Friday, February 13, 2015

1 Semester.

Jum'at. Tanggal 13.

Hari keramat di tanggal angker kata orang. Memang, keramat sekali. Bahkan bagi kami.

Aku suka 13.

Itu hari  dan tanggal yang sama seperti waktu itu. Saat itu kami pertama bertemu. Siang, jam sebelas, seingatku. Tidak kurencanakan, seakan Jum'at dan tanggal 13 itu yang memilih momen itu.

Tanpa disengaja.

Siapa sangka kami akan memutuskan untuk melangkah bersama sampai sekarang. 6 bulan.

1 semester. 6 bulan lalu. Pada waktu pagi buta seperti sekarang, kami berbincang, berjanji tidak akan saling mengecewakan, dan mengiyakan untuk membuat komitmen. Ikatan yang masih berjalan tanpa lubang besar melintang di jalan, hubungan yang masih kokoh dan penuh suka dibanding duka. Semua diawali dari obrolan pada tanggal 13.

Tanggal yang sama saat kami pertama bertemu. Tidak kurencanakan. Seakan tanggal 13 itu yang memilih momen itu.

Tanpa disengaja.

Aku suka 13.

Saat itu juga kami menonton film di bioskop di hari yang sama. Film yang kami tonton adalah kura-kura mutan yang memiliki keahlian ninjutsu yang disutradarai Michael Bay. Film yang biasa saja, yang spesial hanya 1. Aku duduk di bangku 13. Tanpa kurencanakan.

Ya Tuhan, aku suka 13.

Sekarang, hari Jum'at. Tanggal 13. Hari dan tanggal yang sama saat kami pertama bertemu, tanggal yang sama saat kami mengambil keputusan, hari dan tanggal yang sama ketika aku menulis ini, kami sudah melangkah bersama selama setengah tahun.

1 semester. 6 bulan. Setengah tahun.

Kami sepakat kalau waktu sangat tidak terasa. Bukti kalau kami menikmatinya.


Menikmati hasil yang kami awali dari perjumpaan hari Jum'at tanggal 13, dan dikukuhkan satu semester lalu...

1 semester. 6 bulan. Setengah tahun. And we're still okay... We are OK.

Sekali lagi, aku suka 13.


Saturday, December 27, 2014

Surat Kecil

Sudah lama sekali ya? Haha. Sudah lama juga aku merindukanmu...

Ya, aku yakin bukan aku saja yang merindukanmu. Aku yakin banyak orang pun. Mereka kangen dirimu. Karena, hey, kau orang  yang hebat! Setidaknya itu kata mereka, orang yang menghabiskan waktu lebih lama denganmu ketimbang diriku.

Yang aku lihat dulu, kau adalah sosok yang galak. Beuh! Galak banget! Suka nyubit kalau aku nakal. Dan aku sering banget kau cubit, karena aku memang sangat nakal dulu. Haha.

Masih ada adegan yang teringat di kepalaku, ketika dulu aku nakal, kau membentakku dan mau memukulku dengan senjata pamungkasmu, selimut kecil warna putih dengan garis hijau (atau sebaliknya). Tapi sebelum kau mengambil selimut itu, aku berlari dan mengambilnya duluan. Lalu kau melotot, membentakku, dan mengancam akan memukulku dengan sapu lidi kecil. “Yaudah, aku pakai ini,” aku menantang duel sambil mengangkat selimut kecil itu. Kau tertawa, tidak jadi marah.

Ada adegan lain yang masih kuingat tentang kegalakanmu dulu. Ketika di mobil aku dimarahi olehmu, lalu kau mencubitku dan membuatku duduk di belakang sendiri. Aku masih agak ingat rasa cubitan itu. Suakit tenan! Kau selalu mencubit kecil, yang mana itu adalah senjata tangan kosong yang keji.

Kau galak. Kau suka mencubit. Aku takut padamu. Namun tidak sampai beberapa jam, kau berhasil membuatku suka bermanja-manja kepadamu.

Aku merasa nyaman ketika di pelukanmu. Sudah seharusnya.

Aku merasa aman di tanganmu. Sudah seharusnya.

Aku mencintaimu. Sudah seharusnya.

Sekarang sudah puluhan tahun aku tidak melihatmu. Tapi kurasa kau bisa melihatku selama ini. Curang!

Bisakah kau melihatku sekarang?

Aku harap aku tidak membuatmu malu.

