Friday, May 30, 2014

Aku Tak Mau Pulang...

1. "A-aku tak mau pulang..." ucap seorang pemuda. Tubuhnya gemetar. Langit gelap menunjukkan kalau sudah malam, dan suara rintik hujan dan gemuruh petir menandakan di luar langit sedang menangis. Hujan.

2. "Kamu harus pulang," balas seorang wanita di depannya. Suara kecilnya begitu menenangkan. "Sudah waktunya." terusnya sambil tersenyum. Senyum kecilnya nampak begitu cocok dengan bibirnya yang tipis. Wajahnya ramah dihiasi oleh mata sayunya.

3. Lelaki itu terlihat murung. Dia menunduk, merenung. Terlihat bimbang. Dia memikirkan banyak hal. "Aku tak mau pulang..." katanya.

4. "Tapi kamu sudah dipanggil. Saat kau pulang, kau akan menemui mereka yang sedang menunggumu di sana. Kamu tidak bisa mengabaikannya. Kamu harus pulang." Wanita itu masih berkata dengan nada halus.

5. "T-tapi..." ucapan pemuda itu terhenti. Dia teringat bagaimana dia sangat menyukai tempat itu. Tempat di mana banyak orang yang mencintainya. Tempat di mana dia bisa tertawa tanpa dipaksa. "... aku tak mau pulang."

6. Wanita itu mendekatinya. Wajahnya tepat di depan wajah si pemuda. Tangannya membelai halus wajah pemuda. Mata pemuda itu mulai berkaca-kaca. Wanita itu pun mengatakan, "Pulanglah..."

7. "A-aku..." pemuda itu mulai terisak, namun belum menangis. Tangan wanita itu masih di pipinya.  Dia teringat akan gadis yang disukainya di tempat itu. Kenangan-kenangannya di sana membuat dia tambah enggan untuk pulang. Dia tambah merasa sakit. Sakit yang teramat di bagian dadanya.

8. Tetiba pemuda itu mundur menjauh. Badannya berbalik memunggungi sang wanita. Kali ini dia menangis. Isaknya terdengar tipis. "... tak mau pulang." ucapnya terbata-bata.

9. "Kamu tak perlu ragu. Pulanglah sekarang." Wanita itu mendekat lagi. Tangannya meraih tangan pemuda. Menggenggamnya, dan menariknya agar sang pemuda mendekat ke arah dia.

10. "Relakan apa yang kamu dapat di sini, termasuk kenangan-kenangan bersama mereka. Kau harus pulang. Tempatmu bukan lagi di sini. Aku bisa menjamin, suatu saat, mereka akan kau temui lagi. Pulanglah." Wanita itu mengakhiri ucapannya masih dengan senyumnya yang menenangkan.

11. "Aku tak mau pulang." pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Aku tak mau pulang. Aku tak mau pulang. Aku tak mau pu-" kalimatnya terputus.

12. Wanita itu menghentikan rengekan pemuda itu dengan ciuman di bibir. 5 detik... 10 detik... kemudian semua terlihat gelap.

13. Di suatu kamar rumah sakit, terlihat alat EKG yang menunjukkan garis datar dengan bunyi mendengung yang statis.

14. Sepasang orang tua tiba-tiba menangis. Di sana juga ada seorang gadis yang tampak imut. Dia juga terisak. Mereka menangisi suatu sosok yang terbaring kaku di atas kasur rumah sakit.

15. Dokter datang. Dokter menenangkan mereka. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Dokter itu mulai menutup wajah sang pemuda yang terbaring di atas kasur dengan selimut, dan berkata, "Maaf, anak kalian telah berpulang. Kami turut berduka."


Wednesday, May 28, 2014

Sunday, May 18, 2014

Diskusi...

Sabtu sore. Sehabis mendatangi sebuah  festival dan berputar-putar mencari kemeja di mall, sepasang pemuda dan pemudi duduk di sebuah restoran keluarga. Alasannya di restoran keluarga makanannya lebih murah. Si pemuda memesan sapi lada hitam, sementara si pemudi memesan mie ayam katsu.

10 menit...

20 menit...

