pilih, mengobrol dan tertawa sambil memutar gelas yang berisi air Tuhan. Bercengkrama dengan riang walaupun di paginya gue merasa agak kecewa hahaha.

Ucapan selamat masih mengalir hingga detik ini. I guess I am loved after all, karena mereka mengingatnya padahal gue tidak pernah vokal menyangkut ulang tahun gue. Beberapa orang yang lebih tua dari gue menyambut gue ke dalam klub kepala tiga. Gue masih kayak paragraf pertama tadi, cuman bisa membatin "daaaaaammmmnnnnnn!". 

Pagi tadi ketika gue sedang sendirian, gue rebahan di sofa sambil menatap awan dalam waktu yang lama. Rencana awalnya sih hanya ingin melamun saja, karena sudah lama sekali otak gue tidak senggang. Namun tidak sampai sejam, lamunan gue berubah menjadi refleksi diri. Gue jadi merenung mengenai banyak hal yang telah terjadi selama gue hidup. Gue melihat banyak lubang yang seharusnya bisa gue tambal atau gue hindari dalam hidup gue. Sesaat gue merasa menyesal, tapi langsung sadar kalau lubang-lubang itu juga salah satu faktor yang membentuk gue.

Well, anywaaaaay, I don't want to go deep. Pun gue rasa tulisan kali ini sangat berantakan. Jadi sepertinya gue akhiri saja.

So... Yeah. I'm old now. Meninggalkan twenties itu aneh sih. Padahal gue tahu ketika berulang tahun itu ya sama saja seperti pergantian hari biasa, namun ketika memasuki kepala tiga ini rasanya agak berbeda. Semacam dipaksa untuk memikirkan banyak aspek hidup dengan lebih serius. Dan lagi-lagi gue hanya bisa teriak dalam hati, "daaaaaammmmnnnnnn!".

Friday, May 28, 2021

Fetish Dua Miliar

"Lo coba deh foto kaki lo, Mar. Pasti banyak yang mau beli." Ujar teman gue tadi, ketika gue sedang selonjoran di kamarnya. Kami sedang bahas tentang masalah minuman, lalu tiba-tiba pernyataan begitu dia lontarkan. Gue kemudian bingung. Hahahaha.

Tentu pernyataannya itu maksudnya mengacu untuk orang yang mempunyai ketertarikan seksual terhadap kaki atau bahasa Manadonya: foot fetish.

Ya, gue tidak mengada-ada, ada yang mempunyai fetish terhadap kaki. Kalau tidak salah bahkan ada satu segmen porno tersendiri untuk hal tersebut. Salah satu serial favorit gue, Family Guy, bahkan pernah membuat satu episode sendiri yang bercerita tentang itu. Meg Griffin menjadi bintang porno, hanya saja cuman kakinya yang dijadikan model untuk dimasukkan ke forum foot fetish.

Gue mengerti bahwa jenis fetish orang-orang itu berbeda. Ada yang mainstream sampai ada yang sangat tidak lumrah. Untuk fetish kaki sendiri bagi gue tidak begitu aneh, karena gue pernah membaca banyak yang lebih aneh, salah satu contohnya Mucophilia yang maksudnya seseorang akan sangat bergairah kepada bersin atau tepatnya ingus yang keluar dari sana.

Lantas apakah fetish kaki itu wajar? Ya gue nggak bisa menyalahkannya juga, karena kalau bicara masalah itu sudah masuk bahasan selera. Ketika mendebatkan selera tentunya tidak akan ada habisnya, karena tidak ada yang salah dan benar. Namun apakah gue mempunyai fetish kaki? Sepertinya sih tidak. Gue kayaknya tidak akan tegang walaupun melihat kaki yang paling indah sekali pun.

Gue akan tegang kalau dikasih dua miliar. Fetish gue adalah dapat uang dua miliar rupiah.

Thursday, May 27, 2021

Waktu itu Relatif

Semua orang pasti pernah mengeluhkan hal yang semu, seperti contohnya mengeluhkan waktu terasa berjalan cepat sekali. Padahal ya tidak, setiap manusia sama-sama punya waktu 24 jam yang tiap jamnya terdiri dari 60 menit dan tiap menitnya memiliki 60 detik. Tapi ada kalanya kita merasa waktu yang kita habiskan di suatu momen itu habis dalam kecepatan yang tidak wajar.

Merasa seperti itu biasanya entah karena sedang berada di waktu yang menyenangkan atau karena bertemu orang yang membuat kita merasa senang berada di sekitarnya. Berapa pun lamanya, pasti akan terasa kurang.

Belakangan gue merasa begitu. Sering menyayangkan waktu yang berlalu begitu cepat. Entah karena gue sedang berada di waktu yang menyenangkan...

... atau karena gue sedang bertemu orang yang membuat gue merasa senang di sekitarnya.

Berapa pun lamanya, gue akan merasa kurang.

Wednesday, May 26, 2021

Diet X-3m

Pernah melakukan diet ekstrim ternyata secara tidak langsung memengaruhi perspektif gue dalam mengeluarkan uang untuk membeli makanan. Gue jadi agak pelit dalam membelanjakan uang untuk membeli makanan, soalnya gue berpikir tujuannya ya sama saja: supaya perut terisi. Jadi kalau ada alternatif yang lebih baik value-nya, kenapa harus beli yang mahal?

Jadi beberapa tahun lalu ketika masih di Jogja, gue pernah berupaya untuk menurunkan berat badan gue yang hampir mendekati 90 kilogram. Metode defisit kalori yang gue gunakan bisa dibilang ekstrim. Gue nggak akan makan sampai gue merasa lapar yang membuat perut sakit. Lapar biasa biasanya akan hilang kalau dibiarkan selama 10 sampai 15 menit, dan memang begitu yang gue rasakan. Makannya pun juga minim, paling sedikit itu hanya 4 gorengan dalam sehari. Seharian tidak makan pun bisa saja, tapi gue tidak mau merusak badan gue lebih jauh. Toh riset terhadap badan sendiri ini pun gue sadari kalau sebenarnya merusak badan.

Tentunya defisit kalori gila-gilaan ini benar-benar berhasil. Gue turun hampir 10 kilogram dalam 10 hari. Pengeluaran untuk makan pribadi pun tidak sampai 300 ribu dalam sebulan. Namun konsekuensinya adalah metabolisme gue rusak sampai sekarang, gue rasa.

Seperti yang gue bilang di atas, itu memengaruhi gue dalam belanja makanan. Gue jadi berpikiran kalau tidak perlu/ada alternatif lain, ya tidak usah dibeli untuk dimakan. Membeli makanan/minuman dengan efektif. Hal yang gue rasa baik untuk dompet sih.

Tapi sayangnya untuk membeli barang, gue masih kebalikannya. Gue masih suka belanja hal yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Apalagi misalnya itu adalah barang hobi. Sepatu misalnya.

Kalau rak sepatu tidak penuh, gatal sekali ingin membeli sepatu baru. Sampai saat ini gue belum membeli rak sepatu lagi, karena sadar kalau ada ruangan kosong di rak itu, jempol ini akan mengantarkan gue ke toko daring untuk membeli sepatu. Tidak membeli rak adalah upaya gue dalam diet sepatu.

Namun brengseknya hobi baru datang lagi. Juga gue belum menemukan cara untuk diet parfum. Nah loh?!

Yaaaa... sepertinya dompet masih belum aman. ¯\_(ツ)_/¯