Mungkin kau juga bisa melihatku berusaha menjadi seperti dirimu. Menjadi orang baik. Tapi harap maklum, aku hanya bisa menjadi orang baik yang suka bermalas-malasan. Haha.

Ah, kau tidak tahu betapa aku sangat ingin bicara denganmu di beberapa waktu. Aku ingin bercerita banyak!

Aku ingin curhat tentang masalah cinta ketika aku masih SMA dulu. Tapi kita tidak bisa berdialog.

Ketika lulus SMA, aku ingin meminta saran tentang kuliah. Tapi tak bisa.

Aku ingin mengeluh tentang pekerjaan, tapi lagi-lagi tak bisa.

Tak bisa. Banyak momen di mana aku tidak bisa meminta saranmu. Saran seorang wanita hebat yang bijak, seperti apa yang dikatakan mereka.

 Ah, aku kadang iri sama mereka. Bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu. Aku ingin bisa curhat denganmu dan mendapatkan nasihat darimu.

Aku ingin bisa ngobrol tentang banyak hal denganmu selama ini. Seperti mereka. Tapi tak bisa.

Selama ini, aku iri.

Iri.

Aku merindukanmu.

Sudah lama sekali ya? Sudah lama juga aku merindukanmu... mencintaimu.

Selamat ulang tahun, Ma.


Apa yang sekarang kau lakukan di alam sana? Kalau Oji masih sama kayak biasa. Masih kangen mama.

Tuesday, July 22, 2014

Yak!



Pemuda itu sedang duduk di sebuah ruangan yang hanya berisikan satu meja kayu dan satu kursi kayu. Lantainya pun terbuat dari kayu. Sudah berdencit di sana-sini, menunjukkan bahwa lantai kayu itu sudah tua. Tembok bata yang hanya berhias dua jendela yang menghadap ke arah pegunungan dan satu pintu yang juga terbuat dari kayu, mengelilingi pemuda itu. Di atas meja terdapat sebuah kotak penyimpanan.

“Lo menang deh kayaknya,” ucapnya kepada kotak metal dingin di depannya. “Jadi, mari kita lakukan, kawan.” Dia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya: sebuah gelas, sebotol wine, sebungkus rokok, dan sebuah pistol. Itu semua untuk ritual bunuh dirinya.

Wajahnya tidak tampak depresi seperti orang yang akan bunuh diri. Biasa saja. Bahkan dia sempat senyum sambil mengeluarkan botol wine. “Ini kan perayaan transformasi gue jadi atom dan menyatu sama alam semesta, harusnya gue beli sampanye saja waktu itu.” Pikirnya sambil mengeluarkan botol tadi, dan dia bahkan sempat tertawa ketika dia melihat pelurunya terisi penuh padahal dia hanya butuh satu. Satu tembakan di kepala, dan semua selesai. Kembali lagi, dia tidak terlihat murung. Mungkin dia sudah terlatih menekan emosi negatifnya, jadi dia tetap tidak bisa berekspresi muram, walaupun dia hanya sendiri. Dia terlihat ceria. Namun ada yang bilang orang paling ceria yang kamu temukan biasanya adalah orang yang paling depresi. Mungkin itu benar.


Wine dituangkan ke gelas, dan dia pun menyalakan rokoknya. Tarikan dalam, lalu hembusan ringan, diikuti bibirnya yang menyisip gelas berisi wine. Diulang. Damai.

Ritual itu memang sudah dia siapkan sejak lama ketika dia sudah merasa kalau suatu hari dia tidak kuat. Hidup kadang bisa berat dari berbagai hal, bukan hanya segi finansial saja, namun dengan tahu kita harus hidup saja bisa menjadi beban. Oleh karena itu pemuda itu menyiapkan itu semua dari beberapa tahun lalu, untuk saat di mana dia sudah tidak mampu melawan hidup.

Sebuah pistol untuk membantunya, karena dia pikir itu adalah cara paling mudah walaupun kotor. Sebungkus rokok guna membantunya berpikir secara dalam untuk terakhir kalinya. Dan sebotol wine sebagai minuman terakhir, walaupun dia belum pernah meminumnya, tapi dia sering melihat bagaimana minuman itu didewakan oleh orang-orang. Dia ingin meminum dewa sebelum bertemu dengan dewa. Semua ritual kematiannya dibuat seromantis mungkin, karena dia suka mengistimewakan hal-hal yang sepele, bahkan untuk kematiannya yang sebenarnya tidak akan dia rasakan keistimewaannya. Karena dia akan mati.