30 menit...

hampir sejam, dan makanan mereka belum datang. Ternyata terjadi kesalahan tekhnis di balik dapur sana. Orang biasa mungkin akan kecewa dan langsung pergi, tetapi mereka memutuskan tidak pergi karena sudah kepalang tanggung dan tidak ingin menyebabkan masalah untuk seorang pelayan yang tadi melayani mereka.

Makanan akhirnya datang. Dan mereka pun makan. Tidak ada acara menengok HP, karena mereka sudah melakukan kesepakatan kalau misal ada salah satu di antara mereka yang mengecek HP selain menjawab panggilan telfon, maka dia harus mentraktir orang yang satu lagi. Makan selesai. Mereka ngobrol. Dan tiba-tiba...

X: ... ngomong-ngomong, kenapa tadi kita nggak pergi hayo?
Y: Karena lo yang bilang kalau nggak usah, soalnya nanti pelayan tadi bakal kena omel?
X: Iya, emang. Tapi coba pikirin lebih jauh.
Y: Apaan lagi emang? Lo nungguin pelayan tadi dan mau kenalan?.
X: Yeee, buat apa? Kan udah ada lo.

Dan mereka tertawa kecil

Y: Ooop! Stop di sana, nanti ujungnya malah ngejek ih.
X: Haha. Yaudah, balik. Jadi kenapa kita nggak pergi?
Y: Nggak tau. Kenapa?
X: Soalnya takdir mau kita ada di sini. Buat nggak pergi, nungguin, dan makan sampai habis.
Y: Ih beraaat. Hati-hati jangan kejauhan mikirnya, nanti nyasar.
X: Gue udah nyasar bertahun-tahun kok. Dan sekarang gue udah bebas di tempat baru. Nggak perlu gue jelasin lah, gue yakin lo pinter kok untuk cari tau maksudnya. Hehe.
Y: Agak sih. Terus lo percaya takdir?
X: Nggak tau. Lo? Definisi takdir menurut lo apa nih? 
Y: Takdir itu kayak skrip lah ya buat manusia yang Tuhan udah tulisin buat kita. Jadi Dia sudah ngatur jalan hidup kita sampai hal-hal terkecil.
X: Oke, jadi menurut lo kita hidup seperti ini karena udah ditakdirin kan? Kayak tadi kita nggak pergi kan?
Y: Iya sih.
X: Berarti kita nggak bisa milih jalan hidup kita dong? Wong udah ditulisin. Pilihan nggak ada. Ya kan?
Y: Nggak laaah. Di agama gue, dikasih tau kalau ada takdir yang bisa diubah, gue lupa apa namanya. Tunggu, lo agamanya Islam juga kan?
X: Kedua orang tua gue sih Islam. Tapi tunggu, kalau ada takdir yang bisa diubah, berarti lo bukannya sama aja nentang Tuhan?
X: Lo udah disuruh sama Tuhan jadi begini, tapi lo ubah jalan lo jadi begitu. Lo ngelawan Tuhan tuh.
Y: Ya nggak, gue percaya Tuhan udah ngasih jalan yang terbaik buat umatnya, termasuk gue. Jadi ya gue jalanin aja, dan kalau gue nemuin ada yang salah, di situ lah Tuhan ngasih cobaan gue buat milih jalan mana yang mau gue ambil.
X: Gue jadi keinget salah satu tulisan di xxxxyyyy.blogspot.com. Di situ ada tulisan kayak yang kita omongin itu. Coba nanti cek deh.
Y: Apa tadi? Gue catet deh, nanti gue baca. Emang kayak apa maksudnya?
X: Jadi di sana ada ucapan dari seseorang kalau pilihan itu nggak ada. Tuhan nggak ngasih kita pilihan. Dia cukup maha kuasa untuk nulis jalan hidup kita.
Y: Ih, kita dikasih pilihan kali. Lo bisa milih. Itulah tujuan manusia di bumi ini. Milih jalannya sendiri, Dia tinggal nyiapin aja.
X: Gini deh, kalau Tuhan udah nyiptain takdir hidup lo jadi orang jahat, apa bisa lo milih jadi orang baik?
Y: Bisa dong.
X: Nah itu bukannya ngelawan Dia? Itu kayak ngomong “Ah, nggak mau ah! Lo aja sendiri sama kebo!” ke Dia.
Y: Terus Dia bales “Kalau gue sama kebo berarti gue nggak sendiri kaleee”. Hahaha. Astaga astaga... hahaha.
X: Hahahaha. Atau gue kasih contoh lain, kalau lo diciptain jadi setan untuk ngegoda manusia dan akhirnya lo masuk neraka karena tugas yang udah lo laksanakan sesuai perintahNya, apa bisa lo nolak dan jadi setan baik-baik? Haha.
Y: Hahaha. Gila! Tapi Tuhan nggak bakal lah rencanain hal buruk buat ciptaannya. Dia mau semua orang jadi baik dan masuk surga.
X: Yakin amat lo. Terus kenapa ada banyak orang jahat di luar sana?