Wine sudah habis. Rokoknya hanya dia hisap 2 batang. Jemarinya menghampiri tempat di mana sebuah revolver besi yang dingin berada. Tangannya mengangkat pistolnya. Ringan, pikirnya. Namun saat menarik pelatuk, pisol itu menjadi berat. Tangannya gemetar namun tetap mantap untuk bisa mengarahkan ujungnya ke atas telinga. Wajahnya tersenyum melihat refleksi bayangannya yang terlihat sedang berpose konyol di kaca jendela. Sambil tersenyum, dia mengangkat tangan kirinya ke depan, lalu mengacungkan jari tengah ke arah bayangannya. Sambil berkata “Yak!” dia memicu pelatuknya agar pistolnya meletus. Dan...

Gue terbangun dari mimpi gue hari ini. Dari semua mimpi gue, mungkin mimpi ini yang paling oke. Sayangnya gue kurang bisa mengemasnya dalam cerita yang bagus. Tapi tetap saja ini mimpi yang keren, dan siapa tahu ini juga termasuk ramalan...:p

Tuesday, June 17, 2014

Makam

Bagi beberapa orang, hanya dengan mendengarkan kata "pemakaman" saja sudah bisa membuat bergidik. Karena kata-kata lain yang otomatis terlintas di otak setelah mendengar kata pemakaman biasanya adalah: duka, sedih, berkabung, atau horor.

Pemakaman adalah tempat di mana orang-orang mengubur orang yang sudah meninggal. Rumah baru bagi orang yang sudah tak bernyawa meninggalkan kenangan bagi orang yang telah ditinggalkan. Di sana, jasad mati tersebut ditimbun oleh tanah di dalam lubang yang dalam. Dari tanah kembali ke tanah.

Banyak sekali prosesi pemakaman yang ada di dunia ini. Ada yang dikubur seperti yang biasa kita lihat, ada yang didiamkan seperti contohnya di Toraja sana, dan ada yang dibakar.

Dikubur itu adalah warisan dari nenek moyang. Jauh sebelum masehi, saat nenek moyang kita masih memakai pisau batu, belum begitu mengenal pakaian, dan belum tahu bagaimana berpose duck face. Aaah, masa-masa yang indah. Silakan di-Google untuk kelengkapan informasinya.

Dan dikubur itu caranya bercabang lagi, ada yang pakai kafan dan ada yang pakai peti. Tapi sudah lah informasi tentang kubur-menguburnya. Mari bicara bagaimana saat gue mati nanti.

Berhubung gue tinggal di negara yang mayoritas beragama Islam, dan keluarga gue pun Islam, dikafankan adalah cara yang seharusnya gue terima saat gue mati. Di dalam Islam, pengkafanan adalah salah satu proses dalam menguburkan mayat, setelah sebelumnya dimandikan dan disholatkan terlebih dahulu. Kemudian setelah itu semua, jasad yang sudah dikafankan akan dimasukkan ke liang lahat, dibuka ikatannya, dikumandangkan adzan, lalu ditutup dengan tanah.

Kalau mau dilihat lebih jauh, sebenarnya dikubur menggunakan kafan itu bukanlah ritual Islam. Jauh sebelumnya, sudah ada Yahudi yang memakai ritual tersebut. Dan kalau mau dilihat leeeebiiiiih jauh lagi, pengkafanan itu sudah ada semenjak jaman keemasan Babilonia, ribuan tahun sebelum masehi. Lalu kapan pengkafanan pertama itu ada? Gue juga nggak tahu. Informasi tentang pengkafanan sendiri kurang lengkap di Internet. Pertama kali gue mencari informasi tentang ini adalah saat gue SMA, terakhir kali adalah beberapa saat lalu sebelum menulis ini, dan apa yang mau gue cari tidak bertambah begitu banyak.

Kembali ke pemakaman. Menurut gue prosesi pemakaman itu tidak efisien dan terkesan boros. Okelah kalau itu adalah suatu adat/budaya/tradisi yang mesti diikuti, namun kalau sampai membebani sih mending tidak usah.

Kira-kira saat gue masih SMP, saat sesudah sholat tarawih di bulan puasa, komplek gue pernah mengusulkan untuk membeli tanah untuk dijadikan makam Blok A (komplek gue). Jadi ketika ada warga Blok A yang meninggal, tidak usah bingung mau dimakamkan di mana. Kenapa sampai ada usulan tersebut? Karena lahan pemakaman (katanya) semakin sedikit dan mahal.