Y: Karena mereka milih jalan yang salah. Saat lo dihadapkan sama pilihan, lo bisa milih mau ambil jalan baik atau jalan yang buruk. Orang-orang jahat di sana udah salah milih jalan takdirnya, makanya dia jadi jahat.
X: Tapi kan tadi lo bilang Tuhan mau semua orang masuk surga, apa Dia nggak bisa buat semua penjahat  jadi baik supaya bisa masuk surga? Kan maha kuasa. Dan lagi gimana dengan setan? Setan kan juga ciptaanNya? Nggak adil dong dia udah ngelakuin tugasnya dengan benar tapi masih masuk neraka?
Y: Sekarang gue bingung deh, haha. Gue nggak alim-alim banget sih, tapi gue yakin Dia udah menakdirkan semuanya dengan rencana masing-masing. Jadi ya tinggal lakuin yang terbaik aja deh.
X: Hahaha, ya sorry gue nggak tau otak lo bisa overheat juga. Haha. Makanya, konsep takdir itu banyak errornya. Karena freewill tadi dan omniscient atau maha tau itu berkontradiksi banget.
Y: Maksudnya?
X: Ya kalau Dia kasih kita freewill atau kehendak bebas buat milih tadi, berarti dia nggak maha tau atau omniscient. Kalau Dia emang maha tau, maka pilihan itu ilusi, karena hasilnya udah ditentuin dari awal. Udah definite.
Y: Oke...
X: Gini deh, gue kasih contoh. Menurut lo Adam dan Hawa kenapa diturunkan ke Bumi? Karena dia makan buah terlarang kan? Kenapa Dia nyiptain pohon buah terlarang di sana kalau tau Adam dan Hawa bakal makan itu nantinya?
Y: Mereka makan buah terlarang itu kan karena setan bukannya ya?
X: That’s not my point. Maksud gue, mereka makan buah itu karena 2 hal: 1. Karena mereka memilih makan buah itu setelah dihasut setan, 2. Karena Dia udah tau mereka bakal makan buah itu, makanya ditaruh di sana pohonnya. Menurut lo yang mana?
Y: Yang pertama. Karena mereka dihasut setan, makanya mereka tergoda gitu deh.
X: Then berarti mereka punya freewill? Mereka bisa milih makan buah itu sementara Dia nggak mau mereka makan. Itu bukannya Dia nggak omniscient?
X: Tapi kalau Dia maha tau, berarti apa yang dilakukan mereka itu sesuai kalkulasiNya.
X: Nah intinya, kalau Dia ngasih Adam dan Hawa freewill berarti He’s no longer God, because He’s not omniscient. Tapi kalau Dia omniscient semua pilihan otomatis nggak ada. Semua udah diatur olehNya.
Y: Ih, gue jadi serem deh, X, ngomongin beginian. Tapi asik. Haha. Di Solaria lagi, harusnya tadi kita ke tempat yang elit dikit gitu. Hahaha.
X: Hahaha, serem kenapa emangnya?
Y: Pokoknya serem. Lagian kok jadi ngomongin beginian deh pas nge-date gini. Haha. Udah udah, terusin lagi terusin lagi.
X: Apanya yang mau diterusin? Udah segitu aja. Kalau mau terus, bayar. Haha.
Y: Yakali deh. Lo kok bisa mikir kayak gitu? Ati-ati gila lho.
X: Ya gue cuman suka pakai logika aja kok. Hehe. Masih mau lanjut ngomongin hal religius begini?
Y: Kenapa nggak? Tapi jangan berat-berat yak.
X: Halah, udah pasti berat kok. Yaudah kalau gitu nggak usah aja deh. Pulang aja yuk, udah capek nih.
Y: Yaaaaah, sebentar lagi doooong, yaudah berat nggak apa-apa.
X: Yaelaaaah. Gini aja deh, gue kasih lo pertanyaan terakhir.
Y: Oke.
X: Dia kan maha bisa ya? Itu namanya omnipotent.
Y: Iya.
X: Nah, terus bisa nggak Dia nyiptain batu kecil yang nggak bisa diangkat sama sekali oleh siapapun atau apapun?
Y: Bisa. Kan bisa apa aja.
X: Nah bisa nggak Dia angkat batu itu?
Y: Bisa dong.
X: Berarti Dia nggak maha bisa atau nggak omnipotent.
Y: Lho kok gitu?
X: Karena Dia bisa ngangkat batunya, berarti Dia nggak bisa menciptakan batu yang tidak bisa diangkat sama sekali oleh siapapun atau apapun. Dan kalau Dia gak bisa ngangkat batunya, Dia juga nggak omnipotent, karena Dia nggak bisa angkat batunya.
Y: Nah loh!
X: Hahahahaha. Ekspresi lo barusan priceless abis! Ulang gih, mau gue foto! Hahahahhaha.
Y: Iiiih, rese!
X: Yaudah yuk pulang ah, capek beneran ini gue.
Y: Yuk. Ngomong-ngomong kapan-kapan kita ngaji bareng ya, nanti kita ngomong kayak gini lagi sama pak ustad.
X: Hahaha, nanti lo kepanasan lagi pas ngaji. Berasa kebakar.
Y: Iiiiih!