Mengerti maksud gue?

Ya, sedikit dan mahal. Setahu gue, suatu makam akan ditimbun dengan makam baru kalau sudah lompat beberapa generasi atau sudah tidak ada yang mengurus. Tapi pertumbuhan manusia yang cepat membuat kita agak susah untuk mendapatkan lahan dengan menunggu beberapa generasi. Jadi kemungkinan akan ditimbun walaupun belum lompat beberapa generasi.

Dan biaya pengurusannya juga tidak murah. Gue nggak tahu pasti, tapi yang jelas biaya pemakaman itu tidak sedikit. Biaya tanah, biaya penguburan, biaya nisan, biaya pengurusan berkala (tahunan atau bulanan gue nggak tau), dan biaya lain yang gue belum tahu. Banyak. Dan pernahkah elo ke pemakaman umum dan melihat makam yang sudah sangat jelek dan kesepian? Diinjak-injak orang, dijadikan alas, tidak dihormati. Itu membuat gue tambah males.

Gue sendiri kalau mati lebih memilih dikremasi. Ini sudah gue pikirkan jauh sebelum gue jadi seperti sekarang. Pemikiran ini sudah cukup mantap ketika gue masih SMP. Gue tidak mau menyusahkan keluarga gue dengan segala biaya yang akan mereka tanggung setelah kematian gue. Gue tidak mau menyusahkan. Sudah mati kok gue masih nyusahin? Haha.

Yang ada di pikiran gue adalah: sebelum gue mati, gue akan meminta supaya semua organ gue yang layak donor untuk didonorkan, dan setahu gue kalau donor organ itu akan mendapat uang, uang itu bisa keluarga pakai untuk belanja, lalu setelahnya gue dikremasi. Kalau keluarga gue butuh sesuatu untuk dikenang, mereka punya kenangan di otak mereka masing-masing, itu jauh lebih berharga dari apa pun. Namun kalau mereka butuh simbol untuk mengenang gue (seperti makam), mereka bisa menyimpan abu gue.

Atau kasus ekstrim, setelah gue mendonorkan organ gue, jasad gue dipotong-potong, ditaroh ke ember, lalu dilempar ke hutan dijadikan makanan macan. Hahaha. Apa pun itu, ketika gue mati, gue tetap akan menjadi atom kecil, lalu menyatu dengan alam semesta yang luas ini. Bukankah itu terdengar keren?! Gue nggak sabar menunggu saat itu...

Seperti yang gue katakan tadi, menurut gue makam itu hanyalah simbol untuk orang yang ditinggalkan mengenang orang yang meninggalkan. Tapi ya mungkin ini hanya menurut gue saja, dan gue tahu kalau di tulisan ini banyak yang salah. Jadi, kenapa kalian nggak kasih komentar saja dan membenarkan apa yang salah di sini. =]

Monday, June 9, 2014

Hidup Gue = Drama Komedi

Kalau hidup gue adalah film, gue bisa memastikan kalau genre filmnya adalah komedi atau drama komedi. Karena semenjak gue SD gue bisa melihat kalau banyak drama dan komedi-komedi selingan di hidup gue yang menggelitik perut, seenggaknya perut gue sendiri.

Tapi tidak usah lah gue membahas kehidupan gue dari SD. Mari kita simak kejadian yang baru gue alami hari ini saja.

Hari ini agenda gue adalah pergi ke kampus untuk ambil legalisir ijazah, bertemu dengan klien karena ada kerjaan sambilan, ke rumah nenek gue untuk menjenguk dan silaturahmi di Pancoran, lalu ke stasiun Bekasi untuk menanyakan tiket karena gue ingin pergi ke Jogja di hari Kamis malam nanti. Kelihatannya padat? Ya, lumayan, tapi tidak sepadat biasanya. Biasanya gue hanya nonton film di notebook dengann sibuk, sambil makan cemilan dengan sibuk, mengupil dengan sibuk, atau membaca dengan sibuk. Sibuk banget.

Dimulai pagi hari tadi. Rencananya gue mau pergi ke kampus jam 8 pagi, tetapi gue sendiri baru bangun tidur jam setengah 10. Sebenarnya gue sudah bangun dari jam 7, tetapi nikmat kasur tidak bisa gue khianati, jadinya gue tidur lagi dan berharap bangun jam 8 sampai akhirnya bablas terbangun jam setengah 10. Gue langsung bersiap-siap.

Sisi positifnya bangun kesiangan adalah: macet yang gue lalui tidak separah kalau gue berangkat pagi. Perjalanan Bekasi ke Jakarta Selatan normalnya hanya memakan waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam, namun macet di pagi hari membuatnya bertambah lama sedikit, kira-kira 2 jam sampai 2 setengah jam. Perjalanan Bekasi – Jakarta terasa seperti Bekasi – Bandung. Atau Kamar Gue – Kamar Mandi di hari libur. Lama.

Gue sampai kampus jam 11 lebih sedikit. Sebenarnya gue malas ke kampus, tetapi gue disuruh datang di hari Senin ini, karena legalisir ijazah gue baru bisa diambil hari ini. Ketika gue sampai di ruangan tata usaha untuk mengambil dokumen, Mbak Lia (orang kampus) bilang dengan muka tanpa dosa, “Yah, belum, Mar. Mbak Retno lagi sakit, jadi belum diurus. Elu sih kenapa dateng duluan sebelum gue telfon?” Dan tiba-tiba gue menjadi orang yang salah. Yang bener ajeeeee!? Saat itu gue jadi tahu 2 hal: 1. Gue mesti tunggu orang kampus nelfon dulu sebelum ambil dokumen yang dijanjikan, 2. Orang kampus pada ngehe.

Gue masih di kampus memanfaatkan wifi dewa di sana sampai jam 12, jam makan siang. Ketika sudah jam 12, gue berangkat pergi ke rumah makan Raja Begor di dekat Senopati untuk bertemu klien. Gue sampai setengah 1 lebih. Kami janjian jam 1, masih ada waktu lah untuk makan siang di sana.

Makanan sudah habis, gue sudah memesan minuman 2 kali, waktu menunjukkan jam 1 lewat 40. “Bangke! Lama amat!” teriak gue dalam hati. Tidak sabar, gue menghubungi dia. “Halo, nyet! Di mana lo, Jing?!” kata gue... oke, itu bohong. Gue hanya menyapanya biasa secara semi-formal. Ketika sudah ngobrol beberapa lama, gue dapat menyimpulkan kalau dia tidak akan datang. Karena dia bilang, “Sorry, Mar, gue nggak bisa dateng. Ada hal mendadak nih di sini. Brief-nya gue kirim ke email lo aja ya? Kalau ada yang kurang jelas bisa lo tanya lewat email.” Monyet...

Gue langsung pergi dari sana menuju Pancoran menjenguk nenek gue. Tidak lama gue di sana, hanya sekitar sejam. Menjenguk nenek gue, ngobrol sedikit dengan Pakde dan Bude gue, sedikit bercermin menikmati salah satu keindahan yang Tuhan telah ciptakan, lalu pulang ke Bekasi.

Saat sudah di Bekasi, gue langsung menuju stasiun Bekasi. Saat itu sudah jam 4 lebih ketika gue sampai di sana. Gue ke stasiun karena mau membeli tiket untuk ke Jogja di hari Kamis malam nanti. Gue ke Jogja mau mengurus kepindahan gue di sana, karena gue mau melanjutkan kuliah di sana, dan mencari kerja di sana (kemarin sudah 2 kali dipanggil oleh agensi iklan dan radio di sana, cuman gue nggak bisa datang karena gue disuruh datang esok paginya setelah gue dipanggil, sedangkan gue masih di Bekasi. Kan ngaco.)

Antrian di loket panjangnya nggak kalah dengan antrian subsidi bulanan di kampung-kampung. Panjang. Gue mengambil antrian paling belakang. 20 menitan berlalu, dan gue masih terjebak di tengah antrian. Gue menengok ke belakang, dan orang-orang tambah banyak. Buset.

Cuaca saat itu panas, membuat gue nggak betah dengan keringat yang menempel di badan gue. Belum cukup penderitaan yang gue alami, tiba-tiba perut gue melilit dan ingin kentut. Saat itu gue percaya kuasa Tuhan dan cobaan-cobaan ilahi. Gue keringet dingin menahan gejolak gas di perut gue. Gue gelisah. Dan saat itu juga gue dilema! Dilema mau keluar antrian kemudian kentut jauh dari antrian lalu kembali lagi ke belakang antrian, atau menahan kentut sampai gue selesai antri walaupun muka gue sudah pucat seperti penderita tifus yang berusaha untuk menyelesaikan triathlon. Akhirnya gue memilih untuk menahannya. Kalau gue kembali ke belakang antrian, mungkin gue baru bisa sampai loket pas bulan puasa.