Mereka pun membayar makanan yang mereka makan tadi, kemudian mereka meninggalkan restoran itu untuk pulang.

Saturday, May 17, 2014

(Seharusnya) Lomba Makan Pizza

Sekitar sebulan lalu gue dan teman gue ikut lomba makan pizza yang diadakan oleh Papa Ron's Pizza. Ya, LOMBA... MAKAN... PIZZAAAAAAA... BROOOOOO!!! Seenggaknya waktu itu gue seantusias barusan. Ternyata waktu gue sudah di dalam lomba, “Lomba Makan Pizza” tidak lagi terdengar seasik yang gue kira, justru jadi biasa-biasa saja. Akan gue ceritakan.

Jadi saat melihat brosur lomba tersebut di Facebook, gue langsung ajak teman gue—yang kebanyakan akhirnya nggak ikut—dengan alasan senang-senang. Beberapa cewek yang rumahnya dekat lokasi juga tadinya mau gue ajak, tapi tidak jadi karena kalau mereka semua bisa, gue akan susah mengaturnya. Jadinya gue hanya mengajak yang pasti bisa saja, Isabela... yang sebelum hari H tiba-tiba katanya tidak jadi datang. Sialan.

Jadinya gue berangkat bersama teman gue Rifky yang katanya mau ikutan lomba juga, sementara beberapa teman lainnya menyusul untuk menonton kami. Rifky ini walaupun badannya menggambarkan "orang yang suka makan", tidak gue anggap sebagai saingan. Karena walaupun dia badannya tambun, kalau makan di warteg selalu kalah cepat dengan gue. Sebentar... *masukin "bisa makan cepat" di CV*. Singkat cerita, gue dan dia sampai duluan pas jam 11 tepat sesuai jadwal acaranya dimulai. HAHAHAHA. Tentunya kalian tahu gue berbohong. Gue datang jam 11 lewat.

Walaupun kami terlambat karena kami agak "Indonesia", tetapi acaranya lebih terlambat lagi. Soalnya mereka sama sekali belum mulai dan meja baru disiapkan. Mereka Indonesia banget. Pesertanya juga baru sedikit. Gue dan Rifky membayar Rp. 35.000 untuk biaya pendaftaran. Sudah selesai. Kami pun duduk menunggu.