Akhirnya gue sampai di loket. Gue bertanya apakah tiket ekonomi untuk ke Jogja di Kamis malam masih ada atau tidak. Dan ternyata sudah habis. Kemudian gue tanya lagi mbaknya, apakah tiket bisnisnya di Kamis malam juga sudah habis atau belum, dan ternyata belum. Kabar baik. Setelah mendapat kabar baik itu, gue memutuskan untuk membeli tiket bisnis keesokan harinya. Lalu gue pergi dari menjauh dari stasiun.

Beberapa puluh meter dari stasiun, perut gue mulai bertingkah lagi. Kali ini bukan kentut saja yang gue rasa ingin keluar, melainkan bersama teman-temannya. Gue mencari toilet umum di sekitar dengan gelisah, dan akhirnya ketemu.

Toilet umum yang gue temui benar-benar parah kondisinya. Tidak ada lampu untuk penerangan, dan demi apapun bentuk toiletnya aneh. Gue baru pertama kali melihat toilet berbentuk O yang lubangnya berada di ujung depan. Dan itu juga tidak jelas, toilet duduk atau jongkok. Tapi berhubung gue sudah sangat kebelet dan kepepet, kreativitas gue diuji saat itu. Gue duduk dan rasanya cukup nggak nyaman.

Mari kita lewati cerita tentang boker ini, karena tidak ada yang spesial. Tinjanya pun nggak bisa gue ceritain gimana bentuknya karena gelap. Apakah bentuknya panjang dengan ujung agak runcing?  Apakah berbentuk pendek tapi besar-besar dan terlihat berotot? Apakah ada biji cabai atau daun kangkung di dalamnya? Apakah warnanya sehat atau kehitaman? Gue nggak tahu. Gelap. Oh, kalau lo lagi makan, jangan dibaca ya... eh telat. Hahaha.

Singkat cerita, proses boker yang spiritual itu selesai. Gue akhiri ritualnya dengan menyiram toilet itu. Cuman gue nggak tahu apakah sudah tersiram bersih atau belum. Oleh karena itu gue mengambil HP gue (Samsung Galaxy S3) untuk menerangi toilet dan melihatnya. Lalu, Tuhan nampaknya masih ingin  melihat sedikit lelucon di drama komedi kehidupan gue ini, oleh karena itu HP-nya terpeleset dan jatuh ke dalam toilet. “Plak plak plak... plung.” Bunyinya masih teringat jelas. Bahkan gue masih ingat berapa kali HP gue salto di dalam toilet itu. 3 kali.

Reflek, gue mengambil HP gue itu, lalu menariknya dari dalam toilet. Sisi positifnya: toiletnya sudah bersih. Gue nggak bisa bayangkan kalau saat mengambil HP gue, ada tokai yang masih menempel. Sekali lagi, jangan sambil makan bacanya... eh telat lagi ya? Hehe.

Gue nggak tahu apa-apa tentang tekhnologi HP, namun gue secara naluriah mematikan HP gue dan mencabut baterainya. Karena aliran listrik mungkin bakal membuatnya konslet. Gue langsung ke rumah dengan terburu-buru untuk mencari solusinya di Google. Gue beranjak pulang menjauhi stasiun dengan tertawa sendiri. Gue tertawa dengan komedi yang gue alami. Haha.

Sekarang HP gue sudah gue tangani dengan apa yang Mbah Google bilang. Gue akan melihat hasilnya besok pagi. Ngomong-ngomong, kejadian hari ini merupakan kejadian paling lucu (yang tragis) semenjak gue lulus SMA. Gue kira tidak ada lagi hal bodoh di hidup gue, tapi alam semesta punya cara sendiri untuk menunjukkan kalau gue salah. Haha.

Dan daritadi gue tertawa sendiri mengingat kejadian hari ini. Bukan panik ataupun sedih, melainkan tertawa geli. Karena kalau panik dan sedih tidak akan ada gunanya, tetapi kalau tertawa, seenggaknya gue terhibur. Lagipula, menertawakan kesalahan sendiri itu lebih sehat. Oh, ada satu saran dari gue: kalau suka bermain HP di toilet, pastikan status siaga lo sudah dalam posisi aktif.

Gue selalu berpikir kalau belajar itu paling enak dari kesalahan orang lain, sekarang gue mau elu belajar dari kesalahan gue ini. Gimana? Enak toh? Haha.