Beberapa waktu kemudian, teman kami yang bernama Irfan datang bersama pacarnya Evi si cewek preman namun suaranya kayak Minnie Mouse. Dan kebetulan ketika mereka datang, ada 2 orang berpenampilan kayak alay acara Dahsyat musik di pagi hari menaiki panggung. Belum selesai gue berpikir sendiri "nggak mungkin lah mereka pembawa acaranya. Masa' acara begi..." mereka langsung teriak di atas panggung "Selamat datang di acara...". Bah.

Penampilan pembawa acaranya cukup "unik". Pembawa acara #1 memakai kaos garis-garis berwarna kuning-hitam, rompi coklat, bowler hat, skinny jeans warna coklat, dan sepatu boots. Pembawa acara #2 memakai kaos berwarna abu-abu yang dikeluarkan, skinny jeans hitam pudar dengan tambalan di mana-mana, sepatu boots, dan bowler hat juga. Mereka adalah penjahat fesyen! Dan logat mereka... ah, nggak usah dibahas. Yang seperti mereka hanya 2 orang di sekitar panggung. Kalau ditambah beberapa lagi, mungkin gue akan curiga kalau Raffi Ahmad dan Olga Syahputra akan muncul dan berteriak "Kembali lagi di Dahsyaaaaaaat...".

Masih mengenai pembawa acaranya. Kelihatannya mereka bukanlah pembawa acara yang sudah biasa menangani event sebuah merk, melainkan pembawa acara kawinan di kampung atas. Gue tidak menjurus ke logat mereka, tetapi lebih ke beberapa kesalahan yang mereka lakukan. Gue sempat mempelajari tekhnik public speaking, jadi gue tahu kalau seorang pembicara itu tidak seharusnya melakukan kesalahan fatal, seperti:

1. Membelakangi audiens
2. Mengecek HP
3. Garing
4. Jelek
5. Jelek banget

Dan mereka melakukan semuanya. Lu boleh tidak mengacuhkan dua poin terakhir, tapi mereka memang sangat buruk dalam membawakan acara. Belum lagi beberapa kali mereka salah sebut merk menjadi Pizza Hut. Tetapi mereka mempunyai nilai plus juga. Mereka... euhm... yak mari kita lanjutkan.

Singkat cerita perlombaan dimulai. Lomba dilakukan dengan sistem siapa cepat duluan dia menang, dan yang diadu adalah 5 orang dalam sekali kloter. Untuk babak pertama peserta diberikan pizza berukuran small. Kloter pertama dimenangkan mas-mas dengan waktu 1 menit 48 detik. Babak kedua dimenangkan oleh bapak-bapak dengan waktu lebih lama sedikit, 2 menit 14 detik. "Cih, amatir!" pikir gue, sebelum akhirnya giliran gue dan Rifky maju.

Giliran gue dan Rifky maju. Gue sangat optimis menang, karena lawan gue adalah Rifky, 1 mas-mas, dan 2 dedek unyu yang tampaknya masih SMA. Peserta ditanya satu-persatu oleh pembawa acaranya. Dan sumpah naujubileh JKT48, saat pembawa acara #1 ngomong ke gue, mulutnya BAU banget! Saat itu gue bisa merasakan sel-sel di otak gue melemah dan kemudian mati, untuk beberapa detik gue sempat melihat masa lalu gue diputar di otak gue bagaikan film yang sedang diulang, gue melihat cahaya putih di depan mata gue. Gue hampir mati. Sarapan apa dia tadi? Itu gila! Dan gue hanya menjawab sesedikit mungkin pertanyaannya demi keselamatan jiwa gue.

Lomba kloter gue dimulai. Kotak pizza sudah gue buka, gue ambil satu buah untuk gue masukkan ke mulut gue. PANAS GILA! Lidah gue terbakar hanya dengan 1 kali gigit. Ini bukan lomba, ini penyiksaan! Gue paksakan kunyah dan telan, kemudian gue ambil gigitan kedua. WANJIR! KOK BERASA MAKIN PANAS?! Gue kunyah pelan-pelan, dan lalu telan. Gue kesulitan memakan pizza yang disediakan, dan saat gue lihat ke samping sepertinya semua peserta memiliki masalah yang sama. Di sini gue sudah masa bodo dengan lomba, gue hanya fokus menikmati pizza yang ada. Gue makan dengan pelan dan santai. Saat gue mencari saus dan membukanya dengan gigi, penonton semua tertawa. Gue nggak berniat membadut, gue benar-benar sudah malas dengan lombanya. Pembawa acaranya dan semua penonton malah fokus ke gue. Di saat semua peserta masih berjuang makan dengan cepat, gue malah menusukkan sedotan ke gelas Aqua yang tersedia dan menganggap tidak ada lomba. Suasana pecah.

"Ha? Lomba apa?"

Dan akhirnya lomba kloter gue dimenangkan oleh Rifky, dengan waktu 3 menit sekian detik. Ternyata kami yang amatir. Namun di kloter selanjutnya ada orang yang makan lebih cepat dari siapapun. Lidahnya tahan panas, dan dia makan seperti tidak pernah makan dari SD. Namanya Mas Agus, dia makan sangat cepat, dia menghabiskan pizza miliknya sebelum lo bisa mengeja nama panjang SBY. Jelas dia menang. Dia memenangkan kloternya dengan waktu di bawah 1 menit. Gue menengok ke Rifky, "Ky, itu raja terakhirnya. Lo nggak bakal menang." Mendengar ucapan gue, dia gemetaran. Keringat dingin keluar dari pori-pori di sekitar wajahnya, mulutnya menganga seakan-akan melihat iblis tepat di depan matanya, wajahnya memucat. Ternyata dia mules... nggak ding.

Oke, langsung ke acara final  saja. Babak terakhir tetap diadakan dengan sistem yang sama, dengan jumlah orang yang sama, bedanya hanya ukuran pizza yang lebih besar. Rifky melawan jawara-jawara makan tadi, termasuk Mas Agus. Peserta lain tampak putus asa saat melihat Mas Agus. Dan begitu sudah diberi aba-aba untuk mulai, semua peserta bergerak.

Rifky sedang berjuang melawan bos terakhir.

Yang menang tidak usah ditanya, jelas Mas Agus. Dia makan dengan cepat. Peserta lain masih sibuk mengunyah, dia sudah selesai semenit sebelumnya. Bahkan dia sempat kembali ke tempat duduk saat lomba masih berlangsung. Gila! Peserta lain diremehkan. Seakan-akan dia berkata "Kalian itu sedang makan apa mengerjakan skripsi? Lama amat!"

Gue sempet heran, jangan-jangan dia memang pemburu hadiah lewat lomba makan. Jadi karirnya adalah peserta lomba makan. Gue tidak sempat melihat KTP-nya, tapi gue agak yakin kalau di kolom "Pekerjaan" di KTP-nya diisi "Peserta Lomba Makan". Jadi karena pengalaman mengikuti lomba makan, dan kemampuan yang sudah sangat terasah lewat berbagai perlombaan, wajar saja dia memiliki kemampuan sepeti itu.

Lomba selesai. Gue dan gerombolan gue naik ke lantai atas untuk mampir membeli sundae di restoran A&W. Tidak ada penyesalan apappun, karena niat kami adalah bersenang-senang, bukan menang. Bahkan gue lebih dari puas, bisa menghibur di acara yang pembawa acaranya garing seperti itu. Pembawa acaranya pun jadi ingat gue terus-terusan, karena nama gue seringkali disebut sepanjang acara walaupun gue sudah duduk.

Yak, satu lagi misi di hidup gue yang sudah gue capai: Mengikuti lomba makan.

Oh iya, ini adalah penampakan Mas Agus. Jadi kalau di sekitar lo ada lomba makan, dan orang ini ada di sana, bilang ke jurinya untuk langsung kasih hadiah pertamanya ke dia saja, nggak perlu buang-buang waktu menyilakan dia ikutan. Mending lombanya untuk merebut juara 2 dan 3 saja. 

You wanna beat me, son? Pffft... that's cute.

Friday, May 16, 2014

Langit Malam

Tengah malam tadi, saat gue pulang dari membeli Ultramilk karton besar dan Oreo Strawberry di Alfamart, gue melihat status teman di Facebook tentang bulan di malam ini. Gue melihat ke atas, dan melihat bulannya memang sedang berbeda. Ada halo-nya. Besar.


Memang, fenomena ini tidak jarang terjadi. Namun ada sesuatu yang membuat gue memutuskan untuk pergi ke lapangan terbuka dekat rumah saat itu.

Jam 00:12 gue sudah terlentang di lapangan. Sepi, sendiri. Punggung gue menyentuh dinginnya semen lapangan yang berembun malam itu. Gue membuka Oreo dan susu yang gue beli tadi. Jadi terasa piknik, bedanya gue hanya ditemani oleh suara motor dan mobil yang sesekali lewat.

Gue masih terlentang melihat langit. Melihat bulan dan halo-nya yang saat itu adalah elemen yang paling dominan di gelapnya malam. Gue membayangkan kalau halo itu adalah bayangan planet lain yang lebih besar. Apa akan seperti itu kira-kira besarnya Jupiter bila dia ada di posisi bulan? Gue takut namun kagum. Suatu perasaan yang agak susah dijelaskan, tapi itu yang gue rasakan saat itu. Gue senang bisa merasakan itu.

Gue menghubungi beberapa kenalan gue Mayang, Anin, dan Sandra via WhatsApp untuk mengajak mereka ngobrol tentang malam itu. Tetapi nampaknya mereka sudah tidur. Wajar, jam setengah 1 pagi ya tidak banyak orang yang masih terjaga. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi mereka juga tidak begitu menyukai kegiatan melihat langit seperti gue, jadi apa yang mau diobrolkan? Malah ngobrolin hal lain nanti. Jadinya malah mengganggu gue menikmati malam itu.

Tiba-tiba gue teringat kenalan gue yang lain, Karola. Dia manusia Jogja yang katanya juga suka melihat langit malam. Menikmati hamparan bintang yang ada di langit. Gue pergi ke Facebook untuk melihatnya online atau tidak, dan lagi, nampaknya dia sudah tidur. Sayang sekali dia melewati pemandangan langit seperti ini.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, buat apa gue melakukan itu semua? Melihat langit sambil berbalas teks terdengar sangat konyol. Lebih enak kalau ngobrol dengan orang yang menyukai kebiasaan sama. Andai si Karola ini satu wilayah dengan gue, akan terdengar sangat asik sepertinya kalau kami ngobrol omong kosong tentang apapun sambil melakukan kebiasaan melihat langit ini.

Akhirnya tidak ada satupun yang gue ajak bicara. Gue kembali  kesepian menikmati malam itu, sambil memutar lagu Depapepe yang berjudul Wedding Bell. Berisik. Akhirnya pemutar lagunya gue matikan. Sepi kembali datang. Gue melamun.

Gue pun berpikir, mungkin melamun itulah kegiatan yang paling cocok saat itu. Bukannya ngobrol dengan orang, atau mendengarkan lagu. Melamun. Memikirkan tentang apapun secara mendalam. Tentang hidup, masa lalu, masa depan, dan alam semesta. Menyatu dengan alam semesta, cukup dengan memikirkannya. Menjadi seorang filsuf dadakan. Ya, itu yang mungkin lebih cocok saat itu.

Jam 02:28, Oreo yang gue beli sudah habis. Karton susu yang gue beli juga sudah terasa ringan ketika gue angkat. Punggung gue dingin. Langit masih cerah, dan bulan masih indah. Tetapi waktu sudah larut pagi dan gue sudah mengantuk. Akhirnya gue memutuskan untuk pulang meninggalkan bulan dan binntang yang saat itu menjadi semakin cantik. Sepertinya mereka sedang berkonspirasi untuk memanjakan mata gue dan menahan gue untuk pulang. Tetapi rasa kantuk menang dan gue  pulang. Menulis ini, lalu tidur.